
Hari demi hari kian disibukkan dengan analisis penelitian. Kegiatan lapangan juga semakin intensif mengingat deadline target yang semakin dekat. Ceafi dan Rino kini semakin sering bersama karena Rinolah ketua tim lapangan, sehingga segala fakta lapangan ada padanya.
Di suatu senja yang sedikit berawan, Ceafi bersama the Three Musketeers iya itu Rino, Wina, and Dika tengah nongkrong bareng di bukit biasanya. Pake kata nongkrong segala kayak anak punk, hehe..
Ceafi bercerita jika dia ingin kembali melakukan perjalanan untuk berkeliling Pulau Jawa.
" Guys, aku ada rencana mau jalan-jalan lagi. Mungkin ada saran dari kalian? " Ucap Ceafi yang tengah duduk disamping Wina.
" Emmm, apa ya?! " Sahut Wina yang tampak berpikir.
" Bagaimana jika naik gunung, di Magelang kan ada tujuh gunung kita naiki semua Cea', biar jadi judul perjalanan tujuh gunung satu purnama heaaak! " Sahut Dika memberi ide dengan gaya tengilnya.
" Satu purnama segala, mau jadi manusia srigala Dik!? " Ledek Rino sambil tertawa.
" Hey itu ide bagus, kemarin kamu juga bilang jika gunung di Magelang itu bagus kan? " Ceafi membela Dika.
" Boleh sih, tapi aku tak bisa ikut ya soalnya aku sering mengalami mountain sickness. " Ujar Wina
" Its okay dear, Rino are you in? " Ceafi mengelus pundak Wina dan menatap Rino bertanya mau ikut atau tidak.
" Ya ikutlah memangnya Nona Bule mau ndaki sendirian? " Rino menatap Ceafi penuh ejekan.
" Siapa bilang sendiri, aku mau ajak Dika jika diijinkan Nyonya nya, " Ceafi menatap Wina.
" Hahahaha!!! " Semua tertawa seperti keluarga.
Senja telah tenggelam di horizon berganti sinar sang bulan menemani malam dingin Kota Magelang yang indah. Malam ini Ceafi akan mengajukan proposal ijin mendaki kepada Sang Ayah. Ia menyogok dengan kopi hadiah dari Prof. Jhon saat berkunjung ke rumahnya waktu itu.
" Ayaaah.. Ceafi buatkan minum kopi. Spécial pour Papa. " Ucap Ceafi dengan manisnya seperti anak SD merayu ingin dibelikan mainan.
" Hmn, merci my girl. Ada apa buatin Ayah minum ha? " Ayah José paham dengan gelagat putrinya.
" Hehe.. Ayah tahu Ceafi kan suka berpetualang? " Mulai basa basi dulu.
" So? " Tanya Ayah José.
" Ceafi berencana mau naik tujuh gunung di Magelang. " Senyum manisnya terpampang mempesona.
" Yakin mau naik tujuh gunung? Kapan mulai mendakinya ha? " Ayah José bertanya meyakinkan.
" Next week, Ceafi akan mendaki dua kali seminggu. Boleh kan Ayahku yang paling baik paling tampan. " Goda Ceafi.
" Ayah tidak yakin, " Ayah José memalingkan wajah.
" Pleaaasee!!! Ceafi hanya akan ambil saat jadwal lapangan saja. Ayah boleh ikut jika mau, tidak mungkin membiarkan Ceafi mendaki sendirian bukan? " Ceafi mengedipkan matanya tanda dirinya berhasil.
" Dasar Nona Kecil nakal, ajak Rino lagi ya buat bodyguard kamu. Ayah malas kalau kamu merengek minta gendong ditengah jalan. " Ledek lagi nih Ayah José.
" We will see, besok Ceafi berangkat bersama Rino ya, mau mampir lihat anggrek ada koleksi baru ditempat temannya itu. " Ceafi melangkah melenggang masuk kamar.
" Rino teruuus..! " Sahut Ayah José, dalam hatinya merasa sangat senang melihat putrinya bahagia. Apalagi sekarang sudah mulai punya teman sehingga drama merengek pulang sudah terganti dengan episode petualangan di Tanah Nusantara.
***
Tabuh fajar telah tiba, kicau burung menyambut hari baru, harapan baru, mimpi baru, dan sinar matahari merekah bersama dimulainya langkah baru sang pengejar mimpi.
