Ceafi & Senja

Ceafi & Senja
Kembali Seperti Semula


__ADS_3

Dengan tergopoh Lily berlari ke kamar Ayah José, mengetuk pintu dengan kasar karena saking paniknya. Lagi-lagi Ceafi membuat Lily panik untuk kedua kalinya.


" Tok! Tok! Tok! Tok! "


" Ya Allah ternyata kau Lily, ada apa kau mengetuk pintu heboh sekali ha? Ada maling kah?! " Tanya Ayah José saat membuka pintu, mata kantuknya masih begitu terlihat karena semalam menemani Ceafi hingga larut.


" Ceafi demam Tuan, badannya panas banget! Bisa gawat ini..! " Wajah Lily benar-benar panik. Dasar tukang panik, mungkin begitu batin Ayah José ya.


" Sejak semalam dia memang demam Lily.. biar saya yang bawa ke dokter kau tak perlu sepanik itu. Kau handle dulu jadwal hari ini ya? " Ucap Ayah José dan berlalu meninggalkan Lily begitu saja.


" Handle jadwal? Lagi gawat gini malah mikirin kerjaan sih, memang ya orang barat itu gila kerja, " Gerutu Lily pada Ayah José.


***


Dirumah sakit Ceafi terlihat berontak tak mau masuk ruang pemeriksaan. Sampai Ayah José dan perawat kewalahan membujuknya.


" Okey baiklah, terserah kau mau diperiksa atau tidak, Ayah mau cari pegawai yang bisa gantikan kamu dulu! " Ayah José bangkit dan akan pergi keluar tapi Ceafi menahannya dengan memeluk dari belakang.


" Ayaaah! Jangan diganti pliis! Ceafi mau periksa tapi Ayah harus ikut ke dalam ya? " Akhirnya Ceafi menyerah dengan ide pamungkasnya Ayah José.


" Hmn, besok kalo begini lagi langsung Ayah copot posisi tanpa beri tahu Ceafi, Nona Kecilku nakal yah! Ayo cepat dokter harus merelakan waktunya untuk pasien lain demi kamu Ceafi nakal! " Ayah José langsung menggendong Ceafi membawanya ke ruang periksa.


Dokter pun sampai geleng-geleng melihat tingkahnya. Tak sampai disitu, diruang periksa pun Ceafi heboh bukan main. Apalagi jika bukan karena jarum suntik.


" Ayaaahhhh!! " Teriaknya sangat memekakkan telinga. Dasar Ceafi ya


" Astaghfirrulah! Bisa bisa dokter jantungan gara-gara ulahmu! " Ayah José menutup mulut Ceafi agar tak berteriak.


" Ada saja Nona ini, sudah besar takut sama suntik ya? Dokter cuma kasih obat kok ini, " Ujar dokter yang memeriksa tetap dengan senyum ramah.


" Dokter sudah cukup, sudah ya aku mau pulang Ayaah.. " Rengek Ceafi pada Ayah José. Terlihat wajahnya benar-benar pucat ketakutan. Sekujur tubuh Ceafi berkeringat saking takutnya.


Pasti baru kali ini Si Dokter ketemu pasien seperti Ceafi. Ayah José sampai menahan malu dibuatnya. Cerita pagi di Medan hari ini. Hahaha!


Sepulang dari rumah sakit, Ceafi tertidur hingga siang hari. Ayah José merasa tenang melihat Ceafi istirahat pulas. Kemudian Ayah José kembali ke kantor mengurus pekerjaan yang sempat tertinggal tadi.

__ADS_1


***


Akhirnya kerja keras para tim peneliti berhasil mencapai target. Tak sia-sia mereka kerja lembur hingga malam selama dua minggu ini. Tak sampai disitu, mereka sudah mulai merencanakan untuk penelitian hutan di Kalimantan.


" Prof. Jhon! Saya mendapat telepon dari pusat mengabarkan jika laporan mingguan kita sudah diterima. Mereka bilang kerja bagus, " Ucap Lily saat menemui Prof. Jhon untuk memberikan suatu berkas.


" Wah! Kerja lembur kalian tak sia-sia, aku akan bilang kabar baik ini pada José terima kasih Lily! " Balas Prof. Jhon dengan senyum ramahnya.


Ceafi juga begitu senang mendapat kabar ini. Ayah José apalagi, sampai dia akan membuat perayaan.


" Rasanya aku perlu buat perayaan untuk kabar baik ini, gimana menurut Ceafi? " Ayah José memndang Ceafi antusias meminta pendapat.


" Ide bagus Ayah! Sebagai tanda permintaan maaf Ceafi, ah Ceafi tahu tempat yang bagus untuk makan bersama! " Sahut Ceafi dengan mengacungkan jempol ke Ayahnya.


" Ayah serahkan padamu untuk tempatnya Sayang, félicitations ma chére fìlle! " Ayah José merangkul dan mencubit hidung Ceafi.


