
Tidak ada yang lebih menegangkan dibanding menghindari seseorang, dan Teresa sedang dalam masa itu sekarang. Menghindari orang yang tentu akan membuat dirinya merasa kerepotan. Bagaimana tidak, dirinya dan Aska sudah terlanjur menjadi paket lengkap. Dimana ada Teresa di situ ada Aska. Bisa dijamin, sebentar lagi pasti mereka akan berpapasan. Jadi tugas Teresa sekarang adalah menghindar bagaimanapun caranya.
Dini sudah berhasil membuat dirinya ribet.
Teresa terus menanamkan pada hatinya bahwa ia tahu bagaimana caranya berbalas budi. Akan ia buktikan, bahwa ia sanggup walaupun harus mengorbankan orang yang sangat berarti baginya. Walau harus menangis semalaman, Teresa siap. Asal Dini bahagia. Asal salah satu orang yang berarti baginya merasa senang walau harus mengorbankan banyak kesenangan yang lain.
Ya, Aska sangat berarti.
Mengatakan itu membuat mata Teresa memanas. Apakah ia akan sanggup berjauhan dengan cowok itu sedangkan dirinya sudah terlalu bergantung pada Aska.
Derap langkah kaki membawanya ke sebuah gedung kesenian. Teresa tidak pernah mengikuti ekskul apapun selama ini, karena menurutnya mengikuti ekstra kurikuler hanya akan membuat nilai-nilai akademisnya menurun. Ia mengintip dari balik celah pintu yang sedikit terbuka. Tidak ada orang, Teresa membuka pintu semakin lebar.
Entah kenapa kakinya menuntun masuk. Mengamati setiap alat musik yang terlihat begitu indah dan komplit. Sepertinya ini tempat latihan anak band sekolahnya. Matanya tertuju pada sebuah gitar yang menyender indah di samping sebuah drum besar. Teresa mendekati benda itu. Mengambil gitar itu kemudian memetikkan sekali.
Matanya berbinar. Ia tidak bisa bermain gitar, tapi mendengar suara yang dikeluarkan benda itu apalagi karena ulah tangannya membuat Teresa terkagum. Ia memetiknya sekali lagi sambil berpikir, bagaimana cara memainkannya. Musisi-musisi yang ia lihat selama ini terlihat sangat mudah memainkan benda yang dipegangnya ini dengan nada apapun.
“Bukan gitu cara mainnya.” Suara berat seorang cowok membuat Teresa terintimidasi. Ia mendongak berdiri, mengembalikan gitar tadi ke tempat semula.
Ia segera menundukkan pandangan tanpa menjawab ataupun sekedar menatap objek di depannya. Langkahnya terhenti saat cowok itu mencekal lengannya.
“Lo mau kemana? Kenapa nunduk-nunduk gitu?” Tanyanya memaksa Teresa untuk berbalik badan, menghadapnya. Aska mengangkat dagu Teresa membuat cewek itu terpaksa mendongak. Wajah tampan Aska terlihat jelas, ia dapat melihat sorok penuh tanya pada pancaran kedua matanya. Bibir Teresa rasanya kelu, ingin mengatakan jika ia merindukan Aska padahal setiap hari mereka bertemu.
Baru membuka mulut, suara permohonan Dini kembali terngiang di kepalanya. Tidak! Ia harus menghindari cowok itu, bukan malah mengadu. Teresa memundurkan badannya, membuat Aska membulatkan mata.
“Lo kenapa, sih?!” Kernyitan di dahinya semakin bertambah. “Sa! Are you okay?”
“Aku pergi dulu,” Teresa berbalik tergesa tapi Aska sudah kembali mencekal lengannya cepat.
Teresa menepisnya, membuat Aska menatap punggung Teresa yang menghilang dari balik pintu dengan pandangan penuh tanya.
Ada apa dengan Teresanya?
***
Sekarang istirahat kedua, Aska berjalan tergesa menuju kelas Teresa tapi cewek itu tidak ada. Memutar kembali menyusuri koridor, menuju belakang perpustakaan. Beberapa murid yang tengah perpapasan dengannya sampai menatapnya heran. Tidak biasanya cowok itu berjalan tergesa, biasanya selalu memperlihatkan aura dingin setiap berpapasan dengan orang.
Nihil. Bahkan tempat favorit cewek itu pun kosong tanpa sosoknya. Aska mulai frustasi, ada apa sebenarnya dengan Teresa. Mengapa seakan menghindarinya. Apa dirinya berbuat kesalahan tapi tidak ia sadari. Tapi kenapa Teresa tidak menegurnya saja daripada didiamkan seperti ini. Ia lebih baik dipukul daripada dihindari, karena dengan Teresa menghindar sama saja dengan memintanya menjaga jarak. Dan Aska tidak akan bisa melakukannya.
Ia berjalan gontai, melangkah masuk menuju perpustakaan. Ia pastikan ini adalah tempat terakhir. Jika memang Teresa tidak ada, ya sudah. Mungkin Teresa butuh waktu sendiri sekarang.