Ayah José sudah bangun dan menjalani ritual paginya sebelum berangkat kerja. Ia menyiapkan sarapan sandwhich untuk Ceafi. Ayah José berjalan ke kamar Ceafi membawa nampan sarapan.
__ADS_1
" Tok! Tok! " Suara ketukan pintu kamar membangunkan tidur Ceafi.
" Come in! " Sahut Ceafi dari dalam dan Ayah José membuka pintu.
" Morning Ayah! " Ceafi tersenyum melihat Ayahnya.
" Belum mandi anak Ayah, sudah jam setengah 7 loh, makan dulu aja yah. Special breakfast in bed. " Ayah José duduk disamping Ceafi.
" Emmn, Ayah memang perhatian, suapinlah Ceafi belum cuci tangan kan? " Pagi-pagi sudah manja ke Ayahnya.
" Eeh, semalam mimpinya ketemu pangeran keknya, jadi manja gini sama Ayah. " Ayah José mengacak rambut Ceafi.
" Ya jika tak mau juga tak memaksa. " Ceafi mengambil potongan sandwhich yang ada dipiring namun langsung dicegah Ayah José dan disuapkan ke mulut Ceafi.
Definisi ayah idaman banget. Penyayang, penyabar, pelindung, dan tempat sandaran saat lelah.
***
Tujuh gunung satu purnama, Ceafi memulai pendakiannya ditemani Rino dan Dika. Minggu pertama mendaki gunung Andong, Telomoyo, dan Merbabu. Mengambil yang dekat dengan rumah dulu.
" Aku tak sabar ingin melihat purnama di gunung ketujuh. " Ujar Ceafi saat menikmati senja di Gunung Telomoyo.
" Semoga waktu kita tepat, kita siap siap turun yuk! " Rino memegang pundak Ceafi memintanya bersiap turun gunung.
"bLets go! Eh besok kita berangkat agak pagi ya, aku ingin bertemu relawan gunung untuk pengumpulan data terakhir. " Ucap Ceafi.
" Siap Nona Profesor, hey Dik! Ayo turun asyik sendiri deh! " Teriak Rino memanggil Dika yang tampak asyik membuat video.
Angin malam mengiringi langkah Ceafi menuju basecamp keberangkatan. Dua gunung sudah terdaki.
***
" Ya Allaah, prajurit sudah siap tempur nih!? " Ucap Ayah José melihat penampilan Ceafi.
" Hmn, Ceafi mau berangkat pagi karena nanti mau bertemu dengan para relawan dulu. Sekalian bukan daripada besok harus kesana lagi. " Jawab Ceafi sambil merapikan tas gunungnya.
" Loh tidak camping nanti? " Tanya Ayah José lagi.
" Rino bilang besok pagi sudah pulang, jadwal sudah aku serahkan ke Lily. Ceafi tetap ke kantor mungkin siang. " Ceafi mengambil roti dan memakannya.
" Baiklah Sayang, pekerjaan tetap yang utama oke!? " Pesan Ayah José dan mengelus kepala Ceafi.
Setelah Rino dan Dika datang, Ceafi langsung berangkat diantar oleh Pak Doni. Ayah José melarangnya naik motor karena membawa barang berat. Besoknya juga akan dijemput.
Sebelum pendakian Ceafi bertemu dengan para relawan gunung untuk keperluan penelitiannya. Setelah keperluannya selesai ia bersiap untuk memulai pendakian.
Track medan cukup menantang jika mendaki Gunung Merbabu. Perjalanannya cukup menyenangkan, Ceafi begitu bersemangat berjalan menempuh setiap pos pendakian.
Saat tiba dipuncak, semuanya terharu bahagia dapat mencapai titik tertinggi. Mereka saling berpelukan.
" Oooh berpelukaaan!! " Ucap Dika dengan alaynya.
" Eh jangan kenceng kenceng sakit tahu, " Rino menyikut badan Dika yang memeluknya erat.
" Wow! This is paradise, " Ucap Ceafi berjalan ditepian.
Kemudian Rino dan Dika menyiapkan tenda, sedangkan Ceafi membuat makanan untuk mengisi energi yang telah terkuras. Mereka menghabiskan satu malam di Gunung Merbabu sebelum akan lanjut petualangan 4 gunung tersisa.
