Chameleon Boy

Chameleon Boy
Canggung?


__ADS_3

Keduanya tampak duduk santai bersebelahan.


Pura-pura terfokus pada buku masing-masing padahal kenyataan yang ada, kecanggungan tengah menguasai keduanya. Baik Aska maupun Teresa tidak ada yang memulai pembicaraan. Saling egois satu sama lain, padahal mereka akan menjadi seorang partner.


Bu Devi juga belum menampakkan diri hingga kini.


Saat ini sudah pukul dua siang. Sekolah sudah sangat sepi, sedangkan mereka masih harus bergelut dengan buku.


Benar-benar anak rajin.


Ini mereka yang terlalu cepat sampai di perpustakaan atau Bu Devi yang terlalu lama datang?! Mereka hampir berubah menjadi fosil saking tegangnya.


Teresa tidak tahan. Memilih memulai obrolan. “Aska, kenapa kamu mau ikut?”


Aska mengalihkan pandangannya dari buku. Melirik cewek di sampingnya sekilas kemudian fokus menghadap depan. “Emang pertanyaan lo penting?” Aska balik bertanya.


Tanpa sadar Teresa mengangguk-anggukkan kepala. “Pentinglah. Waktu di cafe Aska udah bilang nggak mau, tapi mendadak mau kemarin.”


“Emang gue bilang nggak mau?”


“Ya, enggak sih. Tapi kata-kata Aska bikin aku sempat pesimis.”


Aska berpikir. Apa sebenarnya yang membuat ia mau mengikuti lomba ini? Apa? “Simple, sih. Pingin buat nyokap bangga sama pencapaian yang akan gue raih.” Itu jelas bukan alasannya.


Teresa berbinar. Merasa kagum dengan jawaban si anak pendiam. “Aska anak yang berbakti.”


Aska hampir saja tertawa mendengar celotehannya. Apa-apaan cewek ini membawa kata berbakti di hadapannya. Tentu saja ia berbakti. Kalau tidak, mana mau ia diatur masa depannya oleh orang tuanya itu.


“Aska pintar. Kenapa selama ini nggak pernah di tonjolin. Aska juga kayaknya nggak pernah ada ikut ekskul?!” Cerocos Teresa tanpa sadar.


“Jangan sok ikut campur!” Aska memperingatkan, sebelum cewek itu berkata lebih jauh dan membuatnya jengah.


Nada bicaranya terdengar membentak hingga membuat Teresa tersentak.


Berkedip beberapa kali, lalu tersenyum. Teresa berpaling, kembali menghadap bukunya.


Selesai. Percakapan hanya cukup sampai di situ. Keduanya kembali diam satu sama lain. Walau sebenarnya Teresa sedang merutuki dirinya sendiri karena bersikap terlalu cerewet siang ini.


Harusnya tidak bersikap selancang itu. Teresa mendadak rindu pekerjaannya.


Harusnya Teresa sudah mondar-mandir melaksanakan tugasnya menjadi seorang pelayan. Tapi karena bimbingan ini, Teresa harus izin terlambat datang kepada Andre.


Tentu saja Andre langsung mengizinkan.


Tapi Teresa harus tetap semangat. Semuanya demi Ezra.


Dua puluh lima menit lebih tiga puluh tujuh detik, tapi mereka masih saling diam satu sama lain!


Petugas perpustakaan sampai heran memandangi mereka. Seperti perang tak kasat mata.


Teresa membaca sambil sesekali komat-kamit. Berdoa kepada Tuhan agar Bu Devi cepat muncul di hadapan mereka dan memulai bimbingan dengan senyum cerah seperti biasa. Setidaknya memandangi senyum Bu Devi bisa ikut meruntuhkan kegelisahan yang ada pada diri Teresa.


Tapi itu hanya ekspektasinya.


Nyatanya... Bu Devi bahkan tidak datang-datang sampai sekarang.


Kenapa jadi seperti ini?!


Teresa harus bagaimana? Ia mulai merasa tidak nyaman! Merasa sesak!


Merasa dimusuhi!


