Chameleon Boy

Chameleon Boy
Yang Ke-10


__ADS_3

*Seorang gadis remaja dengan pakaian putih biru berjalan ragu, memasuki pekarangan rumah minimalis milik orang tuanya. Matanya menyelidik, menatap sekeliling. Genggaman kedua tangan pada tasnya pun semakin menguat. Badannya bergetar, bahkan air mata sudah menggenang dari kedua pelupuk matanya. Ia menghapusnya kasar, tidak ingin terlihat sedang menangis di depan banyak orang.


Sebuah bendera kuning tertancap pada pagar rumah, membuat isi kepala gadis itu semakin berkelana. Tidak ingin masuk, tapi suara tangis seorang wanita paruh baya yang amat ia kenal menggema sampai keluar. Gadis itu menguatkan dirinya sebelum masuk. Mengembuskan napas sejenak sebelum akhirnya berjalan dengan ragu. Beberapa orang yang ada memberinya semangat, semoga dapat menjalani hidup yang lebih baik setelah ini. Beberapa lainnya menepuk bahu gadis itu agar tetap tabah. Gadis itu hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Ia menatap objek di depannya, seorang wanita paruh baya dan anak laki-laki yang menangis histeris di depan seorang jenazah yang sudah tertutup kain batik.


Teresa hanya diam. Ya, gadis itu Teresa, Teresa Evania. Berdiri memandangi jenazah itu tanpa berniat mendekat. Ia sendiri mengerti, walau badannya menolak, tapi hatinya tahu jika dirinya juga terluka telah kehilangan pria yang ia panggil sebagai 'Bapak'.


Beberapa orang terdengar berbisik-bisik membahas kematian ayahnya disaat orang yang mereka gunjingkan berada di depan mereka, terkapar tak berdaya. Tidakkah mereka memiliki sedikit saja hati nurani. Teresa tidak marah, hanya saja Ibunya pasti akan semakin terluka bila mendengar kalimat mematikan yang keluar dari mulut busuk mereka.


Kalimat yang mengatakan bahwa Ayah mereka meninggal karena disiksa dan dibunuh. Ada banyak luka lebam, sayatan pisau, bahkan beberapa luka tembak di tubuh. Teresa sangat yakin jika itu ulah salah satu dari jutaan musuh yang dibuat Ayahnya selama ini. Teresa sangat yakin. Mengabaikan banyaknya orang yang melayat, Teresa berlari menaiki tangga. Menuju kamarnya. Tidak sedikitpun berniat melihat Ayahnya, bahkan untuk yang terakhir kali*.


***


Teresa tersadar dari lamunannya. Ia mengerjap, kenapa ia kembali mengingat kejadian lima tahun lalu?!


Pelupuk matanya semakin menggenang, membuat sebuah aliran sungai pada kedua pipinya. Ia rindu, rindu sosok Ayah yang dulu selalu ada bersamanya. Mengajarinya naik sepeda, membelikannya hadiah setiap pulang dari segala urusannya di Kantor, membacakan dongeng pengantar tidur, bahkan memberikan kecupan hangat sebelum ia terlelap. Jika boleh, Teresa ingin kembali pada masa-masa Sekolah Dasarnya. Masa-masa dimana Ayahnya belum berubah menjadi sesosok monster menyeramkan. Masa dimana Ayahnya masih menjadi pria lembut dan penyayang.


Teresa semakin terisak, mengingat itu semua semakin membuat semua dendamnya membuncah. Ia ingin meluapkan, atau setidaknya melupakan semuanya. Ia rela dibuat amnesia, melupakan semua memori yang selalu ia simpan kuat, asal ia lupa rasa sakitnya. Agar Ayahnya dapat hidup tenang di sana. Agar Ayahnya tidak merasa berat karena bahkan setelah lima tahun kepergiannya pun keluarga kecilnya belum ada yang merelakan. Bahkan mungkin dirinya sekalipun.


Jangan lupakan rasa sakit yang selama ini melingkupi setiap jalannya. Teresa kembali mengingat bagaimana awal ia amat teramat membenci sosok itu. Tepatnya tujuh tahun lalu.


***


“*Buk, Bapak mana?” Teresa yang saat itu masih kelas lima Sekolah Dasar bertanya kepada Evani yang sedang memasak sarapan untuk mereka.


“Bapak lembur, tapi udah janji katanya mau pulang cepat! Resa nggak perlu khawatir, Bapak pasti nggak akan kecewain kita.” Jawabnya sambil tetap terfokus pada ayam yang ia goreng.


“Minggu masih aja lembur!” Teresa cemberut.


“Jangan gitu, ih. Bapak ‘kan kerja juga buat kita, kalau Bapak nggak kerja Resa mau makan apa? Mau makan batu?” Ibunya menggelengkan kepala. Teresa itu selalu manja jika menyangkut Ayahnya.


“Tapi ‘kan-,”


“Udah, Ezra aja yang masih kecil udah ngertiin, masa Resa yang udah besar masih manja.”


Teresa menghela napas. “Ezra kemana, Buk?”


