Chameleon Boy

Chameleon Boy
Terkuak


__ADS_3

Teresa menyingkap gorden, membiarkan cahaya remang-remang mengintip sedikit bilik kamarnya. Setelahnya cewek itu kembali berjalan ke kasur kesayangannya.


Bagaimana tidak kesayangan, kasur itu telah menemaninya semenjak ia masih di bangku kelas tiga SMP. Dalam kamus hidup Teresa, kalimat kesayangan dan tidak mampu membeli yang baru menjadi kata yang selalu bersinggungan.


Teresa tersenyum saat sahabat karibnya menggeliat sebal. “Sa, tutup lagi gordennya. Silau!” Tika memprotes sambil bergumam.


Teresa terkekeh. “Ayo bangun! Tika, bangun! Katanya mau jogging?!” Teresa menarik-narik tangan sahabatnya, membuat Tika terpaksa mendudukkan badan.


Tika menguap, menggaruk rambutnya sambil sedikit terpejam. “Emang gue ngajakin jogging?”


“Enggak sih.” Teresa mengingat. “Tapi, lari pagi bagus loh untuk kesehatan kulit.”


“Tidur juga bagus buat kesehatan kulit.” Tika masih saja bergumam.


Teresa berdecak. “Tika, Ayo! Kalau nggak mau, kamu nggak boleh nginep di sini lagi!” Teresa mulai mengancam. Cara ini biasanya sangat ampuh karena Tika memang jarang tidur di rumah.


Semenjak kedua orang tuanya bercerai, dan Ayahnya menikah lagi dengan wanita lain, Tika menjadi anak yang pembangkang. Dia semakin sulit diatur, selalu menjadikan rumah Teresa sebagai tempat singgah sesaat.


Teresa tidak masalah dengan hal itu, selama sahabatnya senang, ia juga senang. Tika tidak jauh lebih menderita dibanding dirinya, Teresa kadang merasa iba. Walau Tika tidak pernah menunjukkan rasa sedihnya di hadapan Teresa, tapi Teresa tahu Tika merasa kesepian.


Setelah perceraian kedua orang tuanya, Ibu Tika langsung melepasnya tanpa sedikitpun terbesit rasa kecewa. Itu salah satu hal yang membuat Tika masih memaksakan diri tinggal di rumah Ayahnya walau Ibu tirinya kerap kali menyalahkannya dalam setiap hal.


“Ini udah siang, Sa! Panas.” Katanya sambil kembali mengempaskan tubuhnya ke kasur. Mengambil bantal lalu digunakan untuk menutupi telinga. Dalam sekejap, cewek itu telah kembali terpejam.


Teresa mengembuskan napas pelan. Sulit sekali mengajak sahabat satu-satunya ini olahraga. Tika memang cewek pemalas. “Masih jam setengah tujuh. Ayolah, minggu pagi ini.” Teresa masih gigih membujuk.


“Sa,” Tika membuang bantal asal, lalu membuka kelopak matanya. “Gue boleh nggak tidur sebentarrrrr aja. Sebagai gantinya lo besok gue antar-jemput ke sekolah.”


Tawaran menggiurkan. “Nggak!” Tapi Teresa tidak akan termakan omongannya. Daripada di antar Tika dan berakhir terlambat, lebih baik ia berangkat sendiri.


“Terserah.”


Pada akhirnya Teresa yang menyerah dengan kalimatnya.


***


“Tika, kamu nggak lapar?” Teresa yang baru saja mencapai ruang tamu langsung bertanya.


Tika sedang menonton siaran televisi sambil tiduran dengan Ezra yang duduk di sampingnya.


“Lapar sih.”


“Di rumah nggak ada bahan masakan, kita belanja keluar, yuk!” Ajaknya semangat. Ibunya sudah berangkat bekerja sejak pagi, dan belum sempat memasak. Teresa sebenarnya tidak bermaksud mengandalkan Ibunya, tapi bahan masakan memang sedang kosong hari ini. Ibunya bekerja di sebuah toko kecil tidak jauh dari rumahnya. Pulang setiap sore.


Niat Teresa sebenarnya ingin mengusir suntuk karena seharian ini berada di rumah tanpa melakukan apapun. Rasanya sangat membosankan.


“Ogah! Panas.”


“Astaga, Tika. Ini sore, bukan siang.” Geramnya mulai frustasi. Sejak pagi, Tika hampir tidak melakukan apapun selain tiduran. Kemana perginya Tika yang hiperaktif? HA?!


“Lo aja. Gue tunggu sini sama Ezra. Ya nggak, Zra?” Tika menggerak-gerakkan alisnya membuat Ezra justru menggeleng-geleng.


“Kamu kenapa, sih?”

__ADS_1


“Kenapa apanya?”


“Kayak nggak semangat gitu.”


