
Di sebuah taman yang sangat indah, suasana damai dan sejuk menghanyutkan. Tampak kolam dengan ikan koi warna warni cantiknya. Bunga anggrek berbagai jenis bermekaran di sekeliling taman begitu subur, tampak sempurna seperti taman impian.
Ceafi sedang menyiram bunga anggrek yang sedang mekar begitu cantik. Senyum anggunnya terukir dibibir tipis manis, dan bola mata biru yang teduh bersinar bagai berlian. Oooh mata birunya bikin author gagal fokus deh,
Dari belakang berjalan seorang perempuan membawa keranjang bunga. Ia bertubuh ramping, tinggi ideal dan wajah kulit langsat sama manis nya seperti Ceafi, namun bola matanya coklat.
Dengan balutan dress putih dan terdapat variasi renda bermotif bunga menjadikannya seperti seorang peri. Ia berjalan menghampiri Ceafi,
"Birunya anggrek ini sama seperti biru bola matamu. " Suaranya begitu lembut. Fix ini mah bunda peri dalam cerita dongeng. Ceafi tak berbalik melihat sosok wanita yang menghampirinya dari belakang.
"Mereka sedang berbicara denganku lewat mekar indahnya. Mama habis dari mana ? " Tanya Ceafi pada perempuan itu.
"Aku memetik bunga ini untukmu, Sayang. Lihatlah bunga ini tak ada ditaman ini, Mama memetiknya di hutan yang cukup jauh. " Jawab perempuan itu seraya menunjukkan setangkai bunga yang seperti bercahaya karena warna bunga itu putih bersih. Belum pernah Ceafi melihat bunga secantik itu.
Dan perempuan itu adalah Mama Jessie, sosok ibu yang sangat lemah lembut, sifat sejatinya seorang ibu. Wajahnya begitu tenang dan memancarkan kasih sayang.
"Mama lihatlah ada pelangi disana ! Ayo kita keatas bukit itu Ma ! " Seru Ceafi saat terlihat gugusan pelangi yang indah di kejauhan. Ceafi mengajak Sang Ibu melihatnya dari bukit, namun Mama Jessie hanya diam.
"Mama ayo cepat ! pelanginya cantik sekali, " Seru Ceafi seraya menarik lengan Mama Jessie. Tapi Mama Jessie melepas tangan Ceafi dan balik badan pergi. Ceafi pun mengejar Mamanya,
"Mama tunggu, Mama mau kemana !? " Teriak Ceafi pada Mama Jessie. Mama Jessie berbalik dan tersenyum pada Ceafi. Lalu tiba-tiba Ceafi terjatuh ke lubang yang sangat gelap dan dalam.
"Mama !! " Teriak Ceafi histeris hampir jatuh dari ranjang tempat tidur. Ternyata hanya mimpi ketemu Mama Jessie, dan teriakannya sampai membangunkan Ayah José. Dengan paniknya Ayah José berlari ke kamar Ceafi.
"Ceafi ! Ada apa, Sayang ? " Ayah José memeluk Ceafi yang gemetar ketakutkan.
"Ada apa Ceafi tiba-tiba teriak ? " Tanya Ayah José lagi.
"Tadi bertemu Mama ditaman yang sangat indah, tapi Mama lalu pergi saat Ceafi mengejarnya dan Ceafi jatuh ke lubang gelap yang sangat menakutkan, Ayah. " Jelas Ceafi.
"Ya Allah, begitu rindunya sama Mama Jessie sampai terbawa mimpi, minum dulu yah ? " Ayah José mengusap wajah Ceafi yang terlihat pucat, dan bangkit mengambil segelas air.
"Terima kasih Ayah, " Ceafi menerima air yang diambilkan Ayah José.
"Oke, tidur lagi ya, Ayah temani sampai Ceafi tidur lagi. Tidur ini masih malam Sayangku, " Perintah Ayah José sedikit khawatir melihat wajah Ceafi yang pucat dan badannya terasa hangat.
"Lalu Ayah ? "Tanya Ceafi saat kembali berbaring.
"Ayah tidak ngantuk, tadi sudah tidur sebentar habis gendong Ceafi. Kau mele watkan makan malam, mau Ayah ambilkan makan ? Tadi Bi Minah sudah memanaskan makanan Ceafi. " Ayah José mengelus kepala Ceafi.
__ADS_1
"Tidak Ayah, sudah larut tak baik makan berat, besok pagi aja ya ? " Ceafi tersenyum polos.
"Baiklah, sekarang kau tidur, baca doa buat Mama biar tenang. " Suara Ayah José sedikit berbisik.
Ceafi mengangguk dan mencoba memejamkan mata untuk tidur lagi. Tak lama kemudian, ia kembali terjaga dan Ayah José kembali ke kamarnya. Tak langsung tidur, ia membaca Al-Quran hingga larut malam.
"Loh, tumben banget Tuan ngaji malam-malam. " Ucap Bi Minah saat lewat di depan kamar Ayah José.
...****************...
Pagi cerah menyambut hari baru penuh harapan. Bibi Minah hendak membangunkan Ceafi, ia masuk ke kamar dan melihat Ceafi masih terlelap. Sedikit tak tega tapi tetap harus dibangunkan karena tak ingin tuannya terlambat sarapan.
"Non, ayo bangun sudah pagi Non, " Panggil Bi Minah sembari menggoyangkan tubuh Ceafi. Tak ada tanda Ceafi akan segera bangun, Bi Minah mencoba membangunkan Ceafi sekali lagi. Tapi kagetnya Bi Minah mendapati badan Ceafi terasa panas.
