
Setelah makan malam dan sembahyang, Ayah José menemani Ceafi tidur. Sebelum Ceafi dewasa Ayah José selalu menemani Ceafi tidur, bahkan sering tidur bersama.
Ceafi menguap dan tiba-tiba memegangi kepalanya,
" Huahem..! Aw! Kepalaku sedikit pusing, "
Ayah José sigap langsung memijat kepala Ceafi.
" Kau sakit? Sini Ayah pijat, Ayah rasa kau terlalu sering berpanas panasan. " Ayah José memijat dengan pelan.
" Bisa jadi, aku jarang bahkan tak terbiasa di tempat panas. Ceafi jadi teringat saat heat stroke di Amerika waktu itu. " Ceafi terus memegangi kepalanya.
" Ah iya, Ayah ingat betul betapa melasnya wajahmu. Tunggu ya, Ayah ambil obat pusing dulu. " Ayah José bangkit ingin ambil obat namun Ceafi menahan tangan Ayahnya.
" Tak perlu Ayah, cukup kau pijat dan temani aku terlelap sudah cukup. " Tatapan Ceafi memohon, karena ia tak suka minum obat.
" Memang Ayah ini dukun!? Bilang saja kau tak mau minum obat, hm? " Ayah José mencubit hidung mancung Ceafi.
Ceafi hanya tersenyum dan tak melepaskan pegangannya pada Ayah José.
" Tapi segera tidur ya, kalau tidak Ayah paksa minum obat. " Ayah José duduk dan kembali memijat kepala Ceafi.
" Iya Ayah José Joshington terhormat, " Ceafi memanyunkan bibirnya ke arah Ayah José.
" Berani nakal ya, awas kalau besok tumbang, " Ayah José mencubit hidung Ceafi lagi.
Mereka bercanda hingga Ceafi lelah dan tertidur. Tiba-tiba Ayah José tertunduk dan tampak air mata menggenang tertahan dikelopak matanya. Ia mendongak agar tak jatuh ke pipi Ceafi yang sudah tidur syantiik.
" Setiap melihat wajah ini semakin membuatku terus tergambar wajah jelasmu Jessie, sifatmu semua sama dengannya. Tapi aku juga khawatir Jess, jangan sampai ia juga bernasib sama denganmu. Ceafi adalah harta permata paling berharga untuk kita Jess, doakan aku untuk selalu sehat agar bisa menjaganya dimanapun dan kapanpun. " Ayah José mengusap wajahnya dan menyelimuti Ceafi kemudian keluar untuk membaringkan badannya yang sudah ngantuk juga.
Hawa malam kian dingin, para penghuni malam juga sudah terlelap dengan harapan mereka untuk esok hari. Bulan juga lebih memilih menutup wajahnya karena tak banyak kabar cerita hari ini. Dan gelap berselam hingga tabuh pagi terdengar membangunkan fajar untuk terbit memberi tanda kehidupan nyata telah datang didepan pintu sadar.
Meski masih menggeliat, suasana semakin menyala bersama dengan pancaran biru cerah yang menyembul di ufuk timur.
***
" Ceafi Sayang, bangun udah jam 6 putriku, " Ayah José membangunkan Ceafi dengan menggoyangkan badannya. Ceafi menggeliat malas.
" Hmh, Ceafi sedikit tak enak badan Yah, aku kerja dari rumah aja boleh? " Suara Ceafi sedikit lirih. Wajah Ceafi sedikit pucat dan badannya terasa dingin, Ayah José memeriksa badannya.
" Hmn, kan Ayah sudah bilang harus minum obat. Jadinya kalau begini harus gimana? " Tanya Ayah José sedikit menjebak.
" I dont know! " Jawab Ceafi malasnya.
" Ya ke dokter dong! Ayah ambilkan makan habis itu periksa ke dokter. " Ayah José keluar dari kamar. Ceafi hanya diam tak menanggapi, kali ini benar-benar sakit.
Ayah José datang sembari membawa nampan berisi sarapan serta segelas susu hangat.
" Come on, my girl! Ayah suapi ya, " Ayah José bersiap menyuapkan makanan pada Ceafi.
" Aku makan sendiri bisa Ayah, " Ceafi duduk meraih sendok yang dipegang Ayah José.
