
Minggu pagi datang kembali. Teresa menatap mentari dari bilik kamarnya dengan mata berbinar. Ia memegang janggutnya, tampak berpikir. Ah, apa yang akan ia lakukan hari ini? Memasak? Atau membuat kue? Ibunya hari ini libur kerja, begitupun Teresa yang diberi masa cuti oleh Andre khusus hari minggu.
Ia sangat senang. Dengan langkah gesit ia keluar kamar, mengetuk pintu kamar Ezra.
“Ezra! Ezra! Ezra! Bangun!” Teriaknya beruntun sambil terus menggedor.
“Apa sih, Mbak!” Sergah Adiknya ketika pintu telah terbuka. Teresa menatap Adiknya dari atas sampai bawah sambil mengerjap. Ezra sudah mandi pagi-pagi, biasanya jika minggu Ezra akan tidur seharian.
“Mau kemana? Tumben udah mandi!” Nadanya terdengar mengejek asal kalian tahu. Teresa benar-benar cocok menjadi ratu nyinyir sejagat. Teresa sedikit mengernyitkan wajah saat cipratan air dari rambut Ezra mengenainya.
“Aku ada acara foto buat album kenangan sekolah.” Ezra berkata santai tetap mengusap rambut menggunakan handuk. Setelahnya ia berbalik, kembali masuk kamarnya diikuti Teresa yang mengekor.
“Yahhh! Nggak asik!” Teresa mengerucutkan bibir sok imut sambil membantingkan badannya ke kasur.
“Kenapa emang?” Tanya Ezra. Tangannya sibuk memilih baju yang cocok dari dalam lemari.
“Mbak hari ini libur, Ibuk juga. Mbak pingin hari ini kita kumpul sambil bikin keseruan bareng. Mbak kangen kehangatan keluarga kita.” Jelasnya lirih di akhir kalimat.
Terdengar helaan napas dari mulut Ezra. “Nanti aku usahain pulang cepat.”
“Harus!” Teresa langsung berdiri semangat.
Ezra terkekeh melihat semangat kakak yang hanya berbeda dua tahun darinya itu. Jika dilihat, mereka justru terlihat seumuran karena air muka Teresa yang terlihat jauh lebih muda dibanding usia yang sesungguhnya.
“Siap grak!” Jawab Ezra tegas sambil hormat seperti pemimpin upacara. Teresa tertawa. “Yaudah, aku berangkat dulu, ya!”
“Sekarang?”
“Sinar pagi bagus buat foto.”
Teresa mangut-mangut, mengekori Ezra yang berjalan keluar kamar.
“Ezra sarapan dulu,” suara Evani berhasil menginteruksi keduanya.
Keduanya mengangguk mendekati meja makan. Padahal Teresa tidak disuruh makan tapi justru dia yang menyerobot mengambil nasi terlebih dahulu. Evani geleng-geleng melihat kelakuan putrinya.
“Mbak, yang disuruh makan itu aku, kenapa Mbak Resa yang duluan!” Ezra tidak terima.
“Buk, apa agenda kita hari ini?” Ezra berdecak karena ucapannya tidak digubris. Teresa tertawa puas dalam hati.
Evani tampak berpikir. “Kita...berkebun? Beresin bunga-bunga di depan biar kelihatan lebih cantik.” Usulnya.
“Oke!” Jawabnya semangat. “Tapi habis itu kita bikin kue ya, Buk?”
“Oke!” Jawaban Evani membuat kedua anaknya terkekeh.
Teresa senang melihat Evani yang seperti ini. Terlihat berbeda dengan Evani ketika Amnesianya kambuh. Teresa hanya berharap, jika Ibunya selalu bahagia.
Tok... Tok... Tok...
“Resa, tolong buka pintu.” Perintah Evani yang akan berjalan menuju dapur.
Teresa mengangguk, berjalan keluar lalu membukakan orang itu pintu.
“Hallo Teresa, apa kabar?”
Teresa menatap orang itu. Ia mengerjap, tersentak halus namun bisa kembali menguasai diri. “Baik. Kamu apa kabar?” Tanyanya balik.
Orang itu menyentil kening Teresa. Cewek itu mengaduh. Orang ini senang sekali membuatnya sengsara. “Tiap hari ketemu masih nanya.”
