Ceafi & Senja

Ceafi & Senja
Melihatnya Lebih Dekat


__ADS_3

Hari baru menyapa, pagi baru tiba, harapan baru, mimpi baru, dan semuanya baru. Pikiran Ceafi juga baru, yah sosok pria diujung senja yang membuatnya bertanya-tanya. Siapa dia?


Hmn, Kamu nanyak? Hehehe mulai deh authornya koslet.


Ceafi sedang menuju dapur ingin membantu Bi Minah menyiapkan sarapan. Tak biasanya nih anak mau masak. Padahal setiap waktu sarapan selalu Ayah José yang menyiapkan makan.


" Belum mandi Non? " Tanya Bi Minah.


" Nanti dulu, aku ingin ikut Bibi masak lagipula ini masih jam 6. " Jawab Ceafi.


" Nanti Nona kena minyak, sudah biar Bibi saja, " Bi Minah merebut solet penggoreng yang Ceafi pegang.


" Ah Bibi, aku juga wanita yang harus bisa masak bukan? Come on, hari ini masak apa? Oh iya Ceafi mau bekal sandwhich saja, nanti sore mau makan dengan Lily diluar. " Ceafi mengambil pisau dan talenan untuk memotong bahan sandwhich.


" Ya sudah Nona buat sandwhichnya Bibi terusin masak sup dan goreng perkedelnya. Besok Nona libur kan, mau ndak temani Bibi ke pasar beli sayur? Stok dirumah sudah habis. " Tanya Bibi Minah yang ingin mengajak Ceafi ke pasar.


Dengan gembira Ceafi mengiyakan ajakan Bi Minah kebetulan juga tak ada kerja kantor karena akan jelajah hutan. Setelah selesai menyiapkan sarapan, Ceafi pergi mandi dan merias diri untuk kerja. Tak lama, semua penghuni rumah sarapan bersama dan tepat pukul 07:20 Ayah José dan Ceafi berangkat ke kantor.


Sebelum memulai kerja, Ceafi sempat membuka foto pria itu lagi.


" Kenapa aku memikirkan dia ya? Oh Ceafi, waktunya bekerja jangan sampai harimu kacau karena foto laki-laki. " Ucap Ceafi segera menyimpan ponselnya dan mengerjakan tugas penelitian.


Semua penghuni kantor penelitian disibukkan dengan berkas-berkas penelitian, rencananya akhir pekan tim peneliti akan terjun ke hutan gunung terdekat. Ayah José dan Ceafi begitu antusias tak sabar ingin menjelajahi hutan gunung di Magelang.


***


Penatnya kerja seharian, Ceafi ingin mengajak Lily untuk makan setelah jam kerja usai.


" Lily, habis apel kita cari makan ya. Aku ingin makan kuliner yang waktu itu kau bilang. " Ceafi merangkul Lily saat berjalan keluar kantor.


" Oh tentu, bersama Tuan José? " Tanya Lily.


" Tidak! Ayah ada rapat privat dengan Prof.Jhon, aku tak mau bosan menunggu jadi ayo kita pergi ke kuliner! " Wajah Ceafi tampak ceria sekali.


" Lets Go! " Seru Lily begitu semangat.


Kedua gadis cantik itu keluar dan menaiki sepeda motor yang dikendarai oleh Lily. Saat ditempat kuliner Lily memilih banyak kuliner membuat Ceafi heran, belum lagi perhatian orang-orang padanya. Tak jarang ada penjual kuliner yang menggoda Ceafi dengan bahasa jawa yang membuat Ceafi bingung.


" Kau belum makan sejak kapan Li? " Tanya Ceafi pada Lily saat datang membawa banyak makanan.


" Aa.. anu..baru dua jam yang lalu aku makan siang, kemarilah kau perlu tau cita rasa lokal Indonesia. Aku yakin kau akan suka. " Lily menata makanan yang dibelinya dimeja bar yang tersedia. Suasana tempat kuliner ini cukup ramai karena biasanya banyak orang habis kerja akan mampir mencari makan atau sekedar ingin ngopi santuy sehabis lelahnya bekerja.


