
Mendapatkan pesan dari nomer yang tidak di kenal, Rayyan tersenyum bahagia karena ia berfikir yang mengirim pesan itu adalah Khanza. Namun saat ia membuka pesan itu betapa kagetnya dia, membaca pesan dari orang lain yang bernama Zahra, yang ia ketahui sebagai sahabat dekat Khanza. Dan di pesan itu tertulis jika Khanza saat ini tengah kritis, membaca hal itu Rayyan pun sangat murka. Terlebih ia juga melihat Khanza yang terbaring di rumah sait dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya.
Rayyan langsung meminta Farhan masuk ke ruangannya dan meminta Farhan melacak nomer itu, namun sayanngya, lagi dan lagi mereka mendapati jalan buntu. NOmer itu tidak terdeteksi lagi.
Mengetahui hal itu, Rayyan sangat marah sekali hingga ia menghancurkan apa saja yang ada di ruangannya. Ia marah, dan ia merasa gagal karena ia tidak bisa melindungi wanita yang ia cintai. Bahkan saat ini pun, ia tidak tau dimana keberadaan Khanza. Dan itu membuat dirinya tertekan. Rayyan bersumpah akan menyari siapa yang sudah melukai Khanza dan memberikan mereka balasan yang setimpal.
Sejak hari di mana Rayyan mendapatkan pesan itu, Rayyan terus berusaha mengotak atik komputernya. Ia mengerahkan semua ilmunya untuk bisa mengetahui dimana Khanza berada. Rayyan bahkan sampai tidak tidur berhari-hari. Farhan tidak mau tinggal diam, ia membantu Rayyan mengetahui lokasi di mana Khanza dirawat. Farhan juga bahkan menggunakan semua koneksinya, mereka bekerja lembur siang dan malam hanya untuk mengetahui keberadaan Khanza. Hingga akhirnya salah satu peretas handal menghubungi Farhan dan mengatakan jika keberadaan Khanza saat ini ada di Negara Jrm.
Hanya saja untuk lokasi rumah sakitnya masih belum di ketahui. Namun sepertinya jika di lihat dari foto Khanza yang tengah di rawat, itu bukan rumah sakit, tapi sebuah ruangan yang emang di sulap seperti rumah sakit. Bisa jadi, Khanza di rawat di suatu tempat yang tidak terdeteksi.
Farhan pun memberitahu Rayyan. Kalau saat ini, Khanza ada di Negara Jrm. Namun karena belum tau keberadaannya, Rayyan pun lagi dan lagi merasa marah danĀ emosi. Ia tak bisa pergi Negara Jrm, jika Khanza sendiri bahkan tidak diketahui ada di kota apa. Sedangkan Negara Jrm cukup luas, dan tidak mungkin mereka menggeledah setiap tempat, hanya utnuk mencari keberadaan Khanza.
Yunita yang tau jika Rayyan tengah frustasi karena Khanza tengah sakit pun mencoba untuk membantu putranya. Namun, apapun yang dilakukan oleh Yunita pada akhirnya juga menemui jalan buntu.
Yunita merasa yakin sekali, jika Khanza dilindungi oleh orang yang kuat di belakangnya, karena kalau cuma Khanza sendiri, tentu tidak sesulit ini untuk melacak keberadaannya.
Akhirnya, karena sudah merasa bingung dan frustasi. Rayyan pun menghubungi pihak Mafia bawah tanah. Ya, Rayyan terpaksa meminta pertolongan mereka untuk mencari keberadan Khanza. Hanya ini satu satunya cara agar ia bisa menemukan Khanza secepatnya.
Tentu, Rayyan harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit, bahkan Rayyan harus memberikan lima persen sahamnya kepada Mafia itu. Rayyan pun tak keberatan, yang penting saat ini, ia bisa segera bertemu dengan Khanza.
Setelah menunggu hampir sepuluh jam, para mafia itu pun memberitahu Rayyan, di mana Khanza berada. Dan saat itu juga, ia dan Farhan langsung pergi menuju Negara Jrm menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Alexander.
