CEO Kejam Dan Romatis

CEO Kejam Dan Romatis
Kedekatan Farhan dan Zahra


__ADS_3

Rayyan, Farhan dan Zahra kini tengah sarapan pagi bersama. Kini mereka bertiga sudah mandi dan sudah ganti baju. Rayyan dan Farhan cukup puas, karena di kamar mereka, sudah di sediakan banyak baju, dan kebutuhan mereka lainnya. Entah bagaimana mereka melakukannya secepat itu, namun apapun itu, Rayyan dan Farhan sangat mengagumi cara kerja mereka.


"Habis ini kamu mau kemana?" tanya Farhan.


"Tidur, ngantuk," jawabnya sambil mengunyah makanan.


"Oh, aku fikir kamu akan pergi lagi," ucapnya.


"Nanti aja habis sholat dhuhur, aku akan pergi," ujarnya memberitahu.


"Kemana?" tanya Farhan kepo.


"Ke Perusahaan Khanza. Mau ikut lagi?" tanyanya.


"Jika di perbolehkan," balas Farhan dan Rayyan pun hanya menjadi pendengar setia.


"Kamu boleh ikut kok kalau kamu mau, tapi kamu harus istirahat dulu ya, kamu kan belum tidur semalaman, aku gak mau kamu malah merepotkan aku nantinya," ujar Zahra. Farhan menatap ke arah Rayyan.


"Istirahatlah, kamu juga pasti capek," tutur Rayyan.


"Baiklah, habis sarapan pagi, aku akan langsung istirahat," ucap Farhn.


"Jangan langsung tidur juga, nunggu lima belas menit, biarkan makanannya turun dulu."


"Cie ... perhatian," goda Farhan membuat Zarha melengos.


"Bukan perhatian, cuma ngasih tau," ujarnya.

__ADS_1


Rayyan yang sudah selesai lebih dulu, ia segera pergi ke ruangan Khanza lagi dari pada mendengar ocehan mereka berdua.


Sedangkan Farhan dan Zahra, masih ada di ruang makan dan saling mengobrol satu sama lain. Mereka mencoba untuk mengakrabkan diri, terlebih mereka mulai merasakan nyaman satu sama lain.


Di ruangan Khanza, Rayyan duduk di samping brankar dan menggenggam tangan Khanza dengan erat.


"Kamu kapan bangun? Jangan lama-lama ya istirahatnya. Aku kangen kamu." ucapnya sambil mencium punggung tangan Khanza.


"Aku bukannya bosen nungguin kamu di sini, hanya saja, aku ingin kamu segera sembuh agar kita bisa berbincang bersama lagi, aku ingin melihat wajah kamu yang penuh dengan keceriaan itu, yang selalu aktiv dan tidak pernah merasa takut sama siapapun. Melihat kamu seperti ini, malah bikin hati aku sakit. Andai boleh di tukar, lebih baik aku yang ada di posisi kamu, biar aku yang merasakan semua kesakitan yang kamu rasakan. Aku rela, asal kamu baik-baik aja," ucapnya lagi.


Cinta Rayyan pada Khanza sangatlah tulus, mungkin karena Khanza adalah wanita pertama yang berhasil memporak-porandakan hatinya, yang mampu membuat otaknya terus memikirkan Khanza tanpa henti.


"Aku ingin kita bisa seperti Zahra dan Farhan, mereka kini semakin dekat dan saling menggoda satu sama lain, padahal baru kemaren bertemu. Namun hubungan mereka seakan begitu pesat, tidak seperti kita, iya kan?" tanyanya.


"Tapi aku harap, setelah kamu sadar, kamu pun bisa mencintai aku seperti aku mencintai kamu. Jika pun kamu belum bisa mencintai aku, maka aku akan setia sabar menunggu. Karena aku yakin, cepat atau lambar, kamu akan menjadi milikku, bukan hanya tubuhnya tapi juga dengan hati dan cintainya." ujar Rayyan dengan sangat optimis sekali. Ia selalu percaya akan dirinya sendiri, ia yakin, ia bisa membuat Khanza jatuh cinta padanya dan bahkan membuat Khanza tidak bisa jauh darinya.


"Hallo, Mom?" sapa Rayyan lebih dulu.


" .... "


"Kabar aku baik, kabar Mommy gimana?"


" .... "


"Hmm aku sama Farhan."


" .... "

__ADS_1


" Aku gak tau kapan pulang, Mom. Karena kemungkinan besar aku akan lama berada di negara ini."


" .... "


"Iya, aku lagi sama Khanza ini."


" .... "


"Khanza lagi sakit, Mom. Makanya aku harus menemaninya."


" .... "


"Dia koma."


" .... "


"Doakan saja, semoga Khanza cepat sadar. Setelah dia sadar dan sehat kembali, aku akan bawa Khanza ke hadapan Mommy."


" ..... "


"Hmmm Iya."


" ..... "


"Okay."


Dan setelah itu, Rayyan pun menaruh kembali Hpnya di saku. Dan mulai menatap wajah Khanza lagi. Entah kenapa ia tidak pernah merasa bosan walaupun dari kemaren ia tidak henti hentinya menatap wajah Khanza.

__ADS_1


__ADS_2