
Di pantai layaknya anak kecil, Khanza dan Zahra main air, sedangkan Farhan dan Rayyan memilih untuk duduk santai di pinggir pantai sambil melihat ke arah sekitar. Di sini tempatnya cukup luas, dan Rayyan tak ingin, karena dirinya lengah, seseorang mencelakai Khanza.
Bagaimanapun, bisa jadi seseorang bersembunyi di balik pohon atau semak-semak untuk memantau keadaan Khanza sekarang. Kadang, ingin rasanya Rayyan meminta Khanza kembali ke negaranya sendiri dari pada harus di sini karena musuhnya sangat banyak sekali. Walaupun di negara In, Rayyan juga punya banyak musuh, tapi tidak sebanyak Khanza tentunya. Dan Khanza sudah hampirĀ kehilangan nyawanya berkali-kali dan untungnya, Tuhan selalu menyelamatkannya, tapi bagaimana jika suatu saat Khanza, pada akhirnya memilih menyerah. Rayyan bahkan tidak ingin berfikir, jika Khanza akan lebih dulu pergi dari dirinya.
Rayyan sudah mencintai Khanza terlalu dalam, jadi sebisa mungkin, ia akan menjaga Khanza dan memastikan sendiri, Khanza baik-baik saja.
Saat Rayyan tak sengaja menoleh ke atas, benar saja, ia melihat seseorang menggunakan teropong binokular dan melihat ke arah Khanza. Melihat hal itu, Rayyan pun merasa geram. Ia mengambil anak panahnya yang kebetulan ia bawa untuk jaga-jaga.
"Tuan mau ngapain?" tanya Farhan kaget.
"Ada yang mengintip ke arah Khanza. Lihatlah pohon di sana." Rayyan memberitahu dengan dagunya, ia sengaja tidak memakai jari telunjuk agar tidak ketahuan.
"Astaga, sejak kapan orang itu di situ?" tanya Farhan kaget.
"Aku gak tau, kita harus cari tau motivnya, kenapa diam-diam mengamati Khanza dan Zahra," tutur Rayyan dan Farhan pun mengangguk setuju.
__ADS_1
Rayyan melepaskan anak panahnya, tapi sayangnya gagal. Dan saat ia ingin melepaaskan anak panahnya lagi, orang itu sudah menghilang.
RAyyan dan Farhan ingin mengejar namun di hentikan oleh Khanza.
"Ada apa?" tanya Khanza.
"Ada yang memata-matai kamu," sahut Rayyan.
"Sudahlah, jangan di kejar, buang buang waktu, pasti dia sudah pergi. MEnding kita pulang aja yuk, aku sudah puas main air. Kita harus istirahat walaupun sebentar, untuk perang nanti malam," ujar Khanza memberitahu.
"Aku dan Zahra mau ganti baju dulu ya," pamit Khanza.
"Ganti di dalam mobil aja, biar lebih aman," tutur RAyyan.
"Nanti mobilnya basah dan kotor," balas Khanza.
__ADS_1
"Kamu lebih mementingkan mobil kotor, dari pada nyawa kamu sendiri?" tanya Rayyan tak suka.
"Iya, ya, aku mau ganti dalam mobil. Ayo, Ra." Khanza mengajak Zahra, untuk ganti baju dalam mobil. Sedangkan RAyyan dan Farhan berjaga di luar mobil samping kanan dan kiri.
Setelah Khanza dan Zahra ganti baju, barulah mereka pulang ke mension untuk mandi, sholat dan istirahat. Karena nanti malam, mereka masih ada pekerjaaan yang cukup menegangkan. Khanza, berharap semuanya berjalan dengan lancar.
Namun sayangnya, di tengah perjalanan, lagi-lagi, mereka di ikuti hingga membuat Rayyan merasa jengah. Karena ia lelah dan tidak ingin bermain main lagi. Akhirnya Rayyan mengambil pistol dan menembak ban mereka secara membabi buta, hingga mobil mereka menabrak pohon dan ada menabrak pagar jalan.
"Hebat!" puji Khanza melihat aksi Rayyan tadi.
Mendengar pujian Khanza, Rayyan hanya diam dan tersenyum. Ia menaruh pistolnya kembali dan membawa Khanza ke dalam pelukannya.
"Kamu harus hati-hati, musuh kamu itu di mana-mana. Aku gak ingin kamu terluka karena kecerobohan kamu, atau kamu lalai dengan keadaan sekitar, sehingga membahayakan nyawa kamu.." ucap Rayyan sambil mengelus kepala Khanza.
"Mmm .... aku tau, dan aku akan selalu berusaha untuk terus hati-hati dengan keadaan sekitar," balas Khanza yang tidak ingin berdebat. Ia tau, Rayyan pasti menghawatirkan dirinya, jadi Khanza tidak mau membantah atau membangkang, ia memilih untuk mengalah dan diam.
__ADS_1
Sesampai di mension, Farhan memarkirkan mobilnya, lalu mereka segera turun dan pergi menuju kamar masing-masing.