
Seorang gadis masih berlari sekuat tenaga, menyusuri trotoar basah akibat bekas hujan semalam. Dahi, bahkan rambut sebahunya pun sudah bercucuran dengan keringat. Tidak menyerah, ia terus berlari dan berlari, padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
Ah, ia terlambat pagi ini. Gerbang sekolah yang hanya tinggal dua puluh meter dari tempatnya menapakkan kaki pun sudah tertutup rapat.
Teresa Evania.
Gadis itu berjalan lesu mendekati pagar. Menggoncang-goncangkan besi menjulang itu dengan tidak sabaran, berharap satpam yang sedang tertidur tersebut dapat mendengar teriakannya.
“Pak Ucup kebiasaan, tidur aja kerjaannya.” Gerutunya berusaha menetralkan napasnya yang tersenggal-senggal.
“Pak Ucup bukain gerbangnya!”
“Pak!!!”
Dua menit, masih tidak terdengar sahutan.
“Pak! Pak Ucup! Bangun, Pak!” Teriaknya mulai panik.
“Pak! Ya allah, Pak Ucup jangan ngebo dulu, dong. Aku udah telat.” rengeknya mulai frustasi.
“Pak!!!”
Satu kata.
PERCUMA...
Pak Ucup yang memiliki hoby tidur itu tidak akan bisa terbangun jika hanya dengan teriakan kecil seperti suara Teresa. Suaranya yang sangat kecil dan lembut hanya akan membuat Pak Ucup semakin tertidur pulas.
“Kalo gini caranya semua murid pasti lolos, yang ada pada manjat gerbang semua. Satpamnya aja kayak gini.” Monolognya menggeleng-gelengkan kepala.
Tidak kehilangan akal, Teresa mengambil batu berukuran kecil dan melemparkannya ke arah pak ucup.
Dan...
“Yes!” Pak ucup meringis merasakan batu itu jatuh tepat di lengan kanannya.
“Pak!” Panggil Teresa melambaikan tangan. Pak Ucup menoleh ke arah Teresa, menyempatkan diri mengerjapkan mata sekilas sebelum bangkit mendekati gerbang.
“Telat, Neng? Hoamm.”
Cewek itu menatap satpam di depannya mulai jengah. Teresa heran, bagaimana bisa sekolah ini merekrut satpam seperti Ucup Susanto yang pekerjaannya hanyalah molor setiap harinya. “Enggak, Pak! Masih subuh juga, mending Pak Ucup lanjut tidur lagi.” Jawabnya datar.
“Eh?” Pak Ucup bingung, mendongak menatap langit yang kini semakin terasa terik. Teresa mulai meraup wajah frustasi. Akankah waktu sepagi ini ia sudah harus mendapat cobaan berat? “Neng Tesa teh ngigau ya?”
“Teresa, Pak!”
“Iya, itu! Punya nama teh jangan panjang-panjang. Susah nyebutnya!”
Tidak ada yang tahukah bahwa saat ini sudah ada asap yang mengepul di atas kepalanya. Teresa benar-benar sudah kehilangan kesabaran.
“Pak bukain gerbangnya, dong. Aku udah telat banget ini.”
“Nanti kalo masuk dihukum loh, Neng. Mending pulang lagi saja.” Jawabnya acuh tak acuh.
“Pak Ucup kok malah ngajarin aku bolos, sih.” Teresa tidak terima. Mau jadi apa dia kalau sekolah saja bolos-bolos. Sudah sekolah hanya hasil beasiswa, sering bolos pula.
“Bukan ngajarin, Neng. Bapak mah cuma mau menyelamatkan Neng Tesa biar nggak kepanasan! Dijemur sampai istirahat mau? Nanti tambah hitam nangis-nangis.”
“Bapak mulutnya sering di asah ya?!” Teresa mulai naik pitam, paling benci bila ada orang yang bilang dia hitam. Padahal Ibunya sering bilang jika dirinya tidak hitam. Malah katanya Teresa ini cantik. Anak Ibunya yang paling cantik.
Teresa belum sadar saja jika dirinya anak perempuan satu-satunya.
__ADS_1
“Memangnya kenapa, Neng?”
“Nggak apa-apa. Bukain dong, Pak. Mau berjemur dulu, biar sekalian tambah hitam berkilau.” pintanya menyindir. Biarlah, Teresa sudah mulai ada dendam terkesumat dengan satpam bertubuh kurus itu.
“Yeee si Eneng, dibilangin ngeyel.” Gerutu Pak Ucup membuka gerbang.
“Makasih, Pak.” Ucapnya sinis kemudian melenggang memasuki area sekolah.