Mereka bergurau didepan Lily, tentu membuatnya iri dengan kedekatan keduanya. Segera Lily pergi kembali ke meja kerjanya sebelum batinnya meronta-ronta. Hehehe!


***


" Terima kasih untuk tuan dan rekan semua yang bersedia hadir disini. Makan malam ini saya tujukan sebagai permintaan maaf saya serta ucapan terima kasih untuk semuanya atas kerja keras untuk mengejar deadline yang rasanya tidak mungkin. Namun kalian semua berhasil mencapainya. Ehm, ditempat ini masalah itu berawal, dan ditempat ini pula masalahnya berakhir. Terima kasih! " Panjang lebar Ceafi berbicara dan disambut tepuk tangan oleh semua orang.


Ayah José sangat bangga melihat putrinya yang pandai berbicara. Rino pun menghampiri mengucapkan selamat,


" Selamat yah, akhirnya bisa kembali seperti semula. hampir saja aku kehilangan pekerjaan. " Rino tersenyum menatap Ceafi. Bola mata birunya sampai bersinar balik menatap Rino.


" Haha kau ada saja, terima kasih untuk bantuanmu ya, tanpa ada kamu mungkin penelitian ini akan benar-benar berakhir. " Ujar Ceafi menepuk pundak Rino.


Mereka duduk makan bersama. Dari jauh Ayah José melihat dengan tersengum-senyum.


***


Hampir empat bulan lamanya Ceafi menjelajahi Pulau Sumatera. Kota Sabang sebagai titik terakhir untuk menutup penelitian hutan Pulau Sumatera.


" Rin!? Laporan hari ini kau serahkan ke Lily ya, aku harus pergi ke balai penelitian lain sama Prof. Jhon! " Perintah Ceafi pada Rino melalui sambungan telepon.

__ADS_1


" Siap Nona! Sebelum jam empat sudah selesai kok, " Sahut Rino dari seberang telepon.


" Kerja bagus Tuan Rino! Terima kasih ya, byee! " Puji Ceafi sebelum menutup telepon.


Bergegas menemui Prof. Jhon untuk berangkat menuju Kota Sabang. Ceafi, Ayah José, dan Prof. Jhon berangkat dengan satu mobil. Mereka akan mempersiapkan acara penutupan untuk penelitian Hutan Sumatera.


Setelah drama besar yang mewarnai, akhirnya tugas selesai juga. Sebelum menuju tugas baru selanjutnya, bolehlah bersenang sebentar. Refresh pikiran juga perlu, betul kan Cea' ? Hehe..


"Ayah besok pagi antar Ceafi ke taman dekat sini ya? " Pinta Ceafi pada Ayah José yang sedang menikmati kopi.


" Pagi-pagi ke taman, mau nyapu yah? " Gurau Ayah José menggoda Ceafi.


Ceafi mendengus kesal, " Bukan Ayaah, Ceafi mau tanam pohon disana. Sebagai tanda kenangan untuk Ceafi. Mungkin saja suatu saat Ceafi datang pohonnya sudah besar. Jadi Ceafi ingat bahwa sebelumnya Ceafi pernah kesini. " Jelas Ceafi.


" Baiklah Sayang, sekarang tidur ya sudah malam, " Ujar Ayah José sedikit berbisik saat membelai rambut Ceafi.


Terukir senyum simpulnya tanda mengiyakan. Bola mata biru yang bersinar indah tak luput dari tatapan Ayah José, begitu gemas dibuatnya. Ahh, your blue venom Ceafi!


***


Senja tampak biasa saja tak begitu gemerlap bersinar karena awan mendung. Namun di titik nol kilometer Indonesia, Ceafi bersumpah janji pada dirinya. Dititik nol inilah perjalanan sebenarnya akan dimulai, suka dan duka yang akan dilewati selanjutnya. Cerita-cerita baru yang akan melukiskan kenangan untuk hari tuanya.


" Dari titik nol kilometer Indonesia perjalanan akan dimulai. Aku berjanji akan menyelesaikan tugas penelitian ini tepat waktu. " Ucap Ceafi saat duduk di monumen titik nol kilometer.


" Perjalanan yang akan selalu dikenang. " Balas Ayah José yang berdiri disampingnya.


Ceafi tersenyum simpul, dan membentangkan bendera merah putih bersama Ayah José. Dan satu.. dua.. tiga, ckrek! Satu foto berhasil diambil.


Saatnya acara penutupan, yang berlangsung dengan meriah, ada tari Saman yang terkenal sebagai tarian khas dari Aceh.


Di meja tengah jamuan makan, terlihat Ayah José dan Rino berbincang serius.


Apa yang mereka bicarakan ya? Apa mungkin mereka bahas penelitian? Atau ada apa dengan Ranu Kumbolo?


Ups! Author keceplosan! Dah ya bahas besok, saatnya menikmati makan malam bareng Ceafi sebelum keburu dingin hehe!

__ADS_1


Terima Kasih!


__ADS_2