Bi Minah datang, " Nona! Bibi ikut antar ke dokter buat periksanya ya? Biar Tuan pergi ke kantornya ndak telat. " Bi Minah menawarkan diri untuk mengantar Ceafi ke dokter.
" Tak perlu ke dokter Bi, Ceafi minum obat saja sudah cukup. Lagi pula aku cuma kelelahan. " Ceafi tersenyum pada Bi Minah.
Ayah José melotot pada Ceafi, "Apa tak perlu!? Kau mau mati kedinginan!? Bi habis ini kita bawa Nona Nakal ini ke dokter aku yang antar nanti pulangnya pake GoCar tak apa. " Ucap Ayah José pada Bi Minah.
" Tidak Ayah! Ceafi tak apa apa! Baiklah aku akan pergi ke kantor, " Ceafi bangkit hendak menuju kamar mandi tapi langsung ditangkap Ayah José.
" No no no ! No complain! " Ayah José mencubit hidung Ceafi.
" Cuci muka lalu kita segera ke dokter oke, " Ayah José menuntun Ceafi ke kamar mandi dan menunggunya didepan pintu, khawatir ia akan kabur.
" Ayah please...! Ku mohon jangan ke dokter. " Wajah Ceafi begitu melasnya memohon membuat Ayah José makin gemas
__ADS_1
" Ya Allah, rupanya harus ku minta senja yang membujukmu agar mau ke dokter. " Ayah José merangkul Ceafi kembali ke ranjangnya. Kemudian mencari ponselnya memanggil seseorang.
" Hallo! Kau bisa datang ke rumah, Dok? Ini putriku Ceafi sakit ia tak mau kubawa ke rumah sakit. Kau paham ia masih saja trauma. " Ayah José menelpon seorang dokter untuk datang ke rumah.
" Hahaha! Sudah dewasa trauma itu tak hilang juga, oke aku segera kesana. Kebetulan aku tak ada jadwal pelayanan. " Ucap Dokter dari seberang telepon.
" Ah oke, aku harus segera ke kantor Dokter Rizki, nanti ada Bibi Minah dirumah, jika ada apa-apa langsung hubungi aku saja ya, " Ujar Ayah José.
" Baik José! Aku sedang perjalanan menuju rumahmu. " Dokter Rizki sudah masuk mobil dan siap pergi.
Dokter Rizki adalah dokter andalan keluarga Joshington, beliaulah yang dulu menangani Mama Jessie saat terkena kanker.
***
Setelah diperiksa Ceafi diminta istirahat sebentar hingga tubuhnya fit kembali. Dokter mengatakan jika ia hanya lelah dan mungkin tubuhnya masih shock dengan kondisi cuaca tropis yang belum terbiasa.
" Dok! Tak usah menghubungi Ayah lagi ya, aku tak mau dengar omelannya lagi. Sudah kenyang dari pagi dengan sejuta omelannya, " Ceafi memperingati Dokter Rizki agar tak menghubungi Ayah José, sejak sampai dikantor Ayah José terus menelpon Dokter Rizki sampai Ceafi pun bosan.
Dokter Rizki tertawa mendengar permintaan Ceafi tersebut.
Setelah memberikan obat Dokter Rizki pamit. Ceafi tampak termenung dan tak sadar air matanya mengalir ke pipi cantiknya. Bi Minah datang dan langsung bertanya,
" Non, ada apa? Sakit banget ya!? " Bi Minah tampak panik.
" Tidak, aku.. aku teringat Mama, aku ingat bagaimana Mama berjuang dengan sakitnya Bi, itu mengapa aku tak mau kembali ke rumah ini. " Tangis Ceafi pecah. Bi Minah merangkulnya dan mencoba menenangkan Ceafi.
" Mama sudah bahagia sekarang Non, tak ada lagi sakit yang ia rasakan. Nona berdoa dan sekarang istirahat dulu ingat pesan dokter kan? Bibi temani ya. " Bi Minah mengelus kepala Ceafi yang bersandar dipangkuannya.
" Terima kasih ya Bi, " Ceafi memegang tangan Bi Minah.
Bi Minah menjaga Ceafi hingga terlelap. Ceafi sudah dianggap seperti anaknya sendiri, dulu juga Bi Minah yang membantu merawatnya sejak bayi.
