
Jam sembilan, Farhan pergi ke ruangan Rayyan untuk memberitahu Rayyan bahwa mereka akan segera berangkat. Rayyan mengangguk setuju, lalu Rayyan melambaikan tangannya ke arah kamera. Ia juga menulis sesuatu di kertas dan mengarahkannya ke kamera. Sehingga Khanza bisa membaca isi kertas itu.
"Aku akan pergi ke Hotel XX, aku ada meeting disana. Semoga kita bisa bertemu disana. Aku kangen kamu."
Farhan yang tidak tau apa-apa, hanya bisa mengernyitkan dahi, tak menyangka jika Rayyan bisa bertingkah bodoh seperti itu, apakah orang yang jatuh cinta, emang mendadak menjadi orang bodoh.
Farhan hanya bisa bicara dalam hati, ia tak mungkin bicara terus terang, atau Rayyan akan marah padanya karena sudah dikatain bodoh oleh Farhan.
Setelah pamitan, barulah Rayyan segera pergi dari sana. Farhan mengikutinya dari belakang. Namun saat melewati lobby, seorang resepsionis memanggilnya. Rayyan dan Farhan langsung berhenti dan menoleh ke arah resepsionis itu.
Fara, nama resepsionis itu. Ia berjalan mendekati Rayyan dan memberikan sebuah roti.
"Tadi ada gadis bernama Khanza dan menitipkan ini untuk Tuan Ray," Fara memberanikan diri memberikan roti dan selembar kertas yang di lipat kecil. Kalau bukan karena Khanza memberikan dia tips yang banyak, mungkin Fara enggan melakukan hal ini. Karena berdekatan dengan Rayyan ataupun Farhan seakan membuat bulu kuduknya merinding.
__ADS_1
"Khanza?" ulang Rayyan, ia mengambil roti dan surat itu dari tangan Fara.
"Iya, Tuan. Tadi dia datang sekitar lima menit yang lalu," jawab Fara. Ia takut, takut jika dirinya dikira lancang. Karena biasanya, siapapun wanita yang mencari Rayyan, akan di usir secara kasar. Bahkan ada di antara mereka yang dipermalukan hingga enggan muncul kembali.
Rayyan membuka kertas itu dan isinya, "Makanlah roti ini, sebelum kamu pergi meeting. Kamu belum sarapan pagi, kan?"
Membaca itu, Rayyan tersenyum. Ia yakin, jika tadi Khanza melihat kertas yang ia arahkan ke kamera. Dan mungkin Khanza masih ada di sekitar sini.
Fara pun mengangguk patuh. Ia bersyukur karena tadi, tidak langsung mengusir Khanza dari sana, dan malah membantu Khanza untuk memberikan roti itu kepada Rayyan.
Setelah itu, Rayyan dan Farhan pun segera pergi, meninggalkan Fara yang masih berdiri di sana.
Melihat Rayyan dan Farhan sudah tidak ada di hadapannya, Fara langsung memberitahu karyawan yang lain seperti yang di amanahkan oleh Rayyan tadi, agar jangan sesekali berlaku tidak baik kepada wanita yang bernama Khanza.
__ADS_1
Untungnya, di kantor itu ada grup khusus. Jadi Fara cukup memberitahu lewat grup itu sehingga semua orang bisa membacanya dan mereka langsung membahas wanita yang bernama Khanza. Grup yang tadinya sepi pun, mendadak ramai. Mereka menanyakan bagaimana wajah Khanza, dan Fara pun menjelaskannya secara detail. Fara bangga, karena ia bisa bertemu langsung dengan Khanza bahkan mengobrol sedikit dengannya.
Di mobil, Rayyan masih menatap ke arah sekitar kantornya. Namun tak ada yang mencurigakan. "Apakah Khanza sudah pergi?" tanyanya dalam hati. Lalu Rayyan melihat roti yang ia pegang.
Dengan pelan, ia membuka bungkusnya dan memakan roti itu dengan hati-hati, seakan-akan roti itu adalah benda yang paling berharga dan sesuatu yang sangat mahal.
Bahkan Rayyan pun enggan menawari rotinya kepada Farhan, karena ia gak mau berbagi. Baginya, roti ini hanya untuknya, jadi cukup dirinya yang makan pemberian Khanza.
Farhan pun hanya geleng-geleng kepala. Sejak dua hari yang lalu, Rayyan selalu bersikap konyol.
Dan biasanya Rayyan selalu berwajah datar, namun hari ini, sesekali Rayyan tersenyum seorang diri.
Tapi entah kenapa, melihat hal itu, Farhan ikut senang. Ia bersyukur jika ada seseorang yang bisa membuat Rayyan jatuh cinta, ia ingin melihat Rayyan bahagia karena selama ini hidupnya penuh dengan kemuraman.
__ADS_1