
Pagi-pagi sekali setelah sarapan pagi, Farhan dan Rayyan langsung pergi ke markas. Karena Felix sudah memberi kabar jika Deon sudah tertangkap dan kini dia ada di markas. Tanpa mau buang-buang waktu lagi, Farhan dan Rayyan pun langsung pergi ke sana.
Perjalanan menuju Markas cukup lama, yaitu satu jam setengah, karena memang tempatnya di daerah pinggiran, jauh dari pemukiman warga. Sengaja membuat Markas di sana agar tidak dicurigai. Dan jika ada suara tembakan pun, tidak terlalu terdengar.
Sesampai di Markas, Farhan dan Rayyan langsung turun. Mereka melewati beberapa orang yang berjaga di depan.
Di ruangan yang kedap suara, Rayyan melihat Deon yang tengah di ikat dengan besi, kedua tangannya dan juga kedua kakinya.
"Tuan Rayyan, Tuan Farhan." Felix menyapa mereka berdua bergantian.
"Hm. Kamu bisa keluar," ucapnya dingin. Felix pun mengangguk patuh, ia keluar dari sana bersama dengan beberapa anak buahnya. Dan membiarkan Farhan dan Rayyan melakukan sesuatu yang mereka sukai.
"Hai, gimana acara kaburnya?" tanya Rayyan sinis.
"Tolong lepasin saya, Tuan," pinta Deon memohon.
"Lepas? Cuih." Rayyan meludahi wajah Deon.
"Kamu fikir aku akan melepaskan kamu gitu aja setelah anak buahkku susah payah mencari keberadaan kamu? Belum lagi, uang yang kamu curi dari perusahaan. Kamu fikir, kamu bisa mengelabui aku? Hm?" tanyanya dengan wajah datar.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya akan mengembalikan semua uang perusahaan. Saya janji."
"Aku tidak butuh uang yang sudah kamu curi itu. Aku hanya ingin memberikan kamu pelajaran, agar kamu tidak seenaknya menghianati atasan kamu. Sekecil atau sebesar apapun uang yang kamu korupsi, tetap saja kamu itu adalah PENCURI. PENCURI UANG PERUSAHAAN," ucap Rayyan sambil menekan kata pencuri.
Lalu ia meminta sebuah pisau tajam, dan tanpa banyak kata. ia memotong dua tangan Deon hingga darah memuncrat kemana-mana.
"Aaaaaaaaaaa ...." Deon berteriak kesakitan. Rasanya sangat sakit, bahkan sangking sakitnya, ia seperti ingin mati saja.
Lalu Farhan mengambil sesuatu dalam kotak besi, lalu menyuntikkannya pada lengan Deon. Hingga darah yang tadinya terus mengalir itu mulai membeku dan tak mengeluarkan darah lagi.
Deon terus merintih kesakitan, karena memang obat yang di suntikkan itu, hanya agar darah yang keluar tidak terus mengalir. Bagaimanapun mereka tidak mau jika Deon mati begitu saja.
Sedangkan untuk rasa sakitnya, Deon akan terus merasakan rasa sakit itu selama beberapa hari ke depan. Sampai lukanya mengering sendiri. Karena Rayyan dan Farhan tidak akan memanggil dokter kemari. Jika memang Deon kuat, ia akan bertahan hidup, tapi jika tidak, mungkin ia akan berakhir di sini dan akan menjadi santapan anjing liar yang dipelihara oleh Rayyan. Anjing itu berada tak jauh dari markasnya dan di kasih jeruji besi agar tidak sampai melukai orang lain.
Setelah melihat kesakitan Deon, Rayyan hanya menatapnya dengan wajah datar. Farhan pun melakukan hal yang sama, tak ada rasa kasihan di wajah mereka melihat penderitaan Deon. Karena bagi mereka, Deon pantas mendapatkan itu semua. Karena Deon bukan hanya mencuri uang perusahaan tapi juga menjual rahasia pribadi perusahaan yang tidak seharusnya orang lain tau. Itulah yang membuat Rayyan murka.
