
Jam satu siang, sehabis sholat dhuhur dan makan siang, Zahra dan Farhan pun pamit untuk pergi ke Perusahaan. Selama mereka pergi, Rayyan lah yang akan menjaga mension ini dan juga menjaga Khanza. Kali ini, Zahra sudah tenang meninggalkan Khanza karena ada Rayyan yang akan melakukan apa aja demi menjaga dan melindungi Khanza. Berbeda seperti hari-hari sebelumnya, ia selalu pergi dengan hati tidak tenang, karena di satu sisi ia harus pergi bekerja namun di sisi lain, ia juga harus memikirkan kondisi Khanza, takut jika Khanza kenapa-napa, takut jika tiba-tiba ada penyusup, takut jika tiba-tiba mension itu di serang dan tidak ada yang melindunginya. Sedangkan Paman Edward, juga tidak bisa dua puluh empat jam ada di mension. Sedangkan ART di sana, juga tidak bisa menjaga Khanza, bukan apa-apa, Zahra hanya takut, ada pengkhianat di antara mereka yang memanfaatkan situasi untuk membunuh KHanza. BAnyak hal yang di fikirkan oleh Zahra. Namun hari ini, ia benar-benar pergi dengan tenang.
Saat Zahra dan Farhan baru keluar dari mension, mereka sudah merasa diikuti. Namun Farhan yang tengah menyetir berusaha untuk tenang. Sejujurnya, Farhan belum tau daerah sini, jadi mungkin nantinya akan kesulitan, berbeda dengan Zahra yang sudah sangat menguasai jalan-jalan di sekitar sini. Sedangkan dirinya hanyalah pendatang yang bahkan belum jalan-jalan untuk melihat sekitarnya.
"Kamu jalan aja terus, nanti ada pertigaan kamu belok kanan, lalu lurus lagi, baru belok kiri, nanti akan ketemu jalan raya besar. Dari sini ke jalan raya, sekitar tiga jam lebih, tapi jika ngebut, tak sampai dua jam sudah sampai di jalan raya," ujar Zahra memberitahu.
Farhan pun menganggukkan kepalanya, namun saat ia menoleh ke spion. Ada lima mobil yang mengikuti.
"Kamu bawa senjata?" tanyanya.
"Hm, di mobil ini ada banyak senjata. Semuanya sudah di siapkan untuk jaga-jaga. Kamu fokus nyetir aja, biar aku yang akan lawan mereka," ujar Zahra sambil mengambil senjata di bawah kursi. BAhkan di belakang kursi juga ada beberapa senjata dan peluru yang sudah siap untuk di pakai.
"Bagaimana jika kamu aja yang nyetir, kamu kan yang menguasai jalanan di sini, biar aku yang hadapi mereka," tuturnya. FArhan gak mau, dirinya hanya diam aja fokus menyetir sedangkan Zahra harus melawan mereka semua.
"Baiklah."
Mereka pun segera tukar tempat, tak sampai tiga detik. Kini Zahra yang sudah memegang kendali penuh atas mobil yang mereka naiki saat ini.
__ADS_1
Farhan sudah mulai menyiapkan diri.
"Apakah mobil ini anti peluru?" tanyanya.
"Iya," jawab Zahra, mendengar hal itu, FArhan pun cukup lega.
"Kamu buka bagian atapnya dikit" ujar Farhan. Dan Zahra pun melakukan perintahnya.
"Nanti setelah aku kasih aba-aba, kamu putar mobilnya, tiga ratus enam puluh derajat, okay."
Farhan fikir, musuh dirinya dan Rayyan sudah banyak, ternyata di bandingkan Zahra dan Khanza, mereka masih belum ada apa-apanya. Dan untungnya ia cukup terlatih, hingga tak akan menyerah begitu saja.
Ia harus bisa jadi pemenang dalam pertempuran kali ini, jadi ia memfokuskan penglihatannya ke arah mobil-mobil yang ada di belakang mereka.
"MULAI." Zahra langung memutar mobilnya mengelilingi mobil mereka dengan sangat cepat, sedangkan Farhan memanfaatkan kesempatan kecil itu untuk menembak semua ban mobil mereka, sayangnya dari lima mobil ada satu mobil yang lolos. Zahra yang sudah kembali ke tempat semula, langsung tancap gas kabur dari sana.
Masih ada satu mobil yang mengikuti, sedangkan empat mobil ketinggalan di belakang karena Farhan menembak tepat sasaran.
__ADS_1
"Hati-hati," ucap Farhan mengingatkan.
"Iya," sahut Zahra sambil mencengkram setir dengan sangat erat.
Farhan dan Zahra mendengar ada banyak peluru yang di arahkan ke mobilnya tapi percuma saja, karena mobil ini sudah di modif sedemikian rupa sehingga walaupun mereka menyerang dengan ribuan peluru, tidak akan sampai menembus ke dalam.
Farhan mencuri-curi kesempatan sekali lagi dan saat ia mendapatkan celah, ia langsung menembak ke arah mobil belakang berulang-ulang. Dan ketika mobil itu mulai oleng, tanpa buang buang waktu lagi, Zahra langsung berbalik arah dengan mobilnya dan langsung tancap gas menabrakkan mobilnya ke mobil mereka. Zahra melakukannya berulang ulang hingga mobil itu sampai ke pinggir jurang. Sekali lagi, dengan penuh kehati-hatian, Zahra menabraknya hingga mobil itu benar-benar jatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Lalu Zahra memundurkan mobilnya dan mulai mengemudi dengan pelan.
"Kamu keren," ujar Farhan, ia tak menyangka jika skill Zahra, sangat di acungi jempol.
"Biasa aja, ini mah gak ada apa-apanya di banding Khanza," balas Zahra membuat Farhan melongo.
"Gila, skil kamu aja kayak gini, dan kamu masih bilang, tidak ada apa-apanya di banding Khanza."
"Hmm Khanza selalu menang kalau balapan mobil atau sepeda motor, dia mah sudah skill dewa. Paling pintar dia kalau di suruh main main kayak tadi," ujar Zahra memberitahu.
"Wah, aku harus belajar nih dari kalian," tutur Farhan dan Zahra pun tak mempermasalahkan, toh sekarang mereka jadi sekutu dan itu artinya, tidak masalah jika Zahra berbagi ilmu dengan Farhan.
__ADS_1