Sepanjang jalan, Rayyan merasa gelisah. Ia bahkan merasa pesawat ini berjalan begitu lambat. Ia terus melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia terus memperhatikan jarum jam yang berdetak sangat pelan. Rayyan benar-benar sangat emosi sekali.
Farhan pun tidak bisa menenangkannya, karena ia tau jika saat ini fikiran Rayyan sedang tidak baik-baik saja.
Setelah berjam-jam, akhirnya mereka sampai di Bandara Jrm. Farhan langsung memesan mobil online.
Kini Farhan dan Rayyan pergi menuju mension milik seseorang, di mana di mension itu ada Khanza di dalamnya.
"Apakah masih lama?" tanya Rayyan dingin.
"Lima jam lagi sampai, Tuan," jawab Farhan sambil melihat hpnya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Rayyan kesal.
"Karena memang jaraknya cukup jauh, Tuan. Mension itu berada jauh dari pemukiman warga," sahut Farhan menjelaskan.
Mendengar hal itu, Rayyan hanya mendengus kesal.
Ia sudah duduk cukup lama di pesawat, dan sekarang ia harus duduk lebih lama lagi di mobil. OH Astaga, kenapa ingin bertemu Khanza, harus sesusah ini.
Namun pada akhirnya, Rayyan hanya memilih diam dan menekan rasa kesalnya.
Setelah berjam-jam di dalam mobil, akhirnya mereka sampai di depan mension. Namun mension itu cukup ketat, bahkan tidak ada yang bisa masuk ke dalamnya kecuali sudah membuat janji dengan bos mereka.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Farhan dan Rayyan harus di uji kesabarannya.
"Kita harus gimana?" tanya Rayyan frustasi sekali. Di sini, Rayyan tidak punya kekuatan apapun, ia hanya berdua dengan Farhan. Jika pun harus menghadapi mereka, tentu tidaklah mudah. Mengingat penjaga di mension ini ada ratusan orang. Bahkan di depan gerbang aja, ada belasan orang, apalagi di dalamnya.
Namun untungnya, tidak lama kemudian. Ada mobil hitam yang ingin masuk melewati gerbang itu.
Seseorang membuka jendelanya dan menatap Rayyan. Rayyan yang di tatap seperti itupun merasa risih, karena ia tidak suka di lihat sampai segitunya.
"Kamu Rayyan?" tanya wanita itu.
"Anda kenal dengan saya?" tanya Rayyan sopan dan dengan bahasa formal.
"No. Saya tidak kenal, tapi saya sering lihat Anda di hp sahabat saya," jawab wanita itu.
"Apakah sahabat Anda bernama Khanza?" tanyanya dan wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Ya."
"Apakah Anda yang bernama Zahra yang sudah mengirim pesan pada saya beberapa hari yang lalu?" tanya Rayyan lagi.
"Ya." jawab Zahra singkat.
"Apakah saya boleh bertemu dengan Khanza. Saya mohon!" pinta Rayyan, ini pertama kalinya dia memohon pada orang lain, namun ia rela manjatuhkan harga dirinya agar bisa melihat keadaan Khanza.
Zahra berfikir sebentar, lalu ia menelfon seseorang. Setelah cukup lama berbicang. Akhirnya Zahra pun membuka pintu mobilnya sehingga Rayyan dan Farhan bisa masuk ke dalam mobil itu.
"Keadaannya masih sama seperti yang ada di foto. Dia masih belum sadar, namun sudah melewati masa kritisnya. Saya tidak menyangka, Anda bisa menemukan tempat ini." puji Zahra.
"Ya, saya melakukan banyak hal. Hanya ingin tau dan melihat keadaan Khanza secara langsung. Hati saya tidak tenang selama beberapa hari terakhir ini," ucapnya jujur.
