
Sejak pertemuanku diujung desa tepatnya di tepi sawah. Aku dan Ceafi sering bertemu dan berada dalam kebersamaan. Mulai detik ini aku menjadi tim pembantu lapangan dalam projek penelitiannya.
Aku semakin mengenalnya sekarang, dan banyak bicara juga dengan Sang ayah yaitu Tuan José. Aku mulai memahami kebiasaan-kebiasaannya, hobi, kesukaan, tapi ada satu yang membuatku memiliki tanda tanya besar. Ceafi sedikit cuek dan terkadang aku melihatnya bertingkah aneh. Tapi ia genius dan sempurna.
Suatu sore aku datang ke rumahnya untuk memberikan hasil kerja padanya. Aku melihatnya sedang duduk di beranda ditemani buku dan secangkir teh. Aku sudah tahu itu adalah ritual wajib sorenya.
Ayahnya bilang, ia selalu berkencan dengan senja meski senja datang abu-abu ataupun awan gelap. Aku tak paham mengapa segila itu kesukaannya terhadap senja. Dan itu salah satu alasan aku memandangnya aneh.
" Hai Rin! " Sapanya saat menemuiku.
" Ya, Ceafi ini laporan kerja hari ini. Untuk jadwal selanjutnya segera dibuatkan ya, " Terangku padanya.
" Wah kau rajin sekali kerjanya, rapi dan tersistem thankyou Rin, ah.. mau minum? " Ceafi tersenyum saat menawarkanku minum. Hatiku begitu gugup melihat senyumannya, ada apa yah?
" Oh sudah tidak perlu repot Cea' saya cuma mau mengantarkan itu dan langsung pamit saja ya. Permisi! " Aku segera beranjak pergi karena malu jika Ceafi tau aku gugup.
Aku sadar masih dilihat olehnya, aku tak mau balik badan melihatnya. Aku segera melajukan sepeda motorku dan kembali ke rumah.
***
Hari-hari mulai disibukkan dengan kegiatan di hutan dan gunung. Minggu ini aku bersama Ceafi pergi ke penangkar anggrek. Aku diminta Pakdhe Slamet untuk mengajaknya mencari anggrek karena aku kenal seorang pegiat tanaman anggrek.
" Mari Non, kita akan menuju tempat teman saya yang punya banyak anggrek. " Aku mempersilahkannya naik motorku dan segera berangkat.
" Ayo aku tak sabar ingin melihatnya. " Ceafi sangat antusias.
Tak perlu lama perjalanan menuju tempat temanku itu. Sesampainya disana Ceafi tampak kagum dengan hamparan bunga anggrek yang subur.
" Hei Rino! Tumben we kesini!? " Sapa temanku melihat aku dan Ceafi datang.
" Halo Reza, kabar baik to?! Lama yo aku ndak maen kesini. " Kami berpelukan saling melepas rindu.
" Ada yang beda nih, yang jomblo akut sudah ganti dapat pasangan ya!? Bening banget No, kenal bule dimana lo? " Tanya Reza melirik Ceafi yang masih terkagum dengan bunga anggrek.
" Wush! Ora ngawur Za, itu anak profesor terkenal, José Joshington, kamu anak IPA pernah denger dong? " Aku menepuk pundaknya.
" Hmm, nggak begitu asing sih, memang kamu ada hubungan apa dengan bapaknya? " Tanya Reza penasaran.
" Aku diminta jadi tim pembantu lapangan untuk penelitian beliau. Dan itu anaknya lagi mau cari anggrek. Layani gih, " Aku merangkul Reza menuju Ceafi.
" Hallo Miss, plis introduce my self, Reza! " Reza mengenalkan diri.
" Hai sure, saya Ceafi. Hmn, aku mencari anggrek yang endemik, ada beberapa tadi yang ingin ku beli. Ada anggrek spesial mungkin Mas Reza? " Ceafi tersenyum manis dan aku lihat Reza melongo dengan pesona Ceafi.
