
“Siapa, bos, cewek tadi? Cewek lo?” Pandangan Darren masih tetap terfokus pada layar besar di hadapannya. Kedua tangannya pun dengan lincah menggerak-gerakkan stik PS yang ia pegang.
Keempatnya kini berakhir di rumah Aska. Seperti setiap harinya, pulang sekolah pulang ke rumah Aska, makan di rumah Aska, tidur siang di kamar Aska. Baru menjelang malam mereka pulang ke rumah masing-masing.
Rumah Aska bahkan lebih mirip penampungan.
Untung Aska baik.
Ini semua salah Mamanya yang menyuruh mereka menganggap rumahnya seperti rumah sendiri. Sekarang mereka benar-benar menerapkannya dengan baik.
“Nggak kenal!” Sahut Aska acuh sambil memainkan ponselnya.
“Tapi ceweknya kenal lo! Manggil-manggil nama Aska dengan manisnya tadi.” Keno - Teman Aska yang paling pendiam - ikut nimbrung.
“Sok kenal. Lo tahu ‘kan gimana mempesonanya gue?!” Semua mempraktekkan gaya muntah.
Darren jadi mengingat sesuatu. “Dia minta lo jadi partner lomba katanya. Lo nggak minat?”
Aska menggeleng acuh. Tidak mau meladeni teman-teman tidak bergunanya.
“Ayolah bos ikut! Nanti mintain nomor hp sama alamat dia. Jomlo kurang belaian ini.” Darren merengek. Sampai melupakan game yang tengah ia mainkan.
Keno mengumpat, melempar stik playstation yang dimainkannya. Padahal sudah hampir menang.
Aska menaikkan sebelah alisnya. “Lo naksir?”
“Nggak juga, sih! Buat senang-senang aja.”
“Tetap nggak mau gue ikut lomba. Buang-buang waktu!”
“Manis, loh, bos, anaknya. Kecil. Bikin gemas gitu.”
“Usaha sendiri kalau gitu.” Aska berusaha memberikan solusi terbaik.
Darren berpikir lama. “Nggak jadi, ah! Kelihatan polos banget gitu anaknya.”
Senka yang sejak tadi memilih diam akhirnya ikut menyahut. “Sukanya yang kayak Vivi ya, Ren?”
Darren menggerdikkan bahu. “Udah putus gue.” Katanya santai. Sejak pagi tadi saat Aska memintanya Darren benar-benar langsung memutuskan Vivi.
“Kenapa?” Senka terlihat penasaran. “Lo kayak cinta banget gitu sama dia? Walaupun gue benci setiap lo sama dia selalu bikin mata kita ternodai.”
“Ada yang lebih menjanjikan.”
Merasa pembicaraan mulai ngawur, Aska beranjak keluar kamarnya.
“Kemana, bos?”
“Keluar sebentar!” Aska menutup pintu. Tidak ada yang mengejar ataupun mencegah. Memang tamu kurang ajar.
Mengeluarkan motor kebanggaannya dari garasi, kemudian menarik gas meninggalkan rumah. Teman-temannya tidak akan ada yang peduli jika Aska pergi. Dijamin.
Sepuluh menit mengendarai motor, Aska berhenti. Entah apa alasannya, Aska berhenti di Cafe. Masih berseragam pula.
Tadi ia berniat ingin ke Alfamart mencari camilan, tapi Cafe bercat coklat itu justru menarik perhatiannya. Terlihat belum lama Cafe ini dibangun. Buktinya Aska baru sadar ternyata ada Cafe diujung jalan menuju perumahannya.
Aska masuk dengan santai. Memilih kursi paling dekat dengan barista. Memperhatikan orang membuat kopi adalah hobinya. Sejak lama ia ingin mencoba menjadi seorang barista, tapi Mamanya tidak mengizinkan. Padahal apa salahnya menjadi seorang barista?
Pelayan datang.
“Mau pesan apa, Mas?”
Aska mendongak. Pelayan itu nampak terkejut menatap Aska hingga menjatuhkan pulpennya. Aska sama terkejutnya. Mengambil pulpen itu kemudian menyerahkannya kepada Teresa.
“Aska?!”
Aska tahu dunia ini sempit. Tapi kenapa ternyata sesempit ini. “Lo kerja?”
Teresa tersenyum canggung. “Iya, baru mulai minggu lalu. Mau pesan apa?”
“Cofelatte.” Teresa mengangguk, lalu mencatat.
“Oke, Ada yang lain?”
Aska menggeleng samar.
“Lima menit lagi pesanan datang.” Ucap Teresa kemudian berbalik menuju meja barista. Meminta seorang barista untuk membuatkan pesanannya.