Untungnya pihak yang membeli informasi itu merupakan teman dekat Rayyan, sehingga temannya lanagsung menghubungi Rayyan dan memberitahu jika ada pengkhianat di perusahaannya. Andai yang membeli adalah saingan bisnisnya, mungkin bisa jadi perusahaan keluarganya akan hancur di tangan orang yang salah. Tapi untungnya, Tuhan masih berbaik hati, sehingga lewat teman dekatnya, perusahaannya tetap baik-baik saja, dan tidak goyah.
Namun walaupun Perusahaanya baik-baik aja, tetap saja Rayyan tak akan memaafkan pelaku yang sudah hampir membuat Perusahaannya itu gulung tikar.
__ADS_1
Itulah alasan kenapa Rayyan sampai tega memotong kedua tangan Deon, karena kedua tangan itu yang sudah mencuri uang perusahaan dan menjual rahasia informasi perusahaan. Padahal gaji Deon di sana cukup tinggi, namun karena keserakahannya, membuat Deon akhirnya harus berakhir di sini.
Setelah Deon pingsan, barulah Rayyan dan Farhan pergi dari sana. Mereka juga menyuruh Felix agar tetap menjaga Deon, karena mereka tak mau jika sampai Deon kabur dari sana. Mereka ingin melihat akhir dari hidup Deon. Apakah dia akan menderita kesakitan, atau dia akan memilih menyerah dengan mengakhiri hidupnya sendiri. Atau ia akan beruntung dengan terus mencoba untuk tetap hidup dan berharap bisa keluar dari markas itu. Namun sayangnya, siapapun yang sudah masuk markas, pada akhirnya mereka akan berakhir dengan kematian.
Farhan dan Rayyan pergi ke suatu tempat untuk bersih-bersih dulu, karena mereka tak ingin ada orang curiga karena ada darah yang menempel di baju mereka. Yah, saat Rayyan memotong kedua tangan Deon, ada darah yang mengenai bajunya. Untuk itu, Rayyan dan Farhan harus ganti baju dulu sebelum mereka pergi ke kantor dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi malam.
"Apa ada kabar dari mereka tentang persembunyian Khanza?" tanya Rayyan saat berada di dalam mobil.
"Belum, Tuan. Nomer yang dipegang Nona Khanza juga tidak aktiv sehingga sulit untuk dilacak. Nona Khanza juga tidak ada di kediaman orang tuanya maupun di rumah kakeknya. Bahkan saat ini, kedua orang tua Nona Khanza dan Kakeknya pun juga ikut mencari keberadaannya. Sedangkan semua kamera CCTV yang mengarah padanya juga sudah di hapus secara permanent sehingga sulit untuk di pulihkan," tutur Farhan memberitahu.
"Hhhh ... sepertinya ada seseorang yang jauh lebih pintar dari kita," ucap Rayyan frustasi.
"Dan bisa jadi, Nona Khanza sendirilah yang mengendalikan semuanya. Walaupun Nona Khanza terlihat polos, tapi bisa jadi dia lebih pintar dari yang kita perkirakan," sahut Farhan dan Rayyan mengangguk setuju akan hal itu.
"Apakah kamu sudah mencari tau tentang Zahra, sahabatnya?" tanyanya.
"NOna Zahra? Identitasnya juga sulit di tembus, Tuan. Dan masih belum diketahui dia sekarang ada di mana dan sama siapa. Atau mungkin bisa jadi saat ini Nona Zahra bersama dengan Nona Khanza. Mengingat mereka selalu bersama dan sulit dipisahkan."
"Lalu laki-laki yang bernama Haikal?"
__ADS_1
"Nah itu yang masih dicari informasinya, Tuan. Karena banyak sekali yang bernama Haikal. Jadi kami masih menyelidikinya sampai saat ini."
Rayyan tak berkata apa-apa lagi. Entah kenapa ia merasa merindukan keberadaan Khanza. Padahal ia baru bertemu kemaren. Namun sosok Khanza, seakan enggan pergi dari kepalanya. Bahkan saat tidur pun, Rayyan masih memimpikannya. Sekuat itukah pesona Khanza, hingga mampu menarik perhatiannya?