Chameleon Boy

Chameleon Boy
Insiden Perpustakaan


__ADS_3

Teresa menyusuri setiap rak buku. Ia belum memahami satu bab yang kemarin diajarkan Bu Devi. Lusa ia sudah lomba, jadi ia harus lebih giat hari ini. Ia sampai rela menunda jam makan siangnya demi peperangan yang akan ia tempuh.


Ia sedikit berjinjit, menelusuri rak khusus pembelajaran kimia kelas.


Ketemu.


Buku yang diinginkannya berada di rak paling atas. Teresa menatap sekeliling, melihat situasi. Ia ingin sedikit meloncat agar dapat mencapainya tapi ia malu. Kenapa ia pendek? Ah, Teresa benci mengakui ini.


Tumben suasananya ramai sekali. Semua murid mendadak rajin. Pantas saja, sebentar lagi ujian tengah semester berlangsung. Semua pasti ingin bersaing menyusul pararelnya, terutama yang berada di perpustakaan ini. Semuanya termasuk golongan anak rajin dan pintar.


Tapi maaf saja, mereka tidak akan bisa mengalahkan Teresa. Si pararel satu selama dua tahun berturut-turut. Ia mengerjap, mengusir pemikiran nyelenehnya. Kenapa ia menjadi sombong?!


Fokus Teresa, fokus!


Tanpa aba-aba ia meloncat, ingin mengambil buku. Tapi sayang, tubuhnya oleng karena kakinya salah letas saat meloncat. Ia memegangi rak agar tidak jatuh. Teresa dapat bernapas lega karena ia tidak terpeleset.


Ia kembali menatap sekeliling. Aman. Tidak ada yang menyadari tingkah absurdnya barusan.


“Eh, eh,” Teresa membelalakkan mata, raknya bergetar. Ia mulai panik, melepas pegangannya pada rak kayu itu kemudian menjauh, takut jika tertimpa rak yang sepertinya akan roboh.


Benar saja...


Bruk!


Semua terkejut, berdiri. Menatap tajam Teresa sebagai tersangkanya. Teresa menunduk, hanya bisa pasrah saat petugas perpustakaan menghampirinya.


“Siapa yang bertanggungjawab?” Petugas itu bertanya.


Teresa masih menunduk, tubuhnya bergetar hebat. Musibah apa ini, semua menatap tajam ke arahnya membuat Teresa terlihat seperti tikus kecil ditengah kawanan kucing anggora. Tentu saja mereke tidak akan memakannya.


Teresa mendongak. “Ma-maaf, Pak!”


“Maaf, maaf. Kamu pikir dengan kata maaf bisa bikin raknya balik seperti semula? Kamu ini. Untung raknya nggak rusak!”


Teresa menunduk, tidak menjawab.


“Ini, beresin seperti semula, saya tidak mau tahu! Kalau tidak, saya laporkan ke BK.” Petugas gendut itu menunjuk-nunjuk Teresa sebelum kembali ke tempatnya. “Untung murid langganan ke sini, kalau enggak, habis kamu sama saya.” Teresa masih mendengar sayup-sayup gerutuannya.


Teresa mengembuskan napas panjang. Ini menyebalkan. Seharusnya kini ia sudah bergelut dengan buku. Sekarang bagaimana? Mana bisa ia mengangkat rak seorang diri. Semua murid sudah keluar, pasti takut dengan teriakan petugas tadi. Berusaha sekuat tenaga mengangkat rak menjulang itu, tapi percuma.


“Nggak bisa lebih sial aja dari ini?” Teresa mulai bermonolog. Lama-lama ia bisa gila.


“Makanya lain kali hati-hati. Untung lo nggak ketimpa. Coba kalau iya, penyek lo!” Teresa menatap orang itu, lalu memutar bola matanya jengah.


“Kalau di sini cuma buat ngomel, mending kamu pergi.” Teresa sedang tidak minat berdebat.