Aska tidak habis pikir, kenapa justru bertemu bocah itu di sini? Ia bekerja? Memangnya boleh bekerja saat masih sekolah? Bukankah anak SMA kebanyakan selalu nongkrong di Mall bersama teman-temannya siang malam. Kenapa bocah itu justru berada di sini?
Aska jadi memikirkannya padahal tidak penting!
“Ini Cofelatte pesanannya, selamat menikmati.” Teresa menaruh cangkir itu dengan hati-hati. Semua itu tidak luput dari perhatian Aska. Ia ingin sekali menanyakan sesuatu tapi merasa tidak enak. Jadi ia memilih menelan kembali unek-uneknya, meraih cangkir itu kemudian meminumnya perlahan. Kebiasaannya, sebelum meminumnya ia pasti menghirup aroma minuman itu lekat-lekat sambil memejamkan mata. Aroma kopi selalu membuatnya merasa nyaman.
Krekk..
Terdengar tarikan kursi. Matanya yang semula terpejam kini terbuka. Cewek itu duduk di hadapannya.
“Aska udah pikirin semuanya?” Tanyanya. Aska paham arah pembicaraan ini.
“Gue nggak mau.”
“Aku mohon banget sama Aska sekali ini aja. Aku nggak ada teman partner lain selain Aska.”
“Kalo nggak ada teman ngapain ikut? Lagian bukannya udah kelas dua belas nggak wajib ikut lomba?”
__ADS_1
“Yaudah kalo Aska nggak mau.” Teresa beranjak.
“Gue belum bilang nggak mau,”
Teresa tersenyum. “Tapi mau bilang nggak mau ‘kan?”
Aska merapatkan bibir. “Apa sih yang bikin lo terobsesi sama perlombaan ini? Kepala sekolah janjiin lo apa?”
Teresa terlihat terkejut, lalu kembali memperlihatkan senyumnya. “Nggak ada.”
“Nggak ada?”
“Aku kerja dulu ya, nggak enak sama Pak bos.” Teresa berbalik, berjalan menghampiri pelanggan yang baru saja duduk.
Aska memperhatikannya. Ada sesuatu yang tidak beres dengan cewek itu.
***
Teresa telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Piring-piring sudah ia cuci bersih. Pelanggan juga tinggal dua. Tentu saja, setengah jam lagi Cafe tutup. Ia meregangkan otot-ototnya sebentar sebelum kembali membersihkan Cafe setelah kedua pelanggan itu pergi.
Bekerja memang melelahkan, apalagi gajinya sebenarnya tidak sepadan. Teresa juga hanya pekerja part time, untuk biaya hidupnya sendiri sebenarnya tidak cukup.
Seandainya lomba itu...
Gawat! Teresa kembali mengingatnya. Teresa tidak memiliki partner lomba. Ia harus bagaimana. Aska jelas tidak mau membantunya. Apa ia mundur saja? Toh, perlombaan tinggal sebulan lagi.
Sepertinya iya, sudah tidak ada harapan. Memikirkannya membuat Teresa semakin capek saja. Besok ia akan berbicara kepada Bu Devi untuk mengganti dirinya mewakili Sekolah. Teresa harus lebih mensyukuri semuanya. Lagipula ia sudah memiliki pekerjaan, tidak boleh bergantung terus pada satu hal.
Ya, Teresa harus berubah mulai sekarang. Batinnya mulai bertekat.
“Capek?”
Teresa mendongak, menatap cowok di hadapannya. Ia tersenyum. “Enggak kok! Aku malah senang bisa kerja. Daripada di rumah bingung juga mau ngapain.”
Orang itu menarik kursi, ikut duduk di samping Teresa.
“Kalau capek bilang,”
“Mas Andre nggak perlu khawatir. Aku bukan anak kecil yang baru gitu aja udah ngeluh!”
“Iya,” Andre tersenyum sekilas. “Teresa yang paling kuat.”
Ia harus banyak bersyukur karena Andre mau mempekerjakannya. Tidak banyak yang mau menerima anak kemarin sore sepertinya. Semua menganggap anak SMA belum bisa apa-apa selain ngumpet di ketek Mamanya, tapi Andre sudah mempercayakannya untuk menjadi pelayan. Cowok itu memang baik.
Teresa senang, Andre mau menampungnya menjadi salah satu pekerja.
Benar! Cafe ini memang milik Andre. Dirintis dari nol menggunakan uangnya sendiri. Baru dibuka bulan lalu. Andre sebenarnya masih seorang mahasiswa semester 11. Ia bahkan tidak skripsi-skripsi karena terlalu malas menghadap dosen pembimbing, sehingga memilih membuka usaha sendiri.
Katanya nanti juga lulus sendiri kalo sudah semester 14.
