Chameleon Boy

Chameleon Boy
Liontin


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, seorang Teresa duduk di antara barisan para pengunjung kafetaria di jam istirahat. Memang tidak ada yang mempedulikan kehadirannya, tapi yang membuat ketiga cowok tetangga mejanya terus bercuit heboh adalah karena salah satu anggota meja mereka berpindah tempat. Memilih sebangku dengan cewek pujaannya.


Menarik paksa Teresa duduk saat ia baru saja selesai memilih roti yang akan dimakannya kali ini dan berganti dengan nasi goreng lengkap dengan jusnya.


“Jangan ngalamun, cepat makan!” Aska menginterupsi Teresa untuk segera memakan makanannya.


“Ini buat aku?” Teresa masih bergeming. Menatap makanan di depannya dengan pandangna penuh tanya. Jika dia makan sebelum dipersilakan, nanti dikira tidak sopan.


“Masa gue makan dua piring.” Aska berdecak.


Teresa tersenyum, kemudian makan sesuap. “Makasih.” Katanya. Setelahnya, Teresa menoleh, menatap Darren. “Aska nggak sama mereka?” Teresa menunjuk ketiga teman Aska menggunakan kode mata.


Cowok itu menoleh, melihat Darren yang tengah sibuk mengobrol heboh dengan Senka dan Keno. “Makan sama mereka udah sering, sama lo yang belum pernah.”


Teresa tersenyum. “Enak ya punya teman yang bisa diajak kemana-mana.” Katanya tanpa sadar.


Aska langsung memelankan kunyahannya. “Lo bisa ajak gue kemana pun yang lo mau, gue ‘kan teman lo juga.” Bibir Aska terasa kelu ketika menyebut kata ‘teman’. Hatinya ingin memberontak, tapi tidak bisa. Ada tembok penghalang tak kasat mata yang secara tidak langsung selalu membentengi keduanya. Benteng yang dibuat cewek itu sendiri, seperti menolak kehadiran orang baru.


“Maksudnya teman cewek. Kalau jalan sama cowok suka nggak nyaman dilihatin orang.”


“Emang lo sering jalan sama cowok sebelumnya?” Aska menaikkan sebelah alisnya. Suasana kafetaria mendadak terasa panas. Apa listrik sedang mati sekarang?! Ataukah orang yang mengisi perut semakin banyak.


“Sama Mas Andre, kadang juga adikku Ezra. Mau sama siapa lagi, cuma mereka yang bisa aku ajak kemana-mana. Ada temanku satu sih, tapi dia suka rempong kalau diajak keluar. Cuma bikin sebel.” Kata Teresa cemberut saat membicarakan Tika. Ia selalu benci setiap mengajak Tika karena ia selalu tidak bisa diam mengomentari setiap hal yang ia anggap menarik.


“Lo sering pergi sama Om itu?”


“Hushhh, dia itu masih muda tahu! Umurnya cuma beda tujuh tahun sama kita. Tapi emang cocok sih Mas Andre dipanggil 'Om' soalnya kumisan.” Teresa terkekeh membuat Aska semakin berdecak sebal.


“Sa! Lo makan di kafetaria?” Suara seorang cewek berhasil menginterupsinya. Teresa mendongak, menatap Dini yang baru selesai menggebrak meja.


“Woi, Ka! Gue boleh ikut gabung ‘kan?! Nggak perlu dijawab, boleh atau nggak gue tetap duduk.” Dini tertawa membuat Teresa mengerjap sesaat. Dini yang notabennya memiliki garis muka judes ternyata juga bisa manis ketika tertawa. Cewek itu duduk di samping Teresa.


“Dini mau makan?” Teresa menawarkan.


Dini menggeleng. “Oh, enggak. Sebentar lagi bel, nggak keburu kalau makan. Gue cuma mau ketemu lo aja. Sorry ya, kemarin gue nggak nemuin lo kayak biasanya.”