“Tadi katanya jogging sama teman-temannya keliling kompleks. Tahu tuh, masih kecil udah gaya-gaya jogging segala.” Ibunya terkekeh. “Resa mau kemana? Kok pakai tas segala.” Lanjutnya setelah menatap putrinya sekilas.


“Resa mau belajar kelompok di rumah teman. Besok tugasnya udah dikumpulin.”


“Pagi banget?”


“Biar nggak panas. Pamit dulu, Buk.” Teresa mendekati Evani, mengecup punggung tangan Ibunya singkat.


Setelahnya gadis itu berlari keluar rumah, mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju rumah teman satu kelasnya.


Teresa bersenandung sambil mengayuh sepedanya perlahan, hatinya sedang bahagia. Jika ada sebuah alat pengukur kebahagiaan, alat itu pasti sudah jebol saat mengukur tingkat kebahagiaan Teresa. Ia senang, hari ini ulang tahunnya. Ayahnya sudah berjanji akan membelikannya playstation seperti milik teman-teman satu sekolahnya. Walau dengan syarat Teresa harus tetap mempertahankan prestasi.

__ADS_1


Teresa masih menyanyi lagu naik-naik ke puncak gunung saat ia melihat mobil berwarna putih melewatinya begitu saja. Itu Ayahnya. Teresa mempercepat kayuhan sepeda, Ayahnya mau kemana? Ingin mengejar tapi jelas tidak bisa. Mana bisa sepeda mengejar mobil?!


Mustahil!


Mengembuskan napas pasrah, Teresa memilih menuju tempat tujuan semula. Ia sudah berjanji akan mengerjakan tugas hari ini. Lima belas menit kemudian, ia telah sampai di depan sebuah rumah megah berwarna putih. Teresa memarkirkan sepedanya asal.


Ia mengernyit. Kenapa mobil Ayahnya ada di sini?! Apa orang tuanya itu memiliki urusan bisnis dengan keluarga Jasmine? Pasti iya. Atau mungkin malah itu bukan mobil Ayahnya, mobil seperti itu pasti tidak hanya di buat satu. Memilih acuh, Teresa berjalan santai menuju teras, mengetuk pintu dua kali, itupun dengan tenaga mini miliknya. Tidak ada yang membukakan. Lalu, di mana Ayahnya berada? Apa tetangga sebelah?


Teresa, sudah dibilang ‘kan bila itu belum tentu Ayahnya! Teresa merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Beberapa menit menunggu masih tidak ada sahutan sama sekali, Teresa mulai kehilangan kesabaran. Ia mengintip jendela, siapa tahu ada orang tapi tidak mau membukakannya pintu.


Teresa membulatkan mata. Apa yang terjadi? kenapa Ayah dan Ibu Jasmine terkulai di lantai dengan bersimbah darah. Sulit dipercaya, ia menggeleng, membekap mulutnya sendiri. Baru saja terjadi pembantaian hebat dan pelakunya adalah pria yang baru saja membuka penutup wajahnya sambil tertawa puas menatap hasil kerjanya. Ayahnya!


Teresa semakin terisak di sana. Tubuhnya bergetar hebat. Bisa di bayangkan bukan bagaimana syoknya Teresa yang saat itu masih berusia sepuluh tahun, menatap pembantaian dua manusia sekaligus secara nyata. Teresa serasa ingin pingsan bila saja ia tidak ingat jika saat ini sedang dalam masa genting.


Itu bukan Ayahnya, bukan. Pasti bukan! Ayahnya pria lembut dan berperasaan, tidak mungkin bisa menjadi monster pembunuh yang keji. Ini tidak mungkin, membunuh semut saja pasti Ayahnya tidak tega.


Tapi penglihatannya tidak mungkin salah! Ia takut. Sangat takut. Teresa menghapus air matanya kasar, semakin menajamkan penglihatannya dari balik jendela. Tentu saja sambil sembunyi-sembunyi.


Jasmine di mana? Temannya itu tidak ada di sana. Semoga Jasmine selamat, Teresa tidak ingin terjadi sesuatu pada temannya.


Takut ketahuan, Teresa memilih pergi, meninggalkan pekarangan rumah Jasmine dengan tergesa-gesa. Badannya menggigil hebat tapi tetap ia paksakan untuk berjalan.


Semoga Jasmine masih hidup.


***


“Loh, Resa kok udah pulang? Nggak jadi belajar kelompok?” Bahkan suara lembut Evani pun langsung membuatnya menegang. Kemudian menghapus air matanya cepat-cepat.


“Ja-jasmine,” Apa Teresa harus mengatakannya sekarang, ataukah nanti ketika telah memiliki bukti?


“Jasmine kenapa?” Ibunya mengernyit sambil memegang apron yang baru saja dilepasnya, sambil menenteng butter di tangan kanan. Hari ini mereka akan merayakan ulang tahun Teresa yang ke sepuluh dengan sederhana. Hanya keluarga. Teresa, Evani, Ezra, dan Ayah mereka. Bramantyo.