Merasa.. Dikucilkan..


Bahkan ini jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan!


Entah kenapa tapi Teresa merasa kerjasama ini tidak akan berjalan mulus. Di lain sisi, Aska justru duduk santai sambil mengerjakan soal-soal yang ada di bukunya.


Bersikap bodoamat!


Selalu saja seperti itu. Tidak pernah sekalipun memperhatikan keadaan sekitar. Tidak ada sedikitpun di benaknya untuk bersikap sedikit ramah kepada si pararel satu.


Biarlah. Biarkan mereka sama-sama bergelut dengan pemikirannya. Toh, keduanya juga tidak pandai menarik simpati satu sama lain.


Petugas perpustakaan berjalan menghampiri mereka. Teresa mendongak, kemudian tersenyum ramah. Aska? Jelas hanya memandangnya datar.


“Teresa dan Aska?”


Mereka saling melirik, kemudian menganggukkan kepala sebagai jawaban.


“Bu Devi berpesan kepada saya, katanya hari ini dibatalkan dulu saja bimbingannya. Soalnya beliau sedang ada urusan yang lebih penting.”

__ADS_1


Aska mengumpat. Menyumpah serapahi siapapun walau hanya dalam hati. Tahu begini dia pulang saja. Sedangkan Teresa, ia tersenyum. Menarik napas sangat panjang, kemudian mengucapkan terimakasih kepada petugas.


Aska menatap Teresa heran. Kenapa cewek ini selalu tersenyum?


Setelah petugas pergi, Teresa segera membereskan bukunya cepat-cepat.


Ia harus segera bekerja. Di waktu seperti ini, cafe pasti sedang rame-ramenya. Ia tidak mau membuat Andre kewalahan karena pekerjanya mangkir satu.


Teresa beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Aska yang masih diam di tempatnya.


***


Teresa menatap pengendara yang berlalu-lalang dengan gelisah. Tidak ada satupun bus yang melewati halte ini sejak Teresa sampai.


Apa sopir bus mendadak tidak butuh uang?!


Teresa menarik napas, berusaha sabar. Ia mendongakkan kepalanya, menatap indahnya langit di atas sana. Sedikit menenangkan. Hitam sekali langitnya. Sebentar lagi pasti turun hujan. Teresa lupa memasukkan payung ke dalam tasnya.


Cewek yang duduk di sampingnya mulai mengajak bicara. Sepertinya anak SMA-nya juga.


“Busnya lama ya?” Katanya.


“Iya,”


“SMA Harison?” Cewek itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Teresa.


Teresa tersenyum, menjawab seadanya. “Iya,”


Cewek itu mangut-mangut. “Kelas dua belas juga?”


“Iya,”


“Kelas?”


“XII IPA 1.”


“Pintar lo. Gue IPA 3.”


Teresa hanya mangut-mangut. Oh, sekelas dengan Aska.


Cewek itu tertawa. “Lo pendiam banget ternyata. Sesuai ekspektasi gue.”


Teresa mengernyit. Kalau dia bilang Teresa pendiam, maka akan Teresa katakan bahwa cewek di sampingnya ini sok akrab. Tapi itu hanya ada dalam pikirannya. Kenyataannya ia justru balik bertanya. Pura-pura bodoh. “Maksudnya?”


“Teresa,”


“Nama lo bagus! Gue Dini. Queen Andini Almahendra.”


Teresa terlihat takjub. Menarik kedua sudut bibirnya semakin ke atas.


Namun itu hanya bertahan beberapa saat. Senyumnya seketika luntur saat melihat mobil berhenti tepat di depannya. Digantikan dengan kernyitan bingung. Ia seperti pernah melihat mobil seperti itu sebelumnya. Sepertinya ingin menjemput salah satu pengunjung halte ini. Teresa menggerdikkan bahu acuh.


Seseorang tampak membuka jendela.


“Oh, Hai, Ka!” Dini melambaikan tangan. Teresa ikut menolehkan pandangan kepada objek yang Dini lihat.


Aska?


