
Di rumah kecil sederhana dengan halaman berhias tanaman rumput jepang yang tak begitu rimbun, Rino datang dengan membawa kandang dan terdapat seekor anabul kucing. Dia mengetuk pintu setelah sampai didepan rumah.
" Tok! Tok! Tok! " Suara ketukan pintu.
" Nggih..! " Terdengar suara jawaban dari dalam rumah.
" Rin!? Ono opo rene Cah bagus? " Tanya Pak Slamet seketika membuka pintu.
" Oh niki Pak, Rino badhe nitip kucing buat dikasih ke Non Ceafi. Kemarin dia suka banget ketemu kucing saat berkunjung ke rumah. Kebetulan Rino badhe tindak Nusa Tenggara ada panggilan relawan Pak, " Ucap Rino sangat santun terhadap Pak Slamet.
" Kok ra diterke dewe to? Sekalian pamit Non Ceafi? " Pak Slamet menatap cengengesan ke Rino.
" Ah ndak Pak, Rino sudah harus berangkat sekarang. Nyuwun pamit njih Pak. Assalamualaikum! " Rino menunduk dan pamit undur diri. Terlihat wajahnya malu-malu saat Pak Slamet memintanya untuk pamit pada Ceafi.
" Yowes ati ati, walaikumsalam! " Ucap Pak Slamet kemudian masuk membawa kandang kucing itu.
***
Di kantor, Ceafi tampak sedang fokus bekerja . Ia lupa bahwa hari ini Rino akan berangkat ke Nusa Tenggara Timur. Hingga akhirnya jam pulang telah tiba, ia tak menyentuh ponselnya sekalipun.
" Ayah makan siang diluar boleh? " Tanya Ceafi saat dalam perjalanan pulang.
" Hmn, tadi Bi Minah bilang akan masak kesukaan Ceafi karena hari ini pulang siang. Masa ngga kasihan Bi Minsh yang sudah susah payah masak untuk kita. " Ujar Ayah José meminta Ceafi untuk makan di rumah saja.
" Okey baiklah, mari kita percepat jalannya Ayah. Kau tak mau putri kesayangan ini kelaparan bukan? " Ceafi melirik Ayahnya dan tersenyum.
" Baiklah Nona Kecil, pegangan yang kuat! " Ayah José tersenyum lebar.
Laju mobil menerobos padatnya lalu lintas kota. Sesampainya di rumah Ceafi langsung menuju meja makan. Tak sabar ingin makan hidangan kesukaannya. Semenjak pertama Bi Minah masak sup jagung dan perkedel kentang, Ceafi jadi suka makan masakan Indonesia. Dan sekarang ia mulai mencoba makan dengan sambal.
Saat Ceafi sedang menata bunga anggrek yang mulai mekar, Pak Slamet datang memberikan kucing titipan Rino.
" Non ada titipan dari Rino. " Ucap Pak Slamet.
Ceafi terkejut mendengarnya, " Hah! Rino?! A..apa yang dititipkan Pak? " Tanya Ceafi sedikit gugup.
__ADS_1
" Nih dapat anak bulu buat Non Ceafi, " Pak Slamet mengeluarkan kucing itu.
" Oh my cutie..! Ah iya aku sampai lupa hari ini Rino berangkat kan? Kapan dia berangkat Pak?! " Tanya Ceafi lagi sambil mengambil kucing itu ke pelukannya.
" Sudah tadi pagi, memangnya tidak dikabari? " Pak Slamet melirik dan tersenyum lebar.
" Jadi Rino sudah pergi ya? Tidak Ceafi tak mendapat pesan darinya. Mana mungkin aku tahu, sejak bangun aku tak menyentuh ponsel sama sekali. " Ceafi menepuk keningnya.
" Yah Non, sudah telat, " Ucap Pak Slamet.
" Sebentar aku lihat ponselku. Tolong tata bunga yang sebelah sana ya Pak, " Ujar Ceafi lalu bergegas masuk mencari ponselnya dan menggendong Si kucing itu.
