Chameleon Boy

Chameleon Boy
Mundur


__ADS_3

Dini menatap rumah besar milik keluarga Harison dengan pandangan ragu. Apakah ia harus masuk atau pulang saja. Cewek itu mengembuskan napas sesaat sebelum ponselnya kembali berbunyi.


Ia membuka pesannya.


*Amanda


Udah belum? Tepati janjinya atau gue yang akan sebarin kebusukan lo*!


Dini menggeram kesal. Ingin membanting ponsel itu saja tapi ia ingat jika harganya sangat mahal. Jadi ia urungkan, memilih mematikan ponsel itu kemudian memasukkan asal ke dalam tas.


“Rileks Dini, lo pasti bisa.” Katanya menyemangati dirinya sendiri sebelum berjalan masuk.


Ia memencet bel, seorang satpam berjalan menghampirinya.


“Cari siapa?” Tanyanya datar.


“Saya mau ketemu Dewa, Pak! Saya temannya yang dulu sering ke sini.” Katanya sambil tersenyum.


Satpam itu menatapnya dari atas sampai bawah. Menyipitkan mata, sebelum akhirnya mempersilakan Dini untuk masuk. Penjagaan rumah Gantara yang terlalu ketat kadang membuat Dini kelabakan. Ia lihat, satpamnya pun sudah berbeda sejak terakhir ia kemari sekitar dua atau tiga tahun lalu.


Ia menatap sekeliling. Rumahnya pun masih sama persis, tidak terdapat perubahan kecuali air mancur yang terpasang di taman rumah mewahnya.


Dini kembali memencet bel beberapa kali. Seorang cowok membukakan pintu untuknya. Senyum merekah yang akan ia berikan kepada si pembuka pintu seketika luntur saat ternyata Gantara yang berada di baliknya.


Ia pikir asisten rumah tangga yang akan membukakan atau paling tidak Dafa. Tapi mengapa justru Gantara! Ia belum mempersiapkan sepatah katapun untuk ini.


“Beb!” Ia membulatkan mata tak percaya. Saking girangnya, Gantara sampai mengelilingi Dini yang berdiri di ambang pintu. “Ini beneran lo?! Astaga, udah berapa abad lo nggak ke sini. Lo kesambet apa?!”


Dini memutar bola mata jengah. “Udah deh, Wa. Nggak perlu lebay. Gue nggak disuruh masuk?”


“Saking senangnya gue.” Gantara memberi jalan Dini untuk masuk. Dini berjalan ragu, pikirannya terus berkecamuk. Dari mana ia harus memulai.


Aha, ia tahu. “Pacar lo nggak ke sini?” Itu kalimat paling mujarab untuk memulai obrolan sakral ini. Dini memang pintar.


Gantara sampai berhenti melangkah, berbalik menatap Dini yang juga menatapnya tanpa dosa. “Maksud lo siapa?”


“Amanda.”


“Lo lupa gue udah lama putus sama dia?” Menaikkan sebelah alisnya, Gantara mendudukkan dirinya di sofa memanjang, diikuti Dini yang juga duduk tepat di sampingnya.


“Ah iya, gue lupa.” Seolah sedang memerankan karakter protagonis, Dini menepuk jidatnya, pura-pura lupa. “Kenapa nggak balikan aja?”


“Kenapa jadi bahas Amanda? Sebenarnya lo ke sini mau ngapain sih!”


Dini mengerjap. Keringat dingin mulai bercucuran hebat di dahinya. Semenjak kehadiran Teresa, hidupnya jadi dipenuhi sandiwara. Dini mulai membenci cewek yang pernah ia anggap sahabat itu. “Lo sama Amanda itu cocok banget, lo ganteng Amanda imut. Kaya juga. Kenapa kalian nggak balikan aja.”


