
Jam sebelas malam, Khanza bangun. Ia awalnya gak sadar dirinya ada di mana. Namun setelah beberapa detik kemudian, ia kaget melihat sekelilingnya, bukan kamar yang biasa ia tempati. Lalu ia ingat, jika dirinya terakhir kali tidur-tiduran di sofa panjang di ruangan Rayyan. Khanza pun segera turun dari ranjang. Lalu ia berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu itu dan melihat jika ia ada di kamar yang ada di ruangan Rayyan.
Khanza melihat jam di pergelangan tangannya dan ternyata sudah pukul sebelas malam. Cukup lama juga dirinya tidur. Khanza pun berjalan pelan menuju pintu keluar, masih belum bisa dibuka.
Lalu ia menoleh ke arah Rayyan yang tertidur nyenyak di atas sofa. Sedangkan Hpnya ada di atas dadanya, mungkin ia main hp lalu ketiduran. Saat Khanza mendekati Rayyan dan ingin mengambil hpnya, tiba-tiba ia mendengar perut Rayyan berbunyi.
"Apa dia tidur sebelum makan malam?" tanya Khanza pada dirinya sendiri.
Karena gak tega, Khanza pun gak jadi mengambil HP Rayyan. Khanza malah berjalan menuju Kulkas. Dia mengambil dua butir telur dan tiga sosis dari sana. Ia juga mengambil dua mie dari lemari. Lalu ia mengambil panci listrik, mengisinya dengan air sampai setengah panci dan setelah itu, ia mencolokkan kabelnya di stop kontak.
Sambil menunggu air mendidih, Khanza membuka sosisnya dan memotongnya kecil-kecil lalu menaruhnya di air yang hampir mendidih itu. Ia juga membuka dua bungkus mie dan menaruh setia bumbu di dua mangkok.
Setelah air mendidih, Khanza menaruh dua mie ke dalam panci, tak lupa ia juga menambahkan dua butir telur agar semakin enak saat di makan. Tiga menit kemudian, setelah mengaduk sebentar mienya. Barulah Khanza menuangkan mie yang berisi sosis dan telur itu ke dua mangkok. Dan mengaduk mie itu menggunakan sendok dan garbu. Setelah selesai, ia mencuci pancinya dan mengembalikan ke tempat semula. Lalu ia membawa dua mangkok berisi mie yang masih panaas itu ke meja. Khanza juga menyiapkan dua botol air yang ia ambil dari kulkas.
"Ray, bangung," Khanza membangunkan Rayyan dengan pelan. Mendengar suara Khanza, Rayyan pun membuka matanya. Padahal ia sangat mengantuk sekali.
"Ada apa?" tanya Rayyan sambil duduk.
"Tadi aku denger perut kamu bunyi, kamu belum makan ya?" tanya Khanza dan Rayyan pun menggelengkan kepalanya. Boro-boro makan malam, dirinya aja bahkan belum mandi dan ganti baju karena ia ketiduran.
"Ini aku buatin kamu mie, aku gak tau kamu suka apa gak. Tapi aku harap kamu suka."
Mendengar Khanza membuatkan dirinya mie, Rayyan yang tadinya masih mengantuk pun langsung berbinar. Ia melihat ke depannya dan bena rsaja ada dua mangkok mie yang masih panas dan dua botol air.
"Kamu cuci muka dulu gih, terus makan bareng," ajak Khanza dan Rayyan pun menganguk antusias.
Rayyan segera pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi biar seger dan harum. Baru setelah itu, ia kembali duduk di sofa dan mulai menyantap makanan yang di buat oleh Khanza. Ia gak menyangka jika Khanza begitu perhatian padanya, ia bahkan rela masak malam-malam hanya karena mendengar perutnya yang berbunyi.
"Pelan-pelan makannya, kalau kurang, nanti aku masakin lagi," ucap Khanza melihat Rayyan makan dengan lahap.
"Iya tapi ini sudah cukup kok," balas Rayyan, ia mulai memperlambat makannya. Sebenarnya kalau cuma semangkok gini, Rayyan merasa kurang terlebih ia suka dengan masakan Khanza. Namun ia sadar diri, dirinya tidak boleh terlalu menyusahkan Khanza. Jadi ia memilih untuk mengatakan 'cukup'. Dari pada harus bilang 'kurang'.
__ADS_1
"Mau punyaku?" tanya Khanza.
"Emang kamu gak mau?" tanya Rayyan.
"Aku sudah cukup kok, aku sebenarnya kurang terlalu suka makan mie, apalagi malam-malam gini," sahut Khanza memberitahu. Ia hanya makan dua sendok karena memang untuk mie, Khanza kurang terlalu menyukai.
"Kalau gitu biar aku yang makan," sahut Rayyan.
"Tapi itu sisa aku, apa gak papa?" tanya Khanza.
"Kamu gak punya penyakit menular kan?" tanya Rayyan bercanda.
"Enggaklah, aku sehat seratus persen," jawab Khanza cepat. Ya kali dia masih muda sudah punya penyakit menular. Lagian, Khanza sangat menjaga kesehatannya, jadi bisa ia pastikan, dirinya sangat baik dan dalam keadaan sehat wal afiat.