Menatap sekeliling, tidak ada sosok cewek berambut sebahu di dalam. Ia menyusuri setiap rak, namun tetap tidak ia temukan. Ke mana sebenarnya cewek itu?!
Aska mengambil bacaan secara asal kemudian menuju meja yang masih kosong. Ia membukanya, bahkan ia tidak akan bisa fokus membaca jika pikirannya berkeliaran ke mana-mana. Apa ia telepon saja? Tapi Teresa tidak pernah memainkan ponsel jika di sekolah.
Ah, Aska mulai galau.
“Ka!” Aska mendongak, mendapati Dini berdiri tepat di sampingnya dengan beberapa buku di tangan. Aska memutar tubuh untuk dapat menatap Dini sepenuhnya.
“Bantuin gue ngerjain kimia, dong! Gue nggak ngerti sama sekali sedangkan gue milih kimia buat UN nanti. Gawat ‘kan?!” Dini berkata heboh, duduk dengan rapat di samping Aska, membuat cowok itu sedikit menggeser kursinya menjauh, memberi jarak.
“Lah, salah siapa kenapa mau pilih kimia, kenapa enggak biologi aja yang sesuai otak lo!”
“Biologi makin susah asal lo tahu! Fisika apalagi! Lagian gue punya teman pintar, bisalah dimanfaatin sekalian jadi guru private.” Katanya lebih mendekatkan kursinya pada Aska. Aska kembali menjauh sambil mengernyit, ini kenapa Dini jadi menempel-nempel padanya.
“Aska, lo kenapa sih, jauh-jauh mulu kayak orang musuhan!” Dini memanyunkan bibirnya. Aska hampir terkejut. Seumur hidup, Aska belum pernah melihat Dini sok imut seperti itu ketika di depannya. Dini yang biasanya cuek, dan selalu cemberut itu mendadak menjadi sumringah dan murah senyum. Seperti sedang menarik perhatiannya.
Tidak mungkin! Mungkin Aska saja yang terlalu percaya diri.
__ADS_1
Aska beranjak. “Gue nggak bisa, gue harus pergi cari Teresa.”
“Teresa terus, Teresa terus. Gue juga teman lo, Ka! Tapi kenapa lo nggak pernah peduli sama gue barang secuil!”
Kalimat Dini membuatnya berhenti melangkah. Ia berbalik, kembali menghadap teman cewek satu-satunya itu. “Gue peduli sama lo,”
“Apa buktinya, bahkan ngajarin gue kimia aja lo nggak mau!” Aska menatap Dini tak percaya. Bukan itu maksudnya. Aska mau, tapi maksudnya tidak sekarang ini. Sepertinya cewek itu sedang dalam mood yang buruk.
“Tolong kecilin suara lo, ini perpustakaan. Gue cuma nggak bisa kalau hari ini, Din! Bukan nggak mau.” Aska menurunkan suaranya. Tidak ingin siswa lain terganggu dengan suaranya.
“Teresa pasti nggak apa-apa kok kalau lo nggak sama dia hari ini. Lagian sekarang pasti dia juga sibuk, Beberapa hari ‘kan kita ada UTS.”
Benar juga. Apa Teresa menghindarinya agar fokus menghadapi ujian? Atau cewek itu merasa tersaingi karena selama ini Aska salah satu saingan terberatnya meraih pararel satu.
“Nah, makanya ada UTS lo harus ajarin gue sekarang!” Dini menatap Aska nyalang.
Aska terdiam. Sepertinya memang Dini jauh lebih membutuhkannya dibanding Teresa. Walau kaya, tapi otaknya tidak se-kaya hartanya. Menatap Dini sekilas kemudian kembali duduk di tempat semula. Dini tertawa puas dalam hati.
“Bagian mana yang nggak lo ngerti?” tanyanya pada akhirnya.
Dini berbinar, tidak menyangka Aska akan termakan omongannya. Dengan cepat ia membuka buku, tidak ingin membuat Aska merasa bosan ketika bersamanya.
“Ini.” Katanya menunjuk materi dengan asal. Aska mendekat, membaca buku yang Dini buka dengan saksama. Tidak menyadari jika saat ini posisi mereka terlihat sangat dekat.
“Gampang. Cuma ini?”
“Ini, ini, ini, ini, dan ini juga.” Katanya sambil membuka setiap bab dengan asal. Lebih banyak yang ia tunjuk, maka akan lebih lama ia bersama Aska.
“Ini mah semua! Kalau bego jangan kebablasan, dong.”
“Alasan!” Aska mencibir. Mulai menjelaskan materinya kepada Dini walau dirinya tahu Dini tidak akan mendengarkan.
Dini girang, ketika menyadari bahwa Teresa sedang memandangi mereka dari ambang pintu dengan senyum mengembang paksa di sudut bibirnya.
***
Sepulang sekolah pun Teresa langsung tergesa keluar area sekolahnya. Ia berjalan dengan langkah cepat, seakan ada pengintai yang akan membunuhnya detik ini juga. Ia dapat bernapas lega saat halte bus sudah ada di depan mata.
Ia baru berjalan satu langkah saat seseorang membunyikan klakson mobilnya.
