
Zahra menatap mereka berdua, dan menghela nafas beberapa kali sebelum akhirnya ia mulai bercerita.
"Aku dan Khanza, sebenarnya terhubung dengan beberapa mafia," tuturnya sambil melihat respon Rayyan dan Farhan yang tenyata tampak biasa, bahkan mereka tidak terlihat terkejut sama sekali.
Melihat respon mereka, Zahra meneruskan ceritanya.
"Awalnya, Khanza hanya membentuk geng sendiri yang di kasih nama, Khazmut. Khanza Imut. Lucu dan unik, kan? Sebenarnya ada beberapa yang tidak setuju, ya kali, mereka sudah terlihat macho dan garang, eh nama gengnya malah kayak gitu. Namun karena geng itu di ketuai oleh Khanza, jadi suka-suka Khanza mau di kasih nama apa, dan mereka hanya bisa diam menurut. Geng itu hanya terdiri dari bebera orang, kalau gak salah sekitar dua belas orang, tapi sekarang, sudah ada puluhan orang yang masuk ikut geng Khanza." Zahra menjeda ucapannya, karena ia lelah harus menjelaskan panjang lebar gini.
"Tujuan Khanza membentuk geng ini, adalah untuk menyelamatkan banyak orang. Seperti penculikan beberapa anak, membantu para ibu-ibu rumah tangga yang mengalami kasus KDRT, memberi hukuman buat preman yang suka malak di pasar, membantu anak-anak di jalanan dan membu-nuh para korup-tor yang merugikan banyak orang. Awalnya, Khanza melakukannya karena atas dasar, kasihan dan ingin melindungi mereka. Namun lambat laun, hati Khanza tergerak untuk membantu banyak orang, sehingga ia terpaksa untuk ikut balapan liar. Karena dengan balapan liar, ia bisa menghasilkan banyak uang untuk membantu banyak orang di luar sana."
"Namun tiba-tiba ia mendengar ada kasus, penculikan besar-besaran seorang wanita dan anak kecil untuk di bawa ke luar negeri. ANak kecil yang di ambil or-gan tubuhnya untuk di jual di pasar malam sedangakn para wanita yang dijadikan bu-dak s e k s. Mendengar hal itu, Khanza sangat marah. Bagaimanapun dirinya juga seorang perempuan, terlebih saat kecil, ia juga hampir di le-ceh-kan, jadi ia tau rasanya ketakutan mereka."
"Untuk itu, Khanza mulai mendirikan sebuah perusahaan tanpa nama. Di mana, akan ada beberapa orang yang menyewa jasanya untuk membu-nuh rekan mereka. Tentu, Khanza tidak asal membu-nuh, ia harus tau dulu kesalahan apa yang sudah di lakukan orang itu hingga pantas untuk ma-ti. Setelah tau, dia punya banyak kesalahan, barulah Khanza tidak akan segan-segan membu-nuhnya dengan tangannya sendiri."
"Untuk kasus besar, ia akan terjun langsung, dan untuk kasus kecil, ada anggota yang tersebar untuk menangani kasus tersebut. Jadi, gak harus Khanza yang menangani semuanya. Dan jika ingin menyewa jasa, harganya pun cukup mahal antara ratusan bahkan milliaran, tergantung, berat enggaknya tanggung jawab yang ia emban. Dan uang itu untuk menghidupi kebutuhan anggotanya dan untuk membuat rumah dan juga sekolah untuk anak-anak yang terlantar sehingga mereka punya rumah untuk tempat berteduh dan juga agar mereka bisa sekolah tanpa memikirkan masalah biaya."
"Perusahaan yang ia jalani cukup berjalan lancar, dan untuk menutupi kejatahannya, Khanza memilih untuk sekolah dan ia akan tawuran, jika ada yang menganggu dirinya. Khanza tidak takut siapapun. Dia tidak akan tawuran, jika tidak ada yang menantangnya. Khanza tidak segila itu untuk melakukan tawuran jika tidak ada penyebabnya."
