CEO Kejam Dan Romatis

CEO Kejam Dan Romatis
Terjebak di dalam ruangan berdua


__ADS_3

Saat Khanza mau buka pintu, pintunya gak bisa kebuka sama sekali. Bahkan saat Khanza mengerahkan seluruh tenaganya pun, pintu itu tetap tertutup rapat. Khanza menoleh ke arah Rayyan yang tengah duduk santai. Lagi dan lagi, Khanza menatap tajam ke arah Rayyan.


"Kamu apain pintunya?" teriak Khanza dengan wajah memerah menahan rasa marah.


"Enggak aku apa-apain. Emang kenapa?" tanya Rayyan pura pura polos.


"Pintunya gak bisa kebuka," sahut Khanza memberitahu.


"Hmm ... mungkin pintunya eror lagi." ucap Rayyan berbohong.


"What! Perusahan sebesar ini, punya pintu rusak. Kenapa gak diperbaiki?" tanya Khanza dngan raut wajah kesal.


"Itu baru rusak kemaren. Aku baru saja meminta Farhan untuk memanggil tukang, dan tukangnya baru bisa datang besok."


"Kenapa tidak cari tukang yang lain aja?" tanya Khanza, akhirnya ia kembali lagi dan duduk di sofa dengan kasar.


"Itu kan bukan pintu sembarangan dan tidak semua orang bisa memperbaikinya. Lagian di ruangan ini banyak rahasia, jadi hanya orang tertentu saja yang bisa masuk dan memperbaiki apa yang rusak," alibinya membuat Khanza mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Terus kita gimana?" tanya Khanza, padahal ia punya misi penting dan harus segera pulang. Tapi ia malah terjebak di ruangan ini bersama Rayyan.


"Aku akan mengirim pesan pada Farhan. Tenang saja." Rayyan mengambil hpnya dan mengirim pesan pada Farhan. Tapi bukan untuk meminta Farhan memperbaiki pintu, melainkan ia meminta Farhan agar pulang lebih dulu karena dia akan menginap di kantornya malam ini. Farhan yang mengerti pun langsung membalas, "Oke, semoga sukses!"


Namun Farhan gak akan pulang sesuai permintaan Rayyan, ia gak mungkin meninggalkan Rayyan karena itu sangat berbahaya buat Rayyan. Farhan gak mau ambil resiko dengan pulang lebih dulu. Ia takut, bahaya akan mengintai Rayyan. Walaupun Rayyan ada di dalam kantor, namun tetap saja ia harus hati-hati.


Farhan pun mengirim pesan pada Yunita dan mengatakan jika dirinya dan Rayyan malam ini gak bisa pulang. Farhan juga jujur saat Yunita menanyakan alasannya. Dan setelah Farhan mengatakan yang sejujurnya, Yunita pun malah mendukung keputusan Farhan untuk tetap tinggal di sana menemani Rayyan yang mungkin saat ini tengah membuatkan cucu untuknya. Ya, begitulah isi otak Yunita. Ia berfikir jika putranya saat ini tengah membuatkan cucu untuknya. Padahal jangankan membuat cucu, Rayyan dan Khanza saat ini bahkan duduk berjauhan.


Jika di dalam Rayyan dan Khanza saling diam, berbeda dengan Farhan. Ia sibuk bekerja dan menyelesaikan semua pekerjaannya seorang diri. Farhan juga membuat kopi sendiri dan meminumnya. Di ruangan Farhan sudah di lengkapi air panas dan bubuk kopi, gelas dan yang lainnya. Sehingga Farhan tidak perlu menyuruh OB hanya untuk membuatkan dirinya kopi.


"Kenapa lama datangnya?" tanya Khanza gak sabar. Ia sudah menunggu sepuluh menit namun tak ada suara apapun dari luar. Jelas, Khanza gak akan mendengar apa-apa, karena ruangan ini kedap suara. Ya, ruangan Rayyan sudah didesain agar tidak mendengar suara apapun dari luar. Begitupun sebaliknya, dari luar juga tidak akan mendengar apapun yang ada di dalam.


"Hmm ... I don't know. Mungkin Farhan masih sibuk, jadi dia gak baca pesan dari aku."


"Astaga." Khanza pun membuka resleting sling bag nya. Dan apesnya dia, karena lupa membawa hp. Tadi ia sangat buru-buru hingga tanpa sadar melupakan Hpnya yang ada di  meja.


"Aku pinjem Hpmu," ujar Khanza namun Rayyan menolaknya. Ia takut jika Khanza meminta bantuan orang lain atau ia takut jika Khanza tau jika dirinya tengah berbohong.


"Enggak mau."


"Kenapa?" tanya Khanza bingung.


"Di HPku banyak rahasia dan aku gak suka jika ada yang memegang hpku."


