
Rayyan sudah tiga jam berada di ruangan Khanza. Sedangkan Zahra dan Farhan masih ada di luar menatap ke arah mereka. Dan tiba-tiba saja, Zahra mendapatkan telfon dari seseorang. Zahra punĀ mengangkatnya tanpa pergi dari sana.
"Ia, ada apa?" tanya Zahra dengan suara dinginnya.
"Bawa aja ke markas." ucapnya dengan wajah datarnya sambil menatap ke arah Khanza yang ada di dalam.
"Hmm ... Khanza masih belum sadar. Tapi jangan sampai musuh mengetahuinya karena ini bisa jadi kesempatan mereka buat menghancurkan kita." Mendengar hal itu, Farhan yang mendengarnya dengan serius, mulai melihat ke arah Zahra.
"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Khanza dan Zahra. Kenapa mereka berurusan dengan orang jahat?" tanya Farhan dalam hati.
"Okay, jam dua belas nanti kita akan beraksi. Aku yang akan memimpin menggantikan posisi Khanza untuk sementawa waktu. Kamu siapkan aja semuanya."
"Baiklah."
Dan setelah itu, Zahra pun mematikan panggilan telfonnya. Ia menghela nafas kasar.
"Aaa ... kapan sih Khanza bangun?" ucap Zahra kesal sambil menjambak rambutnya sendiri. Farhan yang melihatnya pun jadi kasihan.
"Kenapa? Kamu butuh bantuan?" tanyanya membuat Zahra jadi ingat, jika ia tidak sendiri.
"Sebenarnya ini misi rahasia, tidak boleh ada yang tau. Tapi aku juga sebenarnya gak yakin, apakah nanti malam, aku bisa pulang dengan selamat. Kalau ada Khanza enak, karena dia otak yang memimpin permainan ini biar bisa pulang dengan nyawa yang masih utuh di badan. Tapi sekarang, Khanza kayak gini, aku bingung. Tapi aku juga gak bisa terlihat lemah di mata yang lainnya," ucap Zahra frustasi.
Saat Zahra bicara seperti itu, tanpa sadar Rayyan mendengarnya. Ia keluar dari ruangan Khanza tanpa diketahui oleh mereka berdua. Mereka terlalu fokus sampai tidak menyadari jika Rayyan sudah ada di dekat mereka.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan?" tanya Rayyan.
Dan itu membuat Zahra bungkam. Ia bingung antara mau cerita apa gak.
Saat Zahra mau buka suara lagi, tiba-tiba seorang pria paruh baya muncul di belakang mereka.
"Zahra, kamu tidak siap-siap untuk nanti malam?" tanyanya dengan suara datar dan dingin.
__ADS_1
"Iya, Paman. Tapi siapa yang akan menjaga Khanza di sini. Bukannya Paman nanti sore harus pergi? Aku takut, jika semua orang pergi, Khanza akan sendirian. Bagaimana jika ada yang menyerang rumah ini lagi?" tanya Zahra membuat Paman Edward diam.
"Aku akan menelfon seseorang buat menjaga Khanza," jawabnya, membuat Rayyan yang sedari tadi diam mendengarkan langsung angkat suara.
"Jika di perbolehkan, biarkan saya yang menjaga Khanza. Saya janji, saya akan melindungi Khanza dengan nyawa saya," ucap Rayyan memohon.
Paman Edward melihat ke arah Rayyan, ia seperti meragukan kemampuan Rayyan buat menjaga Khanza dan mension ini.
Farhan yang mengerti apa yang ada dalam fikiran Paman Edward, langsung buka suara.
"Saya dan Tuah Rayyan bisa bela diri. Kami bisa melawan puluhan orang dengan tangan kosong, kami sudah di didik sangat keras dari kecil untuk bisa melawan banyak musuh. Kami juga bisa memakai beberapa senjata, jika Anda tidak mempercayainya. Anda bisa mencoba kemampuan kami," ucap Farhan dengan sopan
Mendengar hal itu, Paman Edward mengangguk setuju. Lalu Paman Edward menyuruh Rayyan dan Farhan menunggu di belakang rumah yang cukup luas itu.
Lalu Paman Edward meminta kepala pelayan mengumpulkan lima puluh orang di belakang rumah. Tak lama kemudian lima puluh orang itu pun datang dan berkumpul di sana.
Zahra tidak mau ketinggalan, ia juga ikut ke belakang untuk menyaksikan langsung pertarungan mereka.
"Hari ini, saya akan melihat kemampuan dua orang ini dalam bertarung. Untuk itu, saya memita kepada kalian, lawan mereka sekuat tenaga. Di sini tidak ada yang boleh memakai senjata, jadi bagi yang bawa senjata, bisa kalian letakkan di pinggir," ucapnya dingin dan datang. Beberapa orang yang bersenjata pun langsung menaruh senjatanya di pinggiran, begitupun dengan yang lain, yang membawa pisau tajam, panah dan yang lainnya.