Aska tersenyum tipis. “Nunggu siapa, Din?” tanyanya.


“Sopir gue. Tapi masih di bengkel sebentar.” Katanya mengadu. Kini, nadanya terdengar sedikit manja.


Pantas saja Teresa jarang melihatnya di halte ini. Ternyata anak orang kaya.


“Oh itu dia.” Dini menunjuk sebuah mobil hitam mengkilap. Sopirnya sudah datang? Pas sekali?! Yang Teresa lihat, sepertinya mobil mahal. Ia tidak tahu-menahu tentang jenis mobil berkelas, jadi tidak bisa menjabarkan jenis mobil yang dimiliki oleh cewek itu.


Dini beranjak saat mobil itu berhenti di depan mobil Aska.


Sebelum pergi, Dini menoleh kembali kepada Teresa. “Oh ya, Teresa. Boleh minta nomor lo?” Dini menyerahkan ponselnya.


Teresa mengangguk. Meraih ponsel Dini dan mulai mengetikkan nomor WhatsApp-nya.


“Makasih. Gue suka berteman sama lo. Gue harap lo mau berteman sama gue juga.” Dini berkata penuh harap.


Teresa hanya tersenyum. Tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Lebih tepatnya ia bingung harus menjawab apa.


“Gue anggap lo mau!” Katanya senang kemudian melambaikan tangan sekilas kepada Teresa. Teresa balas senyuman lambaian tangan itu. Dini masuk ke mobilnya.


“Bye, Aska.” Katanya lagi sebelum menutup pintu mobil. Mobil tampak berjalan menjauh dari hadapan Teresa. Semakin mengecil, dan hilang di persimpangan.


Bertepatan dengan itu, hujan turun cukup deras di depan matanya. Teresa menatap langit-langit khawatir. Tidak menyadari jika Aska masih di sana.

__ADS_1


“Gue antar.” Ucap Aska setelah diam cukup lama. Teresa pikir Aska hanya ingin menyapa Dini kemudian pergi.


“Nggak perlu,”


“Hujan tambah deras. Bus juga jarang lewat kalau jam segini.” Aska sedikit berteriak. Hujan semakin lebat, membuat suaranya pasti terdengar tidak jelas jika berbicara dengan jarak sejauh ini. Aska masih mencoba berbaik hati untuk menawari.


Teresa tampak menimbang-nimbang. Kalau ia ikut dengan Aska, maka pasti akan sangat terasa canggungnya. Tadi saja di perpustakaan mereka seperti perang dingin. Tapi kalau tidak ikut Aska, ia akan semakin telat masuk kerja, atau kemungkinan terbesar ia justru tidak bisa pulang.


Ia harus bagaimana?


“Ayo! Kelamaan!” Aska mulai tidak sabar.


Lebih baik tidak ikut saja daripada berubah jadi batu selama perjalanan. “Aska duluan aja. Aku nunggu seseorang!”


Aska mengernyit menatap Teresa. Teresa hanya tersenyum santai, berusaha meyakinkan. “Oke-,” Belum selesai Aska berbicara, petir berbunyi menggelegar. Kilatnya sampai terlihat jelas tidak jauh dari halte tempat mereka menapakkan kaki.


Teresa yang masih berdiri di tempatnya langsung menjerit, menutup kedua telinganya menggunakan tangan. Beringsut ketakutan meminta pertolongan. Badannya terduduk, bajunya basah karena terkena cipratan air hujan.


Aska ikut terkejut. Bukan terkejut karena petirnya, bahkan teriakan Teresa jauh lebih dahsyat dibanding suara petir tadi. Aska memandang Teresa sekilas, cewek itu terlihat sangat ketakutan. Ia reflek menghampirinya. Keluar dari mobil, menembus hujan yang turun semakin lebat.


Bajunya jadi basah.


“Lo nggak apa-apa?” Katanya berdiri di hadapan Teresa. Sedikit khawatir.


Teresa tidak menjawab. Masih menutupi kedua telinganya. Tubuhnya mungilnya tampak menggigil. Kepalanya menunduk dalam. Matanya pun masih terpejam rapat.


