
Ceafi pulang kerja dengan Ayah José disambut Bi Minah yang sudah menyiapkan teh untuk keduanya.
" Non! Teh sudah dimeja biasa, " Sambut Bi Minah saat Ceafi masuk rumah.
" Okay, merci Bibi aku ganti dulu ya. Eh Bi ada manggis? " Tanya Ceafi
" Ada Non, Bibi ambilkan ya? " Bi Minah segera ke dapur mengambil buah yang Ceafi minta.
" Terima kasih Bibi! " Ceafi pun masuk kamar.
Sedangkan Ayah José ngobrol dengan Pak Slamet di beranda. Tak lama Bi Minah keluar membawa piring buah dan diletakkannya di meja favorit Ceafi. Meja kencannya bersama senja. Berhias miniatur bunga anggrek, lukisan wajahnya saat kecil dan buku-buku cerita yang ia dongengkan untuk senja.
Beberapa menit Ceafi menikmati santai dimeja senja, ada pikiran yang membawanya untuk pergi keluar. Dan ia memutuskan untuk bersepeda. Ceafi beranjak keluar rumah mengambil sepedanya.
" Mau bersepeda lagi? " tanya Ayah José.
" Hmn, Ayah mau ikut? " Tanya Ceafi balik.
" Ayah tak ingin ganggu kencanmu dengan senja. Tapi jangan lama-lama Cea' kau masih butuh jaga badan Nona, " Jawab Ayah José.
" Enggiih Tuan, bye Ayah! Bye Pak Slamet! " Ceafi melambaikan tangan pada Ayah José dan Pak Slamet yang sedang menikmati teh bersama.
__ADS_1
Ayah José tersenyum melihat wajah Ceafi selalu ceria. Tak salah ia membawanya kembali ke Indonesia, karena Ayah José tak ingin putrinya terkena pergaulan bebas orang barat.
Ceafi berhenti diujung desa dimana waktu itu ia memotret Rino. Dan kali ini Rino datang menghampirinya.
" Hai, Nona Ceafi! Sedang apa? " Sapa Rino saat datang mendekati Ceafi.
Ceafi tampak gugup, " Hai.. yah hai Mas Rino, hmn.. aku sedang jalan sore. Dan anda? " Ceafi bertanya dan menatp Rino sedikit malu-malu.
" Oh saya mau ke sumber air, mau cek soale ndak ngalir airnya dirumah, " Jawab Rino.
" Sumber air? " Ceafi sedikit kebingungan.
" Really? Tentu aku mau, " Ceafi berubah begitu antusias, ia meminggirkan sepedanya dan berjalan mengekori Rino.
" Nona Ceafi sudah lama yah jadi ilmuwan? " Rino memulai pembicaraan ditengah perjalanan menuju mata air.
" Hmn.. yah sekitar 5 tahun tapi aku belum punya gelar profesinya karena harus studi doktoral dulu. Kata Ayahku disini ada university yang bagus untuk studi doktoral. " Jelas Ceafi panjang lebar.
" Ah iya Non, di Jogja ada suatu kampus yang bagus. Kita sampai, ini mata airnya. Tidak begitu besar tapi dia tak pernah surut meski musim kemarau Non, " Rino berhenti ditepi sungai kecil yang merupakan tempat mata air itu. Tampak dibawahnya terdapat bendungan kecil yang digunakan untuk pengairan. Dari bendungan itu terbentuk telaga kecil yang bagus dan terlihat alami.
Ceafi sangat senang melihatnya, ia duduk dibatu yang tepat berada disamping bendungan. Rino berjongkok disampingnya.
__ADS_1
" Inilah yang mengalir ke beberapa rumah warga. Kalau di Europe seperti apa Non? " Rino menatap Ceafi dan tentu membuat Ceafi malu.
" Hmn, disana ada layanan dari pemerintah. Untuk sumbernya setahu aku dari air tanah yang biasanya nanti diproses suling. Disini sangat alami yah, dari sumber langsung tanpa proses filter. " Ceafi tersenyum tipis
" Oh iya Non! Ups maaf permisi, " Tiba-tiba Rino membelai rambut Ceafi yang ternyata ada daun yang menempel. Ceafi sangat terkejut dan gugup hingga tak sengaja memegang tangan Rino.
" Maaf Non ada daun di kepala Non, " Rino membungkuk tanda maaf.
" Iya, fine terima kasih!" Ceafi jadi salting hihi!
Setelah selesai membenarkan saluran air, mereka segera balik ke desa. Dijalan Ceafi dan Rino saling bercerita tentang pekerjaannya kemudian berpisah setelah sampai ditempat semula.
" Hati-hati Non! " Ucap Rino saat Ceafi hendak pergi.
" Panggil saja aku Ceafi, yah Mas Rino. Terima kasih sudah mengajakku tadi. " Ceafi mengangguk dan tersenyum manisnya membuat Rino yang ganti salah tingkah.
" Ah nggih, eh iya Non, hmn maksudnya Ceafi. " Kata-kata Rino jelas terlihat groginya.
Dan Ceafi mengayuhkan sepedanya pergi untuk kembali ke rumah.
" Beruntung sekali bertemu gadis secantik dia, " Ucap Rino dan berlalu pulang.
__ADS_1