
Hari-hari baru terus Ceafi lewati, tibalah besok hari weekend. Hari dimana tidur siang yang panjang, mandi pagi tak berlaku satu hari, dan party sepanjang malam hingga pagi.
" Halo José! Sore nanti kau ada acara tidak bos?! " Tanya Prof.Jhon dari balik panggilan telepon.
" Oh tentu tidak, ada sesuatu yang pentingkah? " Jawab Ayah José.
" Baguslah, aku mengundangmu dan Nona Ceafi datang ke rumah. Ada acara Selametan Desa. Makan besar, kau pasti ingat bukan? " Prof.Jhon tertawa kecil.
" Itu yang selalu aku nantikan, baiklah sore aku akan ajak Ceafi ke rumahmu ya. Pastikan kopiku tersedia penuh, hahaha! " Ayah José tertawa lebar.
" Kopi apa? " Ceafi tiba-tiba datang.
" Hmn, kopi khas Jawa, Ayah rasa kau perlu tau rasanya. Jangan sampai kau jatuh cinta pada kopi ya, Prof.Jhon mengundang kita ke rumahnya untuk makan besar, kau pasti menyukainya. " Ayh José mengelus lengan Ceafi yang tengah berdiri dibelakangnya.
" Hmn, we will see. " Ceafi balik badan lalu pergi.
Dirumah Prof.Jhon tampak ramai orang, di desanya sedang ada acara selametan desa yaitu suatu acara sebagai ucap syukur kepada yang Kuasa atas kelimpahan rahmat yang diterima.
Biasanya selametan desa diadakan setelah panen raya. Para warga akan mengundang sanak saudara, keluarga, dan teman untuk datang ke rumahnya. Banyak makanan yang akan disajikan baik kue, makanan ringan, dan masakan yang tentu akan menambah berat badan. Hahaha!
" Ceafi! Ayo kita berangkat Sayang! " Ayah José berteriak memanggil Ceafi dari luar rumah.
" Tunggu sebentar Ayah, aku masih bersiap, " Ceafi keluar dengan tergesa-gesa dan memakai jaketnya sembarang lalu masuk mobil.
" Okay! Lets go! " Ceafi membuang nafas kasar.
" Jangan marah dong, kita akan party hari ini, ada makanan enak nanti. " Ayah José menatap Ceafi penuh kasih sayang.
" Baiklah ayo kita berangkat sebelum hari gelap, Tuan! " Ucap Ceafi meledek Ayah José.
Mobil melaju melewati keramaian jalan kota yang penuh kendaraan. Kemacetan saat weekend memang bikin stress, banyak orang keluar untuk liburan. Namun Ceafi tak menghiraukan riuhnya jalanan. Ya jelaslah, lagi ada senja di ujung barat.
Pandangannya tak teralih kemanapun. Tak tau kenapa rasanya sayang jika melewatkannya sedetikpun. Bagi Ceafi senja seperti menjadi bagian dari tubuhnya.
Dan gelap mulai menggantikan langit senja yang menjingga. Meninggalkan berkas cahaya cuma sedikit diujung titik sang surya tenggelam.
" Kota ini bagus senjanya, Ceafi ingin keliling kota lagi Yah. " Ujar Ceafi yang terus memandangi luar mobil meski langit telah sepenuhnya hitam.
__ADS_1
" Iya pasti, nanti saat kita pergi ke gunung untuk survey lagi, bolehlah camping disana. Ceafi bisa dapat sunset sekaligus sunrisenya. " Ayah José terus fokus mengemudi.
" Janji ya kita camping!? Awas kalau Ayah bohong! " Ceafi menatap tajam Ayah José.
" Iya Sayangku, apa yang tidak buatmu ha, " Ayah José mengusap kepala Ceafi.
Setelah perjalanan satu setengah jam, sampailah di desa Prof Jhon. Suasana tampak begitu meriah, banyak sekali orang datang disetiap rumah warga. Ceafi terheran sejak tadi masuk desa. Apalagi melihat ada pertunjukan seni di sebuah panggung dengan ratusan orang penonton. Kira-kira segitu sih, author gak mungkin ngitungin kan, hehe! Ditambah dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan street food dan mainan anak-anak.
Dan sampailah di rumah Prof.Jhon, rumahnya sudah banyak orang dan Ceafi langsung disambut oleh Prof.Jhon.
" Haii! Mademoiselle Ceafi…! Selamat datang di rumah saya, ayo Jos ajak putrimu masuk, kita makan-makan dulu ya! " Prof.Jhon sangat antusias menyambut Ceafi dan Ayah José.
" Kau sudah lapar kan? " Ayah bertanya pada Ceafi.
" Bagaimana jika belum? "Ceafi menatap Ayahnya.
" Hmn, kau akan tau nanti. Ayo Nona Kecil, " Ayah José merangkul Ceafi dan mengajaknya masuk.
Dan ciluk baaa! Mata Ceafi bulat sempurna. Begitu kagetnya dengan apa yang tersaji dirumah Prof.Jhon. Banyak orang, banyak makanan, dan semuanya gratis tis!