“Gue pergi nih?” Aska ingin berbalik, namun Teresa mencekal lengannya.


“Kalau nggak niat bantuin nggak perlu kasih harapan.” Ia mulai menggertakkan gigi, membuat cowok itu justru terpingkal-pingkal.


“Siapa yang kasih harapan?” Aska bersidekap, menatap Teresa yang lagi-lagi memutar bola matanya jengah.


“Aku sibuk! Aska pergi aja. Aku bisa sendiri.” Teresa kembali berjongkok, mulai menyingkirkan buku-buku yang berhamburan. Tidak ada gunanya berdebat sekarang. Lebih baik segera ia selesaikan, kemudian kembali belajar.


“Gitu aja ngambek. Kebanyakan ngambek nanti cantiknya hilang tahu rasa!” Ucap cowok itu menggerutu. Ikut berjongkok, menyingkirkan buku seperti yang Teresa lakukan.


Teresa tidak menjawab. Bukan tidak mendengar, hanya berpura-pura tidak mendengar sambil menetralkan pipinya yang mulai memanas.


Aska ini, walau sedang menyebalkan masih sempat membuatnya melayang.


Keduanya mulai berkutat dengan pekerjaannya. Mengangkat rak dan meletakkan buku-buku seperti semula sesuai abjad. Teresa dapat mengembuskan napas lega saat semuanya akhirnya selesai disusun. Aska yang menyusun rak paling tinggi karena takut Teresa menjatuhkannya lagi. Sedikit mengernyit saat menahan sakit yang kembali terasa pada bahunya.


Keduanya berbinar menatap hasil pekerjaan mereka yang terlihat sempurna.


“Maaf ya, Aska jadi bolos pelajaran gara-gara aku.” Ia tulus meminta maaf, karenanya Aska jadi meninggalkan jam pelajaran kelimanya.

__ADS_1


“Lo sendiri juga bolos, nggak takut dimarahin?”


Teresa tersenyum. “Takut sebenarnya, tapi sekali-kali nggak menaati peraturan seru juga.”


Aska terkekeh. “Iya, seru. Apalagi sama gue.”


Seolah terhipnotis, Teresa mengangguk menatap Aska. “Lagian kalau aku bolos nggak akan kena BK, ‘kan lagi dihukum. Nanti Aska gimana?”


“Gampang!”


Teresa menghela napas sambil menatap Aska. Ia mengernyit cukup lama. “Wajah Aska kenapa?”


“Oh ini,” Aska menunjuk bibirnya yang terlihat membiru. “Biasalah, jagoan emang suka gini.”


“Aska nggak jatuh dari motor ‘kan?”


“Enggak.”


“Serius? Aska nggak bohong?”


“Ciee, perhatian.” Aska tertawa.


Teresa mengatupkan bibir, lalu menunduk. “Aska teman aku, jadi aku harus peduli. Lagian Aska selama ini udah baik banget, masa aku nggak balas budi. Namanya ngelunjak.”


“Teman?” Kenapa rasanya begitu sakit saat kata 'teman' keluar dari mulut cewek yang diam-diam dipujanya akhir-akhir ini. Aska ingin lebih dari itu.


Seperti dapat membaca raut muka Aska, Teresa menyendu. “Aska nggak suka jadi temanku?”


“Gue maunya lebih.” Gerutunya serius. Tidak ada yang mengetahui jika ia benar-benar menginginkan sebuah status hubungan, lebih dari teman. Apalagi sahabat.


Teresa menahan napas sesaat. Atmosfer mendadak berubah. Belum pernah mendapatkan pernyataan mematikan seperti itu sebelumnya. “Apa?”


Melihat Teresa yang terlihat tidak terima, Aska mengalah. Mulai tertawa terpingkal-pingkal, setidaknya itu jauh lebih baik. “Bercanda. Nggak perlu tegang gitu.”


Aska memegang raknya kuat-kuat sambil berkata. “Biar gue pegangin raknya. Ngambilnya hati-hati, nanti jatuh lagi. Tenaga lo ‘kan kayak bison.” Hal itu sontak membuat Teresa tersedak tawanya.


