Chameleon Boy

Chameleon Boy
Malapetaka


__ADS_3

Aska menyesap alkoholnya, sedikit demi sedikit. Ia tidak berniat mabuk malam ini. Hanya ingin menikmati malamnya bersama teman-teman yang jarang sekali bisa ia temui.


Ya, mumpung Larina sedang tidak bawel, Aska meminta izin untuk menginap di rumah Darren. Berhubung ini malam minggu, Larina langsung menyetujui tanpa ragu.


Dan berakhirlah mereka di sini, terdampar di rumah yang biasa mereka sebut 'Markas'. Markas mereka memang kecil, hanya rumah sederhana tak berpenghuni di tepi jalan raya. Pandu yang menemukannya. Teman Aska jika sedang menjadi anak nakal. Pandu hanya spesies cowok rusak tidak berguna. Aska heran, kemana perginya orang tuanya sampai putranya menjadi seperti itu. Tatonya bahkan sampai menyebar ke seluruh tubuh.


“Bos, gue dengar Pandu mau bikin perhitungan sama orang yang udah bikin dia babak belur waktu itu.” Darren berbisik, tepat di telinga Aska agar tidak ada orang lain yang mendengar.


“Buat apa?”


“Tauk! Pandu lo ladeni. Tuh orang nggak akan mau ngalah sama siapapun. Batu, sih!”


Aska menurunkan botol minumannya dan mengembalikannya ke meja. Kemudian berdiri, menghampiri Pandu.


“Luka lo nggak seberapa, kenapa harus balas dendam? Lo mau bikin suasana tambah panas. Ayolah, cuma gara-gara kalah balapan sampai kayak gini. Bocah lo!” Aska berteriak, menunjuk-nunjuk wajah Pandu yang duduk sambil mengembuskan rokoknya.


Pandu masih bertingkah santai. “Ini soal harga diri, bro. Kalau kita nggak melakukan perlawanan, mereka bakal mikir geng kita cupu. Lo mau itu terjadi?”


“Geng? Gue nggak pernah merasa kalau kita geng.” Aska mengernyit. Benar, ia memang mengangkap pertemanan mereka hanya pertemanan biasa, bukan geng seperti yang Pandu katakan. Aska takut, jika ia melakukan keributan, akan terendus oleh Papanya.


“Kita ini geng! Penguasa kota. Jadi kita harus balas dendam biar kita nggak dianggap lemah.”


“Tapi nggak malam ini juga. Tanpa latihan? Lo mau kita kalah sebelum perang?!” Walau dirinya bisa bela diri, tapi jika menyerang orang belum tentu. Karena dia belum tahu bagaimana lawannya nanti.


“Tanpa latihan juga kita bakalan menang kalau lawannya Satria doang.”


“Kenapa lo bisa yakin banget kalau cuma Satria?”


“Mau ikut atau nggak terserah lo! Kita berangkat sekarang.” Pandu berdiri, menginterupsi teman-temannya. Ada sekitar delapan orang, belum termasuk Aska dan Darren. Mereka semua berjalan keluar markas, menuju lokasi yang sudah dipastikan akan ada objek yang akan mereka habisi malam ini.


“Gimana, bos?” Darren bertanya mendekati Aska.


“Gimanapun juga, mereka teman kita. Lo siapin senjata sekarang!” Aska berlari mengejar Pandu, diikuti Darren yang membawa sebuah senjata api yang ia sembunyikan di kantong belakang celananya.


Malam ini, akan menjadi malam yang panjang.


***


Semua mengikuti Pandu, berjalan mengendap-endap mengintai musuh yang akan mereka habisi. Sekitar sebelas orang, semuanya menyiapkan senjata yang mungkin akan sangat berguna. Masih mereka sembunyikan, hanya akan mereka gunakan ketika musuh menggunakan cara licik untuk menyerang.


Semuanya menatap sekeliling dengan waspada. Musuhnya kali ini bukan orang biasa, mereka psikopat gila.


“Gue kebelet masa.” Darren menceletuk takut, tangannya bergetar hebat ketika mereka mulai memasuki sebuah gedung tua yang bahkan lebih mirip dengan sarang hantu.


Seseorang bertepuk tangan, membuat semuanya terkesiap. Aska menatap sekeliling. Memberi intruksi Darren, meminta senjatanya. Darren memberikannya dengan cepat.


“Kalian datang jauh lebih cepat dari perkiraan.” Semua terkesiap. Ini jebakan! Satria sudah mengetahui jika mereka akan datang malam ini.

__ADS_1


Terlihat beberapa orang berbadan kekar dengan banyak tato sudah berdiri tidak jauh di hadapan mereka. Ada sekitar lima orang. Dari jumlah jelas orang-orang itu kalah telak, tapi untuk kemampuan, entahlah.