Zahra hanya mengangguk-anggukkan kepala, sesekali Zahra menatap ke arah Farhan yang sedari tadi diam.
Setelah melewati halaman yang cukup luas, barulah mereka turun dari mobil. Mereka berjalan memasuki mension.
Dan saat sampai di dalam, seseorang memanggil Zahra.
"Mereka siapa?" tanyanya dingin.
"Mereka teman Khanza, Paman. Tolong izinkan mereka untuk bertemu dengan Khanza." ucap Zahra memohon.
"Tapi kamu tau, kan. Tidak ada yang boleh menemui Khanza, siapapun itu!" bentaknya.
"Paman, dia laki-laki yang selama ini sering Khanza bicarakan. Aku yakin, jika kedatangan dia ke sini, bisa memberikan dampak yang baik buat Khanza. Bisa jadi Khanza akan sadar dari komanya, jika menyadari kehadiran laki-laki ini. Aku mohon paman," pinta Zahra.
"Baiklah. Hanya satu orang saja, dan itupun tidak boleh lama." ucap laki-laki paruh baya itu lalu pergi dari sana. Ia bahkan tidak menyapa Rayyan dan Farhan.
__ADS_1
"Yang masuk, kamu aja ya," ujar Zahra memberitahu. Dan Rayyan pun menganggukkan kepala. Namun Farhan tidak akan jauh-jauh dari Rayyan, karena takut jika RAyyan kenapa-napa, jadi Farhan akan menemaninya di depan pintu. Tak apa, jika dirinya tidak di izinkan masuk, asal ia bisa memastikan jika Rayyan baik-baik aja di dalam. Farhan juga bisa melihat dari luar, jadi ia bisa memastikan sendiri secara langsung apa yang Rayyan lakukan di dalam.
Zahra pun menemani Farhan di luar pintu. Di sana ada dua kursi dan satu meja. Tak lama kemudian, pelayan datang membawakan minuman dan makanan buat mereka berdua.
"Minum dulu," ucap Zahra memecahkan keheningan.
Fahran menganggukkan kepalanya, lalu ia meminum jus anggur yang sudah di buatkan oleh pelayann.
Di dalam ruangan, Rayyan menghampiri Khanza dan duduk di kursi yang ada di samping brankar.
Ruangan itu sangat sepi sekali dan hanya ada suara dari alat yang mendeteksi detak jantung Khanza. Bahkan banyak sekali alat-alat yang menempel di tubuh Khanza dan di bagiain dadanya juga ada bekas jahitan.
Melihat hal itu, hati Rayyan berdenyut sakit. Ia tidak menyangka jika Khanza akan mengalami hal ini. Entah misi apa yang sudah di lakukan oleh Khanza, hingga hampir merenggut nyawanya.
Andai ia boleh melarang, ia tidak ingin Khanza melakukannya pekerjaannya lagi, sekarang ia bisa selamat, tapi bagaimana jika nanti saat Khanza melakukan misinya, ia terluka lagi. Apakah Khanza bisa lolos dari maut, seperti saat ini.
Rayyan menggenggam tangan Khanza. Ia menciumnya berulang-ulang, tak terasa air matanya jatuh mengenai tangan Khanza.
"Kamu kenapa nakal sekali?" tanya Rayyan.
"Dari awal ketemu, kamu sepertinya tidak suka diam," ucap Rayyan lagi.
"Kenapa kamu selalu bikin aku takut dan khawatir? Tak bisakah kamu hidup dengan tenang. Sebenarnya misi apa yang sedang kamu lakukan hingga hampir merenggut nyawa kamu?" tanyanya lagi. Namun sayangnya, Khanza tidak bisa menjawabnya karena ia berada di alam bawah sadarnya.
"Aku mencintai kamu, Khanza. Aku sangat mencintai kamu. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa. Tidak bisakah kamu mengerti itu!"
