Ceafi & Senja

Ceafi & Senja
Kekecewaan Prof. Jhon


__ADS_3

Pagi buta Ayah José telah bertolak dari Medan menuju Bengkulu untuk menemui Prof. Jhon. Tentunya untuk membicarakan masalah yang tengah panas saat ini. Tak bisa dipungkiri konflik antar staf semakin serius.


Sesampainya di kantor tempat dimana Prof. Jhon berada, Ayah José langsung mencari Prof. Jhon.


" Tok! Tok! Tok! " Ayah José mengetuk pintu ruang kerja Prof. Jhon.


" Ya masuk! " Sahut Prof. Jhon dari dalam.


Dan Ayah José masuk ke ruangan dengan tertunduk dan langkah ragu-ragu.


" Kau rupanya José? " Tanya Prof. Jhon ketika melihat Ayah José masuk.


" Iya Jhon, aku datang untuk.. (ucapan tertahan sejenak), aku sebagai penanggungjawab atas masalah yang terjadi ingin minta dan mungkin.. " Tiba-tiba Prof. Jhon memotong ucapan Ayah José.

__ADS_1


" Jangan membahas masalah diruang yang sempit, ayo kita keluar cari udara segar biar tetap dingin pikiran kita. Ayo ikut aku! " Prof. Jhon menepuk pundak Ayah José dan mengajaknya ke suatu tempat.


Di sebuah taman kecil mereka berdua bicara tentang masalah penelitian. Ayah José cukup serius menjelaskan semua perkaranya kepada Prof. Jhon.


 " Yah aku sudah mendengar semuanya dari Pak Gun dan lainnya juga. Aku rasa itu keputusan tepat untuk saat ini meskipun nanti akan berdampak serius pada kelanjutan penelitian. Yang aku tanyakan adalah.. bagaimana mungkin seorang Nona Ceafi seceroboh ini. Aku tak meragukan sedikitpun keahliannya, tapi sikap profesionalnya seperti seorang penjelajah kemarin sore. Maaf jika aku menyinggung putrimu José. " Tutur Prof. Jhon mengungkapkan rasa kecewanya.


" Aku benar benar minta maaf Jhon. Jika penelitian ini harus berhenti maka aku siap dengan segala konsekuensinya. " Ayah José sudah putus asa.


" Bukan masalah konsekuensinya José tapi reputasiku juga perlu kau pikirkan. Ini adalah proyek penelitian besar. Jika pusat mendengar masalah ini maka semua bagian tim akan terkena imbasnya. Dan ucapkan selamat tinggal kepada profesi. Aku tak bisa membayangkan hal itu José. " Wajah Prof. Jhon tampak begitu sedih.


" Yah aku harap begitu José, " Prof. Jhon berdiri menepuk pundak Ayah José dan kembali masuk kantor.


Tinggal Ayah José sendiri, termenung menatap jalanan dengan pandangan kosong. Masalah ini seolah hanya berputar tak tentu arah. Semua semakin rumit, dokumen dimanipulasi, laporan tak sesuai target, dan konflik para staf yang belum juga tertangani. Dan akan lebih buruk lagi jika kantor pusat mengetahui, semua yang terlibat penelitian bisa dipecat tak terkecuali Prof. Jhon.

__ADS_1


***


Terdengarlah suara adzan sore hari berkumandang. Lantunannya yang merdu menjadikan hati tenang dan tentram. Ayah José berjalan menuju masjid untuk jamaah sholat ashar.


Senja di Bengkulu pastinya beda dengan senjanya Magelang. Kilau kuning kemerahan dan berkas mega merah disepanjang horizon. Penghibur bagi pikiran yang penat hati yang sedang sendu.


" Hai senja! Biasanya ada gadis kecilku yang akan duduk bersandar di bahu ini. Kau yang juga sedang nampak di Medan sana. Aku titipkan pesan untuk putriku ya, katakan jika semuanya akan baik baik saja. " Ayah José sedikit berkaca-kaca.


Tiba-tiba ponselnya berdering membuyarkan hanyutan sedihnya. Segera ia mengangkat panggilan,


" Ya hallo! " Ucap Ayah José.


" Tuan! Ceafi! Tuan tolong Ceafi! " Teriak seorang wanita dibalik telepon yang ternyata Lily.

__ADS_1


" Ceafi!? Ada dengan putriku! Halo! Lily halo! " Seketika itu juga Ayah José panik tak karuan.


" Tut tut tut...! " Suara panggilan tiba-tiba terputus.


__ADS_2