" Prof.Jhon ini seperti restaurant, " Ujar Ceafi pada Prof.Jhon.
" Iya tapi tidak sebanyak ini, Prof. " Ceafi tersenyum.
Sedangkan, Ayah José asyik ngobrol dengan keluarga Prof.Jhon seperti sudah akrab. Memang betul, Ayah José sering menginap dirumah Prof.Jhon saat dulu belum menikah.
***
Suasana malam di desa semakin meriah. Pertunjukkan seni tari memasuki babak puncaknya, Prof.Jhon mengajak Ceafi dan Ayah José untuk melihat pertunjukkan itu. Mereka menonton dibangku panggung penabuh musik sehingga dapat melihat penarinya secara jelas tanpa desak-desakan.
" Ayah tak bilang jika ada pertunjukan, Ceafi juga ingin abadikan momen ini. " Protes Ceafi pada Ayahnya.
" Ayah juga tak tahu akan ada pertunjukan, pake kamera HP juga bagus kan, sini Ayah bantu setting. " Ayah José mengulurkan tangan meminta ponsel Ceafi. Ceafi memberikan ponselnya.
" Nanti Ceafi bisa foto dengan mereka setelah ini kan? " Tanya Ceafi.
" Iya, tapi kita pulanngnya telat nanti, " Jawab Ayah José.
__ADS_1
" Tak masalah pekerjaanku besok hanya sedikit. " Ceafi tetap ingin menunggu pertunjukan usai.
" Lalu dengan pekerjaan Ayah? " Ayah José mendelik.
" Ada Ceafi, tenang saja! Besok aku bantu sedikit, haha! " Ceafi tertawa kecil.
Ayah José mengeluarkan usilnya, ia mencubit hidung Ceafi. Ceafi membalasnya dengan memukul bahu Ayah José.
Tepat pukul 01:00, pertunjukan seni tari berakhir. Setiap akhir tarian biasanya ada satu dua orang penari yang kesurupan. Memang sudah budayanya dari mbah buyut bahkan nenek moyang. Prof.Jhon memanggil beberapa penari yang tetap sadar pikirannya untuk diajak foto oleh Ceafi.
" Nona, jadi mau foto? " Prof.Jhon menepuk bahu Ceafi yang tengah asyik bicara dengan Akang Gendang, hehe becanda...
" Oh, sure! Itu mereka Prof?! " Mata Ceafi berbinar gembira.
" Yess, right! Ayo silahkan! " Prof.Jhon mempersilahkan Ceafi dengan tangannya.
Ceafi mengambil beberapa foto selfi bersama para penari. Mereka saling bercerita, Ceafi begitu antusias bicara dengan mereka yang menceritakan tentang sejarah tari tersebut.
Ceafi memang sangat menyukai budaya lokal. Baik di Eropa maupun di Asia. Baginya kebudayaan itu suatu karya yang lahir secara alami yang melambangkan keindahan suatu daerah.
Ayah José datang dan berniat mengajak Ceafi pulang. Ceafi menuruti saja, karena memang sudah sangat larut. Saat kembali ke rumah Prof.Jhon, Ayah José langsung pamit untuk pulang. Beberapa sanak saudaranya juga sudah pulang jadi rumah sedikit sepi.
" Jhon, thanks untuk kopinya ya, eh iya Ceafi menghabiskan dua gelas loh, " Ayah José memeluk Prof.Jhon.
" Aku tau itu, hati-hati dijalan ya, Nona jangan bosan main kesini ya, rumah Prof.Jhon selalu terbuka lebar. " Prof.Jhon bersalaman dengan Ceafi.
" Terima kasih, Prof, siapkan lagi kopinya, hahaha! " Ceafi tertawa lebar.
" Ohh José! Aku berhasil mengambil hatinya! " Ucapan Prof Jhon sedikit keras tanda puas.
Akhirnya Ayah José dan Ceafi berjalan pulang. Jalanan kota lebih sepi, hanya banyak kendaraan truk besar yang rodanya bikin ngeri saat menyalip. Ceafi mengeluh kekenyangan pada Ayahnya.
" Aduh..Ceafi terlalu banyak makan tadi, Ayah tolong aku... " Ceafi mengelus perutnya yang terlihat berisi.
" Hmn, tak apa, coba kau tarik mundur kursinya untuk berbaring, itu akan membuat perutmu longgar. " Ayh José tak menoleh ke Ceafi karena fokus mengemudi.
" Ohh...baiklah, " Ceafi melakukan saran dari Ayahnya.
__ADS_1
Ayah José hanya tersenyum melihat Ceafi. Dan terus melajukan mobil lebih cepat. Perjalanan lebih cepat malam ini, suara mobil memecah keheningan malam di desa. Ceafi terlelap dikursinya, Ayah José turun dan menggendongnya ke kamar.
Hari yang panjang untuk Ayah José dan Ceafi. Tidurlah hari esok telah menanti.