
Jam setengah tiga, Rayyan dan Farhan pergi ke kediaman utama Kakek Ronald. Sepanjang jalan, Rayyan hanya sibuk dengan tabnya, fokus mengerjakan pekerjaan yang belum terselesaikan. Sedangkan Farhan fokus menyetir, namun sesekali ia menatap ke arah spion, di mana spion itu langsung mengarah ke Rayyan yang sedari tadi hanya menunduk menggeser-geser tabnya, sesekali ia mengerutkan dahi saat merasa ada yang salah. Namun Farhan gak akan bertanya, apa masalahnya karena ia yakin Rayyan pasti bisa menyelesaikannya sendiri. Farhan hanya akan membantu jika memang RAyyan membutuhkan bantuan darinya.
Sesampai di kediaman Ronald, Farhan dan Rayyan turun dari mobil. Mereka melewati beberapa penjaga yang berjaga di depan gerbang, lalu di depan pintu utama. Sesampai di ruang tamu, Rayyan di kagetkan dengan seorang wanita yang tengah sibuk memainkan hpnya sambil sesekali ia terkekeh sendiri.
"Kamu," ucap Rayyan tanpa sadar. Sedangkan Farhan mengernyitkan dahi, karena Rayyan seperti mengenali wanita yang ada di hadapannya itu. Sayangnya wanita itu gak sadar dengan dua pria tampan yang kini berdiri tak jauh darinya, karena wanita itu memakai headset dan memutar audinya dengan sangat keras. Hingga ia tak akan mendengar apapun yang ada di sekitarnya, apalagi ia terlalu fokus menatap layar hpnya.
"Tuan kenal dengannya?" tanya Farhan dan Rayyan pun menggelengkan kepalanya. Ia emang gak kenal, ia hanya sekedar tau, kalau dia wanita yang tadi siang menolongnya. Tapi kenapa ada di kediaman Kakeknya, siapa wanita itu?
"Rayyan, Farhan kamu sudah datang?" tanya Kakek Ronald yang berjalan dari dalam.
"Iya, Kek." Rayyan dan Farhan pun menghampiri kakeknya dan mencium punggung tangan Ronald.
"Khanza," panggil Ronald, namun Khanza yang masih fokus dengerin vidio, tak mendengar panggilan Ronald. Karena kesal, Ronald pun menarik headsed yang ada di telinga Khanza. Barulah Khanza menoleh ke Kakek Ronald dan Khanza juga kaget saat melihat ada dua laki-laki tampan yang kini menatap ke arahnya.
"Kakek mereka siapa?" tanyanya.
"Mereka itu cucu Kakek, Namanya Rayyan dan Farhan," jawabnya tersenyum bangga pada kedua cucunya itu.
"Yang Rayyan yang mana dan yang Farhan yang mana, Kek?" tanya Khanza polos.
"Astaga. Ini Rayyan, dan ini Farhan," sahutnya gemes sambil menunjuk ke arah Rayyan dan Farhan.
"Oh, tapi kok aku kayak pernah lihat wajah Rayyan ya, tapi di mana ya?" tanyanya sambil menaruh jari telunjukny di keningnya.
Rayyan yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala, bagaimana dia bisa begitu mudah melupakannya, sedangkan dirinya bahkan masih ingat betul dengan wajah yang sudah menolongnya tadi siang itu.
"Belum ingat?" tanya Rayyan. Khanza pun menggelengkan kepalanya.
"Apa kita pernah saling kenal sebelumnya?" tanya Khanza.
Rayyan tak menjawabnya, ia membiarkan Khanza berfikir sendiri.
"Sudahlah, kayaknya emang kamu orang gak penting dalam hidupku. Nyatanya aku begitu mudah melupakan wajah kamu itu," ucapnya santai membuat Ronald terkekeh. Sedangkan Rayyan melongo mendengar Khanza mengatakan dirinya bukan orang penting dalam hidupnya. Emang benar sih, tapi apa harus ngomong terang-terangan gitu. Terlebih, bagaimana bisa Khanza melupakan wajahnya yang tampan rupawan ini.
Farhan yang mendengarnya pun ikut tersenyum, karena baru kali ini ia melihat ada wanita yang tak silau dengan ketampanan yang dimiliki oleh Rayyan. Biasanya setiap wanita yang melihatnya akan luluh dan susah melupakan wajah tampan Rayyan, tapi Khanza, dia malah bersikap acuh tak acuh. Dia memang berbeda dengan wanita kebanyakan.
"Oh ya, Kakek ngapain nyuruh aku ke sini?" tanya Rayyan.