Raut wajahnya seketika cemberut melihat tak ada pesan apapun dari Rino. Hati Ceafi tiba cemas dan khawatir. Kemudian ia menulis pesan kepada Rino.
" Hati-hati dijalan ya, kabari aku setelah kau sampai. Ingat segera pulang tugas kita masih banyak dan panjang. " Tulis Ceafi dipesan yang sudah terkirim.
Ceafi melihat kalung yang terpasang dileher kucing dan terbaca nama Loudra. Ceafi tersenyum simpul dan memeluk kucing itu.
" Hei Loudra, boleh kau cerita tentang tuanmu yang lugu itu? Kita akan tidur bersama malam ini, Sayang. " Ceafi beranjak dari kamarnya dan pergi keluar bersama Si anabul dalam pelukannya.
" Hei seru sekali disini! " Ayah José menangkap Loudra yang berlari ke arahnya.
" Ini punya Rino dititipkan kepada Ceafi. " Ujar Ceafi saat menghampiri Ayahnya.
" Hmmnn..pantesan, " Ayah José melirik dan tersenyum menggoda Ceafi.
Hingga sore mereka bermain di taman melepas lelahnya pekerjaan. Hingga tabuh adzan petang berkumandang Ceafi masih setia bersama Loudra menikmati senja.
***
Pagi hari saat Ceafi bangun tidur terdengar dering ponselnya, terlihat Wina yang menelpon
" Hai Win? " Sapa Ceafi saat mengangkat ponselnya.
" Kau sedang sibuk? Aku ingin pergi keluar tapi cintaku sedang pergi jauh.. " Ucap Wina sedikit genit manja.
__ADS_1
" Aku baru saja bangun Win, mau kemana kita? " Tanya Ceafi sambil berdiri mengambil air dimeja dekat ranjang.
" Ada kafe tempat biasa aku dan Dika ngopi saat libur. Aku jemput kau yah satu jam lagi. " Ujar Wina begitu cerianya.
" Okay aku pergi mandi dulu ya, see ya! " Ceafi menutup panggilan dan pergi meraih handuknya untuk mandi.
Satu jam kemudian sepeda motor Wina sampai di depan rumah Ceafi. Ayah José tampak berdiri di teras,
" Hai Nona Wina! Cantik sekali kau hmn? " Ucap Ayah José saat Wina menjabat tangannya.
" Ah Tuan José berlebihan, Ceafi dimana ya? " Tanya Wina.
" Ada didalam pergilah! " Ujar Ayah José dan duduk meraih buku yang tengah dibacanya sejak tadi.
Ceafi keluar dari kamar dan langsung menghampiri Wina. Mereka berpelukan dan cipika cipiki seperti sahabat dekat yang sudah lama berpisah.
Setelah siap Ceafi pamit pada Ayah José dan berangkat menuju kafe yang dibicarakan Wina saat ditelepon tadi.
" Bye Ayahh! " Ceafi melambai ke Ayahnya.
" Hati hati Sayang! " Balas Ayah José.
Ceafi dan Wina menghabiskan waktu seharian di kafe. Bahkan menanti senja disana. Bagaimana tidak, kafe itu memiliki tempat duduk outdoor dengan pemandangan pegunungan yang indah.
Tak terasa sapaan senja telah habis di ufuk barat tersisa mega jingga tipis tipis di cakrawala. Wina memutuskan untuk mengajak Ceafi pulang.
***
Hawa dingin Magelang saat malam cukup terasa hingga ke tulang. Bulan tak begitu terlihat malam ini karena mendung tampak bergerombol. Sepertinya besok akan hujan pagi hari.
" Drrt! Ting! " Suara tanda pesan masuk diponsel Ceafi. Namun Ceafi telah tertidur pulas, rupanya dingin malam berhasil membawanya terlarut kedalam mimpi lebih cepat.
Terlihat nama Rino dalam pesan itu, Rino sudah sampai di tujuan dan membalas pesan Ceafi sebelumnya.
" Aku sudah sampai Cea' selamat malam, segera tidur ya. Aku akan segera kembali setelah tugas selesai. " Tulis Rino dalam pesannya.
__ADS_1