Salah satu diantaranya jauh lebih muda dibanding yang lain. Tubuhnya sangat tinggi, juga tidak terlalu kekar. Badannya bersih tanpa cacat, bahkan tidak ada satupun tato yang terlihat. Dia orang yang tadi berbicara. Sepertinya dia dalang dari semua kericuhan yang terjadi.


“Pandu,” Orang itu menyeringai. “Terakhir kita ketemu, lo berakhir di rumah sakit. Kayaknya lo belum kapok!”


“Satria,” Pandu ikut menyeringai. “Dari dulu sampai sekarang, lo masih aja manja. Nggak bisa lawan sendiri, sampai lo pakai bodyguard bison sebanyak itu.”


Darren menceletuk. “Si Pandu nggak ngaca kali kalau dia aja bawa pasukan se-RT.” Bisiknya pada Aska. Aska memintanya diam. Darren langsung merapatkan bibir.


“Kalau berani kita lima lawan lima, itupun kalau lo bisa jamin bakal selamat setelah ini.”


Pandu berpikir beberapa saat. “Oke,” Lalu menginterupsi beberapa temannya. “Aska, Debo, Agam. Lainnya mundur.” Pandu mulai memilih beberapa temannya yang sekiranya cukup bertalenta. Aska mengangguk siap.


Darren bernapas lega, setidaknya ketampanannya tidak akan berkurang karena ini.


“Oh, satu lagi. Darren! Lo maju sama kita.”


“Gue, juga?” Darren menunjuk dirinya sendiri tak percaya. Pandu mengangguk, sedang Darren mendengus.


“Gimana kalau kita mulai sekarang?” Satria bersiap.


Pandu memberi intruksi untuk maju. Semua ikut bersiap memasang kuda-kuda. Aska langsung maju paling depan, berlagak santai dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana.


Aska terlebih dahulu melayangkan aksinya, menendang perut pria berbadan besar itu hingga tersungkur. Semua terkesiap, lalu saling baku hantam satu sama lain. Ini bukan salah satu strateginya, Aska membuat Pandu tersentak. Pria yang Aska tendang justru menyeringai membuatnya semakin mengepalkan tangannya emosi. Menonjoki perut pria itu bertubi-tubi hingga preman itu kembali tersungkur. Tidak terdapat perlawanan, Aska mengernyit heran. Tanpa Aska sadari, Satria telah mengalahkan Pandu dan menonjok wajahnya dari belakang hingga membuatnya kelimpungan. Sial, Bibirnya sobek.


“Bos, awas!” Darren berteriak. Sebuah kayu mendarat tepat di bahunya. Aska menjerit, merasakan punggungnya seakan remuk. Ia terjongkok memegangi bahu.


Satria mendorongnya kasar. Aska kalah, ia terkulai lemah dengan tubuh terlentang. Satria kembali menginjak perutnya. Aska terbatuk.


“Tangguh juga lo ternyata.” Satria menyeringai. “Lihat teman lo, Pandu. Dia cuma sok jagoan tapi baru dipukul sekali langsung pingsan.” Satria menunjuk Pandu yang sudah tidak sadarkan diri bersama Darren yang masih berusaha membangunkannya. Semua pasukan Satria sudah berhenti menghajar karena sang Pandu sudah terlebih dahulu kalah, permainan tidak menyenangkan lagi untuknya.


“Gue belum kalah.” Aska tersenyum skeptis. Masih berusaha menantang. Satria mengangkatnya, memaksanya berdiri dengan mencengkram bahunya kuat-kuat. Aska merintih, merasakan bahunya yang semakin sakit.


Satria terus mencengkramnya, semakin kuat, tanpa pengampunan. Aska melemas, rasanya seperti tertimpa semen ratusan kilo. Aska terus berteriak merintih, sedangkan Satria merasa kemenangan semakin di depan mata. Aska tidak memiliki pilihan lain, selain...


Dorrr...


***


“Lo gila, bos!! Lo gila.” Darren terus berjalan ke sana kemari seperti cacing kepanasan di kamarnya. Sudah dua puluh menit, tapi ia belum juga berhenti. Aska mendengus, sambil tetap membersihkan luka di wajahnya. Sendiri. Darren memang tidak pernah perhatian.


“Anjir, gue masih nggak percaya lo ngelakuin itu.” Darren mendudukkan diri, di samping Aska. Darren menatapnya penuh, lalu memutar bola mata jengah. “Sini gue bantuin.” Katanya lalu merampas kapas yang Aska pegang.


Cowok itu menyeringai. “Peka juga lo akhirnya.”


“Terus ini gimana, lo udah nggak aman setelah ini. Katanya dulu waktu lo gabung sama Pandu cuma main-main. Nggak serius, nggak akan bikin ulah. Tapi ini apa, lo bakalan punya musuh, bos, setelah ini.” Darren terus saja mengomel sambil membersihkan luka Aska menggunakan alkohol.

__ADS_1


“Gue nggak sengaja. Bahu gue sakit dicengkram kuat banget. Lo nggak ngerasain jadi gue. Terus ini juga gimana sekarang bahu gue masih kebas gini.”