“Jangan lupain satu fakta kalau Amanda itu tukang bully. Gue nggak pernah suka sama cewek yang sok berkuasa. Lagipula dari awal emang Amanda yang ngotot pingin jadian sama gue, gue cuma kasian aja makanya waktu dia nembak gue terima.”


Dini semakin kelabakan. Ia harus mengatakan apalagi untuk membela Amanda. “Tapi dia udah berubah sih kayaknya. Dia juga kelihatan tulus. Kalian cocok loh, balikan aja kenapa sih!”


Gantara menaikkan sebelah alisnya, mulai curiga. “Lo kenapa sih? Lo udah mulai nggak suka gue kejar-kejar? Atau pangeran berkuda putih lo udah mulai balik suka sama lo?”


“Kok jadi bawa-bawa dia sih! Gue cuma pingin lo bahagia sama Amanda. Ayolah lo balikan aja biar couple goals-nya SMA Harison ada lagi.”


“Lo aneh.” Gantara beranjak pergi. Dini mengerucutkan bibirnya sebal. Masih diam di tempatnya, tidak berniat mengikuti Gantara atau membujuknya sedikitpun. Ia jadi menyesal melibatkan Amanda dalam misinya, cewek itu ternyata cukup berbahaya. Sepertinya ia akan gagal menjalankan misi ini. Bisa gawat jika Gantara tahu yang sebenarnya. Bisa-bisa ia di kubur hidup-hidup.


Lamunannya membuyar saat seseorang menempelkan minuman dingin di pipinya. Ia mendongak, mendapati Gantara membawa dua minuman kaleng. Cowok itu memberikan satu minumannya kepada Dini dan langsung diterima oleh cewek itu.


“Jujur gue senang banget waktu tahu lo main ke sini lagi setelah sekian lama gue yang kejar-kejar lo. Tapi setelah lo bahas Amanda, gue jadi sedikit curiga.”

__ADS_1


“A-apaan sih! Curiga-curiga, dosa tauk! Lagian, gue nggak boleh pergi sendiri, lo ‘kan tahu orang tua gue over protektif. Ini aja gue harus diam-diam.”


“Bukan karena cowok itu?”


“Please Dewa. Jangan terus bawa-bawa Aska setiap kita bicara. Aska baik, katanya dulu lo juga setuju gue suka dia.”


“Dia nggak sebaik yang terlihat. Lagian gue lihat dia udah suka sama cewek sialan itu.”


“Stop it! Jangan jelekin Aska lagi karena gue nggak suka.” Dini mulai naik pitam.


Gantara mengangguk mengerti. “Setelah omongan lo barusan gue jadi mikir kalau sebenarnya gue emang nggak pernah terlihat sempurna di mata lo.” Gantara mulai berkata lirih membuat wajahnya menyendu. Dadanya juga menyesak entah karena apa. Ia merasa tidak terima saat Gantara mengatakan itu. Hatinya menolak keras tapi mulutnya ingin mengatakan 'Iya'.


“Lo lebih pantas sama Amanda.” Katanya ikut melirih. Ia menepuk dadanya sekali. Ada apa ini, kenapa dirinya menjadi tidak rela saat Gantara terlihat pasrah dan merelakannya. Padahal ia menyukai Aska, bukan Gantara.


“Kadang gue juga mikir gitu. Tapi kadang, Amanda kelihatan nggak tulus suka sama gue. Gue jadi bingung, apa sih yang bikin lo pingin gue balikan sama dia?”


“Ya, karena Amanda udah bantuin gue buat fitnah Teresa soal lo sama Dafa. Karena dia, Teresa mau jauhin Aska demi gue, gue tahu cewek itu emang-,” Dini tersadar, ia membekap mulutnya sendiri. Ia keceplosan!


Gantara mengernyit, mulai menatapnya nyalang, membuat Dini merasa ciut mental. Minuman yang semula berada dalam genggamannya ia banting asal.


