
Sore harinya saat Zahra pulang, ia kaget saat dirinya habis mandi dan pergi ke ruangan Khanza. Ia melihat Khanza sudah sadar bahkan mengobrol santai dengan Rayyan. Sedangkan Farhan tidak ada, mungkin karena masih ada di kamarnya dan tengah membersihkan dirinya.
"Khanza, Ya Tuhan ... akhirnya kamu bangun juga," Zahra langsung lari dan memeluk Khanza dengan erat. Ia bahkan sampai menangis, sangking terharunya.
"Kamu kapan sadarnya, kok gak ngasih tau aku sih?" ucapnya kesal sambil melirik ke arah Rayyan. Namun Rayyan pura pura tidak tau aja.
"Aku mau mandi dulu," tutur Rayyan sambil bangkit dari tempat duduknya, dan memberikan waktu untuk mereka berdua agar bisa ngobrol bareng dan melepas rasa kangen.
Setelah Rayyan pergi, barulah Khanza menatap tajam ke arah Zahra.
"Apa?" tanya Zahra takut.
"Kenapa kamu ngasih tau Ray, kalau aku sakit?" tanyanya.
"Oh itu, aku cuma ngasih foto dan kata-kata doang, aku cuma bilang kamu sakit dan minta doanya. Setelah itu, aku langsung motong kartunya biar tidak terdeteksi lokasinya. Namun siapa sangka, dia ternyata tidak sebodoh yang aku kira. Aku aja kaget, saat lihat dia dan Mas Farhan sudah ada di depan mension ini. Jadi, aku suruh masuk aja deh, buat jaga kamu. Eh tapi beruntung loh, dengan adanya mereka berdua. Kamu gak tau sih, tadi malam. OH Tuhan, mension ini di serang, kalau bukan karena Mas Rayyan, mungkin kamu sudah mati di tangan musuh. Dan kalau bukan karena Mas Farhan yang maksa ikut aku tadi malam, mungkin aku pun pulang jadi mayat. Aku hampir mati berkali-kali, tapi Mas Farhan selalu menolong aku, mereka berdua itu berkah buat kita berdua. Jadi, jangan marah-marah lagi," sahutnya memberitahu kejadian tadi malam.
"Aku gak marah, aku cuma kesal," ucap Khanza.
__ADS_1
"Sama aja itu mah, lagian mereka juga tinggal di sini, sudah atas izin Paman Edward."
"Paman Edward ngizinin? Tapi kok bisa sih, biasanya kan Paman Edward gak mudah buat nerima orang lain, apalagi tinggal di mension miliknya."
"Mereka berdua emang langsung di terima gitu aja. Mereka harus berperang dulu sama lima puluh penjaga di mension ini. Coba bayangkan, dua orang lawan limma puluh orang. TApi untungnya mereka berdua berhasil dan hanya mengalami luka ringan saja. Dan karena itulah, Paman Edward mengizinkan. lagian misal gak di izinin, terus yang jaga kamu siapa, sedangkan Paman Edward pergi, dan aku harus menghadapi para musuh kita," balasnya.
"Iya juga sih."
"Dan lagi, tadi siang saat aku berangkat kerja bareng Mas Farhan itu, aku di ikuti oleh lima mobil tau gak."
"Kok bisa?"
"Terus?"
"Ya aku sama Mas Farhan langsung tukar posisi, aku yang nyetir, Mas Farhan yang nembakin mereka."
"Terus, kalian selamat?"
__ADS_1
"Iyalah. Buktinya aku sehat sampai sekarang."
"Syukurlah. Kayaknya mereka itu gak pernah ada kapoknya, pengen cari gara-gara terus."
"Ya begitulah kalau hatinya sudah hitam. Selalu aja pengen cari masalah terus."
Mereka pun mengobrol berdua, sampai tidak sadar jika sejam telah berlalu. Kini Rayyan dan Farhan datang lagi ke ruangan Khanza dan bergabung sama mereka berdua.
"Kayaknya asyik banget ceritanya, sampai gak sadar ada ornag masuk," sindir Rayyan.
"Hehe, maklum wanita kalau suruh cerita. Jadinya lupa segalanya, bahkan lupa sekitar," sahut Khanza sambil menatap ke arah Rayyan.
"Hay," sapa Khanza yang menoleh ke arah FArhan.
"Non Khanza, gimana kabarnya?" tanyanya kaku.
"Baik. Makasih ya sudah bantuiin Zahra tadi malam sama tadi siang," ucap Khanza tulus.
__ADS_1
"Sama-sama, Non. Saya juga senang bisa bantu Non Zahra," jawanbya dengan formal.
Khanza pun menganggukkan kepala, dan mereka berempat pun akhirnya mengobrol bersama, walaupun saat ini, Farhan lebih banyak diamnya. Dan akan buka suara jika sedang di tanya saja.