
Khanza menatap tajam ke arah Rayyan, Rayyan yang ditatap seperti itupun mengerutkan dahi, pasalnya ia gak tau kenapa Khanza terlihat sangat marah sekali padanya. Bukankah seharunya dirinya yang marah karena Khanza kabur darinya, tapi kenapa ini malah sebaliknya.
"Ada apa?" tanya Rayyan dengan suara datarnya.
Mendengar kata 'ada apa?', Khanza semakin terlihat sangat marah.
Ia menghampiri Rayyan dan menggebrak meja dengan kasar, hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Rayyan tentu sangat kaget sekali, ini pertama kalinya ada orang yang berani berlaku kasar padanya. Jika orang lain, Rayyan gak akan segan-segan membunuhnya saat ini juga. Tapi karena ini Khanza, orang yang sudah menarik perhatianya, jadi ia akan mengalah dan membiarkan Khanza melakukan apa yang dia suka.
"KAMU!" tekan Khanza sambil menunjuk wajah Rayyan.
"Kenapa dengan aku?" tanya Rayyan santai, ia tidak takut melihat raut wajah marah Khanza. Ia hanya bingung kenapa Khanza marah padanya.
"Kenapa kamu begitu nyebelin, Hah?" tanyanya dengan mata melotot, mungkin biar terlihat menyeramkan, tapi di mata Rayyan, Khanza malah terlihat imut sekali, seperti sebuah boneka dengan mata yang lebar.
"Emang aku melakukan apa?" tanyanya yang masih belum mengerti kesalahan yang sudah dirinya lakukan.
"Jangan pura-pura bodoh." Kali ini Khanza berkacak pinggang sambil terus menatap ke arah Rayyan.
"Kamu dari kemarin berusaha mencari identitas aku, kan? Bahkan kamu berusaha untuk membobol sistem milikku. Bukan hanya kamu, masih ada empat orang lagi yang berusaha untuk membobol sistemku. Emang apa yang kalian cari?" tanyanya kesal.
Memang benar ada lima orang sama Rayyan tentunya, yang mencoba untuk membobol sistem keamanan milik Khanza. Dan mereka adalah Farhan, Yunita, dan beberapa orang suruhan Farhan. Namun sayangnya, Rayyan hanya tau jika dirinya dan Farhan lah yang membobol sistem Khanza, dan ketiga orang lainnya, dia gak tau apa-apa karena Farhan pun juga tidak mengabari dirinya. Sedangkan untuk Yunita, tentu ia gak akan membocorkan identitasnya kepada putranya sendiri, karena ia memilih untuk bekerja sendirian mencari tau tentang Khanza.
"Kenapa kamu nuduh aku?" tanya Rayyan sok polos.
"Kamu fikir aku begitu bodoh. Sudah jelas itu tertera nama kamu. Emang siapa lagi yang punya nama RAS. Bukankah RAS itu inisial kamu," cetus Khanza.
"Oh, iya aku cuma ingin cari tau tentang kamu aja. Hanya itu, gak lebih." Rayyan pun akhirnya mengaku, karena Khanza juga sudah tau semuanya. Jadi percuma saja, jika dirinya pura-pura berbohong.
"Emang apa yang ingin kamu cari tau tentang aku. Ingat, kita gak saling kenal, jadi jangan sok deket sama aku sampai ingin tau segala tentang aku. Karena aku gak akan biarkan itu terjadi. JIka sekali saja, kamu masih terus berusaha membobol sistem aku, aku pasitkan aku akan merusak semua keamanan perusaahan kamu. Jangan fikir, aku akan diam saja, membiarkan kamu dengan seenaknya, berusaha mengganggu kenyamanan aku," ancam Khanza membuat Rayyan hanya bisa menghela nafas. Ia sadar, jika kini ia berhadapan dengan wanita yang mungkin tingkat kecerdasannya tidak bisa ia remehkan begitu saja. Jadi, Rayyan pun menegakkan tubuhnya dan menatap Khanza.
__ADS_1
"Aku minta maaf, jika sudah menganggu kenyamanan kamu. Tapi sungguh, aku terpaksa melakukannya. Kamu tau, kan? Jika Kakek Ardi sudah menitipkan kamu ke Kakekku. Dan Kakekku sudah memerintahkan aku untuk bisa membimbing kamu agar kamu bisa segera menyelesaikan kuliah kamu dan mengajari kamu bisnis. Itu artinya sejak Kakek kamu menyerahkan kamu ke Kakek aku dan Kakek aku menyerahkan kamu ke aku. Secara tidak langsung, kamu sudah menjadi tanggung jawab aku. Jadi, aku ingin kerjasamanya, agar kamu mau untuk aku bimbing," ucap Rayyan panjang lebar.
"ENGGAK! AKU GAK MAU! LAGIAN AKU SUDAH PINTAR, JADI AKU GAK PERLU BELAJAR LAGI!" teriak Khanza, membuat telinga Rayyan seperti mau pecah. Inilah yang ia kurang suka dari perempuan. Kalau sudah marah, ia akan meninggikan suaranya. Padahal bicara pelanmu, ia tetap akan dengar.
"Oh benarkah? Kalau kamu emang pintar, kenapa masih semester lima?" sindir Rayyan.
