Ceafi & Senja

Ceafi & Senja
Ungkapan Hati Rino


__ADS_3

Dikursi panjang malam ini bersama angin dan bulan aku bercerita pada kalian tentang seorang gadis cantik dari benua seberang.


Ceafi Claricksa Joshington


Yah, itu nama dia. Nama yang begitu anggun seanggun paras wajahnya. Bola mata biru yang jernih seperti langit pagi dan rambut pirang khasnya semakin membuatku terpesona. Senyum manis dan tutur kata lemah lembut semakin membuatku meleleh.


Pertama aku melihat dia saat diujung pematang sendirian. Sorot matanya melihat suasana senja, ku mengira ia pecinta senja. Dua kali aku melihatnya duduk menikmati senja diujung desa. Ingin sekali aku menyapa tapi... aku ragu dan malu.


Aku coba mencari tahu tentang siapa dia, aku bertanya Pak Slamet dia adalah pamanku yang bekerja dirumah gadis bule itu. Kata pamanku dia sangat baik, ramah, lemah lembut, dan tentunya cantik.


Pertama kali aku bertemu dengannya saat tak sengaja ia menabrakku di pasar, sesaat ia menatapku, meski aku paham ia gugup melihatku tapi aku mencoba pura-pura tak mengenalnya. Aku menyangka apakah ia juga memperhatikanku saat disenja itu.


Kedua kalinya aku bertemu langsung ke rumahnya, karena pamanku, Pak Slamet memintaku mengantarkan tenda kemah untuknya. Aku diajak berjabat tangan dengannya, deg! deg! deg! Jantungku rasanya berdetak seratus kali lipat dari biasanya. Dia juga menatapku tapi aku ragu untuk menatapnya balik. Belum pernah aku segugup ini bertemu seorang perempuan.


Dan ketiga kalinya aku beranikan diri bicara dengannya saat dia sedang bersepeda sore.


" Hai, Nona Ceafi! Sedang apa? " Sapaku saat datang mendekati Ceafi.

__ADS_1


" Hai.. yah hai Mas Rino, hmn.. aku sedang jalan sore. Dan anda? " Jawabnya.


" Oh saya mau ke sumber air, mau cek soale ndak ngalir airnya dirumah, " Jawabku balik.


" Sumber air? " Ceafi sedikit kebingungan.


" Itu Non maksudnya mata air untuk kebutuhan air dirumah, mau ikut melihat mungkin? " Tanyaku sedikit ragu.


" Really? Tentu aku mau, " Ceafi berubah begitu antusias, ia meminggirkan sepedanya dan berjalan mengekoriku.


" Hmn.. yah sekitar 5 tahun tapi aku belum punya gelar profesinya karena harus studi doktoral dulu. Kata Ayahku disini ada university yang bagus untuk studi doktoral. " Jelas Ceafi panjang lebar.


" Ah iya Non, di Jogja ada suatu kampus yang bagus. Kita sampai, ini mata airnya. Tidak begitu besar tapi dia tak pernah surut meski musim kemarau Non, " Aku berhenti ditepi sungai kecil yang merupakan tempat mata air itu.


Ceafi sangat senang melihatnya, ia duduk dibatu yang tepat berada disamping bendungan. Aku duduk berjongkok disampingnya.


" Inilah yang mengalir ke beberapa rumah warga. Kalau di Europe seperti apa Non? " Aku menatapnya dan kulihat wajah Ceafi terlihat malu.

__ADS_1


" Hmn, disana ada layanan dari pemerintah. Untuk sumbernya setahu aku dari air tanah yang biasanya nanti diproses suling. Disini sangat alami yah, dari sumber langsung tanpa proses filter. " Ceafi tersenyum tipis membuatku terpesona, kenapa kau se-perfect itu Nona Bule.


" Oh iya Non! Ups maaf permisi, " aku reflek membelai rambut Ceafi ketika ada daun yang menempel dikepalanya. Ceafi sangat terkejut dan gugup hingga tak sengaja memegang tanganku sedikit gemetar.


" Maaf Non ada daun dikepala Non, " aku membungkuk meminta maaf.


" Iya, fine terima kasih! " Ceafi jadi salting.


Setelah selesai membenarkan saluran air, kami segera balik ke desa. Dijalan Ceafi dan aku saling bercerita tentang pekerjaan kami kemudian berpisah setelah sampai ditempat semula.


" Hati-hati Non! " Ucapku saat Ceafi hendak pergi.


" Panggil saja aku Ceafi, yah Mas Rino. Terima kasih sudah mengajakku tadi. " Ceafi mengangguk dan tersenyum manisnya membuat aku yang ganti salah tingkah.


",Ah nggih, eh iya Non, hmn maksudnya Ceafi. " Kata-kataku jelas terlihat groginya.


Dan Ceafi mengayuhkan sepedanya pergi untuk kembali ke rumah. Apakah mungkin aku bisa mendekatinya? Rasanya aku jauh dari kata pantas. Biar senja bantu menjawab.

__ADS_1


__ADS_2