
Malam harinya, di mension cuma ada Rayyan, Khanza, puluhan ART dan ratusan penjaga di luar mension. Buat jaga-jaga, Rayyan sudah memegang senapan, Revolver dan pisau kecil.
Mengingat perkataan Zahra, membuat Rayyan sangat waspada sekali. Ia terus menatap Khanza, yang masih setia memejamkan mata.
"Istirahatlah dengan tenang. Kamu pasti lelah dengan semua aktivitas kamu selama ini. Biarkan hari ini dan ke depannya, aku membantu semua beban yang ada di pundak kamu," ucapnya sambil menci-um punggung tangan Khanza berulang-ulang.
"Aku mencintai kamu, dan aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu. Bahkan jika aku harus mempertaruhkan nyawa aku sendiri," ujarnya sekali lagi dan kali ini ia mengecup kening Khanza.
"Saat ini Paman Edward sedang dalam perjalanan ke negara lain. Zahra ia juga tengah menggantikan posisi kamu untuk membasmi mereka yang ingin menghancurkan maskas yang kamu punya, serta menggagalkan penyelun-dupan nar-koba serta sen-jata illegal. Aku ingin membantu tapi aku gak bisa, karena aku harus jaga kamu di sini. Tapi kamu tenang aja, karena ada Farhan yang akan melindungi Zahra di sana. Aku yakin, Farhan pasti bisa membantu sahabat kamu untuk bisa menyelesaikan semuanya dan kembali dalam keadaan sehat. Farhan, dia cukup bringas orangnya. Apalagi kalau sudah menyangkut nyawa orang yang ia sayang, keberingasannya bahkan bisa berkali-kali lipat. Walaupun Farhan tidak bilang apa-apa, tapi aku tau, Farhan tertarik dengan sahabat kamu itu." Rayyan terus mengajak Zahra bicara.
Hingga beberapa saat kemudian, ia mendengar suara gaduh di luar mension. Ia langsung menatap ke arah layar yang ada di kamar Khanza, layar itu menampilkan ratusan orang yang menyerang mension.
Tanpa buang waktu, dengan hati-hati sekali, Rayyan langsung memasukkan Khanza di ruang rahasia.
"Aku harus pergi, aku pastikan mereka gak akan masuk ke ruangan ini. Aku gak bisa menitipkan kamu ke siapapaun, karena aku tidak percaya siapa-siapa di sini. Jadi, tunggu aku kembali ya. Aku mencintaimu."
Setelah menge-cup bibir Khanza sekilas, ia pun segera pergi dari sana dan dengan senjata yang ia pegang.
Ia lari ke lantai atas, dari lantai atas, ia mulai membunuh mereka satu persatu dengan senapan yang ia pegang. Ia emang berhasil melumpuhkan banyak orang, namun sayangnya, dirinya ketahuan dan ia segera lari bersembunyi. Ia turun ke bawah dan membuang senapan yang tak ada lagi isinya itu. Ia membuang ke tempat yang sekiranya tidak ada yang mengetahui, bagaimanapun itu senapan milik Khanza. Ia gak mungkin menghilangkannya, karena itu bisa bikin KHanza marah dan kecewa.
Rayyan melihat beberapa ART juga memegang senjata, ternyata semua ART di sini, juga punya bakat masing-masing dan semuanya pintar bela diri. Syukurlah, setidaknya mereka tidak diam aja dan berakhir dengan ma-ti konyol.
"Lindungi diri kalian masing-masing, dan jangan ceroboh. Cari tempat yang aman dan bunuh mereka dari jarah jauh, jika terdesak, kalian bisa menendang kema-luannya sekuat mungkin, lalu ambil senjatanya dan tem-bak mereka secepat mungkin. Jika kalian punya pisau kecil, manfaatkan itu, karena itu bisa membantu kalian jika ada yang menyakiti kalian dalam jarak dekat," ucap Rayyan seakan menjadi komando mereka.
"Siap." Mereka dengan kompak cari tempat sembunyi. Sedangkan RAyyan, ia terus lari ke pintu utama, ia ingat dia punya bom yang pernah ia rakit sendiri. Dampaknya tidak terlalu kuat namun bisa menewaskan puluhan orang. Ia segera mengambil bom itu dari saku jaketnya. Untung, ia sudah menyiapkan semuanya.
__ADS_1
Ia terus berlari, ke pintu utama. Lalu ia teriak sekencang mungkin, "Mundur." Kata mundur yang kluar dari mulut Rayyan, membuat semua penjaga kaget, pasalnya RAyyan yang menjadi tamu di mension itu mengatakan kata mundur.