Teresa kadang ingin menjadi seperti Andre yang selalu memikirkan setiap masalah dengan santai. Sebenarnya Teresa tidak terlalu akrab dengan Andre. Awalnya.
Hanya sebatas kenal sebagai penolongnya sewaktu SMP.
Saat itu, Teresa pulang menggunakan bus seperti biasa. Uang yang sengaja ia sisihkan untuk membayar bus ternyata jatuh entah dimana. Untung ada cowok berperawakan tinggi yang dengan baik hati membayarkan ongkosnya. Cowok itu entah kenapa bisa menjadi malaikatnya hingga kini. Ia akan selalu mensyukuri pertemuan itu.
Andre. Sosok yang kini menjadi seperti kakaknya. Sosok pelindung yang selalu ada saat Teresa membutuhkan. Ia harus banyak-banyak berterima kasih kepada Andre.
“Mas?”
“Hmm.” Andre bergumam. Menyandarkan kepalanya pada meja. Kasihan, Andre pasti merasa kelelahan.
Teresa tersenyum melihatnya. Entah berapa kali ia tersenyum dalam sehari. Senyum yang membuat orang lain tidak dapat mengetahui kebenaran keadaannya saat ini.
“Kalau nggak ada mas Andre aku nggak akan pernah bisa bayangin nasib aku sekarang. Mungkin akan lebih buruk dari ini.”
Andre mendongak, lalu tersenyum. Ah, cowok itu selalu saja tersenyum seperti itu. Senyumnya murahan sekali. “Kalo gitu bergantung terus sama, Mas!”
Teresa cemberut. “Justru itu yang aku takutin. Karena terlalu terbiasa bergantung sama mas Andre, aku jadi nggak bisa ngelakuin apa-apa sendiri.”
“Maksudnya?”
“Kayak sekarang ini, kerjaan aja aku nggak bisa cari sendiri. Ezra juga mulai cari-cari Mas Andre terus setiap ada masalah kecil. Aku makin nggak enak! Keluargaku malah jadi bebannya Mas Andre.”
“Mas nggak pernah merasa itu sebagai beban.”
“Tapi aku merasa,” Teresa menunduk. Menyandarkan kepalanya pada meja.
“Kalau gitu jadi beban Mas terus biar Mas senang.”
Baru ingin memejamkan mata, Teresa menegak. Tidak habis pikir dengan cowok berusia 24 tahun itu. “Mas Andre terlalu baik.”
“Mas nggak sebaik itu,”
“Mas sebaik itu! Jauh lebih baik lagi kalau skripsinya cepat dikelarin. Judul yang mas Andre buat itu bagus banget. Sayang kalau nggak dipakai.”
Andre mengumpat, lalu terhanyut dalam tawa. “Dosen pembimbing mas galak. Bikin males. Mas kayaknya nggak akan jadi sarjana.”
“Mas Andre pesimis terus.”
“Mas kayaknya mau jadi juragan cafe aja.”
“Kasihan orang tua mas Andre pasti tekanan batin!”
Andre kembali tertawa. “Sok tahu?!”
__ADS_1
“Dulu Ibuk sering nangis kalau aku nakal, nggak mau nurut sama dia.”
Begitukah?
Andre merasa tersentil. Bibirnya yang semula merekah perlahan surut. Apa Mamanya kecewa padanya karena ia tidak bisa menjadi anak yang membanggakan?
“Ayo Mas antar pulang!” Andre beranjak. Menggenggam tangan Teresa erat. Teresa tidak menolak, meraih tas di depannya sambil berjalan di belakang Andre keluar dari Cafe yang kini sudah sepi.
***
“Makasih Mas, udah nganterin.” Teresa tersenyum, lalu berbalik, keluar dari mobil.
Andre ikut keluar.
“Mau mampir, Mas?” Teresa menawarkan.
“Nggak usah. Mas nggak bawa apa-apa, nggak enak sama Tante.”
Selalu saja seperti ini. Andre terlalu berlebihan menganggap keluarga Teresa tidak akan menerima kedatangannya jika tidak membawa sesuatu. “Ezra pasti senang ketemu Mas Andre!”
“Mas mampir sebentar, deh!”
“Gitu dong.” Teresa sumringah. Saking senangnya, ia sampai menarik lengan Andre tidak sabaran memasuki rumah.
“Assalamu'alaikum, Buk. Resa pulang!”
“Mas Andre duduk sini,” perintahnya kemudian. Andre menurut.
“Ibuk kayaknya udah tidur.” Katanya saat tidak terdengar sahutan dari sang Ibu. “Ah iya, Mas Andre mau minum apa?”
“Apa aja yang penting air. Tapi jangan air pelet.” Katanya bercanda.
“Nggak usah dipelet juga udah suka.” Saut Teresa juga bercanda.