Aska ikut tertawa. Melihat orang yang kita sayangi tertawa karena kita sudah lebih dari cukup untuk membuat kita selalu merasa bahagia. Tawa Aska semakin meledak saat Teresa berjinjit ragu untuk mengambil buku paling atas. “Sini, gue bantuin. Nggak usah malu-malu gitu.” Katanya sambil mengejek.


“A-aku nggak malu,”


“Pendek bukan berarti jelek. Lo pendek, tapi anehnya malah kelihatan imut.”


Blusshhh...


Apa tadi? Pasti pipi Teresa. Aska memang selalu sukses membuatnya salah tingkah.


Teresa menegang saat merasakan gerakan Aska mulai mendekatinya. Semakin dekat hingga Teresa merasa dicepit antara rak juga tubuh cowok itu. Rasanya Teresa akan kehilangan napas untuk sesaat. Bahkan bahunya sampai menempel di kepala Teresa. Hembusan napas cowok itu menerpa seluruh wajahnya membuat Teresa justru merasa sangat panas.


Memilih diam, Teresa menghirup aroma maskulin cowok itu lekat-lekat. Wangi. Sangat menenangkan. Sepertinya Teresa akan memiliki kegiatan baru bila berdekatan dengannya.


Aska menunduk menatap Teresa, membuat cewek itu mendongak. Tidak tahukah mereka jika posisi seperti ini sangat berbahaya?!


Saling bertemu pandang beberapa saat. Dapat Teresa dengar jika jantung cowok di depannya ini berdetak hebat. Apa Aska sakit?


Tubuh Aska mendadak menjauh. Teresa pun akhirnya tersadar kemudian berdeham, berusaha menguasai diri.


“Ini ‘kan?” Aska menyodorkan buku padanya.


Ah shit, bukan ini. “Iya ini,” Teresa menerima buku itu cepat-cepat. Biarlah salah, yang penting tidak seperti tadi lagi.


“Makasihnya mana?”


“M-akasih Aska.” Jawabnya sambil menunduk kemudian pergi. Aska tersenyum geli melihat pipi Teresa yang memerah seperti kepiting rebus. Sepertinya Teresa akan menyukainya sebentar lagi. Aska berjalan sambil bersiul di belakang Teresa yang masih merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Dini yang berada tidak jauh dari mereka masih mengerjapkan mata tidak percaya. “Mereka tadi ngapain?”

__ADS_1


***


Sepanjang koridor Dini terus berkutat dengan pemikirannya. Apa ia tidak salah lihat, Aska mencium Teresa dan cewek itu diam saja. Masalahnya bukan pada dirinya, tapi kedua temannya. Mereka berdua terlihat sangat pendiam di luar, tapi mengerikan di dalam. Dini saja belum pernah seperti itu.


Langkah Dini terhenti saat seseorang menabraknya dengan kasar. “Sialan!” Katanya pada si penabrak. Cowok itu tidak menghiraukannya, tetap berjalan tergesa seperti dikejar setan.


Dini menengok ke belakang, menatap nyalang cowok yang menabraknya tadi semakin mengecil dari pandangannya. “Lihatin apa lo?!” Ia tersentak memegangi dada. Seseorang mengagetkannya.


“Ngagetin aja lo bisanya!” Sentaknya. “Adik lo mau kemana tuh?” Tanyanya menunjuk orang yang menabraknya tadi.


“Dia bukan adik gue!” Gantara menggertakkan gigi.


“Parah lo, Adik sendiri nggak diakuin! Gue jadi kasihan sama Dafa, pasti tertekan punya Abang kayak lo!”


“Dia bukan Adik gue.” Bernada dingin, Dini berusaha menguasai situasi.


“Adik tiri maksud gue, sensi amat sih! Kayak cewek PMS. Lagian punya Adik nurut kayak dia bukannya disayang malah dibenci.” Dini mulai bercicau sambil melanjutkan jalannya menuju kelas. Gantara mengikutinya.