“Dewa, gue bisa jelasin-,”


“Jadi selama ini lo yang sebarin aib keluarga gue?” Nadanya meninggi. Matanya memerah menahan amarah sambil menatap Dini penuh kebencian. Sepertinya Gantara lupa jika Dini adalah orang yang paling disukanya.


Dini diam, perlahan mulai menundukkan kepala membuat semuanya terlihat jelas. Gantara meraup wajahnya frustasi. “Gue nggak nyangka lo sejahat itu. Gue makin sadar, kenapa Aska nggak pernah suka sama lo. Itu emang karena lo nggak pantas diperjuangin, termasuk gue. Gue emang sahabat lo, tapi lo tahu gue selalu menegakkan keadilan. Jadi sorry,”


“Maaf, Wa. Gue minta maaf. Jangan marah dulu...” Dini memohon, menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Tangannya bergetar, sedang mulutnya merasa kelu ingin membela diri.


“Harusnya dari awal gue sadar, cuma lo yang tahu secara detail tentang kehidupan keluarga gue. Gue goblok banget udah bikin cewek yang nggak tahu apa-apa menderita.”


“Maaf, Wa. Lo salah paham,” Dini masih memohon.


“Katanya kalian berteman baik, tapi lo tega fitnah dia,”


Hening. Tidak ada lagi yang berbicara. Gantara diam, memikirkan semuanya.


“Gue mundur,” Gantara berdiri. “Silakan lo kejar pangeran lo sepuas hati karena gue udah nggak peduli.” Gantara pergi, meninggalkan Dini yang menangis sesenggukan di ruang tamu rumahnya.


“Dewa!”


“Itu pun kalau dia bisa lirik lo selain Teresa.” lanjutnya kemudian berjalan menaiki tangga.


Mendengar kalimat terakhir dari Gantara membuatnya merasa sakit. Ia memang bodoh, bodoh. Ada orang yang jelas tulus, tapi ia sia-siakan begitu saja.


Gantara benar, Dini memang tidak tahu diri.


***


Malamnya, tepat pukul 20.35 setelah ia pulang dari markasnya. Otaknya mendadak kembali mengingat seseorang.


Ada apa sebenarnya. Pikirannya masih diliputi puluhan tanda tanya besar. “Benar ‘kan, Teresa kayak menghindar sama gue?”


Darren mengangguk, mengelus-elus dagunya menggunakan tangan kanan, seperti berpikir. “Mungkin Teresa bosan sama lo, bos, makanya dia menghindar. Lo sih terlalu kaku. Sok nasehatin Keno buat gercep tapi sendirinya nggak gercep.”


“Gue rasa bukan karena itu,”


“Tapi kalau gue rasa karena itu, bos. Atau Teresa sadar kalau lo emang nggak baik buat dia.” Darren mulai memikirkan kemungkinan lain. Kemungkinan yang menurutnya semakin ngawur.


“Sejak awal Teresa emang anggap gue 'teman' jadi dia nggak mungkin mikir gitu.”

__ADS_1


“Teman?” Darren menahan tawa karenanya. “Serius, bos?!”


Aska mengangguk malas.


“Kasihan. Sabar ya, bos! Sumpah, ini lucu banget. Gue sampai nggak bisa berhenti ketawa.” Darren tertawa semakin menggelegar sampai Aska harus menurunkan kaca mobilnya agar tidak terlalu sesak. Entah kenapa udaranya mendadak terasa panas.


Mobil ia parkirkan asal di depan gerbang rumahnya. Biarlah nanti satpam yang mengurusnya. Suara Darren yang terus berkicau membuat emosi Aska semakin tak karuan.


“Ren, kalau lo terus ngoceh nggak jelas mending lo pulang.”


“Jahat lo, bos. Lo tega usir gue? Tadi suruh gue nginep sekarang ngusir! Jahat kamu, Mas.”


Kenapa Aska memiliki teman model seperti ini. Kenapa juga ada cowok keren sekelas Darren di dunia ini. Sepertinya cewek-cewek yang termakan rayuannya buta semua.