Teresa tersenyum. “Nggak apa-apa. Pertemanan nggak harus diukur dari seberapa seringnya kita ketemu.” Teresa berusaha menenangkan.


“Lo emang baik.” Katanya menunjukkan kedua jemput. Setelah mendapat balasan senyuman dari Teresa, Dini menoleh. Menatap Aska yang cemberut mengaduk nasi gorengnya. “Ka! Diam aja lo daritadi.” Dini menyenggol lengan kanan Aska membuat sendok yang ia pegang jadi terjatuh. Aska mengumpat tertahan.


Teresa tertawa melihat wajah Aska yang memerah menahan marah. “Aska lucu kalau marah.”


Dini juga, semakin tertawa heboh sambil mengucap maaf walau tidak sepenuhnya ikhlas. Mata Teresa mendadak terfokus pada sesuatu yang bertengger di leher Dini. “Dini!” Senyum Teresa semakin merekah. Melepas sendok dalam genggamannya, Teresa beranjak. Mendekap Dini yang kini tengah memasang tampang bingung karena temannya mendadak bersikap aneh. Pasti Teresa salah minum obat. Pikir semuanya.


Aska hanya menaikkan sebelas alisnya.


“Makasih!” Katanya di sela dekapan mereka. “Makasih udah menghargai kehadiran aku. Makasih udah mau jadi temanku selama ini. Makasih buat semua. Semuanya!”


Dini mengerti sekarang. Cara bahagia Teresa memang sederhana. Ia langsung melepas dekapan mereka. “Karena gue teman lo!” Katanya tulus.


Teresa mengangguk, menghapus air mata yang ternyata mengalir tanpa terasa.

__ADS_1


“Woii, Queen Andini jangan ganggu orang PDKT!” Darren mulai berteriak. Teresa mengernyit, siapa yang sedang PDKT. Lagipula, memangnya Darren tidak merasa ribet memanggil nama Dini dengan nama panjang. Teresa saja yang mendengarnya merasa ribet.


“Justru gue mau selamatin Teresa dari makhluk tanpa ekspresi kayak Aska biar nggak mati jadi batu.”


“Lo ngomongin gue?” Aska bertanya dengan ekspresi datar. Suaranya juga terdengar cool, hampir membuat Teresa meledakkan tawa mengingat bagaimana sikap Aska akhir-akhir ini yang lebih terlihat ekspresif.


“Bukan.” Ucap Dini santai. “Gue ngomongin Keno, puas lo!”


“Ada apa sama gue?” Keno yang sedang memakan burgernya terpaksa menoleh, menatap Dini. Matanya sedikit ia sipitkan agar dapat dengan jelas menatap orang yang berusaha menggunjingkannya itu.


“Hmmm, gue benci lo yang nggak pernah peka sama keadaan. Selalu nyusahin gue setiap kerja kelompok, nggak pernah dengarin curhatan gue kalau lagi galau.” Dini mulai curhat. Sepertinya Dini memiliki dendam terkesumat dengan Keno hingga berbicara setulus itu di depan umum.


Keno memutar bola matanya jengah. Berusaha untuk tidak mempedulikan Dini yang mulai mendramatisir semua keadaan.


“Kan ada gue, beb!” Ucapan berat seorang cowok berhasil menginterupsi semuanya.


“Dewa!” Dini terkesiap melihat Gantara berdiri tepat di depannya dengan tangan kanan ditenggelamkan ke dalam saku celana.


“Dewa? Spesial banget kayaknya sampai panggilannya beda dari yang lain.” Keno mulai menyindir, tapi matanya tetap tertuju pada burger di tangannya. Senka menatap Keno heran.


“Ngapain lo di sini?” Dini berubah sinis. Gantara duduk di samping Aska membuat dirinya bahkan Teresa merasa tidak nyaman. Teresa menatap Gantara. Ia mengingatnya. Dia cowok yang menuduh Teresa beberapa waktu lalu. Ia tidak menyangka akan bertatap muka dengannya lagi.