Andre tersentak, setelahnya kembali menguasai suasana.
“Geer!!”
“Emang!” Teresa menjulurkan lidah sebelum menimbang-nimbang. “Gula kayaknya habis deh, Mas. Air putih hangat yang paling enak kalau malam-malam gini.” Katanya tertawa kemudian meninggalkan Andre di ruang tamu.
Andre terkekeh. Ada-ada saja Teresa itu.
Di samping itu, sebelum mengambilkan Andre minuman, Teresa memanggil Ezra -Adiknya- terlebih dahulu. Teresa membuka pintu kamar Ezra pelan-pelan, takut jika Adiknya itu sudah tertidur.
Lampu masih menyala. Berarti Ezra masih bangun. Teresa membuka pintu semakin lebar. Ia tersentak, Ezra masih saja belajar terus siang malam. “Ezra?! Kalau capek tidur, jangan belajar terus,”
Ezra menoleh. “Nggak capek kok, Mbak.”
“Jangan bohong,”
“Aku ‘kan udah kelas 3, Mbak! Harus banyak-banyak latihan soal.”
“Tapi nggak perlu maksain diri.” Teresa sedikit membentak. Mau bagaimana lagi, Adiknya itu selalu saja membuatnya naik darah.
Ezra beranjak, menghadap Teresa yang masih berdiri tegap di samping tempat tidur.
Teresa sedikit mendongak, menatap Ezra yang hanya berjarak beberapa senti dari tempatnya menapakkan kaki. Bahkan Adiknya sudah lebih tinggi darinya. Mata, hidung, bahkan bentuk tubuhnya sangat mirip dengan almarhum Ayah mereka. Ezra selalu mengingatkannya pada sosok itu. Orang yang membuat keluarganya sendiri menderita.
Mengingat semua itu membuat Teresa semakin sakit hati.
Walau saat itu Teresa masih kecil, tapi Teresa tahu semuanya. Bahkan Teresa lebih mengetahui apa yang Ibunya tidak ketahui hingga kini. Sebuah rahasia, yang lebih baik ia pendam seorang diri. Karena jika keluarganya mengetahui itu semua, akan semakin hancur keluarganya.
“Aku ‘kan pingin kayak Mbak Resa yang nggak perlu bayar uang sekolah pusing-pusing. Kalau aku nggak belajar, gimana aku bisa dapat beasiswa masuk SMA nanti. Aku nggak mau nyusahin Mbak Resa sama Ibuk terus.”
Teresa memandang Ezra dalam. Ingin sekali menangis jika Ezra mulai mengoceh seperti itu. “Mbak masih kuat biayain kamu. Apalagi ada lomba sebulan lagi.”
“Uang hasil lomba itu buat Mbak, bukan buat aku. Mbak harus gunain uang itu untuk keperluan pribadi.”
“Mbak nggak ada keperluan pribadi.” Teresa menjawab datar.
Ezra menunduk. “Mbak Resa kok malam banget pulangnya?” Tanyanya sengaja mengalihkan pembicaraan.
“Iya, Mbak bakalan sering pulang jam segini. Ibuk nggak nanyain Mbak ‘kan?”
Ezra menggeleng. Teresa dapat bernapas lega. “Sini, aku pijitin.” Ezra duduk di ujung tempat tidur sambil menepuk-nepuk kasur beberapa kali. Meminta Teresa ikut duduk.
Teresa tersenyum. “Nggak usah. Ada Mas Andre tuh di depan.” Katanya sambil berbalik ingin keluar.
Belum sampai ambang pintu, Ezra kembali memanggilnya. “Mbak Resa?”
Teresa berbalik.
“SPP sekolah 4 bulan terakhir belum dibayar. Bagian tata usaha udah maksa-maksa buat cepat-cepat lunasin.”
Teresa menerawang. Mengembuskan napas sangat panjang sebelum akhirnya tersenyum dan mengatakan. “Bilang sama guru kamu, Bulan depan Mbak bayar lunas!” Untung ia belum jadi membatalkan lombanya.
Ezra mengangguk. “Maaf Mbak, aku tambah-,”
“Ngomong apa sih kamu!”
Ezra menunduk sambil berjalan, kembali duduk di kursi tempatnya belajar tadi. “Aku selesain satu soal dulu habis itu ketemu Mas Andre.”
Teresa mengangguk. “Banyak-banyak refreshing, Zra.”
Ezra hanya diam memegang pulpen, seolah tengah sibuk dengan bukunya.
__ADS_1
Teresa hanya menatap kosong punggung Ezra dari ambang pintu. “Satu lagi, jangan cerita soal ini sama Ibuk, apalagi Mas Andre. Kita udah terlalu banyak ngerepotin mereka.” Ucapnya sebelum menutup pintu kamar Ezra.