Setelah Ceafi terjaga, Bi Minah keluar dari kamar Ceafi. Ia berencana mengajaknya ke makam Mama Jessie nanti sore.
***
" Ceafi mana Bi? " Tanya Ayah José saat masuk rumah.
" Ada dikamar Tuan, eh anu Tuan mau makan siang? Saya sudah masak untuk makan siang. " Jawab Bi Minah sedikit terbata karena kaget tiba-tiba Ayah José pulang saat siang hari.
" Nanti dulu Bi, aku mau lihat Ceafi, " Ayah José berjalan menuju kamar Ceafi.
Sedikit heran mengapa pintu kamar terbuka, Ayah José masuk dan bingung tak menemukan Si gadis bule dikamarnya. Ayah José berteriak menanyakan Ceafi pada Bi Minah perasaannya tambah khawatit.
" Bi Minah! Ceafi pergi kemana tak ada dikamar?! " teriaknya di depan kamar Ceafi
Bi Minah datang tergopoh sambil membawa nampan berisi makanan untuk Ceafi,
" Loh masak ndak ada Tuan)vv. ? Nona masih tidur sejak tadi habis diperiksa. " Bi Minah celingukan melihat seisi kamar mencari Ceafi.
" Tak ada Bi, haduh anak ini cari masalah saja, " Ayah José mengusap keningnya lalu keluar mencari Ceafi di depan rumah.
" Aduh, kenapa Ayah pulang sih, " Ceafi mondar mandir diruang kerja cemas akan dimarahi Ayahnya.
Kemudian ia memberanikan diri untuk keluar,
" Seperttinya ada yang mencariku? " Tanya Ceafi yang kebetulan ada Bi Minah yang hendak berjalan keluar.
" Ya Allah, Non! Ayah Nona pulang mencari, Nona ngapain disitu? Bibi sudah bilang Nona tak boleh bekerja sebelum fit. " Cerocos Bi Minah tak habis-habis bikin Ceafi illfill. Mukanya jadi cemberut.
" Aku sudah sehat kok, lihat buktinya aku mampu berjalan tegak kan, " Ceafi berjalan lenggak-lenggok meyakinkan Bi Minah bahwa dirinya sudah baikan.
" Oh my girl! Harusnya Ayah tak pergi ke kantor. Sepertinya Nona Kecil ini harus dikasih security biar aman dari nakalnya. " Ucap Ayah José saat masuk mendapati Ceafi bersama Bi Minah. Ia langsung menggendong Ceafi membawanya ke kamar. Ceafi hanya diam dan menuruti karena tak mau mendapat omelan lebih banyak lagi.
" Ayah datang badanku jadi lemas lagi, tambah pusing nih, " Ceafi bicara ngasal ketika sampai dikamar, tangannya pura-pura memegang kepala padahal tidak sakit.
__ADS_1
" Cukup kau celotehnya ha, sudah sekarang harus nurut apa saran dokter, sebagai ilmuwan sejati itu harus memperhatikan prosedur dan bukan ilmuwan namanya kalau suka melanggar aturan begini. " Omelan sesi dua dibuka.
" Baiklah Tuan Joshington terhormat, aku akan tidur sekarang makin pusing mendengar celotehan kalian semua. " Ceafi menarik selimut dan membalikkan badannya membelakangi Ayah José.
" Eits! Mau melanggar lagi hah!? Makan dan minum obat dulu Nona Nakal, satu gelar julukan lagi untukmu hmn, " Ayah José terlihat kesal dengan ulah Ceafi.
" Ya Tuhan! Salah lagi!?... " Kemudian Ceafi bangun duduk mengambil piring makan siang yang telah disiapkan Bi Minah.
Akhirnya Si gadis bule ini nurut. Tak mau menambah hebohnya drama Sang Ayah yang mestinya akan semakin rumit. Setelah makan dan meminum obat, Ceafi tertidur lagi dijaga oleh Ayah José. Kemudian Ayah José melanjutkan pekerjaan dari rumah. Sesekali ia menengok Ceafi, khawatir kabur lagi.
***
" Ayah.. aku ingin keluar mencari senja boleh yaa..? " Dengan memasang wajah melas Ceafi memohon.
" Hmn, boleh tidak ya? " Ayah José melihat kearah jendela memastikan cuaca tidak begitu dingin.
" Please..! " Ceafi memohon dengan menangkupkan kedua tangan.
