
Jam delapan malam, Rayyan dan Farhan baru pulang dari kantor. Mereka terpaksa pulang ke kediaman utama, karena sedari tadi Yunita, terus meneror Rayyan dan meminta Rayyan pulang.
Padahal Rayyan dan Farhan masih banyak pekerjaan, tapi dari pada mendengar ocehan Yunita yang tak ada habisnya, Rayyan pun memutuskan untuk pulang saja. Di kantor pun, ia juga tidak konsen bekerja karena fikirannya sekarang lagi kacau karena keberadaan Khanza yang sampai sekarang, belum juga bisa di temukan. Entah ada di mana dia sekarang.
Sesampai di kediamannya, Farhan langsung pergi menuju paviliun, sedangkan Rayyan, ia langsung masuk ke rumahnya.
"Boy," panggil Yunita yang sedari tadi emang menunggu kedatangan putranya.
"Ya, Mom." Rayyan duduk di kursi dan Yunita pun duduk di sebelahnya.
"Tadi katanya pergi ke rumah Grandpa ya, ngapain?" tanya Yunita.
"Enggak ada," sahut Rayyan yang malas untuk bercerita.
"Enggak ada gimana?" tanya Yunita tak percaya.
"Ya enggak ada, Mom. Enggak ngapa-ngapain."
"Ais, Mom gak percaya. Mana mungkin Grandpa manggil kamu tapi gak ada yang dibicarakan sama sekali," sindir Yunita.
"Ya sudah kalau Mom gak percaya. Aku mau ke kamar dulu." Rayyan ingin beranjak dari tempat duduknya, tapi Yunita masih menahannya.
"Sebenarnya Mom sudah tau, jika tadi kamu kenalan sama Khanza, kan?" tanyanya.
"Kalau Mom sudah tau, terus ngapain masih tanya," cetus Rayyan.
__ADS_1
"Karena Mom ingin mendengar sendiri dari mulut kamu. Tapi sayangnya, kamu malah memilih untuk berbohong dan tidak mau jujur sama Mommy," beber Yunita kesal karena Rayyan tidak mau jujur padanya. Kalau bukan karena dirinya yang cari tau sendiri, mungkin dirinya gak akan tau apa-apa. Dan selamanya, Rayyan akan menyembunyikan keberadaan Khanza darinya.
"Hmm ... aku males cerita," ungkapnya tanpa merasa bersalah sama sekali.
Mendengar hal itu, Yunita hanya mendengus kesal.
"Dari dulu selalu seperti itu."
Rayyan diam, tak menjawab.
"Terus Khanza mana sekarang?" tanya Yunita lagi.
"Kabur."
"What! Kabur? Kenapa bisa kabur? Kamu pasti nyakitin dia, kan? Makanya dia kabur?" pekik Yunita dengan suara nyaring membuat Rayyan harus menjauhkan telingannya biar gak berdengung.
"Enggak aku apa-apakan, Mom. Dianya aja yang tiba-tiba lari dariku."
"Terus kamu gak cari dia?" erangnya.
"Sudah aku cari, Mom. Cuma belum ditemukan." Rayyan menjawab dengan muka datarnya.
"Gak bisa ditemukan gimana? Kamu kan punya anak buah banyak, masak cari satu wanita aja, gak bisa," murka Yunita.
"Tapi emang gak bisa, Mom. Sepertinya Khanza, bukan wanita biasa. Dia sulit buat ditemukan. Aku bahkan sudah turun tangan sendiri, mencoba untuk melacaknya. Tapi selalu mendapatkan jalan buntu." Rayyan pun akhirnya menjelaskan.
__ADS_1
"Hhh ... Padahal Mom ingin segera bertemu dengannya. Tapi dia malah kabur dari kamu. Apa pesona kamu sudah memudar, hingga wanita bernama Khanza enggan berdekatan denganmu, Boy?" tanya Yunita sambil menatap putranya dari atas sampai bawah, lalu ke atas lagi.
"Tapi Mom lihat, kamu tetap tampan. Tapi kenapa dia kabur ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Ya mungkin, karena dia gak mau belajar. Soalnya Grandpa menyuruh aku buat ngajarin dia bisnis. Tapi Khanza gak mau kalau di suruh belajar. Makanya kabur."
"Ah gitu ceritanya. Mom fikir karena pesona kamu yang sudah memudar. Ya sudah, kamu cari aja dia terus. Nanti kalau sudah ketemu bawa ke sini. Mom ingin kenalan."
"Kenapa Mom ingin kenalan?" tanya Rayyan mengernyitkan dahi.
"Emang kenapa? Enggak boleh?" ketus Yunita.
"Ya bukannya gak boleh. Tapi apa harus kenalan sama Khanza?"
"Ya harus dong. Karena bisa jadi dia itu yang akan jadi menantu Mommy kelak," ucapnya santai.
"Ya Tuhan ... Mommy ada-ada aja. Sudahlah terserah Mommy aja deh." Rayyan pun akhirnya segera pergi dari sana, ia lelah dan ingin cepat-cepat istirahat. Sedangkan Yunita ia tersenyum senang, entah kenapa ia merasa jika Khanza adalah wanita yang tepat, yang kelak akan mendampingi putranya itu.
Tadi siang Yunita mendapatkan laporan, jika Khanza adalah seseorang yang menyelamatkan putranya, ia juga mendapatkan laporan, jika Khanza adalah Cucu dari Tuan Ardi. Dan Yunita pun sangat senang saat Papa Mertuanya memanggil Putranya untuk bertemu dengan Khanza dan diminta mengajari Khanza masalah bisnis.
Yunita juga sebenarnya sudah tau alasan Khanza kabur dan bagaimana frustasinya Rayyan saat Khanza pergi darinya. Bahkan Rayyan sampai meminta biodata Khanza dari Farhan.
Yunita mudah mengetahui semua itu, karena ia punya banyak mata-mata di luar sana. Dan benar, jika Khanza memang bukan wanita biasa. Yunita sendiri bahkan tidak bisa melacak keberadaan Khanza bahkan identitasnya pun sangat di rahasiakan. Hanya biodata biasa aja yang bisa di temukan. Tapi untuk yang bersifat rahasia, sulit ditembus olehnya.
Yunita memang bukan orang biasa, walaupun dia hanya lulusan SMA, namun ia sangat pintar dalam segala hal. Terlebih sejak ia menikah dengan Reyhan. Banyak hal yang sudah dia pelajari. Yunita harus bisa menjadi wanita kuat untuk bisa melindungi anak dan suaminya.
__ADS_1
Hanya saja Yunita lebih suka melakukan hal itu diam-diam, tidak terlalu mencolok agar tidak dicurigai oleh siapapun. Sungguh, sebagai seorang istri dan seorang Ibu, Yunita pasti akan melakukan apa saja demi bisa melindungi keluarga kecilnya.
Saat tadi siang, Yunita menelfon Rayyan, itu karena dirinya mendapatkn laporan, jika ada orang yang mengikuti Rayyan diam-diam, sayangnya Rayyan gak sadar akan hal itu. Itulah kenapa Yunita meminta Rayyan untuk hati-hati dan segera pulang ke rumah dan meminta Rayyan agar tidak jauh-jauh dari Farhan. Yunita sangat mencemaskan keadaan putranya itu. Terlebih firasatnya juga mengatakan akan terjadi hal buruk. Untungnya, Khanza datang di saat yang tepat. Entah dia datang dari mana, tiba-tiba ia sudah ada di dekat Rayyan dan membantu Rayyan dari orang yang ingin menyerangnya.