__ADS_1
" Woy Bro, ditanya nih! " Aku menepuk Reza keras dan membuatnya kaget, jangan lirikin gadis incaranku ya hehe..
" Oh iya sorry, ah iya ada anggrek spesial langka buat Nona, come join me, BTW Nona pandai bicara bahasa ya? " Reza mengajak Ceafi masuk ke dalam penangkaran.
" Ah tidak begitu juga, dulu aku lahir disini tapi besar di Europe karena Ayah ada pekerjaan. Wah anggrek apa ini!? " Mata Ceafi membelalak melihat anggrek yang begitu besar dengan bunga birunya bercorak kuning coklat keemasan dan seperti bersinar saat terkena matahari.
" Baru kali ini aku melihat anggrek sebagus ini Za, bisa bersinar gitu ya. " Ucapku
" Yah aku juga, " Sahut Ceafi sambil memotret anggrek itu dengan ponselnya.
" Ini anggrek bulan biru yang aku silangkan dengan vanda emas makanya dia tampak bersinar, Nona tahu, ini anggrek paling cantik yang pernah aku buat. Aku beri nama The Blue Sunset. " Jelas Reza panjang lebar.
" Nama yang cantik, well Blue Sunset akan jadi teman senjaku nanti, saya ambil yah Mas, dan aku mau beberapa yang disana. " Ceafi menunjuk beberapa bunga anggrek.
Tak terasa sudah dua jam aku dan Ceafi menghabiskan waktu ditempat pembibitan. Dan kalian tahu, Ceafi membeli banyak sekali bunga anggrek.
" Sebanyak ini Cea' ?b" Aku heran melihat banyaknya anggrek yang Ceafi beli.
" Iya yah, gimana kita bawanya? " Ceafi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Tenang aku antarkan pakai mobil pickup itu, Nona bisa ikut saya jika mau, biar tidak kepanasan. " Reza menggoda Ceafi. Siapa sih yang tidak tertarik dengan Ceafi, melihat bola mata birunya, senyum manisnya, oh your blue venom.
" Yawes kalo gitu, makasih yo Za, aku sama Ceafi tak keliling pasar dulu, nanti rumah Ceafi ada dipinggir jalan yang arah ke bukit itu lho, tahu to? " Aku menjawab tawaran Reza.
" Merci ya Mas Reza, " Ceafi tersenyum dan mengangguk pada Reza.
" Iya Non, panggil saja Reza. " Reza tersipu melihat senyuman cantik Ceafi.
Aku dan Ceafi pergi ke pasar untuk mencari kuliner. Kebetulan kami belum sarapan pagi. Aku ajak Ceafi ke warung nasi pecel langgananku. Ceafi tampak sedikit aneh saat memakannya, tapi tetap ia makan. Wajahnya sangat lucu hehe..
Saat hendak pulang aku terjatuh, kakiku tergelincir batu saat ingin mengambil motor diparkiran. Ceafi melihat kakiku tergores dan mengeluarkan darah, ia berlari menjauh dariku. Aku bingung kaget mengapa Ceafi lari, apakah Ceafi malu padaku? Aku segera menyusulnya.
" Non, ada apa? " Tanyaku khawatir.
" Jangan dekati aku! " Ceafi menjauh dan menutup wajahnya.
" Eh kenapa Non, malu ya lihat saya jatuh? aduh saya minta maaf Non, eh Ceafi maksudnya. " Aku mencoba minta maaf dan hendak menarik tangan Ceafi.
" Rino dont touch me! " Ceafi begitu panik dan marah. Wajahnya merah berkeringat hebat. Ada sesuatu yang ia tahan, tapi entah itu apa. Aku tambah bingung dan merasa bersalah.
Tampak orang-orang yang lewat memperhatikan kami. Hingga salah seorang pedagang menegurku.
" Hey ceweknya marah dikapakno hayo! " Sahut pedagang itu yang diikuti tawa kecil dari pedagang lain didekatnya.