" Kau benar, tapi bukan sebanyak ini juga. Di Europe makanan sebanyak ini cukup untuk satu hari Li. " Ujar Ceafi.


Mereka berdua menikmati jajanan kuliner hingga menghabiskan semuanya. Ceafi memutuskan untuk kembali ke kantor takut Ayahnya menunggu lama. Lily membelikan beberapa jajanan untuk Ayah José dan segera mengantar Ceafi ke kantor.


***

__ADS_1


Tiba juga di rumah, Ceafi menjalani ritual senjanya, Ayah José menyiapkan keperluan camping untuk besok dan Bibi Minah sibuk menyiapkan makan malam yang dibantu oleh Pak Slamet.


Setelah selesai ibadah shalat semuanya makan malam bersama. Tak banyak pembicaraan malam ini, Ayah José meminta Ceafi istirahat lebih awal agar besok tidak kelelahan.


" Good night Ayah! " Ucap Ceafi seraya mencium pipi Ayahnya dan berjalan menuju kamar.


" Hmn, tidurlah Sayangku besok perjalanan panjang menanti. " Balas Ayah José melihat punggung Ceafi yang menjauh.


Dan malam kian sunyi, hawa dingin ditambah hembusan angin yang cukup kencang membuat suasana kian syahdu. Seluruh penghuni malam telah terlelap dalam mimpi tidurnya. Menyelami harapan dalam angan, berharap fajar datang dengan cita dan kebahagian untuk umat manusia.


***


Bi Minah masuk ke kamar Ceafi dan membangunkannya,


" Non! Ayo bangun katane mau ikut Bibi ke pasar? " Bi Minah menggoyangkan tubuh Ceafi.


" Hmmh, jam berapa Bi? " Ceafi menggeliat balik bertanya.


" Jam 5 Non, kita harus pagi sekali karena pasar sayurnya kalau siang harganya jadi mahal Non. " Jelas Bi Minah dan ia mengambil air untuk Ceafi.


Ceafi menerima air dari Bi Minah,


" Oke Ceafi siap-siap dulu ya Bi, Ayah sudah bangun belum Bi? " tanya Ceafi


" Sudah Non, sedang shalat bareng Mas Doni. Ya sudah Non siap-siap biar Bibi siapin sarapan dulu. " Bi Minah keluar dari kamar Ceafi.


Tak lama Ceafi keluar dari kamar, dirinya sudah rapi dan siap pergi, tampilannya simpel dan elegan sekali pagi ini, skirt pendek selutut dan atasan kemeja motif bunga. Rambut ia biarkan tergerai dan make up tipis, meski belum mandi parasnya tetap cantik sempurna apalagi mata birunya. Ooohh... Your blue venom.


Ceafi mengikuti Bi Minah yang berjalan menghampiri lapak pedagang. Tak jarang ada orang yang menyapa Bi Minah, dan tentu Ceafi menjadi pusat perhatian orang.


" Eh Mbakyu Minah blonjo ya?! Karo sopo iku kok ada cewek bule wayu tenan mbakyu. Calon mantu yo?! " Tanya pedagang buah dengan medhoknya.


Ekspresi Ceafi hanya datar saja karena tak mengerti, ia sibuk memilih buah didepannya.


" Hush! Ora ngawur Mbakyu, iki putrine juraganku Tuan José teko Prancis Eropa adoh kono, tak jak ning pasar jarene pengen weruh pasare kene. " Balas Bi Minah tak kalah medhoknya.


" Wah ayu tenan je Mbak Minah, tak dadekne mantu oleh?! " Tanya Pedagang itu lagi dengan genitnya.


" Wes rausah neko neko arep tuku buah wae! " Tukas Bi Minah.


" Hey Cah Ayu, bisa bahasa?! " Sapa pedagang itu pada Ceafi.


" Ah iya Ceafi bicara bahasa, aku mau mangga dan jeruknya ya. "Jawab Ceafi dengan sopan dan lemah lembut.