"Tapi ini penting dan darurat. Kita terjebak di ruangan ini dan sampai sekarang tidak ada yang membantu kita keluar dari ruangn ini. Kamu mau selamanya terkurung di sini?" tanya Khanza kesal.


"Enggak papa, aku rela. Lagian di ruangan ini ada kamar tidurnya, ada kamar mandinya, ada baju ganti, ada minuman dan ada makanan. Kita gak akan mati hanya karena terkurung beberapa hari," jawab Rayyan santai.


"Astaga. Tapi aku gak bisa berlama-lama di sini."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena aku punya urusan penting yang gak bisa ditunda."


"Emang sepeting apa sih, sampai kamu panik gitu?" tanya Rayyan penasaran.


"Aku gak bisa cerita, tapi yang jelas penting banget. Gini aja deh, aku pinjem komputernya, atua laptopnya. Boleh?" tanya Khanza sopan. Bagaimanapun saat ini, ia butuh bantuan Rayyan jadi ia harus berkata sopan.


"Enggak boleh!"


"Pelit banget sih jadi orang."


"Bodo'. Aku gak suka barang-barang aku di sentuh orang lain. Lagian bukankah kata kamu kita tidak saling kenal, jadi wajar dong, aku tidak memperbolehkan barang pribadi aku di sentuh sama orang yang gak aku kenal." sindir Rayyan yang mengingat kembali kata-kata Khanza tadi.


"Oh, God! Di saat seperti ini, kamu masih bahas itu. Ini  darurat lo!"


"Yang darurat itu kan kamu? Aku mah enggak. Lagian kamu yang datang ke ruangan aku, tanpa aku undang. So, kamu fikir aja sendiri gimana caranya kamu bisa keluar dari ruangan ini."


Mendengar hal itu, Khanza hanya bisa menghela nafas kasar. Ingin rasanya ia menghajar Rayyan, namun ia gak bisa melakukanya karena Rayyan adalah cucu kesayangan Kakek Ronald. Bagaimanapun, ia tidak mau cari gara-gara yang membuat dirinya nanti jadi susah sendiri.


Khanza bangkit dari tempat duduknya dan melihat ke jendela.


"Kamu gak berfikir buat loncar dari jendela itu kan?" tanya Rayyan, mengingat bahwa Khanza cukup liar dan nekat.


"Hmm ... bisa jadi."


"Kamu belum tau aku. Jadi, jangan remehin aku. Gini-gini aku pernah panjat tebing."


"Ini berbeda, gak ada pengamanannya. Kamu salah langkah dikit aja, kamu bisa is dead."


"Sudahlah, kamu cerewet banget jadi cowok." omel Khanza yang kesal karena gak menyangka jika Rayyan akan secerewet itu.


Ia kembali ke kursi sofa dan duduk di sana. "Sial banget hidupku saat ini." gumam Khanza kesal. Ia sebenarnya bisa aja turun dari ruangan Rayyan lewat jendela. Hanya saja ia gak mau bikin kehebohan jika ada yang melihat dirinya merayap  layaknya cicak di siang hari.


Turun dari lantai yang memiliki ketinggian beratus-ratus meter, sebenarnya cukup mengandalkan kelenturan dan kekuatan tubuh. Tentu harus di sertai dengan kecerdikan serta keterampilan yang baik. Khanza yang memiliki keterampilan memanjat dinding atau pun tebing , mungkin sudah terbiasa. Tapi ia gak mau memperlihatkan kekuatan yang ia miliki, terlebih membuat kehebohan di depan umum.


Jadi, Khanza memilih untuk mengalah saja.


Melihat Khanza diam, Rayyan pun juga ikut diam. Ia membenarkan kancing kemejanya, namun tetap tidak memakai jasnya. Toh dirinya gak ada rapat penting yang mengharuskan dirinya memakai jas.


"Tadi aku ketemu sama wanita di lobbi," ucapnya memberitahu.


"Wanita? Siapa?" tanya Rayyan sambil melihat ke arah Khanza.


"Mana aku tau. Tapi dia mengaku calon istrimu. Dan tadi asisten kamu pun juga meminta dua satpam buat mengusirnya."


"Oh, kenapa kamu bahas dia? Kamu cemburu?" goda Rayyan.

__ADS_1


"Ck ... ngapain aku cemburu sama wanita seperti itu. Aku hanya tak ingin ada fitnah yang mengatakan aku menjadi orang ketiga dalam hubugan kamu dengannya. Aku gak mau di cap pelakor." ucap Khanza terus terang.


"Apakah itu alasan kamu menolak aku?" tanya Rayyan serius."


"No, aku menolak kamu karena memang aku tidak mencintai kamu dan kamu bukan type aku. Jadi itu gak ada sangkut pautnya, dengan wanita tadi. Aku hanya tak ingin nama aku jelek karena aku dekat sama kamu seperti ini."