“Gue capek.” Tika bergumam. Raut wajahnya mendadak berubah muram. “Mending sana cepat berangkat, keburu kesorean. Pakai motor gue aja.”


Teresa mendengus, namun tak urung juga mengambil kunci motor milik Tika di atas meja. Teresa bisa mengendarai motor belum lama ini. Ia bisa pun karena Tika memaksanya belajar.


“Aku cuma mau beli soto ke depan. Kalian suka atau nggak, aku nggak peduli.” Tidak ada yang menyahuti.


Benar-benar!


Teresa memakai helm, kemudian menyalakan motor. Ia akan belanja bahan makanan saja. Teresa mengegas motor dengan kecepatan seimbang. Ia belum memiliki keberanian mengendarai motor dengan kecepatan lebih dari 40 km/jam.


Teresa sedikit oleng saat sebuah motor ninja besar menyalipnya asal. Teresa menyumpah serapahinya walau hanya dalam hati.


Berhenti sejenak saat terkena lampu merah, Teresa menoleh ke sisi kanannya. Motor yang tadi ugal-ugalan!


Teresa ingin menegur, tapi ia urungkan begitu melihat cara berpakaian yang dikenakan si pengendara. Celana jeans hitam, dengan jaket jeans robek-robek. Teresa bergedik ngeri melihat penampilan cowok itu yang hampir mirip preman.


Lampu berubah hijau. Teresa harus kembali menabahkan hati saat si preman tadi mengegas motornya terlalu kencang.


Teresa masih mengegas santai ketika ia kembali melihat si cowok tadi. Kenapa hanya dalam beberapa menit ia sudah melihatnya tiga kali?!


Cowok itu berhenti di pinggir jalan tanpa turun dari motornya. Sedang mengecek ponsel. Entah atas dasar naluri apa Teresa berhenti di belakangnya. Penasaran karena sepertinya Teresa pernah melihat cowok itu sebelumnya. Tapi dimana?


Teresa sedikit mengintip wajah si cowok tadi karena helmnya sudah dilepas. Teresa terhenyak, tersentak sesaat. Jantungnya mendadak berdebar hebat. Teresa sampai harus menetralkan napasnya beberapa saat.


Apa yang dilihatnya ini? Siapa cowok itu? Kenapa wajahnya mirip...Aska??!!


Wajah Teresa mendadak pias, seperti baru saja melihat hantu. Cowok itu sepertinya belum menyadari ada orang yang tengah memperhatikannya dari belakang.


Apa Aska memiliki saudara kembar? Tapi kenapa Teresa tidak pernah melihatnya. Apa mereka berbeda sekolah? Pertanyaan demi pertanyaan terus memenuhi pikirannya. Garis wajah serta bentuk tubuhnya benar-benar mirip dengan Aska.


Hanya saja, rambutnya dan cara berpakaian yang terlihat sangat berbeda jauh. Jika itu memang Aska, rambutnya pasti klimis dan rapi seperti biasa. Bukan malah berantakan seperti setahun tidak disisir.


Entah atas dasar naluri apa lagi, Teresa mengikuti cowok itu dari belakang. Teresa yang awalnya hanya berkendara di bawah rata-rata, kini di paksa menyamai kecepatan orang itu. Badan Teresa menggigil, ia merasa ketakutan. Teresa belum pernah mengendarai secepat ini sebelumnya.


Sedikit kehilangan jejak saat berada di jalanan ramai tapi Teresa kembali berusaha menyamai kecepatannya walau sulit. Motor ber-CC tinggi milik cowok itu tidak mungkin bisa disamakan dengan motor matic milik Tika.


Tapi ia harus mengikuti cowok itu agar tidak mati penasaran.


Orang itu pasti kembaran Aska yang selama ini ditutupi cowok itu.


***


Dari semua keterkejutan yang ia alami selama ini, ini adalah keterkejutan yang paling Teresa tidak pikirkan seumur hidupnya. Mulutnya sampai menganga terlalu lebar, matanya juga tidak dapat berhenti berkedut menyaksikan pemandangan di depannya.


Sulit di percaya ketika melihat cowok itu dalam posisi sekarang. Cowok yang ia pikir saudara kembar Aska, itu salah besar.


Dia memang Aska. Aska Fernando Pratama si anak pendiam yang selama ini ia tampilkan di sekolah, kini berubah total menjadi cowok misterius yang tidak Teresa kenali.


Ia tidak pernah mengira akan melihat Aska berada di tengah arena balap dengan Darren yang menyemangati di sampingnya.

__ADS_1


Ini salah. Ini bukan di sirkuit sehingga mereka bisa balapan sepuas hati. Ini jalan raya yang sengaja mereka beri palang pembatas agar orang lain tidak bisa melewatinya. Bahaya dan risiko lebih besar kemungkinan mengancam. Belum lagi bila polisi berhasil mengetahui keberadaan mereka.