SMA Harison. Salah satu sekolah swasta paling mahal dan terpandang di daerah Ibukota.
Jangan tanya muridnya, semua jelas dari kalangan kelas atas yang kelebihan harta. Uangnya saja sampai bingung mau di kemanakan. Sedangkan Teresa, ia hanyalah gadis biasa yang kebetulan memiliki otak cekatan hingga dapat bersekolah di sekolah milik keluarga milyader itu.
Teresa berjalan mengendap-endap memasuki area sekolahnya. Rasa takut tiba-tiba menjalar ke sekujur tubuh. Sekolahnya benar-benar sepi, semua sudah masuk ke kelasnya masing-masing.
Bagaimana ini? ia harus pergi ke kelasnya ataukah menyerahkan diri ke ruang BK. Sejak tadi ia masih bersembunyi, belum siap melewati lapangan sekolah. Semoga saja tidak ada guru yang menyadari keberadaannya.
Oke, Teresa putuskan, ia akan mengendap-endap masuk ke kelas. Ia tidak mau jika harus berjemur di bawah terik matahari, bisa-bisa ia akan semakin di bully oleh Pak Ucup karena kulitnya benar-benar menjadi hitam berkilau.
Tok...tok...tok
Ia mengetuk pintu kelasnya setelah kurang lebih lima belas menit mencari jalan lain agar tidak melewati tempat-tempat yang menurutnya rawan.
Terdapat sautan samar-samar dari dalam. Teresa berjalan menunduk masuk, ia sungguh sangat malu sekarang.
Banyak bisikan juga hujatan menembus gendang telinganya.
“Lo sehat, ‘kan, Sa! Nggak lupa cara baca jam ‘kan?” Tanya salah satunya. Teresa memilih menghiraukannya. Tidak masalah, anggap saja angin lalu, ia sudah terlalu terbiasa mendengar cacian teman-temannya hanya karena status social keluarganya. Bahkan menurutnya, mereka semua tidak pantas dipanggil seorang teman.
“Teresa, baru saja saya mencari kamu. Kamu telat ternyata. Saya pikir kamu kenapa-kenapa.” Guru itu menggelengkan kepalanya.
Bisikan-bisikan semakin nyaring terdengar.
“Maaf, Bu. Tadi saya naik angkot tapi angkotnya muter-muter dulu. Jadi saya minta turun di pinggir jalan terus lari ke sini.” Jawabnya menyesal. Ia bahkan tidak berani menatap wajah guru kimianya itu.
“Ya sudah, kamu duduk saja.”
Teresa mendongak, matanya berbinar. “Terimakasih, Bu.” Ucapnya kemudian berjalan cepat menuju bangku.
Bangkunya berada tepat di depan meja guru. Alasannya, tentu saja agar lebih jelas mendengar pelajaran. Ia duduk seorang diri, tidak ada seorangpun yang mau duduk dengannya. Semua seakan menjaga jarak entah karena apa. Mungkin takut bila Teresa merepotkan mereka.
Sebenarnya dulu ia memiliki teman sebangku. Tapi temannya itu sudah pindah ke luar kota mengikuti kedua orang tuanya beberapa bulan lalu, membuat Teresa semakin kesepian.
“Teresa! Nanti setelah pelajaran ikut saya ke kantor sebentar.”
Teresa yang semula melamun kini tersentak kecil.
“Baik, Bu.” Jawabnya singkat. Otaknya mulai bermunculan banyak tanda tanya besar.
***
Teresa memasuki ruang Bu Devi dengan perasaan campur aduk. Apa dia akan dihukum karena terlambat pagi ini? Sepertinya iya.
“Silakan duduk, Sa!” Teresa mengangguk.
Ia mendudukkan dirinya dengan gelisah. Kursi empuk ini mendadak terasa tidak nyaman. Apakah AC-nya mati, suasana mendadak terasa panas dan mencekam.
Bu Devi menoleh, mendapati Teresa duduk gelisah di kursinya. Bu Devi menggeleng-gelengkan kepala. Mau sampai kapan anak ini tidak percaya diri dan minder, batinnya mulai kasihan.
“Loh, Teresa?! Tidak perlu tegang seperti itu.” Bu Devi tersenyum geli menatap anak didiknya yang terlihat seperti cacing kepanasan. Bahkan cacing kepanasan sekalipun masih lebih enak untuk dipandang dibanding cewek itu.
Teresa hanya meringis. Tidak perlu tegang katanya? Yang benar saja!
__ADS_1
“Maaf, Bu.”
“Kamu tahu kenapa saya memanggil kamu ke sini?”