" Baiklah, tapi jangan lama-lama kau tahu, " Ayah José mengijinkan Ceafi keluar menikmati senja. Ceafi mengangguk dan bangkit keluar menuju teras tempat biasa bertemu senja.
Dari dalam Bi Minah memperhatikan Ceafi menunduk. Takut Ceafi tiba-tiba sakit Bi Minah langsung menghampiri.
" Nona baik baik saja? " Tanya Bi Minah sambil mengelus punggung Ceafi.
" Yeah, Im fine. Ceafi baik Bibi, kau begitu mengkhawatirkan aku. " Ceafi menatap Bi Minah.
" Bibi lihat Non Ceafi menunduk takutnya kesakitan atau apa, jadi Bibi kesini. " Ujar Bi Minah
" Aku tiba-tiba rindu Mama, eh Bibi tahu makam Mama bukan? Ayo Bi ajak Ceafi kesana, " Ceafi meraih tangan Bi Minah memohon.
" Tadi Bibi berencana begitu, tapi apa boleh sama Tuan? " Bi Minah nampak ragu.
" Ayah pasti mengijinkan, biar aku bersiap dulu nanti baru minta ijin, " Ceafi segera masuk kamar mengambil kerudung untuk menutupi kepalanya.
Ceafi adalah seorang muslim begitu dengan Ayah José, namun identitas agama tidak boleh terlihat menonjol di Prancis seperti pakaian mereka hanya boleh memakai pakaian keagamaan saat ibadah saja tidak saat di tempat umum terlebih tempat kerja.
" Hey! Mau kemana Putriku sayang? Tumben kau pakai hijab? Jangan bilang kau akan keluar rumah, " Ayah José langsung memberi peringatan.
" Belum juga aku jawab kau sudah memberi jawaban balik. Dengar, aku dan Bibi mau ke makam Mama, seingat Ceafi setiap malam jumat kita selalu ke makam Mama bukan? " Bujuk Ceafi dan semoga di acc.
" Ada saja alasan jika lagi sakit. Tapi tidak boleh lebih dari 30 menit ya ?!" Ayah José menepuk pundak Ceafi.
" Yeayy! Ayahku tercinta, merci.. Ceafi pergi sekarang, Bibi ayoo! " Ceafi berjingkrak bahagia dan memeluk Ayah José.
" Bi jaga Ceafi ya, jangan sampai Nona Kecilku lepas, " Ayah José meminta Bi Minah agar menjaga Ceafi.
Bi Minah mengangguk mengiyakan, kemudian mereka berangkat dengan menaiki sepeda. Ayah José memandangi Ceafi yang berlalu menjauh menuju makam yang berada di ujung desa. Ayah José memandang senja yang mulai menyentuh cakrawala.
" Sedang apa kau disana Jessie? " Suaranya serak dan menahan air mata.
***
" Ceafi pulang dulu ya Ma, " Suara Ceafi sedikit serak saat pamit pulang didepan pusara Sang Mama tercinta. Bi Minah merangkul dan mengelus pundak Ceafi.
" Mama pasti tersenyum melihat Non sekarang sudah besar dan cantik. " Hibur Bi Minah.
Ceafi tersenyum tipis, " Yaudah Bi ayo kita pulang, nanti Ayah ngomel lagi kalo aku kesorean. " Ujar Ceafi seraya berdiri setelah menabur bunga diatas makam Mama Jessie.
Sesampainya dirumah Ayah Josè mengajak Ceafi untuk sembahyang bersama. Saat hendak makan malam Ceafi meminta untuk mengaji sebentar.
" Ayah makan duluan tak apa, Ceafi ingin mengaji buat Mama sebentar, " Ujar Ceafi.
" Baiklah! Tapi jangan telat makan kau harus minum obatnya juga oke, " Ayah José mengusap kepala Ceafi.
" Dokter hanya kasih obat sampe sore saja kok, katanya cuma kurang istirahat kan, Ceafi akan segera makan setelah selesai. " Tersenyum simpul dengan manisnya.
__ADS_1
" Hmn, jangan kebanyakan menangis nanti bola mata birumu luntur jadi putih, " Ayah José nyengir ke Ceafi.
Ceafi hanya memanyunkan bibirnya dan segera menata dirinya untuk mengaji.