Ia melangkah, maju semakin ke depan sambil menghalau beberapa orang agar menyingkir.


Badannya sontak menggigil ketika seorang cewek seksi menghitung mundur. Aska memakai helmnya, bersiap-siap dengan badan sedikit dicondongkan ke depan. Di hitungan satu dengan bendera tiga warna yang mengayun di udara, Aska menarik gasnya kencang. Teresa memekik, suara gemuruh memekakkan telinga semakin nyaring terdengar. Ada yang menyebut nama Aska, ada yang menyebut dua orang lain yang kini tengah menjadi lawannya.


Darren semakin heboh tidak jauh di depannya ketika semua motor yang sempat hilang dari jangkauan mendadak terlihat kembali dan memunculkan Aska sebagai juaranya. Darren berseru heboh sambil merapalkan nama Aska beberapa kali. Teresa masih memandangi tak percaya. Semua seakan hanya menjadi mimpi pengantar tidur yang biasa ia dapatkan.


Bertepatan dengan Darren yang menagih uang taruhan, Aska menatap tepat ke arahnya. Arah dimana Teresa kini menapakkan kaki.


Teresa berkedip beberapa kali ketika Aska justru memandangnya dengan pandangan tidak bersahabat. Sontak saja, Aska turun dari motornya, berjalan maju mendekati Teresa. Menariknya menjauh tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Aska menariknya terlalu kuat hingga membuat Teresa memekik kesakitan. Aska melepas cengkeraman tangannya begitu sampai ke tempat yang di rasa jauh dari kerumunan orang. “Ngapain lo ke sini?!” Teriaknya.


Bahkan suara Aska kali ini sangat berbeda dibanding biasanya. Suaranya begitu lantang dan tegas membuat Teresa merasa ciut mental.


Tidak seharusnya ia datang kemari dan mencampuri urusan cowok itu. Teresa merasa menyesal. Tika juga pasti mengkhawatirkannya karena pergi terlalu lama.


“Aku tadi nggak sengaja lihat Aska-,”


“Lo ngikutin gue?”


“B-bukan,” Teresa menggeleng tergugup. “Aku kira tadi kamu bukan Aska.”


“Terus lo pikir gue percaya?” Cowok itu masih saja memberikan Teresa tatapan mengintimidasi.


“Aska harus percaya!” Teresa ikut membentak. “Aska kelihatan, beda.” Kalimat selanjutnya justru terdengar lirih membuat Aska tidak tega memarahinya.


Aska menangkup kedua pipi Teresa, membuat cewek yang semula menunduk tersebut menjadi mendongak. “Lo bisa jaga rahasia ‘kan?” Tanyanya melembut membuat Teresa ikut terhipnotis.


Teresa mengangguk cepat.


“Bagus! Karena selain Darren, cuma lo satu-satunya orang yang yang tahu gimana aslinya gue. Termasuk orang tua gue sendiri.” Saat kalimat itu terucap, Teresa merasa bebannya semakin berat.


“Orang tua Aska nggak tahu?”


Aska menggeleng santai.


“Nggak perlu lo pikirin karena lo tinggal diam dan lupain semuanya.”


“Lupain semuanya?” Teresa menepis tangan Aska dipipinya. “Lupain kalau ternyata Aska bukan cowok pendiam seperti yang selama ini aku lihat. Lupain kalau ternyata Aska cowok berandalan yang selalu bikin rusuh ibukota. Lupain kalau ternyata Aska suka balapan liar. Lupain karena ternyata Aska...” Teresa merasa tercekat. “Udah menipu semua orang di sekitar Aska.” Teresa kembali menunduk dalam.


Hatinya serasa dicabik-cabik entah karena apa. Teresa semakin merasa Aska orang yang berbeda. Bukan lagi Aska manis yang selalu membantunya ketika merasa kesulitan.


“Bos, kita dapat lumay...an?!” Darren berhenti melangkah ketika mendapati Teresa ada bersama Aska. Matanya sontak mengerjap bingung.


Aska mengangguk singkat, lalu memberi interupsi Darren untuk pergi. Darren menurut, memilih berbalik pergi sambil mengerutkan kening.


“Gue nggak bermaksud menipu, tapi keadaan yang bikin gue harus melakukannya.”


“Kenapa?” Teresa menatap Aska dalam.


Aska tidak menjawab.

__ADS_1


“KENAPA?!” Teresa semakin berteriak. Peduli setan dengan tindakannya yang seperti terlalu mencampuri urusan Aska, ia tak peduli.


Karena semenjak Aska memilih peduli padanya, secara otomatis, hatinya juga memintanya untuk peduli pada cowok itu.


__ADS_2