CEO Kejam Dan Romatis

CEO Kejam Dan Romatis
Khanza Mulai Beraktivitas Kembali


__ADS_3

Setelah satu minggu sejak Khanza sadar, kini ia sudah mulai sehat kembali. Bahkan sangat sehat. Rayyan yang melihatnya pun merasa senang karena akhirnya Khanza mulai ceria dan aktif lagi seperti dulu.


"Hari ini aku akan berangkat kerja," ucapnya setelah selesai sarapan pagi.


"Benarkah? Akhirnya, aku seneng banget deh," ujar Zahra, ia sudah lelah mengurus semuanya sendirian, yah walaupun kadang di bantu Farhan sih, akan tetapi tetap aja beda rasanya. Tidak secepat saat Khanza melakukannya, karena bagaimanapun Khanza jauh lebih mahir dari pada mereka. Sat set sat set, selesai.


"Aku boleh ikut?" tanya Rayyan.


"Boleh kalau mau." jawab Khanza.


"Apa aku harus ganti baju?" tanyanya melihat saat ini, ia tengah memakai baju santai.


"Enggak usah, lagian aku gak akan pergi ke perusahaan satunya," tutur Khanza.


"Lah  kamu mau ke perusahaan yang mana?" tanya Zahra.


"Perusahaan Tanpa Nama," jawab Khanza santai membuat Zahra melongo.


"Aku fikir kamu mau ke perusahaan KHZ Tercnolongi," ujar Zahra kecewa.


"Kenapa?" tanya Khanza melihat wajah Zahra tampak sedih dan kecewa.


"Enggak papa," jawab Zahra santai.


"Nanti habis dari perusahaan itu aku akan perusahaan Khz kok, santai aja."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Mm ... Apa di sana ada banyak pekerjaan sampai bikin kamu kesulitan?" tanyanya.


"Mmm ... dan rasanya beda saja, saat aku kerja bareng kamu."


"Sabar yah, kita harus bagi tugas, kan. Biar semuanya tetap berjalan lancar," ujar Khanza dan Zahra pun menganggukkan kepala.


"Atau gini aja deh, sekarang kita berempat pergi ke Perusahaan Tanpa Nama, kalau di kerjakan berempat kan cepat selesai tuh, lalu kita pergi ke Perusahaan Khz. Nanti kita berempat bagi tugas, biar semuanya cepat kelar. Jika ada waktu, kita bisa jalan-jalan sampai malam. Bagaimana, setuju?" tanya Khanza.


"Aku setuju," balas Zahra semangat.


"Mas Rayyan dan Mas Farhan, mau bantu kan?" tanyanya.'


"Syukurlah, setidaknya kedatangan kalian ke sini, tidak sia-sia. Kalian bisa bantu aku, menyelesaikan semua masalah aku. Bukankah begitu?" tanya Khanza dan RAyyan pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Terserah kamulah, aku nurut aja," ucap Rayyan pada akhirnya. Ia memilih mengalah dan membiarkan Khanza yang mengaturnya. Mendengar ucapan Rayyan pun, Khanza tersenyum senang.


"BAiklah, ayo kita siap-siap dan segera pergi, mumpung hari masih pagi. Jangan lupa, bawa pisau dan pistol kecil kalian buat jaga-jaga." ujar Khanza memberikan perintah.


"Kita mau ke perusahaan, apa mau perang?" tanya Rayyan heran.


"Dua duanya," sahut Khanza membuat Rayyan dan Farhan melongo.


"Kamu baru sembuh loh," ujar Rayyan, ia tak terima Khanza sudah mau berperang lagi dalam keadaaan yang belum fit seratus persen.

__ADS_1


"Aku pasti jaga diri baik-baik. Lagian kan ada kamu, kamu mau jaga aku, kan. Seperti Farhan yang menjaga Zahra?" tanyanya.


"Tentu, ngapain di tanya," jawab Rayyan tegas.


"Iya sudah, ngapain kamu khawatir. Ayo kita segera siap-siap, dan setelah itu, kita langsung berangkat. Biar gak siang." Mereka pun pergi ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap. Mereka akan pergi menggunakan satu mobil aja, untuk meminimaliris jika ada yang ingin mencelakai, setidaknya dengan mereka berempat, mereka bisa melawan siapa saja yang menghadang perjalanan mereka nantinya.


Tak lama kemudian, mereka pun datang.


"Sudah siap?" tanya Khanza.


"Ya." jawab mereka.


"Iya sudah yuk, berangkat. Siapa yang nyetir?" tanyanya.


"Biar saja aja, Non," ucap Farhan.


"Baiklah." Khanza memberikan kunci mobil kepada Farhan.


"Aku duduk bareng kamu ya," pinta Rayyan.


"Boleh. Zahra, kamu duduk di depan gak papa kan?" tanyanya.


"Enggak papa kok, santai aja."


Dan karena sudah sepakat, akhirnya Zahra duduk di depan bersama dengan Farhan dan Khanza duduk di belakang bersama dengan Rayyan.

__ADS_1


__ADS_2