__ADS_1
***
Setelah re-charge energi 5 hari, Ceafi melanjutkan petualangannya ke Gunung Sindoro. Perjalanan kali ini akan lebih menantang karena tiga hari akan menarget dua gunung besar. Semua persiapan telah selesai dan waktunya berangkat.
" Ayah sudah siap!? Ayo segera berangkat sebelum senja menyapa, " Ceafi berteriak memanggil Ayah José.
" Iyaa bocah senja, " Ayah José mencubit hidung Ceafi dan dibalas gelitikan tangan Ceafi dipinggangnya.
Kemudian Dika menjalankan mobil milik Ayah José menuju gunung tujuan. Tak butuh waktu lama petualangan di Gunung Sindoro dimulai. Bersama senja yang tampak berbinar menyapa para penikmatnya.
Untuk mempersingkat perjalanan Ceafi dan rombongan hanya akan melakukan summit di puncak dan akan langsung turun. Rencananya akan camping di Gunung Sumbing. Sebagai penutup pendakian minggu ini.
" Hai! Apakah bocah senja juga mencintai fajar yang datang membawa harapan? " Tanya Ayah José menghampiri Ceafi yang duduk ditepi puncak.
" Haha, Ayah jangan mengganggu Ceafi yang sedang duduk tenang. Ganggu momen sih ya, " Ceafi memalingkan badan dari Ayahnya.
***
Setelah memulihkan tenaga Ceafi, Rino, Dika, dan Ayah José bergegas turun gunung. Sesekali Ceafi mendapat sapa dari para pendaki yang berpapasan dengannya. Tak jarang pula ada yang minta berfoto. Sudah seperti artis nih Nona Bule.
Kita lompat ke Gunung Sumbing, kaya tupai lompat-lompat hehe, biar ketawa yang baca.
Rino memetikkan buah cantigi yang memang tumbuh banyak di gunung. Ceafi mencoba buah yang diberikan Rino,
" Hmn, sepat rasanya Rin! " Mata Ceafi menyipit merasakan sepatnya buah cantigi.
" Iya betul, tapi ini bagus untuk kita saat naik gunung karena bisa untuk mengobati dahaga atau haus. " Jelas Rino.
" Ayo kita lanjut lagi, sebentar lagi sampai puncak. " Ucap Ayah José menghampiri Ceafi sembari menggendong tas gunungnya.
" Lets go!! " Ucap Ceafi dan Rino serentak.
Pendakian Gunung Sumbing telah selesai dan saatnya pulang, recharge energi dan siap kembali ke gunung lagi. Dua gunung tersisa, Gunung Kembang dan Gunung Prau.
***
Tibalah minggu terakhir untuk episode petualangan Ceafi yang ia beri judul "Tujuh Gunung Satu Purnama". Perjalanan minggu ini banyak hal-hal baru yang Ceafi temukan. Banyak pengalaman yang Ceafi dapat mulai dari mistisnya gunung, berjumpa hewan langka dan tumbuhan langka, jadi seleb gunung juga.
Satu hal yang membuat Ceafi terkesan adalah ia menemukan bunga anggrek yang sangat langka di Gunung Kembang. Tak kalah mengesankannya malam romantis di Gunung Prau bersama indah purnama.
" Aku tak pernah seberuntung ini saat berpetualang. Bunga anggrek dan purnama yang sempurna. " Ucap Ceafi saat semuanya sedang duduk bersama mengilingi api unggun.
" Perhitungan Dika memang tepat, tujuh gunung satu purnama. " Ucap Rino.
" Aku senang bisa menemani perjalanan yang seru ini Cea'! " Sahut Dika.
" Ayolah jangan buat suasana haru, lets sing the night!! " Sahut Ayah José dan mengambil gitar kecil yang dibawa Dika. Semuanya bernyanyi bersenang-senang.
Hingga datanglah fajar, Ceafi keluar dari tenda. Duduk di tepian dan ada satu bait puisi dibuku diarynya.
Hai fajar
Kau dan harapan adalah satu garis lurus di horizon
Bertemu disatu titik penantian
Bersinarlah bersama mimpi dan masa depan
__ADS_1
Salam hangat sang fajar
What a beautiful day! Ceafi berhasil mencapai tujuh gunung dalam satu bulan. Perjalanan-perjalanan baru akan terus ia lakukan. Sang Pemimpi, Sang Petualang, Sang Ceafi dan Senja.