“Gue boker dulu deh sebentar.” Darren berjalan pergi sambil memegangi perutnya. Aska hanya menggelengkan kepala.


Ia kembali melangkah, namun langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. Memilih mengambil ponsel itu kemudian melihat nama yang tertera di layar. Gantara.


Ia mengangkatnya malas.


“Kalau nggak penting-,”


Seseorang di sana sudah terlebih dahulu memotong. “Gue mau ngomong penting sama lo. Ini soal Teresa.”


“Kita ketemu di tempat biasa.” Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana Aska sudah mematikan sambungan.


Ia membalikkan langkah, kembali keluar rumahnya dengan tergesa.


Tunggu, tempat biasa itu dimana? Dirinya benar-benar bodoh, mana Gantara tahu tempat biasa yang mana, sedang mereka tidak pernah nongkrong bersama selama ini.


Ia kembali mengambil ponselnya yang sudah ia masukkan di saku celana. Mendial nomor Gantara dengan tergesa. Padahal ia belum tahu apa yang akan Gantara ucapkan tadi tapi dirinya sudah panik setengah mati. Kalau berhubungan dengan Teresa, Aska selalu berlebihan.


Telepon diangkat pada dering pertama. Cepat sekali.


“Tempat biasa itu dimana anjir! Main tutup aja emang lo siapa?!” Seseorang diseberang sana sudah mengumpat tidak jelas.


“Alamat tempatnya gue kirim sekarang.” Ia kembali menutup sambungan, biarlah Gantara semakin mengumpat di sana. Aska tidak peduli.


Setengah jam kemudian Aska turun dari mobilnya. Sepertinya Gantara sudah terlebih dahulu datang. Dapat ia lihat dari mobil berwarna hitam yang bertengger manis tepat di samping mobilnya. Aska berjalan masuk, mencari keberadaan cowok yang selalu berkata bahwa dirinya bahagia itu.


Suara dentuman keras yang pertama kali Aska dengar ketika memasuki tempat maksiat ini. Ia berjalan tanpa menoleh sekalipun, juga mengabaikan setiap wanita jalang yang mulai berjalan mendekati sejak dirinya baru saja memasuki kelab yang paling terkenal di Jakarta ini.


Ia terus berjalan, sampai suara dentuman itu mulai memudar, memasuki sebuah ruangan VVIP yang selalu disewa atas nama dirinya.


Ia masuk, mendapati Gantara merokok dengan seorang wanita yang jika dilihat lebih tua 10 tahun dari mereka. Melihat Aska sudah sampai, Gantara meminta mereka pergi.


“Enak banget lo ngerokok di ruangan gue!” Aska menyambar rokok yang sempat Gantara isap kemudian mematikannya. Ia duduk setelah mendapat pelototan.


“Cepetan! Gue nggak suka basa-basi.”


Cowok itu langsung mendudukkan diri agar lebih nyaman. “Lo benar, bukan Teresa yang sebarin aib gue. Gue yang salah.”


“Dari awal gue udah jelasin, tapi lo ngeyel! Siapa orangnya?”


“Dini. Cewek itu suka sama lo dari dulu dan berniat singkirin Teresa.”


Aska menggeram. Dini? Sulit dipercaya cewek secuek Dini bisa melakukan hal sekeji itu hanya demi cinta sesaat. Cinta dengannya pula?!


“Thanks karena lo benar-benar menegakkan keadilan. Gue minta beasiswa Teresa dibalikin, kasihan dia nggak tahu apa-apa.”

__ADS_1


“Pasti!” Gantara mengangguk. “Tapi gue mohon jangan apa-apain Dini setelah ini. Dia cewek baik, cuma kadang agak goblok aja.”


“Buat yang itu, gue nggak bisa janji.” Aska keluar ruangan, dengan wajah memerah menahan amarah.


__ADS_2