"Oh, kamu jangan khawatir. Aku gak ada hubungannya dengan Salsa."


"Hmm, jadi namanya Salsa?" tanya Khanza.


"Ya, dia itu anak manager di perusahaan cabang. Dan Papanya itu teman dekat daddy. Dia sering datang ke rumah buat ketemu aku, tapi sayangnya, aku berusaha untuk selalu menghindar darinya, bahkan aku memilih untuk jarang pulang ke rumah agar aku tidak bertemu dengannya."


"Kenapa? Bukannya dia cantik?" tanya Khanza.


"Mungkin bagi yang lain dia cantik, tapi tidak denganku," sahut Rayyan.


"Dan itulah yang aku rasakan, Ray. Mungkin kamu tampan bagi orang di luar sana. Tapi tidak denganku."


Mendengar hal itu, Rayyan langsung diam.


"Cinta gak bisa di paksakan. Seberapa kuat kamu mencoba untuk mendekati aku, tapi jika aku tidak merasa cocok dengan kamu, aku merasa tidak nyaman berada di dekat kamu, maka sulit buat kita bersatu."


"Tapi aku akan berusaha untuk membuat kamu nyaman di dekat aku. Aku akan berusaha untuk membuat kamu jatuh cinta sama aku," tutur Rayyan serius.


Mendengar hal itu, Khanza menggelengkan kepalanya.


"Tidak mudah membuat aku jatuh cinta. Percayalah, semua usaha yang kamu lakukan, pada akhirnya akan menjadi sia-sia. Jadi lebih baik, kamu berhenti dan fokus mencari cinta yang lain. Lagian kita baru ketemu kemaren. Tidak mungkin kamu jatuh cinta sama aku, secepat itu," ungkap Khanza.


"Akan tetapi kenyataanya, aku jatuh cinta sama kamu dari pandangan pertama. Kamu ingat kemaren siang saat kamu menolong aku dari orang yang mencoba menikam aku, saat itu aku merasa jantung aku berdebar, aku penasaran sama kamu. Dan ketika aku bertemu kamu untuk kedua kalinya di rumah Kakek. Aku merasa senang, apalagi saat Kakek meminta aku mengajari kamu, jujur aku merasa bahagia. Sayangnya kebahagiaan aku tidak berlangsung lama karena kamu memilih kabur dari pada ikut aku."


"OH, jadi yang kemaren siang itu kamu. Pantas saat di rumah Kakek Ronald, aku seperti melihat wajah kamu." ujar Khanza.


"Ya, kamu begitu mudah melupakan wajah aku ya," tutur Rayyann.


"Seperti yang aku bilang, kamu tidak penting dalam hidup aku. Jadi susah buat aku untuk mengingat kembali wajah kamu."


"Hmm ... haruskan aku operasi wajah dan menjadi seperti yang kamu mau?" tanya Rayyan membuat Khanza melongo.


"Tidak harus operasi wajah juga kali, Ray. Lagian aku ini gak suka yang plastik-plastik. Aku sukanya yang ori. Bukan KW. Buat apa tampan, jika ujung-ujugnnya hasil sulap dari dokter," balas Khanza membuat Rayyan yang mendengarnya terkekeh. Ia juga sebenarnya gak minat buat ganti wajah, tapi jika itu bisa membuat Khanza jatuh cinta padanya, mungkin ia bisa melakukannya.


"Oh gitu, syukurlah."


"Hmm ... kamu katanya punya makanan, mana?" tanya Khanza mengalihkan pembicaraan.


"Itu di kulkas ada kue sama buah. Di samping kulkas itu ada lemari kecil, isinya camilan. Ambil aja kalau kamu mau."


Tanpa merasa malu atau apa. Khanza berjalan ke arah kulkas. Ia mengambil beberapa  minuman, buah dan juga kue. Lalu ia membuka lemari dan mengambil beberapa camilan yang ada di sana. Lalu membawanya ke meja yang berbentu oval. Tanpa memperdulikan Rayyan, Khanza duduk dan menaikkan kedua kakinya seperti bersila. Lalu dengan santainya, ia mulai memakan camilannya, lalu lanjut makan kue dan buah. Sesekali ia minum agar tidak tersedak. Sedangkan RAyyan, walaupun matanya fokus menatap layar komputer namun sesekali ia melihat ke arah Khanza yang begitu lahap memakan semua makanan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Tubuh kurus, tapi makannya banyak juga. Hmm ... Pantas aja pipinya chubby," gumam Rayyan dalam hati. Namun entah kenapa, ia senang melihat Khanza yang sedari tadi tidak berhenti makan. Padahal cara makan Khanza sangat urakan sekali, namun ia malah senang melihatnya. Mungkin karena Khanza terlihat imut dan menggemaskan saat makan, apalagi saat pipinya semakin chubby karena mulutnya penuh dengan makanan.


__ADS_2