"Lebih baik kalian duduk dulu, apa gak capek ngomong sambil berdiri seperti itu?" tanyanya sambil duduk di kursi kebesarannya sedangkan Rayyan ia terpaksa duduk di kursi samping Khanza dan Farhan duduk di samping Rayyan. Jadi Rayyan ada di tengah-tengah antara Farhan dan Khanza.
Baru aja Ronald mau buka suara, tiba-tiba Hp Khanza berbunyi, Ronald pun meminta Khanza mengangkatnya dulu agar setelahnya bisa fokus ngomong hal penting.
Mendapatkan izin dari Ronald, Khanza pun mengangkat telfon dari sahabatnya, Zahra.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
__ADS_1
"Haikal ada di markas kita nih, lagi cari kamu," bisiknya membuat Khanza kesal.
"Usir ajalah. Ngapain hal sepele seperti ini, harus nelfon aku," ucapnya tak suka.
"Tapi dia kekeh ingin nunggu kamu di sini," ujarnya.
"Kalau gitu kamu kasih makan aja dia, jangan lupa kasih racun di makanannya, biar cepat is dead," omelnya membuat Farhan dan Rayyan yang mendengarnya pun langsung tertegun. Mereka gak percaya jika Khanza yang terlihat polos begitu mudahnya ingin membunuh seseorang.
"Ngawur kamu. Aku gak berani. Kamu kayak gak kenal siapa itu Haikal."
"Terus kamu beraninya apa? Sudahlah, jangan telfon aku jika cuma urusan si Haikal itu."
"Tapi .... "
Belum selesai Zahra bicara, Khanza langsung mematikan telphonnya.
"Siapa?" tanya Ronald.
"Biasalah, kek. Para fans aku yang fanatik itu, bikin pusing kepala aja," keluhnya.
"Emang kamu artis, sampai punya fans segala?" sindir Kakek Ronald membuat Khanza cemberut.
"Aish, Kakek mah. Asal Kakek tau aja, di lingkungan aku, aku ini sangat terkenal."
"Oh ya, Ray. Mulai hari ini kamu harus bisa mengajari Khanza masalah bisnis," tuturnya memberikan perintah.
"What! Kakek nyuruh aku ke sini cuma buat belajar. O my god! Kakek tau kan, aku males belajar. Aku fikir, kakek nyuruh aku ke sini buat di kasih hadiah. Enggak taunya cuma di suruh belajar. Tau gitu ngapain aku ke sini," protes Khanza yang tak terima karena dirinya di suruh belajar.
"Khanza! Jangan protes terus. Sudah cukup selama ini kamu bermain terus. Ingat, umurmu sudah dua puluh satu tahun, sudah saatnya kamu menyelesaikan kuliah kamu dan belajar bisnis bareng Ray," ucap Ronald tegas.
"Tapi, Kek. Aku males kalau harus belajar terus, kepalaku mendadak pusing kalau lihat kertas." Khanza masih terus mengeluh, ia emang paling gak suka belajar. Malah dari dulu setiap kali sekolah ataupun kuliah, keseringan bolos dan bermain bersama gengnya yang suka tawuran itu.
"Enggak ada kata males. Kamu harus belajar mandiri."
"Huh." Khanza hanya mendengus, lalu menatap Rayyan yang juga tengah menatapnya.
"Apa lihat-lihat?" tanya Khanza sinis. Membuat Rayyan pun kesal karena Khanza seperti tak menyukai kehadirannya.
"Sebenarnya dia siapa, Kek?" tanya Rayyan penasaran. Karena ini pertama kalinya, ia bertemu dengan makhluk aneh seperti ini, cantik dan gemesin sih, tapi kenapa sikapnya sangat nyebelin gini.
"Dia Khanza Callysta Putri Ardiansyah, cucunya Kakek Ardi. Kamu pasti pernah ketemu dengan Kakek Ardikan?" tanyanya dan Rayyan pun menganggukkan kepalanya.
"Iya, Kek."
"Nah ini Khanza, cucu satu-satunya Kakek Ardi. Kemaren Kakek Ardi meminta tolong bantuan Kakek, buat membimbing Khanza, karena tiap malam Khanza suka balapan liar, dan suka keluyuran gak jelas. Bahkan kuliahnya pun seharusnya tahun ini sudah lulus, tapi dia bahkan masih semester lima," tuturnya menghela nafas. Sedangkan Khanza yang di bicarakan pun hanya diam acuh tak acuh. Dan sibuk dengan Hpnya.
__ADS_1
"Baik, Kek. Jika memang Kakek Ardi sudah meminta bantuan kita, maka Ray siap membantu membimbing Khanza," ujarnya membuat Khanza yang mendengarnya mendengus kesal.
