CEO Kejam Dan Romatis

CEO Kejam Dan Romatis
Identitas Khanza


__ADS_3

Rayyan dan Farhan kembali ke kantor, sepanjang jalan muka rayyan sangat masam. Farhan pun tak berani buka suara, takut jika akan menambah kemarahan Rayyan.


Rayyan sendiri, ia tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Bagaimana bisa Khanza melupakan dirinya begitu saja, terlebih Khanza juga menganggap dirinya gak penting dalam hidupnya. Dan lebih sebalnya lagi, Khanza bahkan kabur darinya. Di saat semua wanita berlomba-lomba ingin dekat dengannya, tapi Khanza malah melarikan diri seakan begitu enggan untuk dekat dengannya.


"Farhan," panggil Rayyan.


"Iya, Tuan," jawab Farhan sambil menoleh ke Rayyan sekilas lalu fokus kembali ke jalan.


"Apakah menurutmu ketampanan aku sudah luntur?" tanyanya membuat Farhan mengernyitkan dahi, tak menyangka jika Rayyan akan menanyakan hal sepele seperti itu. Lagian mana ada ketampanannya luntur, yang ada malah semakin hari, ketampanan Rayyan semakin bersinar, dan membuat dirinya iri saja, karena sesama laki-laki, dirinya tidak bisa setampan Rayyan.


"Tidak, Tuan," sahut Farhan jujur.


"Kamu yakin kalau ketampanan aku tidak luntur?" tanyanya sekali lagi.


"Yakin, Tuan. Sangat yakin sekalil," tutur Farhan.


"Tapi kenapa, ketampanan aku tidak bisa meluluhkan dia?" tanyanya seperti orang bodoh.


"Dia? Nona Khanza, maksudnya Tuan?" tanya balik Farhan.


"Iya, emang siapa lagi yang aku maksud," ketus Rayyan. Karena ia merasa jika otak Farhan semakin lemot.


"Mungkin karena Tuan Rayyan, bukan type Khanza."


"What! Emang type dia seperti apa?" tanyanya heran.


"Saya tidak tau, Tuan. Tapi setau saya, setiap wanita pasti punya type masing-masing. Dan mungkin Tuan tidak termasuk type Nona Khanza," paparnya. Melihat sikap Khanza pada Rayyan, Farhan bisa memperkirakakn jika Khanza tidak tertarik dengan Rayyan.


"Hhh ... kamu cari tau tentang Khanza secepatnya, kasih tau aku informasi sedetail mungkin," pungkasnya dan Farhan pun menganguk mengiyakan. "Siap, Tuan."


Sesampai di depan kantor, Farhan dan Rayyan langsung turun dari mobil, dan mereka berjalan dengan wajah datarnya. Seperti biasa, mereka tidak menoleh ke kanan dan ke kiri dan fokus berjalan menuju lantai paling atas.


Mereka menggunakan lift khusus buat mereka berdua, sedangkan lift karyawan ada di sebelah kiri. Jadi, tidak campur jadi satu. Karena Rayyan kurang suka jika harus berdesakan dengan orang lain.


Sesampai di ruangannya, Rayyan langsung menghempaskan dirinya di kursi kebesarannya. Kepalanya berdenyut sakit memikirkan masalah Khanza. Benar kata kakekknya, keberadaan Khanza, hanya akan membuat kepala jadi pusing.


Di saat Rayyan, sedang sibuk memikirkan Khanza, Farhan langsung menjalankan tugasnya untuk mencari identitas Khanza. Farhan juga membutuhkan bantuan seseorang untuk melacak keberadaan Khanza saat ini. Sayangnya, orang-orang yang ia suruh masih belum memberikan kabar. Padahal biasanya mereka tidak membutuhkan waktu selama ini.


Setelah satu jam mengutak atik laptopnya, akhirnya informasi Khanza pun sudah di dapatkan. Farhan langsung mengirimnya via email kepada Rayyan.


Rayyan yang mendapatkan kiriman file dari Farhan pun langsung membukanya.


Rayyan membaca identitas Khanza untuk mengobati rasa penasarannya.