__ADS_1
"Hampir setiap hari, akan ada aja yang ma-ti di tangan Khanza. Namun Khanza tidak memperdulikannya, karena mereka memang pantas mendapatkannya. Lagian Khanza itu tidak percaya dengan poli-si. Karena baginya, polisi itu kurang adil dalam menyikapi suatu masalah, seperti berat sebelah. Bukan menjelek-jelekkannya, hanya saja, Khanza dan aku bisa melihat sendiri, bahwa hukum bisa di beli. Jadi, Khanza menggunakan caranya sendiri untuk menghukum mereka dan membuat mereka menyesal."
"Lalu tiba-tiba Khanza mendengar ada penye-lundu-pan nar-koba. Di situ, Khanza merasa geram, karena ia tau betul bahayanya nar-koba apalagi jika di konsumsi banyak orang, mau jadi apa dunia ini, jika mereka pada rusak. Lalu ia meminta aku dan beberapa anggota lainnya untuk menggagalkan penyelun-dupan itu. Hanya saja,kami ketahuan dan Khanza hampir saja terbu-nuh. Untungnya ada Paman Edward yang berhasil menolong Khanza waktu itu, hingga Khanza bisa lolos dari maut."
"Dan sejak kenal dengan Paman Edward, kehidupan Khanza, aku dan semua anggota Khazmut berubah. Karena kali ini, Paman Edwardlah yang akan membiayai mereka, namun perusahaan tanpa nama tetap di jalani agar uangnya bisa buat banyak banyak orang di luar sana. Dan dari Paman Edward juga, Khanza dan aku belajar pemrograman dan juga belajar untuk mengerti IT. Khanza yang emang sudah tertarik sejak SMA dan sedikit mengerti ilmu IT langsung belajar keras, tak butuh waktu lama. Khanza menguasai ilmu yang Paman Edward ajarkan. Aku pun bisa, cuman, tidak semahir Khanza."
"Sejak bertemu Paman Edward, Khanza mulai tidak betah di rumah orang tua atau kakeknya. Ia memilih hidup sendiri, kadang aku juga bermalam di tempat dia. Karena gak tega membiarka Khanza tidur sendirian. Kami semakin akrab karena tujuan kami sama, yaitu memberantas kejahatan dan membantu mereka yang lemah."
"Khanza di bantu oleh Paman Edward mulai membangun usaha lagi, namun kali ini bukan Perusahaan tanpa nama seperti di awal. Khanza ingin membangun perusahaan IT karena dia menyukai komputer dan pemrograman. Jadi, sejak satu setengah tahun lalu, dia resmi menjadi pendiri dan CEO Khz Technology. Kalian pasti tau perusahaan itu, kan?" tanyanya. Rayyan dan Farhan pun menganggukkan kepalanya.
"Khanza selalu ingin menjadi garda terdepan untuk terus berkontribusi menjadikan Negara In smart nation dan membantu para pelaku bisnis di Negara In agar terus berkembang secara optimal untuk mengembangkan ekonomi digital. Namun sayangnya, banyak yang ingin menghancurkannya. Dan Khanza tidak bisa menghadapi seorang diri, bahkan aku sendiri juga tidak bisa karena lawan kami kuat. Akhirnya Paman Edward memperkenalkan kami dengan beberapa mafia. Dan dari sanalah, Khanza, aku dan semua anggota lainnya mulai terjun ke dunia mafia. Kami berusaha, belajar dan berlatih dari mereka untuk menjadi manusia kuat. Mereka juga yang melindungi Khanza, jika ada yang diam-diam ingin mencelakainya. Ya, wajar sih, karena perusahaan yang di dirikan Khanza cukup maju dan berkembang pesat, hingga membuat perusahaan yang lain mengalami banyak masalah. Dan belum lagi, perusahaan tanpa nama yang semakin besar dan banyak orang yang menggunakan jasa itu. Bahkan perhari aja ada puluhan orang yang meminta bantuan, untuk membu-nuh seseorang atau mene-ror seseorang. Atau yang lainnya."