"Kalau begitu, gak masalah kalau aku makan sisa kamu." Tanpa rasa jijik, Rayyan makan mie milik Khanza. Ia bahkan makan mie dengan sendok yang tadi di pakai oleh Khanza. Khanza yang melihatnya pun hanya bisa melongo.
"Tadi bilangnya cukup, tapi punyaku pun juga ia makan," gumam Khanza dalam hati. Namun ia gak berani bersuara.
Setelah selesai makan dan minum, Rayyan mengambil mangkoknya dan mencucinya termasuk milik Khanza.
"Enggak usah, lagian kamu kan yang masak, jadi gantian biar aku yang kora-kora, lagian cuma dikit," sahut Rayyan sambil mencuci mangkoknya hingga bersih dan mengkilat.
"Aku fikir kamu gak bisa nyuci piring," ucap Khanza.
"Hmm ... aku bisa semuanya. Dulu saat aku masih kecil sampai aku dewasa, aku mendapatkan didikan keras dari Kakek aku. Aku harus bisa segalanya, jadi kalau cuma urusan masak dan nyuci piring atau nyuci baju secara manual pun, aku bisa," jawab Rayyan, ia kembali duduk di sofa setelah selesai kora-kora. Ia menghabiskasn minuman miliknya yang masih sisa setengah itu lalu botolnya ia buang di tempat sampah yang ada di samping kursi. Memang di sana disedikan beberapa tempat sampah agar tidak berantakan dan tidak kotor di mana-mana.
"Wah, aku jadi salut sama kamu." puji Khanza tanpa sadar.
"Apaka aku sudah mulai masuk type kamu?" tanya Rayyan membuat Khanza gugup.
"Type suami aku emang harus pinter masak sih, karena kan ada kalanya aku ingin masakan suami, walaupun aku sendiri juga bisa masak," ujar Khanza memberitahu.
__ADS_1
"Ah begitu, syukurlah. Mulai hari ini, aku akan belajar masak lebih keras lagi, agar kelak aku bisa memasak apapun yang kamu mau."
"Eh?" Khanza kaget mendengar omongan yang keluar dari mulut Rayyan.
"Enggak gitu juga kali, Ray," sahut Khanza gugup.
"Sudahlah, lebih baik aku tidur aja. Kira-kira besok pagi, pintunya sudah bisa dibuka, belum?" tanya Khanza. Ia gak kefikiran sama sekali jika pintu itu merupakan pintu otomatis dan sudah sangat canggih, yang artinya ada tombol yang harus di pencet agar bisa terbuka. Entah karena otaknya yang mendadak lemot, atau karena keberadaan Rayyan di sana yang membuat otaknya jadi berfikir lambat.
"Bisa."
"Kamu yakin?"
"Iya, aku sangat yakin sekali," ucap Rayyan. Lagian ia juga gak mau terlalu lama menahan Khanza dan membuat Khanza curiga padanya.
"Hmm ... syukurlah. Aku akan tidur di kamar kamu lagi, apa gak papa?" tanyanya pelan.
"Enggak papa, biar aku yang tidur di sofa aja," jawabanya dengan hati lapang. Ia rela bahkan sangat rela jika kamarnya harus di tempati oleh Khanza, wanita yang ia suka.
Melihat Rayyan tidur di sofa, sebenarnya Khanza gak tega. Apalagi wajah Rayyan pun terlihat sangat lelah sekali. Pasti gak nyaman juga jika harus tidur di sofa semalaman. Tubuhnya pasti akan terasa sakit di pagi hari.
"Hmm ... gimana kalau kamu tidur di kamar aja," tanya Khanza.
"Terus kamu tidur di mana? Aku gak mau kalau kamu yang tidur di sofa. Lagian aku ini cowok, aku kuat jadi biar aku yang mengalah," tutur Rayyan.
"Kasurnya aku rasa cukup luas. Jadi kamu bisa tidur di sebelah aku, nanti tengahnya kasih guling aja, jadi kita gak bersentuhan," cicit Khanza pelan, namun Rayyan masih bisa mendengar dengan jelas.
"Kamu yakin mengizinkan aku tidur di sebelah kamu?" tanya Rayyan yang terlihat biasa aja, padahal hatinya, ia sangat bahagia sekali.
Khanza menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, Rayyan pun akhirnya, berjalan ke kamarnya
"Tapi aku mandi dan ganti baju dulu ya, gak papakan? Soalnya aku gak enak jika tidur pakai baju kerja gini," ucap Rayyan dan Khanza pun lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, Rayyan tersenyum.
__ADS_1
Ia segera menghambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.
Khanza menunggunya dengan duduk di sofa. Ia melihat hp Rayyan yang tergeletak begitu saja di atas meja. Ingin rasanya ia ambil dan menelfon Zahra untuk membantunya agar bisa segera keluar dari ruangan ini. Namun di fikir-fikir, ia gak boleh terlalu lancang. Lagian, besok pagi dia sudah bisa keluar. Jadi, Khanza pun memilih untuk tak memegang hp itu.