CEO Kejam Dan Romatis

CEO Kejam Dan Romatis
Khanza Sadar


__ADS_3

Sesampai di kantor, Farhan di buat tercengang. Tak menyangka jika kantor milik Khanza, sangatlah besar dan luas. Ada lima puluh dua lantai. Bagaimana bisa Khanza yang umurnya masih dua puluhan, punya perusahaan sebesar ini. Akan tetapi mengingat perjuangan Khanza, wajar aja sih, jika ia mendapatkan semua yang ia miliki saat ini. Terlebih Khanza dapat bantuan dari Paman Edward. Dan lagi, Khanza juga bukan anak orang tak punya. Keluarganya punya kekayaan yang cukup banyak, jadi wajar jika di gabungkan, bisa menciptakan perusahaan sebesar ini.


Farhan memfotonya dan mengirimkannya ke Rayyan. Dan setelah itu, ia menaruh hpnya kembali dan berjalan di samping Zahra untuk masuk. Saat Zahra masuk ke dalam, semua orang menundukkan kepalanya. Walaupun Zahra masih sangat muda, namun mereka seperti sangat menghormatinya.


Ruangan aku ada di lantai lima puluh dua, paling atas. Kamu mau keliling dulu atau mau langsung ikut aku ke atas?" tanya Zahra sambil menoleh ke arah Farhan.


"Ikut kamu aja."


ZAhra menganggukkan kepalanya, lalu ia dan Farhan menaiki lift khusus agar tidak bercampur dengan karyawan.


Sedangkan di mension, Rayyan melihat gambar yang di kirim oleh Farhan.


"Kamu cukup sukses juga ya di negara ini. Tapi kenapa kamu harus pura-pura bodoh di depan keluargamu, bahkan sampai Kakek Ardi, meminta bantuan Kakekku buat mengajari kamu masalah dunia bisnis. Enggak taunya, kamu sudah jadi suhu. Jika aku dan Farhan gak ke sini, mungkin aku gak akan pernah tau, jika kamu punya perusahaan sebesar itu," ujar Rayyan.


Saat Rayyan ngajak Khanza ngobrol, tiba-tiba Khanza mulai menggerakkan jari jarinya lagi, dan tak lama kemudian, ia pun mulai membuka matanya.


Namun Khanza tidak langsung bicara, dan hanya diam. Sedangkan Rayyan yang melihat Khanza sadar pun tersenyum senang.


"Kamu ingat aku?" tanyanya, takut jika Khanza melupakan dirinya karena insiden kecelakaan yang menimpa Khanza.


Khanza menggelengkan kepalanya.


"Kamu beneran gak ingat aku?" tanya Rayyan sok. Lagi, Khanza menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kamu siapa?" tanyanya dengan suara lemah.


"Aku Rayyan, pria yang mencintai kamu. Astaga, kamu lupa ingatan?" tanyanya lagi.


"Aku siapa?" Khanza malah menanyakan dirinya sendiri.


"Wah, ada yang gak beres ini."


Saat Rayyan mau menelfon Zahra untuk segera memanggilkan dokter pribadi Khanza, tiba-tiba Khanza memegang tangan Rayyan.


"Aku bercanda, aku ingat kamu," ucap Khanza tersenyum membuat Rayyan menghela nafas lega. Ia pun akhirnya gak jadi menelfon Zahra.


"Kamu tuh nyebelin banget sih."


"Kamu kok bisa ada di sini?" tanyanya, masih dengan suara lemah tapi Khanza berusaha untuk terlihat baik-baik aja.


"Tau dari siapa?"


"Zahra."


"Ah anak itu, gak bisa jaga rahasia."


"Jangan salahkan dia, lagian aku cari tempat ini juga gak mudah, aku harus mengeluarkan banyak uang."

__ADS_1


"Hmm ... Zahra mana?"


"Lagi ke perusahaan bareng Farhan."


"Kamu sama Mas Farhan ke sini?" tanyanya.


"Iya."


"Paman Edward?"


"Dia pergi dari kemaren, belum pulang."


Mendengar hal itu, Khanza menganggukkan kepalanya. Paman Edward emang sering perjalanan jauh, jadi ia sudah gak kaget lagi.


"Aku haus, bisa minta tolong ambilkan air," tuturnya dan Rayyan pun langsung mengambilkan air yang tak jauh dari sana.


Rayyan membantu Khanza minum air itu pakai sedotan, agar mudah meminumnya.


"Alhamdulillah," ucap Khanza. Lalu ia berbaring lagi. Rayyan menaruh botol air itu ke tempat semula.


"Kamu sudah berapa hari di sini?' tanyanya.


"Baru kemaren."

__ADS_1


"Owh."


Mereka pun terus mengobrol satu sama lain, hingga akhirnya, Khanza pamit tidur karena kepalanya sedikit pusing. Rayyan pun memijit kepala Khanza dengan penuh kasih sayang, Khanza yang mendapatkan perhatian itu pun cukup senang, ia akhirnya tidur dan berharap jika ia bangun lagi, rasa sakit itu sudah hilang.


__ADS_2