__ADS_1
" Mboten bu, mboten! Niki wau jatuh kok! " Aku sedikit gugup menjawab mereka.
Ceafi sudah tenang dan menarikku ke tempat yang sedikit sepi. Ia duduk dan menjelaskan jika dirinya fobia terhadap darah. Orang fobia darah atau disebut Hematophobia akan sangat panik ketika melihat darah bahkan bisa pingsan, begitu jelasnya.
" Duh Cea' saya benar-benar minta maaf karena saya tak tahu. " Aku sangat bersalah pada Ceafi
" Aku yang minta maaf Rin, kamu jadi teguran orang dan aku sangat malu. Aku menahan diri betul agar tidak pingsan. " Ceafi memegang tanganku. Kurasakan tangan Ceafi dingin berkeringat.
" Yasudah, kita pulang atau mau tenangin dulu? Darahnya sudah hilang kok saya bersihin tadi. Saya minta maaf yah, " Aku tetap merasa bersalah.
Ceafi mengangguk dan tersenyum. Kami berangkat pulang dan mendapati Reza sudah sampai dirumah Ceafi. Ia sedang menurunkan anggrek bersama Pak Slamet dan Ayah José.
" Nah itu Nona Kecilku sudah pulang, Ayah duga kau akan buat taman penangkaran anggrek Sayang? Hey look, sebanyak itu kau beli hmn? " Ayah José memasang wajah serius.
" Ndak apa kan Tuan, biar Ceafi istirahat dulu tadi habis kaget gara-gara lihat saya terluka. " Aku memecah keseriusan Ayah José yang padahal itu hanya becanda.
" Eh kenapa Rin? Lihat darah ya? Kau habis pingsan Sayang? " Ayah José langsung khawatir, membolak balikkan badan Ceafi.
" Tidak aku hanya panik saja, Ceafi masuk dulu ya, ah Rino thankyou for today. Dan aku minta maaf. " Ceafi meminta maaf sekali lagi.
Aku mengangguk dan berjalan menuju Reza ikut menurunkan anggrek.
***
Hari ini sangat indah meski sedikit warna drama tapi aku merasa hari ini sangat spesial. Pertama kalinya aku berjalan bersama seorang gadis. Ternyata seperti ini rasanya suka terhadap perempuan. Tapi apadaya aku hanya seorang petani dan orang rendahan.
Sore ini Ceafi mengirim pesan padaku, ia ingin membahas jadwal lapangan untuk selanjutnya.
" Rin, malam nanti kau ada waktu? " Tulisnya dipesan.
" Yah Cea' saya ada waktu. Ada yang perlu dibicarakan? " Balasku.
" Okay, nanti malam aku jelaskan untuk jadwal selanjutnya, aku butuh dua orang lagi untuk pekerjaan minggu depan. Tolong kau cari partnernya ya, hari Rabu sudah dapat oke, " Pintanya panjang lebar.
" Siap Nona! " Aku balas dengan emot jempol. Tidak ada negosiasi untuk pekerjaan, disiplin, detail, dan genius begitu sistem otaknya. Semua harus rapi dan terinci dengan baik.
Setiap menghadapinya bicara soal pekerjaan aku sangat kagum dengan cara penjelasannya yang ringan mudah dipahami tapi sangat detail, dan tentunya sangat banyak. Memang begitu kali yah kerja sebagai ilmuwan, rinci, detail, sistemik, dan ribet hihi.. kalian yang awam nggak tahu apa-apa pasti merasa begitu.
Setelah selesai membahas rencana jadwal untuk tim lapangan, aku dan Ceafi menutup pembicaraan. Aku menulis semua yang Ceafi minta dan sengaja aku beri satu kalimat akhir,
Gadis aneh tapi genius dan sempurna.
Yah aneh bukan, melihat darah takut, padahal dia ilmuwan banyak berhubungan dengan dunia makhluk hidup, sudah itu cantiknya perfect banget tak ada tandingan. Itulah pandanganku terhadap Ceafi Claricksa Joshington.
__ADS_1