Masih terlihat sangat kacau.


Aska mulai merasa kasihan. Ia menaikkan tangannya ke udara, ingin menangkup kedua bahu Teresa, namun tertahan. Merasa ragu, namun segera ia lakukan. Mengelus-elus bahu cewek itu. Berusaha menyalurkan ketenangan.


Akhirnya cewek itu mau membuka mata. Mendongak, menatap mata teduh Aska. Seperti menyorotkan kesedihan yang amat mendalam dari pancaran kedua matanya. Aska tersenyum, berusaha meyakinkan cewek itu bahwa Teresa akan aman jika bersamanya.


“Gue antar pulang.” Aska menjulurkan tangannya, membantu Teresa berdiri. Juga menuntun cewek itu memasuki mobil. Sedikit memberikan perlindungan agar tubuh Teresa tidak semakin basah terkena hujan.


Teresa diam mengikuti. Terlihat menurut tanpa protes.


Teresa takut petir. Ia takut ketika orang berbicara keras padanya. Ia takut semua. Semua yang berhubungan dengan masa lalunya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan yang semakin menggenang.


Teresa masih enggan berbicara. Namun badannya terlihat lebih tenang. Sudah tidak semenggigil tadi.


Aska menyodorkannya air mineral.


Teresa menoleh, menatap Aska sendu lalu menerimanya walaupun enggan. Menegak minuman itu hingga tinggal sepertiga.


Tunggu, Teresa tidak minum sebanyak itu.


Teresa sontak menoleh sambil melotot tajam.


“Ini minuman siapa? Punya siapa?” Teresa bertanya panik. Masih tidak habis pikir ia bisa meminum minuman bekas orang lain. Apalagi cowok?!


Rasa takutnya terhadap petir mendadak lenyap. Kejadian ini bahkan jauh lebih mengerikan di bandingkan petir tadi.


Aska menjawab santai. “Punya gue! Kenapa? Ciuman secara nggak langsung?”


Teresa merapatkan bibir. Diam, tidak menjawab. Memilih berbalik menghadap keluar jendela. Melihat air hujan yang mengalir membasahi kaca jauh lebih menyenangkan. Merasa enggan menatap cowok di sampingnya.


Aska...menyebalkan?!


Mendengar jawaban Aska yang terlihat santai justru membuatnya merasa malu.


Aska menatap Teresa geli. Apa-apaan dia itu, hanya karena bergantian botol saja sudah heboh apalagi bila berbuat langsung.


Tanpa sadar, Aska menarik ujung bibirnya samar. Membuat lengkungan yang jarang ia perlihatkan. Hanya senyuman kecil, tapi tulus dari dasar hati.


Teresa benar-benar berbeda...


Namun di detik berikutnya, otaknya kembali berfungsi, mulai bisa mencerna semuanya. Ia tersenyum karena cewek pendek ini? Yang benar saja!


“Jalan rumah lo yang mana?” Aska bertanya sedikit ketus.


Teresa berkata tanpa menoleh. “Cafe yang waktu itu kita pernah ketemu.”


Entah Aska mendengar atau tidak, Teresa tidak peduli. Tidak sudi juga menatap wajah cowok yang sudah memberinya minum sembarangan. Teresa masih merasa sedikit kesal. Memilih mengambil ponsel dari tas dan memainkannya.


Namun kekesalan itu tidak bertahan lama, saat sebuah nomor tidak di kenal muncul di notifikasi WhatsApp-nya. Teresa tidak tahan untuk menyembunyikan senyum.


Dan jelas senyuman itu terlihat berbeda dari biasanya, membuat Aska yang menatap tanpa sengaja justru enggan mengedipkan mata.


+6281555785xxx

__ADS_1


Hai, Teresa. Gue Dini, yang tadi ketemu di halte. Save nomor gue, ya! Jangan lupa, lo sekarang udah jadi temen gue. Besok kita wajib ke kafetaria bareng.


Apa kini Teresa boleh berharap? Teman satu saja boleh ‘kan?


__ADS_2