CEO Kejam Dan Romatis

CEO Kejam Dan Romatis
Rayyan Frustasi Menghadapi Khanza


__ADS_3

Rayyan merasa geram, karena ini pertama kalinya ada yang berani menghack kamera yang ada di ruangannya. Tapi siapa orang itu, sedangkan di ruangan Rayyan sudah mempunyai keamanan yang sangat kuat. Dan tidak semua orang bisa melakukan hal ini, kecuali dia mempunyai tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Dan Itupun dia harus menguasai dunia IT.


Tiba-tiba entah kenapa ia kepifiran Khanza.


"Apakah kamu Khanza?" ketiknya.


"Yes."


Mendapat jawaban itu, Rayyan terssenyum. Ia lalu membalas pesan Khanza lagi.


"Kenapa kamu menghack kamera di ruanganku?"


"Itu karena kamu sudah membuat aku kesal."


"Kesal?"


"Ya. Aku baru tau, kalau pintu itu sebenarnya tidak rusak, kamu sengaja menekan tombol di bawah kursi agar pintu itu terkunci otomatis. Kamu curang."


Membaca pesan itu, Rayyan terkekeh. Ia gak menyangka, jika rahasianya akan terbongkar secepat ini.


"Maaf, aku hanya tidak ingin kamu kabur lagi dariku. Aku ingin mengenal kamu dan bisa ngobrol sama kamu lebih lama."


"Tapi tidak dengan cara seperti ini. Aku gak suka."


"Sorry."


"Hmm ... lain kali jangan diulangi lagi."


"Iya, aku janji. Apakah ini nomermu?"


"Ya, tapi cuma sekali pakai. Jadi tidak perlu kamu simpan."


"Bagaimana jika aku ingin ketemu kamu, bagaimana cara aku menghubungi kamu?" ketik Rayyan.


"Emang kamu masih ada urusan lagi denganku, hingga kita harus bertemu atau haru saling menghubungi satu sama lain?"


"Aku rindu kamu."

__ADS_1


"Tapi sayangnya, aku gak rindu kamu."


"Jahat!"


"Bodo'."


"Kamu ada di mana sekarang?"


"Di hatimu." canda Khanza.


"Benar, kamu emang ada di hatiku sejak aku pertama kali bertemu denganmu. Jadi, bisakah kamu kasih tau aku bagaimana aku bisa menghubungi kamu, atau setidaknya aku tau, tempat tinggal kamu?"


"No. Aku gak suka ada orang lain yang mengetahui tentang aku. Jika kamu kangen, kamu bisa melambaikan tangan di kamera. Maka aku yang akan menelfon kamu. Kamera itu sudah tersambung dengan hpku."


Lalu Rayyan pun melambaikan tanganya di depan kamera.


"Ngapain kamu melambaikan tangan?"


"Karena aku berharap, kamu mau menelfon aku saat ini."


Tak lama kemudian, Khanza pun menelfonnya. Rayyan dengan senang hati, mengangkat panggilan itu.


"Hm," jawab Khanza cuek.


"Kamu ada dimana?" tanya Rayyan lagi.


"Di resto."


"Resto mana, biar aku kesana menghampiri kamu."


"Enggak perlu. Aku sebentar lagi sudah selesai dan setelah itu aku harus pergi ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Kamu tidak perlu tau," jawab Khanza ketus.


"Huefft ... aku kangen kamu."

__ADS_1


"Kita bahkan baru ketemu tadi pagi."


"Tapi aku benar-benar merindukan kamu."


"Sudahlah, jangan ngegombal terus. Aku tidak bisa lama-lama menelfon kamu."


"Kenapa?"


"Aku harus kerja."


"Bukannya kamu gak suka kerja?"


"Memang, tapi ada seseorang yang butuh jasa aku."


"Jasa apa?"


"Kamu tidak perlu tau."


"Hmm .. kalau gitu, aku juga butuh jasa kamu." ucap Rayyan.


"Emang kamu tau apa bisnisku?" tanya Khanza.


"Aku tidak tau, tapi aku butuh jasa kamu."


"Sudahlah, jangan berkata sesuatu yang bahkan kamu sendiri tidak tau."


"Hmmm ... aku butuh jasa kamu untuk terus di dekat aku. Aku ingin kamu selalu ada di samping aku."


"Kamu sepertinya sedang mabuk, dari tadi omongan kamu terus ngelantur kayak gini."


"Ya aku mabuk cinta."


Mendengar hal itu, KHanza hanya mencibir.


"Aku tutup dulu telfonnya."


Tanpa menunggu balasan dari Rayyan. Khanza langsung mematikan telfonnya. Dan saat Rayyan menelfon balik pun, ternyata nomer itu sudah tidak bisa di hubungi lagi.

__ADS_1


"Astaga, dia punya nomer berapa? Apa setiap kali nelfon seseorang, dia langsung mematahkan kartunya?" tanya Rayyan pada dirinya sendiri. Ia menatap ke arah kamera, karena saat ini, ia seperti tengah diawasi. Ia yakin, saat ini, Khanza pasti tengah menatapnya.


__ADS_2