
Banyak sekali rekan kerja yang mengirim pesan pada Ceafi mengatakan semoga lekas sembuh, hingga Lily dan Prof. Jhon datang menjenguknya.
Setelah pemeriksaan kedua oleh Dokter Rizki, Ceafi sudah boleh beraktifitas.
" Kondisinya sudah membaik, panas demamnya juga turun tinggal banyakin makan dan minumnya ya, " Tutur Dokter Rizki panjang lebar.
" Oui, merci Dokter! Ceafi akan lebih menjaga diri lebih baik lagi. " Ceafi tersenyum.
" Iya dan ingat jangan panas-panasan dulu, tubuhmu masih belum terbiasa. Nanti minta Bi Minah buat beli buah tropis yang banyak vitaminnya. " Imbuh Dokter Rizki.
Ayah José masuk bersama dengan Prof. Jhon dan Lily,
" Hey Cea'! kau sudah mendingan? " Tanya Ayah José saat mendekat.
" Ha? " Ceafi menatap bingung tak mengerti, maklum kemampuan bahasa Ceafi masih agak formal, jadi masih ada kosakata yang belum ia pahami.
" Maksud Ayah kau sudah merasa baik, Nona Kecil? " Ayah José mengelus kepala Ceafi.
" Iya Ayah, Dokter bilang aku sudah boleh bekerja besok. " Ceafi menunjukkan senyum gigi putihnya yang membuat Ayah José gemas.
" Syukurlah kalau Nona sudah pulih, " Ucap Prof. Jhon yang berdiri disamping Dokter Rizki.
" Lily bawakan buah segar loh, Non! Bisa membantu badan pulih lebih cepat, jangan lupa dimakan, " Lily menaruh keranjang buah di meja dekat Ceafi.
" Tak perlu banyak repot Li, terima kasih banyak ya, " Ceafi tersenyum pada Lily dan Prof. Jhon
" Iya, sama sama. " Jawab Lily
Sore ini senja duduk sendiri di cakrawala, tak ada Nona Bule yang duduk setia di beranda rumah bersama buku dan puisi yang selalu ia lantunkan saat senja menyapa. Maaf senja tuan putrimu lagi sakit, didalam rumah dulu dia.
Setelah banyak berbincang, Prof. Jhon dan Lily pamit pulang begitu juga Dokter Rizki.
" Hati-hati semuanya! Salam untuk orang dirumah ya Jhon! " Sahut Ayah José saat semuanya berangkat pulang. Ia teringat kebiasaan Ceafi saat senja dan lalu masuk menemui Ceafi.
" Dapat salam dari senja, kasihan temannya harus absen karena sakit. " Ucapan Ayah José dibuat genit seperti anak gadis.
" Terima kasih senja, aku melihatmu meski dari dalam rumah. " Ceafi melihat jendela kamar yang tampak sinar jingga menyembur hingga memantul ke dalam ruang kamarnya.
" Makan dulu ya, Bi Minah masak enak loh, " Ayah José tersenyum semangat.
" Oh really!? Ayo kita makan sekarang, " Ceafi lebih semangat daripada Ayah José.
Mereka keluar kamar dan menuju meja makan, Bi Minah sudah menyiapkan hidangan untuk makan malam. Dan semua penghuni rumah makan malam bersama.
Ayah José merasa lega dan senang melihat Ceafi sudah baikan lagi. Habis makan mereka berbincang membahas pekerjaan. Akhir pekan rencananya akan jelajah hutan bersama para relawan penelitian. Mendengar itu, Ceafi sangat antusias dan ia ingin melatih badan dulu mulai besok.
__ADS_1
" Alright! Ceafi mau tidur sekarang, besok pagi akan olahraga, " Ceafi bangkit dan berjalan menuju kamar.
" Tapi jangan terlalu lelah dulu ya, kau belum 100% pulih Nona Kecil, " sahut Ayah José.
" Ya Tuan! " Sahut Ceafi balik dan tak menoleh ke arah Ayah José.
***
Birunya pagi, langit jernih seperti mata air yang belum tersentuh. Udara dingin sejuk, kicau burung di bilik-bilik pohon menyambut pagi dengan suka cita.
Ceafi sudah beraktifitas olahraga pagi ini, masih pukul 05:30 biasanya ia masih beribadah bersama Ayah José, tapi kali ini ia punya jadwal baru, yap olahraga pagi.
" Sayang! Air putih dulu! " Panggil Ayah José menawarkan minum pada Ceafi dari teras rumah.
" Ya! " Jawab Ceafi singkat. Dan berjalan menghampiri Ayah José yang sedang menikmati kopi diteras.
" Baru juga 10 menit bergerak sudah mandi keringat aku, hawa disini masih tetap hangat meski kata Bi Minah ini sangat dingin. " Ujar Ceafi saat mengambil minum di meja samping Ayah José.
" Itu tandanya angin dibadanmu keluar. Kau habis masuk angin kan, lihatlah gunung itu tak sabar menanti kita. " Ucap Ayah José pada Ceafi.
" Aku tak sabar berkencan dengan senja di atas sana. " Ceafi membayangkan indahnya senja saat dipuncak gunung nanti.
" Hmn, anak senja, baiklah Ayah mandi dulu, kau jangan terlalu lelah dulu oke, " Pesan Ayah José pada Ceafi dan pergi masuk.