“Jangan keras-keras, nanti ada yang nguping. Kuping tembok itu ada di mana-mana. Apalagi yang berhubungan sama gue!”


“Iya, yang populer. Anak pemilik sekolah paling ditakuti. Cihh...” Dini tahu jika Gantara memang tidak pernah akur dengan Adik tirinya. Orang tua mereka bersahabat sejak lama membuat Dini perlahan ikut akrab dengan Gantara. Bahkan Gantara sering singgah di rumahnya barang sebentar, hampir setiap hari. Tidak ada yang tahu jika Dini dan Gantara sedekat itu.


Konflik kehidupan Gantara memang rumit. Dini mengakui, Gantara cowok terkuat yang pernah ia kenal. Gantara yang memperlihatkan sosok berkuasanya di depan, hanyalah seorang anak yang berusaha mati-matian menutupi kehidupan aslinya.


“Biarin aja, mungkin Dafa butuh waktu. Lo cuma harus sabar, jangan gampang emosi.” Dini berjinjit, merangkul bahu Gantara dari samping. Cowok itu tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya.


“Mulai ada benih-benih nih? Boleh lah balas perasaan gue sekarang?! Capek loh, beb, gue nungguin lo bertahun-tahun.”


“Anjir lo malah geer!” Dini mendorong Gantara sampai cowok itu kelimpungan.


“Nggak usah dorong bisa kali?! Gue cuma bilang mulai ada benih-benih lo udah KDRT. Tahu lo KDRT?”


“Kekerasan dalam rumah tangga. Lo pikir gue se-oon itu sampai KDRT aja nggak tahu!” Dini menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum skeptis, merasa bangga.


“Tuh, tahu! Imam dalam rumah tangga lo itu gue jadi lo jangan KDRT lagi.”


“Dewa, please! Gue udah bilang berkali-kali kalau lo udah gue anggap sebagai Abang, nggak lebih. Oke?”


“Apa susahnya sih pacaran sama gue, nggak cinta nggak apa-apa. Lama-lama juga suka kalau kita jalani.”


Dini diam sejenak. “Gue nggak mau nyakitin lo dengan pura-pura.” Ia menoleh, sedikit mendongak untuk dapat menatap manik mata Gantara yang juga tengah menatapnya. “Gue sayang sama lo, makanya gue pingin lo dapat yang lebih baik dan lebih tulus dari gue.”


“Nggak ada yang lebih baik dari lo.”


“Dasar pesimis!” Dini tertawa. “Dicari dulu, baru ngomong. Nyari aja belum udah bilang nggak ada.”


Gantara meringis. “Lo dari mana?”


“Jalan-jalan.”


“Jam pelajaran gini?”


“Kenapa emang? Lo juga nggak ikut pelajaran dari mana?”


Gantara nyengir tidak menjawab. “Sendirian?”


Dini mengangguk.


“Bukannya lo punya teman baru? Cewek pendek itu? Jujur gue benci sama dia, tapi karena katanya dia baik, gue bisa apa. Lo bebas berteman sama siapapun.”


“Dia punya nama! Namanya Teresa. Dia emang baik, teman terbaik yang gue punya. Jelas dia nggak ikut gue lah, ‘kan bukan jam istirahat.” Sergahnya membela Teresa. “Lagian lo kenapa sih kayaknya benci banget sama dia?” Dini mengernyit bingung. Berhenti berjalan saat akan melewati koridor.


Gantara berdecak. “Tuh cewek nguping pembicaraan gue sama Dafa waktu gue berantem di belakang perpustakaan. Sialan! Gue udah tutup masalah ini rapat-rapat tapi dia seenaknya dengarin. Gue udah ngancam dia, kalau sampai masalah gue menyebar, dia yang bakalan gue cari pertama kali.”


“Gue serius!!”

__ADS_1


__ADS_2