" Oh siap Cantik! Ih ayunee.. pinter bahasa indonesia jebule. " Puji pedagang itu yang dibalas senyum oleh Ceafi.


Karena kenal akrab dengan Bi Minah, pedagang itu memberi Ceafi buah manggis yang tentu belum pernah ia temui saat kecil maupun di Eropa. Pedagang itu memberi beberapa buah secara gratis pada Ceafi.

__ADS_1


Ceafi meminta ijin pada Bi Minah ingin membeli topi,


" Bi aku mau beli topi sebentar disana, " Ceafi menunjuk lapak penjual topi.


" Oke Non, jangan jauh-jauh ya nanti kesasar. " Pesan Bi Minah.


" Iya Bi aku cuma sebentar, " Ceafi berjalan agak cepat menuju penjual topi.


Karena pandangannya fokus ke depan Ceafi tak sengaja menabrak seseorang. Brukk!! Keduanya jatuh.


" Oh my goodness! Sorry maaf maaf saya tidak.. " Begitu kagetnya Ceafi melihat orang yang ditabraknya adalah pria yang waktu itu difotonya, Ceafi sangat malu.


" Gakpapa Mbak, eh maksudnya Im fine! " Pria itu membereskan belanjaan yang berantakan.


" Saya minta maaf sekali karena tak melihat anda tadi, saya bantu ya, Mas! " Ceafi ikut memunguti barang yang berserakan.


" Bisa speak bahasa ya? Sudah tak apa, biar saya yang bereskan Non, " Pria itu menahan tangan Ceafi.


Jantung Ceafi tiba-tiba berdebar menatap pria itu, bahkan ia terus memandangnya saat pria itu berjalan pergi. Ada sesuatu yang aneh diperasaannya yang tak ia pahami. Ceafi segera membeli topi dan kembali ke Bi Minah.


***


Siang hari saat persiapan untuk camping, Ceafi kembali bertemu dengan pria itu lagi, sekarang ia yang mendatangi rumah Ceafi. Pak Slamet yang memintanya untuk mengantar tenda kemah yang dipesan Ayah José.


" Permisi! Assalamualaikum! " Sahut pria itu mengucap salam saat sampai didepan rumah.


Pak Slamet keluar, " Walaikumsalam, eh Rin tenda yo?! Sini bawa masuk aja, " Pak Slamet mengajaknya masuk.


Ceafi pun pergi ke ruang tamu karena ingin mengambil buku catatan untuk jadwal nanti, dan deg! Kaget lagi melihatnya sekarang ada di rumahnya.


" Eh Non, ini tenda untuk nanti ya, Bapak sudah siapkan juga keperluan lainnya. Oh iya ini Rino ponakan Pak Slamet kemarin Tuan pesan tenda sama dia. " Pak Slamet mengenalkan pria itu yang ternyata namanya Rino.


" Oh ya, salam saya Ceafi, yang tadi tabrakan di pasar kan? " Ceafi mengulurkan tangan bersalaman dengannya.


" Rino, senang bertemu lagi Non, " Pria itu menjabat tangan Ceafi malu-malu.


" Ya aku melihatmu lebih dekat, " Ceafi keceplosan.


Apa yang kau pikirkan Nona Bule? Cepat ambil catatanmu dan pergi sebelum kacau raut wajahmu.


" Dekat apanya Non? " Pak Slamet menyadarkan ucapannya.


" Ah iya ini catatanku ada didekat sini, permisi ya, " Ceafi mengambil catatan dan berjalan cepat menuju kamarnya.


Wajahnya merah merona menahan debar jantung dan malu. Gemesh banget liatnya, apalagi jika Ayah José tahu pasti heboh deh.


Hingga sore pun tiba, setelah makan Ayah José mengajak Ceafi berangkat. Rekan peneliti lainnya juga sudah dalam perjalanan menuju gunung untuk jelajah hutan.

__ADS_1


Di mobil Ceafi membuka foto pria itu lagi yang bernama Rino, dalam hatinya bergumam.


" Aku melihatmu lebih dekat, siapa dia sebenarnya? Dan apa arti debar jantung ini? "


__ADS_2