"Ya begitulah cerita singkat tentang Khanza. Dan kenapa ia terluka, karena ia dalam menjalankan misi, misi yang sangat penting dalam hidupnya yaitu menggagalkan pencu-likan dan pen-jualan organ tubuh anak. Khanza berhasil menyelamatkan dua puluh tiga anak, tapi sayangnya, di detik-detik terakhirnya, ia malah terkena tembakan pelu-ru. Dua puluh tiga anak yang berhasil di selamatkan sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, tapi sayangnya, Khanza yang tertem-bak, belum juga sadarkan diri. Dia emang pemberontak, keras kepala, egois, namun ia punya hati yang begitu lembut. Dia rela berkorban demi menyelamatkan nyawa orang lain."
"Dia bekerja keras bukan semata-mata untuk dirinya sendiri, melainkan karena ia tidak bisa tinggal diam jika melihat atau mendengar orang lain membutuhkan pertolongannya. Dia emang bukan malaikat, tapi dia sudah seperti malaikat untuk orang-orang yang pernah di tolongnya."
Zahra menyudai ceritanya karena, karena ia juga lelah cerita panjang lebar. Tak terasa hampir sepuluh menit ia bercerita. Cukup lama hingga bikin tenggorakannya haus.
__ADS_1
"Terus misi nanti malam, apa?"
"Ah itu, ada beberapa orang yang ingin menghancurkan perusahaan Khanza. Dan aku gak bisa tinggal diam. Nanti malam, aku mendengar dari mata-mataku, kalau ada yang ingin menyerang markas kami yang ada di negara ini. Makanya, sebelum mereka menyerang, aku dan anggota aku yang harus maju dulu, agar tidak menimbulkan banyak korban." sahutnya.
"Baiklah, aku mengerti." balas Farhan.
"Tapi aku merasa bahwa mereka tidak sesederhana itu," ucap Zahra.
"Maksudnya?" tanya Farhan.
"Aku merasa mereka seperti ingin menyerang dari segala arah. Markas ingin di serang, penyelundupan nar-koba dan senjata ta-jam juga akan di lakukan malam ini jam dua belas. dan tiba-tiba perusahaan Paman Edward yang ada di negara lain juga bermasalah. Mereka seakan ingin memecahkan konsentrasi kami buat membuat kekacauan. Bisa jadi saat aku dan yang lain pergi ke markas dan menggagalkan penyelun-dupan itu, mereka juga menyerang mension ini dalam waktu bersamaan. Mungkin ada yang membocorkan bahwa Khanza tengah sakit dan ada di mension ini." sahut Zahra.
Mendengar hal itu, Rayyan mengepalkan kedua tangannya.
"Aku akan melindungi Khanza dengan nyawaku sendiri. Aku gak akan biarkan mereka menyentuh Khanza sedikitpun," tegas Rayyan.
"Aku percaya. Kita harus saling melindungi. Aku beruntung kalian dalam di saat yang tepat. Di saat aku butuh seseorang buat jaga Khanza di mension ini. Karena aku sendiri, tidak bisa terus berada di sini dan mengabaikan yang lain," ujar Zahra yang bersyukur akan kedatangan mereka berdua.
__ADS_1
"Jika mereka berhasil masuk ke mension, bawalah Khanza ke ruang bawah tanah. Di belakang lemari di ruangan Khanza, ada pintu, kamu masuk dan bawa Khanza ke sana. Kamu gak bisa melawan mereka, jika kamu bersama Khanza. Setidaknya taruhlah Khanza di tempat yang aman dulu, agar kamu bebas melawan mereka semua," tutur Zahra memberitahu dan Rayyan pun menganggukkan kepalanya.