“Bahu lo nggak penting sekarang!”


“Nggak penting lo bilang?!”


“Bos! Dengarin gue, bahu lo nggak bakalan retak, patah, apalagi remuk. Tapi sekarang ini keselamatan lo, bos! Gue khawatir. Gue udah tahu Satria itu siapa, dia teman kuliahnya Pandu. Mereka musuhan dari jaman orok entah karena apa. Bapaknya juga katanya pebisnis kotor yang selalu menghalalkan segala cara buat dapatin apa yang mereka mau. Benar kata Pandu, Satria itu sebenarnya anak manja yang apa-apa ngelibatin Bapaknya. Bapaknya loh ini, siap-siap aja bokap lo juga tahu semuanya.”


Aska mendengarkan dengan saksama. Ia tidak berpikiran sampai ke situ. Benar juga, bagaimana jika Papanya tahu hal ini. Hal yang dilakukan Aska sudah salah satu tindakan kriminal. Ia menembak orang, bukan hewan. Ia bisa saja dipidana jika memang Ayah Satria orang yang seperti Darren bilang.


“Masalah kecil aja, bakal gue beresin.” Maaf saja, mulut dengan hatinya memang saat ini tidak bisa sejalan.


“Lo pikir tinggal kedip masalah kelar! Terserah lo lah, gue nggak ikut-ikutan masalah ini.” Darren menutup alkohol kemudian menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ini sudah pukul setengah dua pagi, Darren tidak mau telat bangun dan berakhir diomeli mamanya.


Aska masih berpikir, apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?!


***


Aska berjalan mengendap-endap memasuki rumahnya sendiri. Ia sudah pakai masker, jadi bibirnya yang sobek tidak akan terlihat oleh Larina. Dia juga sudah latihan jalan tegap sehingga tidak akan terlihat jika sebenarnya bahu kanannya hampir retak.


“Aska, kenapa jalannya ngendap-endap gitu?” Seorang pria paruh baya yang sedang membaca koran paginya jadi menatap curiga ke arah putranya.


Aska membulatkan mata. “Papa? Udah pulang? Kok nggak ngabarin Aska dulu, kalau tahu ‘kan bisa Aska jemput.” Aska mendekati David kemudian mengecup punggung tangan Papanya.


“Kenapa pakai masker?”


“Oh ini,” Aska menunjuk mulutnya sendiri. “Aska...jerawatan.”


David mangut-mangut. Tidak sedikitpun terbesit rasa curiga. David tidak pernah tahu jika anaknya ini pernah macam-macam, tidak selalu jujur, dan tidak begitu penurut.


“Oh iya, Pa. Gimana keadaan Yai di Palembang?” Aska ikut duduk di samping David. Mulai merasa rindu juga dengan Papanya. Sudah hampir sebulan mereka tidak bertemu karena Papanya sibuk mengurus perusahaan Kakeknya yang berada di Palembang. Ah iya, 'Yai' adalah bahasa halus yang digunakan oleh orang Palembang untuk menyebut 'Kakek'.


David adalah putra pertama keturunan gadis Palembang dan pria asli Spanyol. Mereka memilih menetap di Palembang dan merintis perusahaan baru yang kini sedang diambang kesuksesan. Kakek dari Aska itu memang orang Spanyol asli hingga Papanya memiliki wajah bule lebih dominan. Dan suatu kebetulan yang baik ternyata wajah bule ayahnya menurun baik kepada Aska.


“Yai sudah sembuh. Katanya kamu harus mulai sering-sering main ke sana biar sekalian bisa belajar bisnis. Papa ‘kan sibuk, jadi benar kata Yai, kamu belajar sama Yai aja. Libur nanti-,”


“Kapan-kapan aja, Pa. Aska sebentar lagi UN.” Aska memutar bola mata jengah. Tidak bisakah sehari saja David tidak membahas bisnis dan perusahaan?! Aska mulai merasa muak.


“Gimana sekolah kamu? Lancar ‘kan? Les kamu gimana? Ingat, kamu harus dapat nilai yang bagus biar bisa masuk Universitas yang sudah Papa siapkan. Walau Papa bisa, tapi Papa nggak mau bantu kamu.”


“Aska akan berusaha biar Papa bangga.”


“Papa percaya sama kamu.” David tersenyum, menatap Putranya. Menyipitkan mata saat melihat sesuatu terlihat berbeda dari Aska. “Pelipis kamu kenapa? Kayak dipukul gitu. Kamu berantem?”


Aska menegang, lalu mengedipkan mata beberapa kali. “Ah, ini? Nggak tahu kenapa bisa gini, mungkin kepentok waktu tidur.” Astaga, buruk sekali alasannya. Semoga saja David percaya.


David menatap gelagat putra semata wayangnya aneh. “Lain kali hati-hati.” Seru David kembali menghadap koran.

__ADS_1


Hampir saja.


__ADS_2