Nama lengkap : Khanza Callysta Putri Ardiansyah

__ADS_1


Nama panggilan : Khanza


Tempat lahir : Roma, Italia


Tanggal lahir : 14 Februari 2001 (Hari Valentine)


Zodiak : Aquarius


Usia : 21 Tahun


Pendidikan : Universitas Internasional Jakarta, semester lima


Warga Negara : Indonesia dan Italia


Agama : Islam


Tinggi Badan : 167 CM


Berat Badan : 50 kg


Nama Ayah :  Radytia Beryl Raka Putra Ardinsyah


Nama Ibu : Celine Evangelista


Pacaran : -


Hobi : Suka tawuran dan balapan liar


Cita-cita : Ingin hidup bebas


Type Suami : -


Makanan Yang Disukai : -


Minuman Yang Disukai : -


Keahlian : Bela diri


Olah raga yang di sukai : -


Tinggal di kediaman : -


Nomer HP : 08133197096x


Email : khanzacantikdanimut@gmail.com

__ADS_1


Membaca biodata Khanza, Rayyan merasa kurang puas. Rayyan pun memanggil Farhan untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Farhan sopan.


"Ini kenapa type suami, di kosongin?" tanyanya.


"Memang untuk type suami, Nona Khanza tidak memasang kriteria, Tuan. Jadi tidak ada yang tau, type suami seperti apa yang Nona Khanza inginkan," jawabnya.


"Terus ini, kenapa hobinya tawuran dan balapan liar? Apa gak ada hobi yang lain? Dia kan wanita, sudah seharusnya hobinya itu pergi ke salon atau belanja. Bukannya malah balapan liar dan tawuran," gerutu Rayyan.


"Tapi memang sejak SMP, Nona Khanza suka tawuran Tuan. Itulah kenapa Nona Khanza sampai pindah sekolah beberapa kali. Begitupun saat SMA. Nona Khanza bahkan di keluarkan dari sekolah sebanyak delapan kali. Dan saat kuliah pun, Nona Khanza sering bolos karena ikut tawuran bersama gengnya."


"Dia punya geng?"


"Iya, Tuan. Dan Nona Khanza adalah ketua gengnya."


"Astaga. Apa nama gengnya?"


"Khazmut."


"Apaan itu?" tanya Rayyan yang merasa aneh dengan nama geng yang di ucapkan oleh Farhan.


"Itu singkatan, Tuan. Artinya Khanza Imut."


"O My God! Dimana markas gengnya?"


"Untuk markasnya susah di lacak, Tuan. Soalnya suka pindah-pindah tempat. Bahkan para gengnya pun, tidak bisa berkomunikasi leluasa dengan Nona Khanza. Karena Nona Khanza tidak setiap hari hadir di sana dan hanya datang sesekali aja. Itupun hanya sebentar. Tapi sepertinya Nona Khanza juga mempunyai geng yang lain, Tuan. Namun geng yang ini sangat dirahasiakan. Sehingga saya sulit untuk melacaknya."


"Geng yang lain?"


"Ya seperti Mafia."


"Mafia?"


"Ya, karena setelah saya telusuri. Nona Khanza, tidak sepolos kelihatannya. Dia menyimpan rahasia besar di belakakngnya Bahkan sampai detik ini pun, Nona Khanza juga belum di temukan. Dia seperti hilang di telan bumi. Bahkan CCTV di jalan pun, tidak menampilkan sosok Nona Khanza. Seperti sudah di hapus sebagian."


"Hmm ... sepertinya dia cukup berbahaya? Tapi kenapa Kakek Ronald tidak menyadarinya?"


"Karena Nona Khanza pintar dalam berakting. Dia pandai mengelabui lawannya. Di depan Kakek Ronald dan keluarganya, Nona Khanza emang terlihat polos dan urakan. Akan tetapi ia menutupi identitasnya yang lain, yang sampai detik ini masih saya caritahu."


Rayyan semakin tertarik untuk mengetahui latar belakang Khanza lebih dalam lagi. Ia yakin, Khanza adalah wanita yang istimewa. Dan Rayyan ingin mendapatkan Khanza untuk menjadi miliknya.


"Baiklah, kamu boleh keluar," usir Rayyan. Farhan pun segera keluar dari sana dan membiarkan Rayyan sendirian di ruangannya.


"Kamu cukup misterius, baby. Tapi aku yakin, aku pasti bisa mengetahui rahasia yang kamu sembunyikan itu," gumam Rayyan dengan senyuman mautnya.

__ADS_1


__ADS_2