CEO Kejam Dan Romatis

CEO Kejam Dan Romatis
Pesan Misterius


__ADS_3

Setelah kepergian Khanza, Rayyan merasa begitu senang karena sudah menghabiskan waktu bersama Khanza sejak kemaren. Bahkan mereka juga tidur satu ranjang, walaupun gak ngapa-ngapain dan hanya sekedar ngobrol biasa, tapi entah kenapa Rayyan merasa itu sudah lebih dari kata cukup. Setidaknya bagi Rayyan, itu adalah awal yang baik buat dirinya dekat dengan Khanza.


Rayyan kembali ke ruanganya, ia segera mandi dan memakai baju kantor lagi. Ia duduk di kursi kebesaraannya, dan duduk manis di sana. Sekali lagi, ia melihat foto dirinya di galeri bersama dengan Khanza. Rayyan tersenyum sendiri melihat foto itu. Entah kenapa, ia merindukan Khanza lagi, padahal baru setengah jam yang lalu Khanza pergi.


Rayyan menelfon nomer Khanza, sayangnya nomer itu tidak terhubung. Melihat hal itu, Rayyan sedikit kecewa. Entah bagaimana ia bisa bertemu dengan Khanza lagi. Apakah ia harus menunggu Khanza datang sendiri padanya seperti hari kemaren. Lalu menjebaknya lebih lama lagi? Entahlah, memikirkan hal itu, Rayyan merasa frustasi.


Rayyan memanggil Farhan. Farhan yang sudah bangun bahkan sudah cuci muka itu langsung menghadap ke depan Rayyan.


"Ada apa, Tuan?" tanya Farhan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Pasalnya ia belum tau jika Khanza sudah pergi dari sana.


"Mulai sekarang tolong berhenti menyelidiki Khanza dan suruh anak buah kamu, stop mencoba menerobos sistem milik KHanza lagi," ucapnya memberikan perintah.


"Baik, Tuan." Farhan pun menurut, karena baginya perintah Rayyan adalah hal yang harus dilakukan. Ia masih melihat ke sekeliling ruangan. Namun ruangan itu cukup sepi.


"Khanza sudah pergi dari tadi saat kamu masih tidur." Seakan tau apa yang ada di fikiran Farhan, Rayyan pun langsung memberitahu.


"Apakah Anda dan Nona Khanza sudah .... " Farhan tidak meneruskan kata-katanya, namun Rayyan mengerti maksud Farhan.


"No. Aku tidak melakukannya, semalam hanya mengobrol biasa aja," jawabnya. Mendengar hal itu, Farhan mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Apakah Tuan sudah tau, Nona Khanza tinggal di kediaman mana?" tanyanya.


Mendengar hal itu, Rayyan menggelengkan kepalanya.


"Dia tidak mau ngasih tau, bahkan nomernya yang kamu kasih pun, ternyata juga tidak bisa dihubungi. Kemaren dia datang karena marah, dia tau jika aku membobol sistemnya. Bahkan Khanza juga sudah mewanti-wanti agar aku, kamu dan orang-orang suruhan kita stop buat terus membobol sistemnya. JIka masih nekat, Khanza tidak akan segan-segan buat menghancurkan sistem milik kita," ucapnya dengan wajah lesu.


"Lalu bagaimana agar kita bisa bertemu dengannya?" tanyanya lagi.


"Itulah yang aku bingungkan. Apakah kita harus pergi ke kediaman Kakeknya ataukah kita harus pergi ke kediaman orang tuanya?" tanya Rayyan.


"Tapi saya rasa itu percuma, karena Nona Khanza sendiri jarang berada di rumah Kakek ataupun orang tuanya. Ia hanya datang sesekali, dan waktunya pun tidak ditentukan."


"Kenapa dia begitu misterius sekali?" tanya Rayyan.


"Hmm ... apakah hari ini ada meeting?" tanyanya.


"Ada, Tuan. Di Hotel XX."


"Jam berapa?"

__ADS_1


"Jam sepuluh."


"Baik, ingatkan lagi jam sembilan nanti."


"Siap, Tuan."


"Kamu boleh pergi."


Setelah itu, Farhan pun pergi dari sana. Sedangkan Rayyan, ia mulai memfokuskan diri untuk bekerja walaupun saaat ini fikirannya masih bercabang kemana-mana.


Saat Rayyan tengah fokus bekerja, tiba-tiba HPnya berbunyi, ada pesan dari nomer yang tidak dikenal. Rayyan membuka pesan itu dan membacanya


"Hay." itulah isi pesannya.


Rayyan mengernyitkan dahi, ia mencoba untuk berfikir siapa yang mengirim pesan tidak jelas seperti ini. Dan lagi, ini nomer pribadinya, tidak banyak yang tau.


"Aku bisa lihat kamu dari sini."


Membaca itu, Rayyan fokus melihat ke arah kamera yang berada di sudut ruangan.

__ADS_1


"Ngapain lihat kamera?"


Lagi, Rayyan kaget, ternyata kamera di ruangannya sudah di hack oleh orang lain. Tapi siapakah orang itu?


__ADS_2