"Ya Allah, Nona Ceafi demam ! " Suara paniknya membuat Ceafi terbangun dan membuka mata. Bi Minah langsung keluar mencari Ayah José.
"Tuan ! Tuan ! Tuan José ! "Suara Bi Minah membuat Ayah José buru-buru keluar kamar.
"Piye Bi ?! Kok pagi pagi udah heboh begini, kenapa ?! " Tanya Ayah José dengan memakai aksen medhok Jawa.
"Eh Tuan ! Itu Non Ceafi, Non Ceafi demam badannya. " Jawab Bi Minah yang nampak cemas.
"Ceafi ! Anak Ayah demam ? " Tanya Ayah Josè saat memeriksa badan Ceafi.
"Ceafi baik kok Ayah, demam sedikit saja." Ceafi memegangi kepalanya dan menyadari bahwa badannya memang cukup panas.
"Baik ya, baik kok wajahmu pucat badan panas begini ha ?" Ayah José terlihat sangat khawatir.
Bi Minah datang membawakan susu serta roti sarapan untuk Ceafi,
"Non, sarapan ya ndak usah kerja dulu to, Bibi sudah telpon Dokter Rizki untuk periksa lagi. " Bi Minah tersenyum lebar.
"Hmn, Bi Minah emang top ! Bisa diandalkan. Baiklah, ayo makan dulu Nona Kecil. "Ayah José mengambil sepotong roti lalu disuapkan ke Ceafi.
"Maafkan Ceafi, Yah. Ceafi tak bisa jaga diri." Ceafi meminta maaf pada Ayah José.
"Tak masalah, lain kali kalau sakit jangan susah minum obatnya ya, Nona Kecil." Ayah José mengelus kepala Ceafi tanda sayang.
Bi Minah datang ke kamar mengabarkan bahwa Dokter Rizki sudah tiba.
__ADS_1
"Misi, Tuan ! Itu Dokter udah dateng," Kata Bi Minah.
"Oh oke Bi, langsung suruh masuk saja ya." Perintah Ayah Josè.
"Nggih Tuan ! " Bi Mimah mengangguk dan pergi segera memanggil Dokter Rizki.
"Selamat pagi semua ! Ada apa dengan Nona Kecilku, José ? " Sapa Dokter Rizki ramah dan menyiapkan alat medis untuk memeriksa Ceafi.
"Biasa tak mau makan dan minum obat, jadi kau boleh beri Ceafi hukuman suntik biar.. " Belum selesai Ayah José bicara sudah dipotong oleh Ceafi.
"Noooo !!! Tidak! Ceafi tak mau disuntik ! " Ceafi melompat dari ranjangnya hendak lari tapi dicegat oleh Bi Minah.
"Eh Non! Ndak bisa kabur, hehe.. " Bi Minah memegangi badan Ceafi yang hendak lari.
"Tidak kok, Dokter cuma periksa seperti kemarin tak ada suntik, cuma kalau diperlukan juga boleh." Dokter Rizki tersenyum mencurigakan.
"Ceafi kembali ke tempat, Ayah jagain sini." Pinta Ayah José. Ceafi menurut saja.
"Okey, periksa dulu ya, tenang tarik nafas.. keluarkan."
Dan tiba-tiba ada sakit seperti tusukan jarum. "Aww!! Sakit.. ! Dokter jahat!" Teriak Ceafi saat melihat jarum suntik di lengannya. Sontak Ceafi jadi berontak.
"Wait wait wait !! Jangan berontak, Sayang nanti keluar darah, bisa lebih sakit," Ayah José menahan tubuh Ceafi yang berontak akan lari keluar.
"Ayah tolong.. " Suara Ceafi sedikit pelan dan glek! Ia pingsan.
" Loh! Putriku kalah sama jarum suntik. Hey, Ceafi Sayang. " Ayah José mendekap putrinya , sedikit cemas tapi lega karena telah diobati.
"Tak apa Jos, putrimu hanya syok takut, dia akan istirahat lebih tenang. Ini akan mempercepat pemulihannya, aku sudah memberinya vitamin." Jelas Dokter Rizki saat membantu membaringkan Ceafi dengan Ayah José.
"Terima kasih Dokter Rizki, kau jadi lebih repot jika Ceafi sakit. Baiklah, ayo kita ngopi dulu, Dok. Masih pagi kan, duduk dululah sebentar. " Ayah José menawarkan untuk minum kopi.
"Mmm, baiklah jam pelayanan masih lama." Dokter Rizki mengiyakan.
Mereka saling bicara tentang kabar, kesibukan, dan Ayah José bercerita kehidupannya di Prancis. Dokter Rizki sangat dekat dengan keluarga Ayah José, apalagi dulu merawat Mama Jessie cukup lama. Setelah setengah jam mengobrol, Dokter Rizki pamit dan segera ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Ayah José menelpon seseorang, "Hallo Jhon! Ah begini, aku WFH ya karena putriku demam, iya dia cuma kelelahan dan kemarin nakal tak mau minum obat. Kau tahu tingkahnya jika berurusan dengan dokter bukan ? Hahaha, baiklah terima kasih, Jhon." Ayah José menutup telpon dan kembali ke kamar Ceafi.
Terlihat Ceafi masih terkulai tak bergerak seperti bunga layu. Berbalik saat ia berada diluar rumah. Wajahnya masih sedikit pucat dan panas ditubuhnya belum juga turun. Ayah José mengecup keningnya dan pergi untuk sarapan dan bersiap bekerja, meskipun dari rumah tetap harus rapi and cool dong. Hehe..
__ADS_1
Get Well Soon Ceafi