Namun mereka mengikuti naluri mereka, mereka segera lari dan mundur hingga menyisakan anak buah dari musuh. Tanpa hitungan satu, dua, tiga. Rayyan langsung melemparkan ke arah mereka sekuat mungkin dan
BOMMMM ....
Benar, setelah mendarah ke tanah, bom itu meledak dan menewaskan banyak orang. Melihat hal itu, Rayyan tersenyum menyeringai. Walaupun masih banyak yang hidup, setidaknya seperempat dari mereka, sudah tewas.
Melihat teman-temannya banyak yang mati, mereka semakin bringas.
Rayyan dan semua penjaga mension langsung menembaki mereka, bahkan karena lengah. Ada yang masuk ke dalam mension.
Rayyan ingin pergi ke dalam, namun ia di hadang oleh beberapa orang. RAyyan langsung menggunakan pisau dan membunuh mereka satu persatu. Lalu setelah itu, ia langsung lari ke dalam. Ia takut, jika mereka sampai memasuki ruangan Khanza.
Rayyan tau, mereka tengah menginzar Khanza. Untuk itu, Rayyan langsung masuk ke dalam.
Rayyan sangat marah, Rayyan langsung menghajar mereka habis habisan. Dan membu-nuh mereka dengan sangat bringas. Lalu setelah itu, Rayyan menyeret tubuh tak bernyawa itu agar tidak membawa virus di ruangan Khanza.
Setelahnya, Rayyan melempar mereka dari lantai atas. Melihat temannya jatuh dalam keadaaan yang mengerikan. Mereka yang ada di bawa menatap ke arah Rayyan.
Rayyan hanya tersenyum, dan ketika mereka menem-baki RAyyan, Rayyan segera bersembunyi dan ia lari ke bawah untuk membantu para ART membasmi mereka yang berhasil masuk ke dalam mension.
Tak butuh waktu lama, Rayyan berhasil melumpuhkan mereka semua.
"Urus ma-yat mereka, dan bersihkan ruangan ini segera, terutama ruangan Khanza. Biar saya yang bantu penjaga di luar untuk mengha-jar mereka dan menghalangi mereka agar tidak masuk ke dalam mension ini," ujarnya.
__ADS_1
Setelah itu, Rayyan keluar lagi. Walaupun bajunya sudah penuh dengan keringat, namun Rayyan tidak memperdulikannya. Ia terus menyerang mereka dengan brutal.
Hingga akhirnya tinggal sedikit, dan mereka menyerah dan memilih segera pergi dari sana.
Rayyan membiarkannya saja. Biarkan mereka pergi untuk melapor ke atasannya itu, Rayyan ingin tau, siapa yang sudah main-main dengan dirinya. Mulai hari ini, musuh Khanza, adalah musuhnya. Dan siapapun yang berususan dengan Khanza, juga berurusan dengannya.
Melihat banyak penjaga yang terkapar, Rayyan hanya bisa menghela nafas.
"Yang terluka ringan atau berat, bawa mereka ke rumah sakit. Yang meninggal, antarkan mereka ke keluarganya dan beri mereka kompensasi yang besar. Faham?" tanyanya.
"Faham, Tuan." ucap mereka kompak.
"Siapa ketuanya di sini?" tanyanya.
Dan seseorang berwajah tampan dan tegap, langsung mengangkat tangannya.
"Ini kartuku dan urus mereka semua dengan kartu ini." ujarnya.
Orang itu pun mengambilnya dan mengucapkan terima kasih banyak, baru kali ini ia mendapatkan majikan yang begitu baik. Biasanya, yang meninggal cukup di antarkan dan hanya mendapatkan gaji terakhir mereka.
Soalnya gaji di sini, tiga kali lipat dari luaran sana. Walaupun resikonya berbahaya, namun mereka tetap mau bekerja di mension ini karena mereka mendapatkan gaji yang cukup fantastis. Hanya saja, jika ada nyawa yang melayang, itu sudah jadi konsekuensi mereka semua. Jadi, mereka tidak akan mendapatkan kompensasi apapun seperti perjanjian di awal.
Setelah mengucapkan itu, Rayyan segera pergi dari sana, ia mengambil senapan yang tadi ia lemparkan begitu saja. Lalu ia segera mengembalikan senjata tajam itu ke tempat semula. Rayyan juga membersihkan dirinya dan segera masuk ke dalam ruangan Khanza. Ruangan itu sudah bersih seperti semula.
Dengan hati-hati, Rayyan memasuki kamar rahasia dan membawa Khanza kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Ia bersyukur, kali ini ia bisa menyelamatkan Khanza, dan ia harap di masa depan ,ia bisa terus menyelamatkan wanita yang ia cintai.