"Apapun yang kamu mau, akan aku usahakan. Bahkan jika kamu ingin foya-foya menghabiskan uangku pun, akan aku biarkan. Tapi tolong, stop melakukan pekerjaan yang bisa membahayakan nyawa kamu. Aku rela kehilangan seluruh harta aku, tapi aku gak siap jika harus kehilangan kamu. Kamu orang pertama yang bisa bikin aku jatuh cinta, orang pertama yang bisa bikin jantungku berdetak kencang, orang pertama yang berhasil menyita fikiran aku, membuat aku merasakan rindu hingga aku sendiri merasa resah dan gelisah. Kamu orang pertama yang bikin aku hidup tidak tenang karena terus memikirkan kamu," tutur Rayyan mengungkapkan perasaannya.
"Untuk itu, jangan pernah tinggalin aku. Hiduplah bersama aku dan aku pastikan kamu akan bahagia, tanpa kekurangan sesuatu apapun," ujarnya.
"Khanza, cepatlah sadar. Aku ingin lihat wajah galak kamu lagi, jangan terus memejamkan mata seperti ini, jangan buat aku takut."
"Aku rela jauh-jauh ke sini hanya ingin tau keadaan kamu, aku rela menghabiskan banyak uang hanya ingin tau keberadaan kamu dan melihat kondisi kamu secara langsung. Sepanjang jalan, aku merasa tidak tenang. Waktu bahkan seakan berjalan begitu lambat. Dan saat aku lihat kamu seperti ini, hatiku sakit. Andai boleh memilih, biarkan aku yang terluka. Biarkan aku yang menanggung rasa sakitnya, asal jangan kamu." Rayyan lagi dan lagi menitikkan ari mata, ia bahkan sudah lupa kapan terakhir ia menangis. Mungkin saat masih bayi.
Selama ini ia selalu menjadi orang yang tegar dan kuat. Seberat apapun masalahnya, ia masih berdiri dengan tegak. Bahkan saat nyawanya berkali-kali ingin di habisi, ia masih bisa bertahan dan tidak menangis. Ia bisa menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Tapi melihat Khanza seperti ini, ia menciut. Ia takut, takut akan kehilangan seseorang yang sudah terpatri dalam hatinya. Seseorang yang sudah mencuri hati dan cintanya.
Rayyan mencium tangan Khanza berulang-ulang, sedangkan matanya terus menatap wajah Khanza yang setia memejamkan mata. Zahra dan Farhan yang melihatnya dari luar pun seakan merasakan kesedihan Rayyan.
"Sepertinya dia sangat mencintai Khanza," ucap Zahra tanpa sadar. Mendengar perkataan Zahra, Farhan menoleh.
"Bukan sepertinya, tapi memang iya." Farhan mencoba mengoreksi kata-kata Zahra yang menurutnya salah.
"Aku gak menyangka pada akhirnya akan ada seseorang yang mencintai Khanza begitu dalam. Syukurlah, biar Khanza gak di kejar-kejar lagi sama si Haikal," ujarnya yang seakan sedang curhat.
"Haikal?"
__ADS_1
"Ah, dia itu laki-laki yang tergila-gila sama Khanza. Ngeri rasanya. Ia bahkan pernah menculik Khanza dan hampir menodainya. Untung aku dan teman-teman datang di saat yang tepat, sehingga Khanza tidak sampai di le cehkan. Walaupun Haikal tampan dan mempesona, tapi tetap saja dia berjiwa iblis." Zahra bahkan mengepalktan tanganya jika ingat dengan Haikal, ia sangat membenci laki-laki itu. Gara-gara dia, Khanza sampai harus bersembunyi berkali-kali agar terhindar darinya.
Mendengar ucapan Zahra, Farhan mengangguk mengerti. Itu artinya akan ada penghalang buat Rayyan mendapatkan Khanza. Mungkin ia harus memberikan pelajaran buat laki-laki yang bernama Haikal itu, agar tidak terus menerus mengganggu Khanza, karena itu tidak baik buat Khanza dan Rayyan yang mencoba untuk melakukan pendekatan.