Teresa terjenggit lalu menoleh. Tepat sasaran! Ia ketahuan. Mobil Aska berhenti tepat di sampingnya. Ingin kabur tapi Aska pasti akan merasa curiga, jadi ia tersenyum.
Aska menurunkan kaca mobilnya membuat wajah cowok itu terlihat jelas. Teresa sedikit melirik masuk, ternyata ada Darren di jok belakang.
Aska lebih mirip sopir pribadi Darren kalau dalam posisi seperti itu.
“Ayo masuk, mau kerja ‘kan?” Tanyanya.
Teresa kelabakan, memutar-mutar matanya tanpa sadar. “A-aska duluan aja, aku nunggu seseorang.” Jawabnya diakhiri tawa sumbang. Ia memang payah.
“Siapa?”
Teresa mencari alasan yang pas. Kenapa setiap akan berbohong otak Teresa selalu buntu?!
“Itu, siapa namanya,” Teresa mengingat-ingat. Siapa kira-kira, ayo Teresa keluarkan alasanmu. “Mas Andre.”
“Mas Andre mau jem-,”
__ADS_1
“Mas Andre!!” Teresa melambaikan tangan melihat Andre berhenti di pinggir jalan seperti sedang membenarkan bawaan yang ada di depan badannya. Andre menoleh, tersenyum saat menyadari Teresa yang memanggilnya.
“Aska, aku sama mas Andre, itu udah nunggu.” Teresa berlari tergesa tanpa menunggu jawaban Aska. Aska menatap Teresa dengan pandangan aneh. Sudah jelas, Teresa menghindarinya.
Sedangkan Teresa berlari menghampiri Andre sambil bernapas lega. Andre memang selalu menjadi penyelamatnya.
“Oii, Sa!” Andre melambaikan tangan. Teresa semakin berlari kencang.
“Mas Andre mau ke cafe ‘kan?”
Andre mengangguk. “Nih, bawa belanjaan Mas! Ribet juga ternyata kalau belanja sendiri bawa motor.” Andre langsung menyerahkan belanjaannya pada Teresa. Teresa menerimanya. Motor melaju dengan kecepatan sedang setelah Teresa naik.
“Motor siapa, Mas?” Andre tidak punya motor, jadi Teresa penasaran. Motor siapa yang Andre pakai.
“Punya Bianca. Mobilnya mas lagi di bengkel. Manja emang mobilnya, dikit-dikit turun mesin.”
“Yang penting sehat, daripada minta turun mesin nggak diturunin.” Jawabnya kemudian dengan nada bercanda.
“Ada-ada aja kamu! Bisa banget bikin Mas mikir.” Andre terkekeh.
“Otak emang harus buat mikir terus biar nggak gampang karatan.”
“Iya, mentang-mentang pintar.” Teresa semakin tertawa menggelegar.
“Emang Mas Andre nggak pintar?” Teresa sedikit membenarkan letak belanjaan yang dibawanya agar lebih nyaman.
“Menurut kamu?”
“Nggak tahu! Kan aku nggak sekelas sama Mas Andre. Kita beda generasi, Mas! Beda banget malah.”
“Maksud kamu, Mas tua?”
Teresa mengangguk-anggukkan kepala mesti ia tahu Andre tidak dapat melihatnya. “Beda banget. Mas Andre harusnya udah mulai cari istri sekarang.”
“Istri?”
“Iya, istri. Mas Andre punya pacar nggak sih sebenarnya?” Benar! Teresa penasaran. Andre ini tinggi, ganteng, putih, pekerja keras walaupun masih jadi mahasiswa abadi sampai sekarang. Masa tidak ada yang menempel satupun.
“Calonnya aja masih sekolah, masa mau dinikahin.”
Teresa mengernyit. Berkedip polos. “Mas Andre punya pacar ternyata, aku kira jomlo?!! Pacarnya mas Andre masih kuliah maksudnya?”
Andre gelagapan, terlihat jelas dari punggungnya yang menegak. “Jangan dengarin omongan Mas. Tadi cuma ngelantur.” Teresa memilih bungkam, tidak ingin membuat masalah.
Sedangkan di depan Andre sudah menyumpah serapahi dirinya sendiri dalam hati. Bicara apa dia barusan? Hah?! Ia menatap kaca spion, ingin memandangi Teresa tapi mobil di belakang justru lebih menarik perhatiannya.
Ia terus memperhatikan mobil itu. Seperti mengikutinya. “Sa, kayaknya mobil di belakang ngikutin kita, deh?”
Teresa sontak menoleh. Mobil Aska. Rumahnya memang searah dengan cafe milik Andre, tapi kenapa cowok itu justru mengikuti di belakangnya. Kenapa tidak menyalip saja.
“Biarin Mas!”
“Siapa?”
Teresa tidak menjawab, justru kembali menghadapkan wajahnya ke belakang. Darren sudah pindah duduk di depan dan sedang melambaikan tangan padanya sambil tersenyum lebar.
Teresa meringis sebal. Menghindari Aska ternyata memang terlalu sulit baginya.
__ADS_1