CEO Kejam Dan Romatis

CEO Kejam Dan Romatis
Kerjasama


__ADS_3

Rayyan dan Farhan menyamar menjadi tukangĀ  bersih-bersih untuk mengamati keadaan sekitar. Lalu, setelah itu, mereka berdua dengan sangat hati-hati sekali mulai melumpuhkan beberapa orang yang ada di depan gerbang. Setelah itu, mereka lanjut dan berjalan sambil menoleh ke segala arah.


"Ada CCTV di sana, kita harus berjalan lewat sini, agar tidak terpantau," ucap Rayyan memberitau dengan suara kecil sekali.


"Baik." Farhan mengikuti langkah Rayyan, di depan rumah mewah itu, masih ada enam orang yang berjaga.


"Kita selesaikan dengan cepat, satu orang lawan tiga orang, jangan sampai membuat kegaduhan atau kita akan ketahuan," bisik Rayyan dan Farhan mengangguk mengerti. Sedangkan Khanza dan Zahra sedang memantau dari jarak jauh.


Rayyan dan Farhan mengambil jarum yang sudah di kasih obat, obat itu akan bikin orang tidak sadarkan diri, namun tidak sampai membuat mereka meninggal.


Bagaimanapun penjaga itu hanya bertugas saja, demi mendapatkan bayaran untuk anak istri yang menunggu di rumah. Jadi, Rayyan dan Farhan gak akan setega itu membunuh mereka.


Dengan gerakan cepat, Rayyan dan Farhan berhasil melumpuhkan mereka. Setelah merasa aman, barulah Rayyan menyuruh Khanza dan Zahra untuk masuk.


"Ayo, masuk. Di sana sudah aman," ujar Khanza.


"Kenapa kita kayak pengecut ya," gumam Zahra yang masih di dengar oleh Khanza.


"Pengecut?" tanyanya tidak mengerti.


"Iya, mereka yang maju dan kita cuma menunggu, setelah aman barulah kita boleh masuk. Ini kan sama aja, mereka yang menyelesaikan misi kita."


"Benar, tapi mau bagaimana lagi, mereka kekeh tak ingin kita terlibat," ujar Khanza yang juga sebenarnya kesal karena Rayyan seenaknya.


"Baiklah, tak apa. Anggap aja, mereka sekarang lagi jadi pahlawan buat kita," hibur Zahra dan Khanza pun menganggukkan kepalanya.


Lalu mereka berjalan dengan hati-hati sekali karena Rayyan mengatakan ada beberapa kamera sembunyi yang mengarah ke gerbang dan halaman rumah serta teras rumah. Jadi mereka harus estra hati-hati.


Khanza dan Zahra pun mengambil jalur yang sekiranya bisa menghindar dari CCTV. Hingga mereka menuju pintu utama.


Namun tiba-tiba, Khanza merasa ada yang aneh. Karena jika ia baca dari berkas yang dia terima. Di sini ada banyak sekali panjaga, jadi mustahil jika cuma ada sedikit seperti ini.

__ADS_1


Lalu Khanza mengamati sekitarnya, lalu ia tersenyum sinis.


Khanza meminta Rayyan, Farhan dan Zahra untuk mundur, karena rumah ini penuh jebakan. Ini bukan pertama kalinya, Khanza menghadapi situasi seperti ini, jadi sangat mudah buat dia untuk mengetahuinya.


"Kenapa?" tanya Rayyan heran.


"Kita sudah terpantau, dan di dalam rumah ini ada banyak jebakan. Kita gak bisa sembunyi-sembunyi lagi, karena keadaaan kita sudah terdeteksi."


"Lalu gimana?" tanya Zahra.


"Kita harus lewat atap, aku rasa di sana yang paling aman." ujar Khanza sambil mengingat kembali denah yang sudah ia baca sebelumnya.


"Atap?" tanya Farhan kaget.


"Iya, itu hanya satu satunya cara, karean di depan pintu ini penuh jebakan, jika kita nekat, bisa jadi kita akan mati," balas Khanza.


"Kamu tau dari mana?" tanya Rayyan.


"Kamu pakai lensa?" tanya Zahra dan Khanza pun menganggukkan kepalanya.


Pantas aja, Khanza mengetahuinya, karena ternyata ia sudah menyiapkan semuanya.


"Baiklah, sekarang kita harus cari tau dulu, dari mana kita naik, jangan sembarangan," ujar Khanza memberitahu.