Dan setelah mendengar kata aba-aba, mereka pun mulai menyerang Farhan dan Rayyan dengan membabi buta. Rayyan dan Farhan pun saling pandang dan mereka mulai melawan mereka satu persatu, bahkan Rayyan sampai melompak dan menerjang dada mereka satu persatu, ada enam orang yang adkhirnya mulai berjantuhan karena tendakan Rayyan tidak main-main. Lalu Rayyan mengangkat satu orang dan memegang tangannya lalu memutarnya dan melemparkan ke beberapa orang yang terus menyerangnya.
Farhan pun tak kalah bringasnya, ia terus melawan sekuat tenaga. BAhkan ia juga kena pukulan di beberapa tubuhnya, namun ia yang sudah terlatih dari kecil untuk menahan rasa sakit, mencoba mengabaiknya dan fokus mengalahkan mereka semua.
Zahra pun merasa takjub karena ia tidak menyangka jika mereka berdua sangat kuat dan tangguh. Paman Edward pun juga mengangguk-anggukkan kepalanya, ia percaya jika Farhan tidaklah membual.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, Farhan dan Rayyan mampu melumpuhkan mereka semua.
Paman Edward pun menepuk tangannya dan memuji kehebatan mereka. Untuk itu, Paman Edward memberikan mereka izin untuk tinggal di sini. Menemani Khanza dan Zahra dan menjaga mension ini selama dirinya gak ada. Karena Paman Edward harus pergi untuk beberapa hari ke depan dan menyelesaikan masalah yang lain.
Setelah itu, Paman Edward pergi begitu saja. Zahra langsung meminta yang lain untuk mengobati mereka semua yang tengah terluka. Sedangkan untuk Farhan dan Rayyan, Zahra yang mengobatinya.
__ADS_1
"Aku gak menyangka, kalian cukup tangguh," puji Zahra. Sambil mengobati Farhan yang terluka. Tak ada suara rintihan, mereka seakan sudah bebal dengan rasa sakit.
"Apakah itu artinya, nanti malam aku boleh membantu kamu?" tanya Farhan.
"Aku takut, kamu tidak akan mampu melakukannya," sahut Zahra tersenyum,
"Kamu tidak melihat, aku bisa melawan mereka semua," ujar Farhan tak terima di remehkan.
Sedangkan Rayyan hanya diam mendengarkan.
"Bukankah seharusnya Nona Khanza yang menjadi otak dalam permainan kalian, aku akan bantu kamu menggantikan posisi Nona Khanza," ujar Farhan membuat Rayyan tak terima hingga menatap Farhan dengan tatapan tajam.
"Maksud saya, Nona Khanza kan sedang terluka. Jadi biar Nona Khanza ditemani oleh Tuan Rayyan dan saya fokus membantu Nona Zahra. Bukankah dengan begitu, NOna Khanza aman karena berada di bawah perlindungan Tuan Ray. Sedangkan Nona Zahra juga bisa pulang dengan selamat, karena ada saya yang membantunya?" tanya Farhan membuat Zahra dan Rayyan yang mendengarnya pun mengangguk setuju.
"Baiklah, nanti malam kamu ikut aku. Aku akan memberikan satu pistol buat kamu pakai nanti malam, dan pisau kecil jika dalam keadaan terdesak," ucap Zahra memberitahu.
"Apakah situasinya sangat mencekam?" tanya Farhan karena sampai harus memakai pistol dan pisau.
"Iya, sangat. Makanya aku ragu buat bawa kamu ke sana. Aku gak bisa tanggung jawab jika kamu kenapa-napa," ujar Zahra.
"Aku yakin, aku bisa. Percaya sama aku."
"Baiklah," tutur Zahra.
"Sebenarnya kamu itu ada misi apa? Sampai harus melakukan hal seperti itu?" tanya Rayyan heran.
"Menyelamatkan banyak manusia tentunya, aku ini adalah pahlawan sejati, sama seperti Khanza," ujar Zahra sambil tersenyum bangga.
"Menyelamatkan banyak manusia? Maksudnya?" tanya Rayyan tak mengerti.
"Hhh sebenarnya aku males cerita, tapi baiklah aku akan cerita sedikit saja, okay," ujar Zahra, ia yang sudah menyelesaikan pekerjaannya membantu Farhan dan Rayyan mengobati luka mereka, kini duduk santai sambil menghadap ke arah Rayyan dan Farhan.
__ADS_1
Kira-kira cerita apa yang akan Zahra ungkapkan ke mereka, dan misi penting apa yang akan ia lakukan nanti malam? Dan apa maksud dari Menyelamatkan banyak manusia? Penasaran, lihat bab selanjutnya.