“Jangan galak-galak dong, beb! Lo itu bikin gue makin gemas. Lagian sekolah ini punya gue juga, jadi gue bebas mau dimana aja.” Teresa mencibir dalam hati, tipe cowok sadar tahta selalu membuat Teresa muak.


“Berhenti panggil gue 'beb'! Udah gue bilang berapa kali jangan ngikutin gue!” Dini berdiri. Berjalan menghentak-hentakkan kaki keluar kafetaria. Gantara langsung mengikutinya dari belakang membuat Harison pasti akan kembali gempar dengan kabar dua sejoli itu.


Teresa bergeming beberapa saat. Baru menyadari ternyata Aska tengah memperhatikan setiap gerak-geriknya secara intens.


Teresa meneguk ludah salah tingkah, kemudian berbalik menatap Keno. “Yang sabar ya, No!” Katanya tanpa berpikir, membuat yang lain membulatkan mata. Termasuk Keno. SEJAK KAPAN TERESA SOK AKRAB DENGAN ORANG LAIN!!


***


“Sa! Lo juga pakai liontin yang sama ternyata.” Dini memekik saking senangnya. Ia meraih liontin yang bertengger di leher Teresa hampir membuatnya tercekik.


“I-iya.” Katanya terbata. Bukan grogi, tapi Dini benar-benar hampir membuatnya kehilangan napas dalam sekejap.


“Maaf.” Dini meringis, melepas liontin yang Teresa pakai. “Gue baru tahu kalau kalung ini couple.” Sekarang Dini memegang kalungnya sendiri sambil menatapnya cukup lama. Dini hampir tersandung kakinya sendiri, namun dengan cepat dapat menguasai diri.


“Aku sengaja beli dua waktu itu. Satu buat aku, satu buat kado Dini.”


“Kok nggak lo pakai dari dulu?” Dini menekuk bibir cemberut tidak peduli betapa ramainya koridor di waktu pulang sekolah ini. Ia memang tidak pernah peduli dengan keadaan sekitar.


“Aku takut,” Teresa melirih. “Takut kalau ternyata cuma aku yang berharap.” Teresa menatap hampa pandangan di depannya.


“Lo nggak berharap sendiri, buktinya begitu gue tahu ini dari lo langsung gue pakai.” Dini tersenyum, kemudian merangkul pundak Teresa, membuat cewek itu bahkan terlihat jauh lebih pendek darinya.


“Itu juga ada fotonya Dini sama aku di dalamnya.”


“Masa?”


Teresa mengangguk. “Buka aja yang bentuk hati itu.” Dini benar-benar membukanya walaupun harus menundukkan wajah. Terlihat foto keduanya terpajang cantik di dalam liontin. Teresa memperlihatkan senyum merekah di dalamnya. Begitu manis. Sangat kontras dengan muka Dini yang cenderung di jutek-jutekkan. Dini tertawa, Teresa pasti mengambil fotonya di instagram.

__ADS_1


“Lo cantik banget di sini.”


“Dini juga selalu cantik walau nggak senyum.”


“Lo sih nggak minta pendapat gue dulu mau pakai foto yang mana. Tahu gitu gue foto nyengir dulu.”


Teresa gelagapan. “D-dini nggak suka kalau pakai foto itu? Maaf, aku kira Dini yang pernah mempermasalahkan hal sepele kayak gitu.” Teresa menunduk dalam.


“Emang!” Dini meledakkan tawanya. Teresa ini kenapa gampang sekali percaya dengan orang lain. Dini hanya mengerjainya sedikit, langsung terbawa suasana. “Emang gue suka banget! Kenapa?”


Teresa kembali mengangkat wajahnya, berbinar, lalu mengangguk walau masih sedikit enggan. Dini semakin tertawa keras. Teresa yang menang, dia memang polos. Dia berhasil membuat Dini tertawa akibat kelakuannya sendiri.


Dini kembali menutupnya liontinnya.


