
Jam lima pagi, Farhan dan Zahra baru bisa kembali. Wajah mereka tersirat dengan rasa lelah yang luar biasa. Baju mereka bahkan sudah compang camping seperti orang di pinggir jalan. Sesampai di mension, mereka bahkan merebahkan tubuhnya di lantai, untuk melepas rasa lelah.
Rayyan yang tau jika Farhan dan Zahra sudah pulang, langsung menghampirinya. Namun sebelum pergi untuk menemui mereka, Rayyan mengunci pintu dari luar agar tidak ada yang sembarangan masuk.
"Kenapa dengan kalian?" tanyanya sambil duduk di kursi tak jauh dari mereka. Sedangkan Zahra dan Farhan sudah seperti ikan yang tergeletak begitu saja di lantai.
"Lelah, Tuan," sahut Farhan.
Rayyan bahkan tidak pernah meliaht Farhan seperti itu, apakah kali ini tugasnya sungguh berat.
"Apakah berhasil?" tanyanya.
"Ya," jawab Farhan dan Zahra kompak.
__ADS_1
"Syukurlah," sahut Rayyan.
"Tuan gak nanya, bagaimana situasi sejak semalam di luar sana?" tanya FArhan sambil duduk.
"Kenapa?" tanya Rayyan.
"Ini pertama kali saya mendapatkan pengalaman semengerikan ini," ujarnya.
"Benarkah?" Rayyan mulai fokus dengan menatap wajah Farhan.
"Kok bisa?" Rayyan semakin penasaran.
"Mereka sangat cerdik. Menyerang dari segala arah, di saat saya fokus ke depan, mereka menyerang dari belakang, samping kanan, samping kiri dan dari atas. Saya bahkan sampai kehilangan fokus. Karena bingung, mana yang harus saya dahului. Di tambah, senjata mereka berbagai macam, ada yang menggunakan anak panah, senapan, pisau, bubuk yang membuat orang yang menghirupnya akan mati perlahan dan juga bom. Untungnya pertolongan cepat datang, dan mereka dari kalangan Mafia. Mereka membantu saya dan Zahra serta anak buah yang lain untuk menghabisi lawan. Sayangnya, semakin di habisi, lawan seakan datang terus menerus. Ada yang menyerang secara terang-terangan, ada yang secara sembunyi-sembunyi. Yang sembunyi-sembunyi, mereka menargetkan korban dari jarak jauh. Jadi kalau tidak berhati-hati maka bisa berakibat fatal. Belum lagi ada banyak jebakan yang mereka buat. Sangaat mengerikan. Untungnya saya dan Zahra bisa selamat dan pulang dengan keadaaan seperti ini. Walaupun tidak terbentuk, setidaknya nyawa kami aman."
__ADS_1
Mendengar cerita FArhan, Rayyan bahkan juga tidak bisa membayangkan semengerikan itu. Bagaimana selama ini Khanza bertahan, sedangkan musuhnya bahkan ada banyak di luar sana dengan kecerdikan yang berbeda beda.
"Apakah tadi ada yang datang ke sini?" tanya Zahra, ia juga bangun dari rebahannya dan menatap ke arah RAyyan.
"Iya." Dan Rayyan pun menceritakan semuanya, walaupun tidak semengerikan cerita Farhan tadi.
"Syukurlah. Untung kalian datang di saat yang tepat, jika tidak, entah apa yang terjadi," keluh Zahra.
"Mungkin ini sudah takdir, dan ke depannya, biarkan aku dan Farhan menjaga dan melindungi kalian dari mereka yang mengincar nyawa kalian," tutur Rayyan.
"Ya, aku sudah tau kehebatan kalian. Dan aku tidak akan menolaknya," balas Zahra tersenyum. Kalau bukan karena Farhan tadi, mungkin dirinya sudah mati berkali-kali. Farhan selalu datang di saat dirinya terpojok dan selalu menyelamatkan Zahra tepat waktu.
Mereka pun terus berbincang, hingga akhirnya, Zahra meminta pelayan untuk menyiapkan kamar dan baju ganti untuk Farhan. Sekalian Zahra juga meminta mereka menyiapkan kamar satu lagi buat Rayyan.
__ADS_1
Para pelayan pun mengerti, mereka segera bergegas untuk menyiapkan dua kamar buat Farhan dan Rayyan serta kebutuhan mereka selama mereka tinggal di sini.