Teresa menggeleng.
“Pertama, benerin dulu duduk kamu. Rileks Teresa! Tidak perlu tegang seperti itu kalau hanya bersama saya.”
Teresa mengangguk mengerti, menuruti perintah guru cantik itu. Berbicara kecantikan, menurutnya Bu Devi adalah guru paling cantik di Harison. Umurnya juga masih terbilang muda. Kisaran dua puluh enam tahun. Menurut rumor yang terdengar, Bu Devi ini akan menikah dengan pacar pilotnya tahun depan. Semoga saja benar. Umurnya juga sudah tidak terbilang muda untuk ukuran wanita yang hanya ingin bermain-main dalam menjalani suatu hubungan.
“Maaf, Bu.”
“Minta maaf aja terus, Sa, sampai stock maaf kamu habis.”
Teresa menunduk menyesal. “Maaf, Bu.” Jawabnya lagi tanpa sadar. Ia membekap mulutnya. Memang apa lagi yang bisa ia katakan selain kata maaf jika dalam keadaan mengambang seperti ini. Mau diapakan dia, berjemur, atau membersihkan toilet?!
Huh!
“Sekali lagi kamu minta maaf, saya hukum kamu!”
Teresa mulai panik, Tidak bisa berbicara apapun lagi selain. “Maaf, Bu.”
“Arrggghhh.” Bu Devi mulai frustasi. “Lupakan saja. Saya ada kabar baik untuk kamu!”
Teresa seketika berbinar. “Beneran? Ini bukan lagi prank ‘kan? Nanti saya sudah senang malah kabar baiknya suruh berjemur!”
“Su'udzon kamu.” Bu Devi menyentil kening Teresa pelan, Teresa meringis. Tidak bisa dipungkiri bahwa selama ini, Bu Devi lah guru yang paling dekat dengannya. “Ada Olimpiade Kimia tingkat kota. Kamu bersedia tidak? Sebenarnya kamu sudah kelas dua belas, tapi tidak masalah. Nanti bisa saya bantu untuk ikut lomba sekali lagi. Tapi mungkin ini lomba terakhir kamu di SMA ini."
“Tidak masalah, Bu. Saya bersedia!” Sanggahnya cepat.
Teresa tersenyum cerah. Akhirnya masih ada harapan. Yang ia pikir tidak akan bisa mengikuti lomba lagi setelah kelas dua belas, ternyata masih bisa walau hanya sekali.
Teresa bersyukur, ia harus bekerja keras untuk menang. Selama dua tahun terakhir ini, penghasilan keluarganya hanya berasal dari lomba yang Teresa menangkan. Inilah enaknya sekolah elite, bayarannya untuk setiap lomba pun tidak sedikit. Hanya saja, keluarganya masih harus tetap melakukan hidup hemat agar uangnya tidak cepat terkuras habis.
“Oke, ini adalah olimpiade cerdas cermat khusus kimia. Jadi, kamu harus mempunyai partner untuk lomba ini. Silakan kamu cari sendiri partner yang berpotensi. Bisa adik kelas, bisa seangkatan.”
Mencari sendiri? Sendiri?
Sendiri?!!!
Kalimat itu terus saja berputar di otaknya. Ia harus mencari kemana, sedangkan teman saja Teresa tidak punya. “Tapi, Bu-,”
“Tidak ada tapi-tapian, kamu itu bukan tidak punya teman. Tapi kamu selalu menghindar, menganggap mereka semua ilfil karena status sosial kamu. Dengar, Sa! Tidak semua teman seperti itu, kamu tinggal mencari lebih giat lagi. Banyak anak-anak beasiswa seperti kamu di sekolah ini, tapi juga punya banyak teman.”
“Mereka beda sama saya.” Lirihnya.
“Sama-sama makan nasi, ‘kan?!”
“Di sini, nggak ada yang mau berteman sama saya.”
“Ada. Pasti ada. Masa sih kamu sekolah di sini dua tahun lebih masih mau terus menutup diri.”
“Iya! Nanti saya akan mencari partnernya, Bu!” Ucap Teresa finish walaupun sangat enggan.
Mau bagaimana lagi! Di sini memang dia yang akan teraniaya.
“Saya sarankan kamu mengajak Aska. Dia sangat pintar, walaupun agak pendiam juga seperti kamu. Nilai kimianya juga selalu tinggi."
Teresa mengernyit. “Aska?”
“Sudah saya duga, kamu pasti tidak kenal. Dia memang tidak terlalu menonjol di sekolah. Kamu datang saja ke kelas XII IPA 3. Namanya Aska Fernando Pratama.”
__ADS_1