
Di siang hari yang begitu terik, Ayah José terlihat duduk dimeja kerjanya sedang membaca surat peringatan yang ia terima dari Prof. Jhon, Ayah José membuang nafas kasar
" Baru kali ini penelitianku bermasalah, " Ayah José bangkit dan hendak menemui Lily.
" Tuan José! Ini laporan dari saya sudah selesai semua. Saya menunggu data dari tim lapangan untuk minggu ini, mereka sering terlambat mengirim data. " Ujar Lily saat Ayah José keluar dari ruang kerjanya.
" Baru saja aku ingin meminta ini padamu Li, kau kerja bagus. Dimana Ceafi? Apa dia sudah makan? " Ayah José menerima map file yang diberikan Lily dan bertanya keberadaan Ceafi.
" Ceafi diruang kerjanya Tuan, sejak tadi ia tak keluar. Saya mohon permisi dulu ya, " Lily mengangguk dan pergi meninggalkan Ayah José.
Ayah José menuju ruang kerja Ceafi,
" Ceafi?! Ayo kita makan siang Sayang. " Panggil Ayah José dari depan pintu ruang kerja Ceafi.
" Ceafi belum lapar, Ayah pergi makan dulu tak apa! " Jawab Ceafi dari dalam. Ceafi masih fokus pada monitor komputernya dan ditemani tumpukan berkas.
" Ayah pesankan sesuatu ya? " Ayah José menawarkan untuk memesan makan pada Ceafi.
" Baik thankyou Ayah! " Sahut Ceafi mengiyakan.
Tak berapa lama Ayah José datang membawa dua kotak makanan dan minum masuk ke ruang kerja Ceafi.
" Here your lunch! Ayah boleh makan bersama kan? " Tanya Ayah José meletakkan makanan dimeja kosong belakang Ceafi.
__ADS_1
" Mengapa tidak hmn? Ceafi ingin menyelesaikan laporan minggu kemarin sekaligus minggu ini. Maaf jika Ceafi mengecewakan Ayah. " Ceafi memeluk lengan Ayahnya.
" Hmn, ayo cepat makan selagi hangat. " Wajah Ayah José masih tampak marah.
Terlebih surat peringatan kali ini akan berdampak pada kelanjutan penelitian karena data hutan Sumatera banyak yang dimanipulasi oleh tim lapangan. Apalagi Ceafi yang sering absen mengawasi tim lapangan sehingga kontrol data menurun.
" Malam nanti Ayah akan bahas surat ini dengan para staf. Jangan lupa untuk hadir Sayang, Ayah kembali ke ruang kerja. " Ayah José pergi keluar meninggalkan Ceafi yang masih makan.
***
Suasane ruang tengah begitu tegang, saling mendebat semakin tak terkendali.
" Apa maksudnya Tuan José membuat keputusan ini! Tim lapangan tidak setuju! " Ujar ketua lapangan wilayah Sumatera dengan nada tinggi.
" Tapi kami sudah bekerja keras untuk penelitian ini. Putusan ini tidak adil! Lebih baik kita bubar! " Suasana kian panas.
" Lebih baik bubar! " Beberapa staf berteriak ingin bubarkan tim.
" Semua bisa dibahas dengan baik baik Tuan semua. Saya mohon untuk tenang! " Ceafi mencoba menenangkan suasana.
" Benar tolong tenang sebentar, izinkan saya menjelaskan semuanya sampai akhir. Saya mohon Pak Gun, " Ayah José mencoba tetap tenang.
Semua orang akhirnya tenang dan membiarkan Ayah José menjelaskan. Namun tetap saja Pak Gun yang menjadi ketua lapangan tidak setuju dengan keputusan Ayah José.
__ADS_1
" Maaf Tuan saya tetap keberatan. Saya lebih baik mengundurkan diri. Permisi! " Pak Gun pergi.
Semua orang juga pergi meninggalkan ruangan dengan wajah-wajah kecewa. Terdapat Reza yang bicara pada Ceafi sebelum pergi.
" Maaf Non Ceafi, saya rasa perlu dipertimbangkan lagi keputusannya. Penelitian ini pasti sangat penting jadi tidak mungkin jika putus ditengah jalan. Kalian sudah memulai harusnya juga menyelesaikan. Maaf saya permisi Tuan José dan Nona Ceafi. " Reza pamit untuk keluar.
Ayah José menghela nafas panjang, menatap Ceafi yang tertunduk lesu.
" Its all done! Kita istirahat dulu mungkin akan datang solusi besok. " Ayah José beranjak menuju kamarnya.
Pecahlah tangis Ceafi dipelukan Lily. Begitu dalam penyesalan Ceafi, ia menyadari hal yang dianggapnya sepele sekarang menjadi masalah besar.
" Its okay, kita istirahat yah besok kita diskusikan lagi. Ayo aku antar ke kamar! " Lily merangkul Ceafi mengajaknya ke kamar.
Ayah José masih berdiri disamping tak masuk karena memperhatikan Ceafi dan Lily. Dalam hatinya sangat kecewa, baru kali ini penelitiannya mendapat konflik besar.
" Lily tolong besok temani Ceafi dulu ya, kalian tak usah bekerja dulu sementara. Saya akan menemui Prof. Jhon besok pagi. " Perintah Ayah José pada Lily saat akan menuju kamar.
" Baik Tuan! " Lily mengangguk dan langsung masuk kamar.
Malam terasa begitu panjang. Bayangan rembulan yang terpantul dikolam kecil depan rumah dinas, seakan berkata,
" Tenanglah hari esok masih ada harapan. Tidurlah selagi aku menemanimu sampai fajar datang. "
__ADS_1
Dan tidur terlelap.