
Rayyan mandi hanya lima belas menit saja, setelh mengeringkan tubuhnya, Rayyan pun segera mengambil baju ganti dari dalam lemari. Dari proses mandi sampai ganti baju, Khanza sengaja melihat ke arah yang lain agar tidak melihat tubuh Rayyan yang telanjang dada. Rayyan yang melihat hal itu pun hanya mendesah kecewa, padahal ia ingin memamerkan bentuk tubuhnya yang **** dengan perut yang sixpack. Sayangnya, Khanza seakan enggan untuk melihatnya.
Rayyan pun buru-buru memakai celana dan baju santai. Lalu baju kotor yang tadi ia taruh di ranjang kotor. Dan handuknya pun ia taruh di tempat biasa agar cepat kering.
"Aku sudah selesai mandi dan berpakaian. Ayo tidur, ini sudah dini hari," ajak Rayyan dan Khanza pun mengiyakan.
Lalu setelah itu, mereka pun tidur bersama dalam satu ranjang, hanya saja di tengah-tengah mereka ada guling yang memisahkan mereka.
Ini pertama kalinya khanza tidur satu ranjang dengan laki-laki, ia sangat gugup namun berusaha terlihat biasa aja. Begitupun dengan Rayyan, dari tadi ia bahkan sudah sangat gugup sekali, jantungnya berdetak keras, hatinya berdebar-debar. Karena seumur-umur, ini pertama kalinya juga buat Rayyan, tidur bersama wanita lain. Bahkan dari bayi pun, ia selalu di ajarkan tidur sendiri dan bahkan sudah punya kamar sendiri.
"Kamu bisa tidur?" tanya Rayyan.
"Enggak," jawab Khanza sambil menatap langit-langit kamar.
"Kenapa? Apa karena ada aku?" tanya Rayyan.
"Enggak kok, mungkin karena tadi sudah cukup tidurnya, jadi gak ngantuk lagi," sahut Khanza.
__ADS_1
"Hmm .. aku juga gak bisa tidur."
"Kenapa? Apa kamu gak nyaman satu ranjang sama aku?" tanya balik Khanza.
"Bukan gitu. Mungkin karena tadi sudah tidur, terus sudah makan dan mandi, jadi sudah seger. Rasa kantuknya hilang. Lagian aku tidur satu atau dua jam juga sudah cukup."
"What! Kamu kalau cuma sebentar?" tanya Khanza kaget, ia bahkan reflek melihat ke arah Rayyan.
"Ya, dari kecil, aku gak bisa tidur lama. Dari saat aku bahkan baru bisa jalan, aku sudah di didik sangar keras. Apalagi saat usia aku lima tahun, aku mendapatkan banyak latihan. Aku harus belajar siang malam, latihan fisik dan juga harus belajar bisnis dari usia dini. Aku dan Farhan, tidak bisa hidup normal seperti orang kebanyakan. Mungkin karena Kakek harus menyiapkan aku menjadi pemimpin untuk perusahaannya, jadi dari kecil sudah di latih. Capek awalnya, namun lama kelamaan akuĀ mulai terbiasa. Aku dan Farhan berusaha saling menguatkan satu sama lain. Dan dari kecil aku juga gak bisa tidur terlalu nyenyak, paling lama aku tidur hanya tiga jam. Tapi kadang berhari-hari gak tidur."
"Astaga, kenapa?"
"Ya Tuhan, ngeri juga ya," tutur Khanza yang merasa kasihan dengan hidup Rayyan karena ternyata hidupnya penuh dengan kekangan dari kakeknya, dia gak bisa hidup bebas seperti dirinya.
"Hm." Rayyan hanya berdehem saja.
Mereka pun terus mengobrol hingga tak terasa pagi hari sudah tiba. Khanza melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.
__ADS_1
"Kira-kira pintunya sudah bisa di buka belum ya?" tanya Khanza.
"Coba aja dulu, sepertinya sudah bisa."
Khanza dan Rayyan pun turun dari ranjang, Khanza berjalan ke arah pintu. Dan diam-diam, Rayyan memencet tombolnya hingga pintu itu tidak terkunci lagi.
"Alhamdulillah ternyata sudah bisa," ucap Khanza dengan girang. Tanpa sadar, Khanza memeluk Rayyan karena sangking senangnya. Rayyan yang mendapatkan pelukan secara tiba-tiba pun membuat tubuhnya kaku. Mendadak otaknya jadi gak berfungsi.
Khanza yang sadar dengan tingkah lakunya yang tidak seperti biasa, langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf, tadi aku terlalu senang, jadi reflek meluk kamu," tutur Khanza menyesali perbuatannya.
"Enggak papa, santai aja," ucap Rayyan yang berusaha menampilkan wajah datarnya, padahal saat ini ia bahkan ingin berjingkrak karena mendapatkan pelukan dari Khanza.
"Kalau gitu, aku pamit pulang dulu ya. Mumpung kantor masih sepi juga. Aku gak mau ada yang melihat aku masih ada di sini sejak kemaren."
Setelah pamit, Khanza mengambil tasnya dan pergi dari sana. Namun saat ia melewati meja Farhan, ia kaget melihat Farhan yang tertidur di sana.
__ADS_1
"Apakah semalaman dia gak pulang?" tanya khanza dalam hati, namun ia tidak terlalu lama melihat ke arah Farhan. Ia ingin segera pergi dari sana dan mandi. Otaknya saat ini seakan tidak berfungsi. Padahal kemaren niatnya datang ke perusahaan karena ingin memberikan pelajaran buat Rayyan karena terus berusaha menerobos sistem pribadi miliknya. Namun siapa sangka, jika dirinya akan terjebak di ruangan Rayyan dan akhirnya malah membuat mereka akrab satu sama lain.