"Ngapain mau sih?" tanya Khanza gak suka. Namun Rayyan tak menghiraukannya. Dari awal, Ray sudah tertarik dengan Khanza, walaupun nyebelin tentunya. Jadi, ia gak akan menolaknya. Dan akan menjadikan ini kesempatan agar bisa semakin dekat dengan Khanza.
"Kek, aku gak mau belajar," rengeknya.
"Kenapa? Kamu gak mau jadi orang pintar?" tanyanya.
"Buat apa jadi pintar, toh ujung-ujungnya juga jadi ibu rumah tangga. Yang penting kan bisa menguasai kasur," ucapnya, lagi-lagi membuat Rayyan tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Khanza.
"Emang kamu fikir tugas istri cuma di kasur doang?" tanya Ronald yang sudah sakit kepala, baru dua hari di rumah ini, tapi Khanza sudah berhasil membuat dirinya pusing tujuh keliling. Gimana jika berbulan-bulan, bisa-bisa ia akan saki-sakitan karena ulah Khanza. Pantas aja jika Ardi mengeluh padanya, dirinya aja yang baru dua hari, juga gak sanggup berdebat dengan Khanza. Untung Ardi sahabat terbaiknya, jadi Ronald mau menampung Khanza di rumahnya walaupun hanya untuk sementara waktu.
"Terus apa? Masalah masak kan ada chef, masalah bersih-bersih rumah, cuci baju, bersihin kamar, ada pelayan. Cari uang tugas suami. Tugas istri ya cukup melayani suami di kasur, dan membantu suami menghabiskan uangnya. Iya kan?" tanyanya polos membuat mereka bertiga yang mendengarnya pun geleng-geleng kepala.
"Kalau urusan kasur, walaupun aku belum pernah mencobanya, tapi aku yakin, aku pasti lihai jika di atas kasur. Aku pasti akan aktiv membuat suamiku sampai melayang ke angkasa. Dan masalah ngabisin duit, aku juga jagonya, jadi jangan khawatir akan hal itu," ucapnya yang terus bicara tanpa di filter.
"Ray, lebih baik kamu bawa aja dia. Kakek sudah gak tahan rasanya," keluh Ronald dan segera pergi dari sana.
"Kek, loh kenapa aku di tinggal," ucapnya yang ingin mengejar Kakek Ronald, namun tanganya langsung di tahan oleh Rayyan.
"Kamu ngapain pegang tangan aku? Kamu ngefans sama aku kayak Haikal itu?" tanyanya sambil menatap ke Rayyan.
"Tapi maaf nih, aku gak butuh fans kayak kamu. Jadi tolong, lepasin tangan aku," ujarnya sambil berusaha melepas tanganya dari Rayyan. Tapi sayangnya, Rayyan memegangnya dengan erat sehingga usaha Khanza hanya sia-sia belaka.
"Tolong lepasin." Khanza terus memberontak, namun Rayyan tetap memegangnya dengan erat.
"Ikuti aku," ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan menyeret Khanza pergi dari kediaman kakeknya.
"Loh, aku mau di bawa kemana?" tanya Khanza yang berjalan di belakang Rayyan, karena Rayyan terus memegang tangannya.
Sedangkan Farhan yang sedari tadi diam, hanya mengikutinya dari belakang.
"Jangan erat-erat pegang tanganku, sakit tau," keluhnya. Rayyan pun sedikit melonggarkan pegangannya hingga membuat Khanza berhasil melepas tangannya setelah ia menghempaskan tangan Rayyan dengan kasar.
Lalu Khanza segera lari dari sana, untungnya hp dan kunci sepeda motornya sudah di taruh di sakunya tadi. Jadi Khanza bisa segera lari ke luar. Dengan gesitnya, Khanza berhasil kabur dari kejaran Rayyan. Ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi agar Rayyan tidak berhasil mengikutinya.
"Sialan, gesit juga dia," umpat Rayyan kesal karena sudah dikelabui oleh Khanza.
Farhan yang berusaha menahan Khanza pun gagal, karena Khanza terlalu gesit. Dia seperti sudah terlatih dalam hal melarikan diri.
"Suruh orang melacak keberadaannya," ucap Rayyan memberikan perintah. Dan Farhan pun langsung menelfon anak buahnya dan memerintahkan mereka buat mencari keberadaan Khanza.
Bagaimanapun Khanza sudah menjadi tanggung jawabnya saat ia mengatakan jika dirinya siap membimbing Khanza buat belajar bisnis.
Dan jika Khanza kabur dan kenapa-napa, tentu dirinya akan bertanggung jawab sepenuhnya, apalagi Kakek Ronald sudah memberikan kepercayaan penuh buat dirinya menjaga Khanza.
__ADS_1