Sepertinya Teresa tidak akan mengatakannya. Mengatakannya sekarang akan membuat Ibunya tidak percaya, jika percaya pun Ibunya pasti akan langsung menangis histeris dan jatuh pingsan. Ia tidak mau itu terjadi.


Teresa meneguk ludah kelu. “J-asmine nggak ada di rumah,” Teresa nyengir. “Nanti Resa kerjain sendiri aja.”


Ibunya mangut-mangut, sepertinya tidak mencurigai sikap Teresa yang mendadak berubah. Buktinya begitu Teresa mengatakan jawabannya, Evani langsung berlalu menuju dapur.


“Resa ayo makan dulu.” Teriak Evani dari arah dapur.


“Nanti.” Katanya sambil melangkah menaiki anak tangga dengan gontai. Perasaannya sudah sedikit lega, tidak setakut tadi. Ia harus melupakannya, berpura-pura tidak tahu. Atau mungkin, menanyakan langsung kepada Bramantyo tentang motif dibalik pembunuhan itu.


Teresa tidak berpikir sok dewasa, tapi memang di usianya yang ke sepuluh tepat hari ini, pemikirannya memang selalu melebihi anak seusianya.


Dia, Pintar*.


***

__ADS_1


*Semua sudah di persiapkan. Mulai dari kue, hiasan dinding, sampai balon sudah terpasang indah di ruang keluarga. Sekarang pukul empat sore. Semua sudah berkumpul di ruang tamu, belum termasuk Ayahnya.


Bramantyo belum pulang hingga kini, mungkin sebentar lagi. Teresa yang hari ini menjadi tuan putri pun sudah berdandan cantik. Walau hanya keluarga kecilnya, tapi Teresa juga ingin terlihat sempurna.


“Mbak Resa kayak princess.” Puji Ezra dengan polosnya.


Teresa yang mendengar itu langsung berpose centil. “Siapa dulu dong? Resa! Aku ‘kan memang selalu cantik.”


Bocah laki-laki itu tertawa. “Ezra juga ganteng!” Katanya tak mau kalah.


“Kata siapa?”


“Kata Ibuk!”


“Ibuk bohong, semua Ibu pasti bilang anaknya ganteng biar nurut kalau dibilangin.”


Ezra terlihat kecewa, Teresa justru tertawa. “Berarti mbak Resa juga ganteng?” Tanya Ezra bingung.


“Heh? Aku cantik, Ezra.”


“Tadi katanya semua Ibu bilang anaknya ganteng? Mbak Resa ‘kan juga anak Ibuk,”


“Maksudnya yang anaknya cowok,” Teresa menggertakkan gigi. “Jangan tanya lagi! Susah ngomong sama anak kecil!”


“Emangnya-,”


“Jangan tanya!” Ezra langsung diam. Merapatkan bibir.


Ezra cemberut lalu mendongak, menatap seseorang baru saja memasuki rumah mereka. “Bapakkk!!” Teriak anak itu sambil berlari terpontang-panting memeluk Bramantyo yang juga telah merentangkan tangan. Ada Evani di sampingnya, Tersenyum memegangi tas kerja suaminya.


Jika biasanya Teresa akan ikut berhambur ke dalam pelukan bersama Adiknya, maka mulai hari ini akan berbeda. Ia memalingkan wajahnya acuh. Menahan tubuhnya untuk tidak bertindak sesuatu yang membuat semuanya curiga.


Padahal Teresa sudah berniat untuk bersikap biasa, tapi tetap saja tidak bisa.


“Resa nggak mau peluk Bapak?” Ayahnya bertanya sambil tetap memeluk Ezra.


Teresa diam. Pura-pura tidak mendengar.


“Resa marah karena Bapak pulang telat?” Teresa masih diam. Air mata mulai mengalir deras. Ingin memeluk orang yang paling dikasihinya tapi ia takut. Menatap wajah Ayahnya sendiri justru membuatnya trauma.


Bramantyo melepas pelukan Ezra, lalu berjalan menghampiri putri kecilnya. Putrinya ini sangat pintar, Bramantyo bangga memiliki Teresa. Teresa adalah salah satu hartanya yang paling berharga, ia berjanji akan menjaganya dengan sepenuh hati. Akan selalu menjadi benteng pertahanan putrinya dari bahaya, maupun jangkauan apapun.


“Resa kenapa?” Bramantyo berjongkok, memegang bahu putrinya. Dapat dirasakan tubuh putrinya menegang saat disentuhnya. Ia mengernyit. Tidak biasanya Teresa acuh, bahkan memunggunginya. “Ayah buat salah sama Resa?” Selanjutnya terdengar isakan halus dari mulut putrinya.


Bramantyo membalikkan badannya, menatap mata Teresa yang berair.


Teresa seperti...ketakutan.


Bramantyo mulai menerka-nerka apa yang terjadi sebenarnya. Mengembuskan napas pasrah karena Teresa semakin memundurkan badannya sampai ke pojok sofa panjang, sebelum berlari terpontang-panting memasuki kamar.

__ADS_1


Apa yang terjadi sebenarnya*?


__ADS_2