" Ya Tuan..! " Ceafi tertawa lebar. Ceafi melanjutkan olahraganya.
***
" Hallo, Ceafi! Anda sudah sehat Nona?! " Tanya Lily, panggilannya kepada Ceafi belum terbiasa.
" Hai, aku baik sekali Li, ah iya terima kasih sudah handle pekerjaanku selama sakit. " Ceafi memeluk Lily. Meski agak kaku, Lily menyambut pelukan Ceafi. Kebiasaanya di Prancis tentu masih mendarah daging.
" Itu sudah jadi tanggungjawabku sebagai asisten, Nona. " Jawab Lily.
" Nona lagi? " Ceafi menatap sedikit tajam.
" Ehe! maksudku Ceafi. Nanti aku kasih filenya setelah apel yah, Come on kita masuk! " Lily merangkul Ceafi.
Pekerjaan dimulai dan semua penghuni kantor sudah disibukkan dengan berbagai dokumen. Ditengah fokus kerja, ada saja ulah Ayah José untuk menggoda putrinya.
Ayah José berjalan mendekati Ceafi dengan pelan,
" Serius banget Non! " Suara Ayah José mengagetkan Ceafi hingga reflek memukul Ayahnya.
" Astaga! Ayah! Kau mau aku mati mendadak ha!? Kaget Ayah! " Ceafi memukul dada Ayah José.
__ADS_1
" Hahaha! Ayah lihat serius sekali kerjanya, minum dulu ya, oh iya tadi Ayah pesan salad buah untuk Ceafi, kata Dokter kan harus banyak makan buah. " Ayah José merangkul Ceafi dan membuka botol air yang dibawa Ceafi dari rumah.
" Hmn, kembalilah ke meja aku banyak kerjaan, dan jangan kagetkan Ceafi seperti itu, " Ceafi mendengus kesal.
" Iya Nona Jutek! " Ayah José mencubit hidung Ceafi.
" What!? " Ceafi menatap tajam.
" Iya Nona Cantik, " Ayah José tersenyum dan segera kembali ke meja kerja.
Ceafi kembali fokus ke layar komputer, tak terasa terdengarlah lagu nasional diputar yang menandakan jam kerja kantor sudah usai dan saatnya pulang.
" Nona hati-hati ya! Jangan sakit lagi, " Kata Prof. Jhon pada Ceafi saat masuk mobil dan hendak pulang.
" Baik Prof, hati-hati dijalan! " Ceafi tersenyum simpul, inilah part momen cantik sempurnanya yang bikin akuh terlena.. Eh kok jadi gini ya authornya, duh salfok lagi.
***
Sore ini Ceafi merasa bosan hanya duduk dirumah menikmati senja bersama buku. Kali ini ia ingin menikmati sore dengan bersepeda keliling desa.
" Eits, mau kemana anak Ayah kok pake baju panjang!? " Ayah José menahan tubuh Ceafi yang hendak berjalan keluar rumah.
" Aku mau bersepeda, bosanlah Ceafi hanya diam dirumah. " Ceafi tersenyum.
" Sendiri saja? " Tanya Ayah José
" Yap! Ceafi berani Ayah, anakmu sudah dewasa tak perlu kau kawal kemana-mana, cukup kawal aku saat kerja saja oke, " Ceafi tertawa lebar begitupun Ayah José.
Ceafi mengayuhkan sepedanya menuju jalan desa, dan ketika sampai di ujung desa dimana jalan menuju hutan pertanian ia berhenti hendak mengambil gambar senja yang sedang menyelam menuju cakrawala. Jingga keemasan terpantul sempurna di lahan sawah yang belum ditanami padi.
Saat sedang mengambil foto Ceafi melihat sosok laki-laki sedang membawa rumput hendak pulang. Ceafi sengaja mengambil foto pria itu, dan mengambil fokus pada wajahnya.
" Siapa dia? Kau jadi model senjaku ya, " Ceafi tersenyum tipis.
Ceafi melihat ke arah langit dan berkata, " Hai senja kau begitu manis menggoda hari ini. Kau lihat seseorang disana? Dia temanmu dalam gambar ini. Terima kasih! " Ceafi terus memandangi langkah pria itu yang berjalan hendak pulang. Dan tak sengaja pria itu menoleh ke arahnya. Ceafi tersadar dan segera mengayuh sepedanya.
" Gadis dari mana itu, Pak? Keliatannya orang asing dari luar negeri. " Ucap pria itu pada seorang bapak tua yang ikut berjalan pulang dengannya.
" Itu putrinya Tuan José, baru saja pindah dari Eropa belum ada sebulan kok, " Jawab Bapak Tua itu.
" Oh begitu to, yowes ayo Pak cepet pulang sudah mau gelap ini. " Pria itu berjalan bergegas bersama Bapak Tua yang mengekor dibelakangnya.
Setelah makan malam Ceafi melihat-lihat hasil foto yang ia ambil saat bersepeda tadi. Ia memperhatikan foto pria itu, sepertinya ada ketertarikan dihati Ceafi.
" Ada apa dengan seseorang di kejauhan itu? Kenapa aku jadi aneh? " Ceafi meletakkan ponselnya dimeja dan bersiap untuk tidur.
__ADS_1
Ada cerita dibalik sepeda dan senja nih. Dasar bocah senja.