Ceafi & Senja

Ceafi & Senja
Penyesalan Ceafi


__ADS_3

Senja di Bengkulu pastinya beda dengan senjanya Magelang. Kilau kuning kemerahan dan berkas mega merah disepanjang horizon. Penghibur bagi pikiran yang penat hati yang sedang sendu.


" Hai senja! Biasanya ada gadis kecilku yang akan duduk bersandar di bahu ini. Kau yang juga sedang nampak di Medan sana. Aku titipkan pesan untuk putriku ya, katakan jika semuanya akan baik baik saja. " Ayah José sedikit berkaca-kaca.


Tiba-tiba ponselnya berdering membuyarkan hanyutan sedihnya. Segera ia mengangkat panggilan,


" Ya hallo! " Ucap Ayah José.


" Tuan! Ceafi! Tuan tolong Ceafi! " Teriak seorang wanita dibalik telepon yang ternyata Lily.


" Ceafi!? Ada dengan putriku! Halo! Lily halo! " Seketika itu juga Ayah José panik tak karuan.


" Tut tut tut...! " Suara panggilan tiba-tiba terputus.


Pikirannya hanya ada Ceafi, saking paniknya Ayah José berlari menuju mobil dan menyetirnya sendiri, ia lupa bahwa tadi diantar oleh pegawai dari rumah dinasnya. Tak peduli lagi padatnya jalanan, ia kemudikan mobil dengan secepat kilat.


***


" Tok! Tok! Tok! Tok!! " Keras sekali ketokan pintu kamar Ceafi.


Lily terus memanggil Ceafi yang sejak pagi ia tak mau keluar. Ceafi hanya diam didalam tak mau menjawab panggilan Lily. Sehingga membuat Lily panik, dan terpaksa harus memberi tahu Ayah José.


" Ceafi ku mohon jawab aku! Ayo keluar kau belum makan Cea', tolong jangan berbuat aneh aneh Cea' ! " Lily tak hentinya meminta Ceafi keluar.


Hingga malam tiba Ceafi tak juga mau keluar. Lily ingin mendobrak tapi sayangnya tak cukup tenaganya. Kebetulan hari ini para pegawai dinas semua rapat keluar kota dan tak satupun orang bisa Lily mintai pertolongan.


Terdengar suara pintu rumah dibuka kasar, ternyata Ayah José telah sampai dan langsung menuju kamar Ceafi.

__ADS_1


" Syukurlah Tuan José segera datang, " Lily menghampiri Ayah José.


" Ceafi! Ada apa kau didalam Sayang? " Ayah mencoba bertanya mungkin saja Ceafi mau bicara.


" Bagaimana jika dobrak saja Tuan, sudah sejak pagi Ceafi tak keluar. " Ujar Lily.


" Ya Allah, oke kau geser sedikit Li biar saya dobrak, " Ayah José mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu.


Akhirnya pintu dapat terbuka, mendapati Ceafi terduduk dimeja kerja sepertinya tak sadarkan diri. Ayah José menggoyangkan tubuh Ceafi untuk memastikan,


" Ceafi! Hey Sayang, ada apa denganmu? " Ayah José semakin panik. Dibawanya Ceafi ke kasur dan tampak Ceafi bergerak pelan.


" Ceafi.. Kau baik baik saja Bung? " Lily memijat kakinya untuk membangunkan.


" Ayah..? Lily? Ada apa kalian disini? " Tanya Ceafi yang kebingungan.


" Kau yang ada apa? Kenapa dari tadi pagi tak keluar, dipanggil tak menjawab ha? Kasihan Lily panik karena kamu Sayang, " Ayah José duduk ditepi ranjang memangku kepala Ceafi.


" Ini sudah malam, katakan pada Ayah apa yang kau lakukan? " Tanya Ayah José meminta penjelasan.


" Ceafi menangis semalam dan.. (mencoba untuk mengingat sesuatu), tiba tiba kepalaku nyeri sekali dan entah apa yang terjadi selanjutnya. Mungkin Ceafi tertidur Ayah, Ceafi ingat kalau Ceafi menangis sampai subuh. " Jelas Ceafi.


" Berarti kau pingsan Cea' wajahmu saja sampai pucat loh. Aku ambilin makan dan minum ya? " Lily beranjak keluar kamar untuk mengambil makan.


" Iya makan dulu ya Sayang. Ayah sampai lupa kalau Pak Didin ketinggalan di Bengkulu saking paniknya sama kamu loh, besok ke dokter ya untuk periksa kepalanya. " Pinta Ayah José begitu lembut pada Ceafi. Tak akan tega seorang Ayah José membiarkan putrinya meski sedang marah.


" Ceafi masih punya obat sakit kepala Yah tak usah perlu ke dokter. Aku baik baik Ayah. " Ceafi tersenyum simpul ke Ayah José.

__ADS_1


Lily masuk membawa sup hangat dan teh untuk Ceafi.


" Makanlah dulu Cea' selagi masih hangat. Saya permisi dulu Tuan, " Lily pamit keluar setelah meletakkan nampan makanan dimeja.


" Terima kasih Li! " ucap Ayah José dan Ceafi bersamaan.


" Ayah suapin ya, " Ayah José mengambil sendok dan sup untuk menyuapi Ceafi.


Ceafi mengangguk dan duduk bersandar pada dipan. Usai makan Ceafi ijin tidur lagi, kemudian Ayah José menuju kamarnya juga tidur. Harinya sangat berat dan lelah.


***


Hingga tiga hari Ceafi tak mau keluar dari kamar. Ayah José harus menjaganya setiap malam, takut jika Ceafi nekat melakukan sesuatu yang tak diinginkan.


Sepertinya Ceafi mengalami trauma yang dulu pernah dialaminya. Setelah kejadian operasi yang menyakitkan waktu di Prancis itu membuatnya menjadi trauma cemas berlebihan. Maka dari itu Ayah José menjaganya setiap malam.


" Ceafi sudah tahu Ayah, penelitian ini kemungkinan akan berhenti. Semua salah Ceafi, jadi besok aku akan kumpulkan tim dan membahasnya lagi. Ceafi janji akan bertanggungjawab Ayah. " Ucapan Ceafi begitu lembut membuat Ayah José trenyuh. Dengan menggenggam tangan Ayahnya Ceafi tersenyum meski dalam pikirnya tak yakin akan berhasil.


" Ayah akan selalu disamping Ceafi, sekarang Ceafi tak perlu cemas dan takut lagi. Jangan buat Ayah khawatir lagi ya? " Dengan halus Ayah José menanggapi ucapan Ceafi. Pelukan hangatnya begitu menenangkan untuk Ceafi.


" Hei hari ini cerah loh, mau ketemu senja? " Ajak Ayah José agar Ceafi mau keluar.


" Nanti Ceafi dijewer lagi ssma Ayah. " Ceafi tersenyum manja.


" Hahaha! Karena kau pergi sendirian tak ajak Ayah. Ayah tahu tempat yang bagus. Come on! " Ayah José tak sabar ingin keluar, hingga digendongnya Ceafi menuju mobil.


" Jadi Ayah Senja sekarang? " Ceafi tertawa kecil kepada Ayah José.

__ADS_1


Ayah José pun tertawa dan mengacak rambut Ceafi. Berjalanlah mobil menuju Pantai Gudang Garam yang katanya salah satu tempat menikmati senja yang cantik.


Sampai bertemu disana senja. Dimana semua masalah mencair di horizon.


__ADS_2