Ceafi & Senja

Ceafi & Senja
Kebut Deadline


__ADS_3

" Baik para rekan terima kasih untuk semua laporan hari ini, jangan lupa untuk rapat nanti malam ya? Dika habis ini kita temui Pak Gun. " Ujar Rino mengucapkan terima kasih pada tim lapangan dalam briefing penutupan jadwal hari ini.


" Oke, semua sudah beres ayo segera kembali ke kantor! " Dika merapikan tasnya dan mengajak Rino untuk kembali ke kantor.


Sore hari yang padat, banyak manusia berbondong menuju rumah untuk melepas lelah. Bertemu dengan keluarga, bertemu orang-orang tercinta, bertemu senja di horizon. Sebelum kembali lagi bekerja esok hari.


Lain cerita dengan Ceafi, Ayah José, dan Prof. Jhon, mereka masih dikantor bergulat dengan berkas yang entah kapan habisnya. Kesempatan kedua yang diberikan oleh kantor pusat memaksa mereka tim penelitian kerja lembur setiap hari. Bahkan seminggu ini Ceafi bekerja hingga larut malam bersama Sang Ayah.


" Sayang rapat sebentar lagi, kau sudah makan? " Tanya Ayah José saat bersiap untuk rapat.


" Aku sudah minum susu, biar makan habis rapat saja. Ayah sudah analisis datanya kan? " Ceafi berdiri menghampiri Ayahnya.


" Iya sudah semua Sayang, kau begitu lelah rupanya? Kita mulai sekarang saja yuk! ".Ayah José mengusap wajah Ceafi yang cantik mulus.

__ADS_1


Rapat segera dimulai, meski Prof. Jhon sangat sayang pada tim penelitiannya tapi mau bagaimana lagi, deadline terus mendekat sedangkan pekerjaan masih bertumpuk menggunung. Semua staf peneliti juga ikut bekerja keras demi mengejar deadline.


" Semua data sudah tervalidasi dengan akurat, saya minta untuk terus mengontrol tim lapangan agar kejadian manipulasi data tidak terulang lagi. Untuk jadwal minggu depan sudah dikirimkan oleh Lily ke email masing-masing. Saya kira rapat ini cukup, terima kasih atas kerja keras rekan semua. " Panjang lebar Prof. Jhon menjelaskan sebelum menutup rapat.


Tersisa Ceafi, Ayah José, dan Prof. Jhon yang masih berdiskusi panjang. Ceafi tak ingin membuat salah sedikitpun, jadi setiap rencana jadwal ia bahas sebaik mungkin. Beruntungnya ada Lily yang bisa diandalkan, yang selalu gesit dan cepat tanggap. Itu mengapa Lily selalu mendapat gelar pegawai paling rajin setiap tahun.


***


" Ceafi ada apa Sayang!? " Wajah Ayah José tampak panik.


" Tiba tiba kepalaku sakit Yah, biasanya tak sesakit ini. Aww! " Ceafi merasakan nyeri dipunggung dan lutut.


" Ya Allah! Kau pasti sangat kelelahan, biar Ayah gendong ke kamar. Besok pagi ke dokter oke, no protes! " Ayah José menggendong Ceafi membawanya ke kamar.

__ADS_1


Ceafi hanya pasrah menahan sakit kepalanya membuat tubuhnya lemas tak karuan. Wajahnya begitu pucat,


" Ayah! Temani Ceafi sebentar! " Pinta Ceafi menahan tangan Ayah José yang hendak keluar.


" Ayah mau panggil dokter, lihat badanmu mulai demam, jangan sakit Putriku sayang. " Ucap Ayah José membelai rambut Ceafi.


" Besok saja ini sudah malam, maaf Ceafi buat Ayah khawatir. " Ucap Ceafi sambil terus menggenggam tangan Ayah José.


Ayah José memutuskan tidur bersama Ceafi. Begitu cemasnya dengan putri tercinta, sampai tak tega meninggalkannya sendirian. Hingga pukul satu pagi Ayah José terjaga disamping Ceafi, mengompres badannya agar demam Ceafi segera turun.


Tak biasanya Ceafi sakit tiba-tiba begini. Tapi diam-diam ia mengeluhkan sakit kepala yang cukup hebat beberapa kali pada Lily. Namun, Ceafi tak bicara pada Ayah José karena pasti akan geger membawanya ke dokter. Tentu saja itu sangat dihindari oleh Ceafi.


Jangan sakit Nona Kecilku pekerjaan lagi banyak.

__ADS_1


__ADS_2