Dan setelah itu, mereka pun melihat ada pohon mangga yang menjulang tinggi di belakang rumah, dengan hati hati mereka memanjat pohon itu dengan pelan dan membuka atapnya dengan sangat hati-hati sekali agar tidak menimbulkan suara atau pun kegaduhan.


Setelahnya, mereka segera masuk melalui atap itu dan saat mereka turun, ternyata mereka mendapatkan sambutan hangat, ya mereka di kelilingi oleh orang-orang yang memegang senjata dan senjata itu seperti sudah siap untuk membidik Khanza, Zahra, Rayyan dan Farhan.


Khanza berusaha untuk tenang, Khanza menatap mereka semua satu persatu, mereka yang di tatap oleh Khanza pun seperti terhipnotis. Mereka tiba-tiba menjatuhkan senjata mereka, membuat Rayyan dan Farhan melongo, tidak mengerti kenapa tiba-tiba mereka berubah lemas dan tampak seperti orang bodoh, padahal awalnya mereka terlihat garang sekali.


Sedangkan Zahra, tanpa membuang buang waktu, mengambil tali dan meminta Farhan dan Rayyan buat mengikat mereka semua dan menjauhkan senjata itu.

__ADS_1


"Ini kenapa bisa?" tanya Rayyan tak mengerti.


"Nanti aku jelasin, ayo sekarang kita pergi, waktunya cuma sebentar," ujar Khanza memberia aba-aba, jiwa kepemimpinnya mulai keluar dan saat ini, dialah yang ada di depan.


Khanza mencoba mengingat kembali denah yang ia baca sebelumya dan berjalan ke arah kamar yang di depannya ada dua bodyguard berbadan besar.


Dan kini gantian Farhan dan Rayyan yang bertindak. Mereka melumpuhkan dua bodyguard itu hanya hitungan detik. Setelahnya, barulah Khanza mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaganya. Dan setelah itu, Khanza melihat hal yang menji-jikkan.


Dimana seorang pria paruh baya, di kelilingi atau di layani oleh cewek lima sekaligus.


Melihat ada orang asing masuk, para wanita itu pun segera mengambil bajunya dan memakaikannya secara asal.


Sedangkan RAyyan dan Farhan menutupi mata mereka agar tidak ternoda.


"Siapa kalian?" tanya laki-laki paruh baya itu yang umurnya mungkin hampir kepala lima, tapi sayangnya, dia seringkali melakukan sebuah kelicikan yang merugikan banyak orang.


"Malaikat pencabut nyawa." Dan tanpa aba-aba, Khanza mengambi pistolnya dan langsung menembak pria paruh bayar itu dengan sekali tembakan, tepat mengenai jantungnya. Hingga pria paruh baya itu, langsung menghembuskan nafasnya.


Melihat hal itu, kelima wanita itu pun berteriak histeris karena ada pembunuhan di depan mata mereka.


Khanza menatap sinis ke arah lima wanita itu. Dan langsung pergi begitu saja. Toh mereka memakai topeng dan tidak meninggalkan jejak, jadi sulit buat polisi untuk mengetahui siapa mereka berempat.


Saat mereka ingin pergi dari sana, Khanza langsung menyuruh untuk pergi melalui pintu belakang dengan cepat. Dan sebelum pengawal yang lain menyadari kehadiran mereka.


Karena jika ketahuan, akan ada banyak pertumpahan darah dan Khanza tidak mau itu terjadi.


Mereka pergi dengan terburu-buru, dan ketika melihat dua orang yang berkeliling untuk berjaga-jaga, Rayyan dan Farhan yang membuat mereka lumpuh sehingga khanza dan Zahra bernafas lega dan mereka bisa keluar dari rumah itu dengan selamat.


Setelah berada di dalam mobil, mereka membuka topengnya dan Khanza juga menaruh lensa kesayangannya di tempat semula karena jika di pakai terlalu lama, akan membuat matanya jadi sakit.


Tanpa buang waktu, Farhan segera pergi dari sana agar bisa bernafas lega. Saat di jalan, mereka membuka semua penyamarannya dan menyemprotkan parfum ke baju mereka. Agar tidak bau keringat dan menimbulkan kecurigaan.

__ADS_1


Kini mereka lagi berjalan menuju perusahaan Khz Technology untuk mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Dan setelah dari Khz, barulah mereka bisa jalan-jalan dan menikmati hidup.


__ADS_2