"Itu karena aku sengaja melakukannya. Aku gak mau cepat-cepat lulus karena nanti pasti aku di suruh terjun ke perusahan Kakek. Aku gak suka duduk diam seharian di depan komputer. Aku lelah jika harus bertemu dengan beberapa client penting perusahaan, aku gak suka harus menghadiri rapat ini dan itu. Aku suka kebebasan, aku lebih memilih untuk balapan liar atau bertarung dari pada harus pergi kerja." Khanza mengungkapkan isi hatinya. Rayyan yang mendengarnya pun mengangguk mengerti. Khanza bukan type orang yang suka terikat dengan dunia kerja. Ia lebih suka pergi keluar dan bersenang-senang.
"Kalau gitu menikahlah denganku," ucap Rayyan memberikan usul.
"WHAT! NIKAH! Oh My God! Aku gak mau," tolak Khanza tanpa pikir panjang.
"Kenapa? Bukankah dengan kamu nikah sama aku, kamu gak perlu kerja. Kamu cukup diam di rumah atau pergi kemana saja yang kamu mau dan menghabiskan uangku dan aku pastikan Kakek Ardi juga gak akan meminta kamu buat kerja, karena kamu sudah menjadi tanggung jawab aku," ujar Rayyan menjelaskan.
"Tapi aku gak mau nikah sama kamu," ungkap Khanza.
"Karena ... " Khanza menatap Rayyan, lalu melihat tubuh Rayyan. Rayyan yang merasa di lihatin pun hanya diam. Membiarkan Khanza meneliti tubuhnya, mungkin Khanza ingin tau sesempurna apa dirinya.
"Pertama, kita tidak saling kenal. Kedua, wajah kamu membosankan. Ketiga, tubuh kamu tidak kekar. Keempat, Aku tidak cukup yakin, kamu orang yang kuat. Kelima, kamu bukan type aku." Khanza berbicara setelah meneliti wajah dan tubuh Rayyan.
"What! Wajahku membosankan, tubuh aku gak kekar dan aku gak kuat. Kamu belum kenal aku. Kamu tau gak? Di luar sana banyak wanita yang antri ingin menjadi istri aku. Dan lihatlah." Rayyan membuka jasnya, bahkan ia juga ingin membuka kemejanya dan memamerkan tubuh kekarnya dan perutnya yang sixpack itu.
Namun Khanza langsung menahannya.
"Kamu ngapain mau buka baju di depan aku?" tanya Khanza panik.
"Biar kamu tau, kalau aku ini kekar dan aku kuat." Rayyan terus membuka kemejanya dan Khanza langsung berbalik badan dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Okay, okay. I'm sorry. Aku minta maaf. Aku tau, kamu punya badan kekar dan aku tau kamu kuat. But I'm Sorry. Aku gak bisa nikah sama kamu."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Rayyan. Ia masih memakai kemejanya, hanya saja kancing baju atasnya sudah terbuka.
"Karena kamu bukan type aku."
"Emang type kamu seperti apa?"
"Ya ada deh. Aku gak bisa cerita."
"Apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Rayyan.
"No. I'am single."
"Kalau gitu, izinkan aku menjadi kekasih kamu."
"Aku gak bisa."
"Kenapa?" tanya Rayyan yang mulai frustasi.
"Karena kamu jelek. Aku ingin punya suami tampan, untuk bisa memperbaiki keturunan aku. Kamu lihat aku!" Khanza memutar tubuhnya lagi dan menatap ke arah Rayyan. Ia juga memperlihatkan wajahnya yang cantik, imut dan menggemaskan.
"Aku cantik, aku manis, aku imut dan aku menggemaskan. Setidaknya, jika aku tidak punya suami yang super duper tampan, paling tidak, dia harus bisa mengimbangi aku." ujar Khanza sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Mendengar hal itu, Rayyan benar-benar gak percaya. Bagimana bisa Khanza mengatakan jika dirinya jelek, di saat banyak orang yang sudah memuji ketampanannya. Bahkan ia sendiri juga sangat menyadari, bahwa dirinya sangat tampan dan belum ada yang bisa menandingi ketampanannya.
"Kamu bilang aku jelek. Kamu buta?" sindir Rayyan emosi.
"No. Mataku sehat. Mungkin bagi kamu dan orang-orang di luar sana kamu tampan, tapi menurut penilaian aku, kamu bahkan tidak masuk sama sekali dalam type aku. So, maaf aku menolak kamu untuk jadi kekasih aku apalagi suamiku. Okay, dan aku harap, kamu gak perlu lagi mendekati aku atau mencari-cari alasan buat deket sama aku. Dan satu lagi, stop untuk mencari tau semua informasi tentang aku, karena jika itu terjadi, maka jangan salahkan aku, jika aku akan merusak sistem milikmu." Lalu Khanza segera pergi dari sana, namun sayangnya, Rayyan menekan tombol di bawah kursinya hingga pintu itu terkunci otomatis.
Kali ini, Rayyan gak akan membiarkan Khanza kabur darinya lagi. Ia tak peduli, Khanza suka dirinya apa enggak. Yang jelas, Rayyan gak mau jika harus berjauhan dengan Khanza, dan ia pastikan jika Khanza akan segera menjadi miliknya.
__ADS_1