“Beb! Gue nebeng lo ya! Motor gue nggak bisa dipakai. Lo jangan alasan diantar sopir soalnya gue tahu lo berangkat sendiri!” Suara Gantara tepat di telinganya membuat Dini langsung mengatupkan bibir. Gantara mulai berjalan menyamai langkah mereka. Dini masih berpura-pura tidak peduli. Napas Gantara terdengar ngos-ngosan, sepertinya ia baru saja berlari. “Gue nggak ada tumpangan lain.” Lanjutnya saat Dini masih tak bersuara.


“Modus lama masih lo pakai mulu!” Dini memutar bola matanya jengah.


“Beneran loh ini.”


“Preeetttt!”


“Namanya juga usaha, beb! Makanya, lo harus hargai usaha gue.” Gantara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Ogah! Jangan nebeng gue!”


“Astaga, pelit amat. Kursi penumpang lo ada dua ‘kan? Lo nggak nyetir sambil selonjoran ‘kan? Apa lo berniat tidur sambil nyetir?” Gantara keheranan.


Teresa hanya menatap keduanya dalam diam. Gantara terlihat sangat menyukai Dini. Teresa dapat melihatnya, dari cara Gantara berbicara, menatap, bahkan memperhatikan Dini memang terlihat berbeda. Matanya terpancar penuh harap kepada temannya itu.


Walau Gantara bukan cowok baik-baik, tapi Teresa bisa melihat ketulusannya. Teresa jadi berpikir, sekumpulan cewek yang membully Teresa beberapa waktu lalu, bukankah dia mengaku sebagai mantan pacar Gantara? Tapi Teresa perhatikan, Gantara terlihat sudah move on dari mantannya.


Tanpa sadar, Teresa menggelengkan kepala. Betapa mantan Gantara akan sangat murka bila ia mengetahui salah objek. Sudah mencelakai tangan Teresa, tapi ternyata salah orang.


Dini harus berhati-hati mulai sekarang. Dini memang tangguh, Teresa yakin Dini akan dengan mudah membungkam mulut mereka. Teresa tidak perlu khawatir.


Lihatlah, betapa Gantara ini selalu menyusahkannya padahal mereka tidak saling mengenal. Ingin sekali Teresa mengatakan bahwa hanya dengan mengetahui namanya saja sudah mampu membuat Teresa sial berkali-kali, apalagi mengenalnya. Ia jadi khawatir dengan nasibnya sendiri.


“Lo bisa diam nggak?!” Dini berteriak, beberapa anak yang masih tersisa di parkiran langsung menoleh ke arah mereka. Termasuk Teresa, ia tersentak kecil. Membuat lamunannya buyar seketika.


“Galak lo nggak tanggung-tanggung ya, beb!” Gantara pura-pura bergidik ngeri. Dini semakin menatapnya jengah.


“Sorry, gue nggak bisa nampung lo kali ini karena gue pulang sama dia.” Dini menunjuk Teresa. Teresa mengerjap, merasa tidak nyaman saat Gantara juga akhirnya menatap dan mengakui keberadaannya.


Gantara menyipitkan mata, menatap Teresa cukup lama. Merasa pernah melihat cewek itu, tapi dimana. Ia lupa. “Heh lo!” Teresa menatap takut-takut. “Apa kita pernah ketemu sebelumnya?” Gantara bertanya. Pertanyaan bodoh.


Teresa meneguk ludah, lalu menggeleng tegas. “Be-lum...”


“Tapi kayaknya udah pernah.” Gantara bergumam, masih memperhatikan Teresa dari atas sampai bawah. “Oh, gue ingat.” Ia menjentikkan jari.


Teresa mati kutu, sedang Dini menatap keduanya heran.

__ADS_1


“Lo masih ada urusan sama gue?! Teresa Evania.” Gantara memperingatkan. Teresa mengangguk cepat. Ternyata Gantara ingat.


“Kalian selesain urusan kalian besok karena gue mau ajak Teresa pulang sekarang.” Dini menarik lengan Teresa, meninggalkan Gantara yang sibuk memperagakan tangan, membuat gerakan membunuh.


__ADS_2