“Lah, habisnya pertanyaan Aska aneh pakai sok-sokan tanya kabar lagi! Tahu rumahku dari mana?” Cewek itu masih berada di ambang pintu, tidak sedikitpun mempersilakan Aska untuk masuk.
“Gue nggak disuruh masuk dulu?” Aska menaikkan sebelah alisnya.
Teresa memberi jalan. “Silakan masuk,” katanya.
“Bukannya gue pernah antar lo pulang, ya.” Katanya setelah mendudukkan diri sofa panjang. Teresa masih berdiri, tangannya bersidekap di depan dada.
“Ah iya, aku lupa.” Teresa menepuk jidatnya. “Ada keperluan apa?”
__ADS_1
“Resa, siapa? Temannya, ya. Sini sekalian di ajak sarapan aja.” Ibunya berteriak dari arah dapur membuat Teresa mendengus.
“Iya, Buk!” Jawabnya juga tak kalah kencang. “Ayo makan dulu.” Ajaknya kemudian.
Ada sengatan halus menjalar di sekujur tubuh Aska. Pipinya memanas. Ia makan di rumah orang yang ia suka? Aska belum pernah berpikiran itu sebelumnya. Ia berdiri dengan semangat. Walau sebelumnya Aska belum pernah makan di rumah orang lain yang bukan kerabatnya, kecuali di rumah Darren tentunya. Tapi tidak masalah, ia akan berusaha walaupun pasti keadaan akan sangat canggung di meja makan. Karena terlalu mendalami karakter pendiamnya, Aska kadang selalu kesulitan mencairkan suasana. Apalagi yang belum mengenal satu sama lain.
“Ayo!” Suara ajakan Teresa berhasil memecah keheningannya. Aska mengangguk, berjalan canggung memasuki dapur.
Ia baru pertama kali berkunjung ke sini karena yang pertama hanya mengantar sampai depan. Dan kesan pertama saat melihat rumah Teresa cukup membuktikan semuanya. Cewek itu memang berasal dari keluarga sederhana. Rumahnya sangat kecil, tetapi sangat nyaman begitu masuk ke dalamnya. Kehangatan keluarga ini sangat terasa sampai membuat Aska tersanjung.
Ia duduk di samping seorang anak laki-laki. Terlihat seumuran dengan Teresa. Ah, berarti juga seumuran dengan dirinya?! Tapi jika dibandingkan dengannya, laki-laki itu terlihat lebih muda. Aska malah memperhatikannya tanpa sadar membuat Teresa menatap Aska aneh.
“Ezra! Kenalan dulu!” Teresa memerintah sambil kembali duduk di tempatnya semula. Nasinya sudah agak dingin.
Ezra menoleh lalu mengangguk malas. “Iya, Mbak!”
Aska mengangguk-anggukkan kepala tanpa sadar. Ternyata adiknya!
“Ezra, Bang.” Katanya sambil menjulurkan tangan. Aska menatap tangan itu sejenak kemudian membalas jabatannya sambil tersenyum.
“Aska.” Katanya singkat.
Ezra mangut-mangut. “Teman atau pacarnya Mbak Resa, Bang?” Kalimat Ezra membuat seluruh ruangan tersedak. “Eh, aku manggilnya apa ya?” Gumamnya lagi pada diri sendiri. Terlihat seperti cowok paling polos di dunia sampai Teresa yang menatap sinis Ezra ingin mencakar wajahnya sekarang juga.
Ezra tersadar, menatap semuanya. Teresa melotot, Aska mematung, sedangkan Evani tersenyum tidak jelas. “Kalian kenapa?” Tanyanya aneh.
“Nggak apa-apa.” Jawab keduanya bersamaan. Tersadar jika keduanya kompak, mereka saling menatap tak percaya satu sama lain.
“Cieee, barengan.” Ezra terkikik sambil berdiri menenteng tasnya. “Berangkat dulu, Buk.” Katanya menyalami Ibunya. Evani mengangguk. “Berangkat dulu Mbak Resa sama Mas, eh Bang.”
Aska ingin mengumpat. Memangnya dia abang-abang bakso?! Dipanggil 'Mas' pula. Menyebalkan. Tapi Aska justru tersenyum.
“Panggil Aska aja biar akrab.”
***
“Sebenarnya ada keperluan apa Aska sampai jauh-jauh datang ke sini?” Tanya Teresa benar-benar penasaran.
“Kenapa lo nggak bilang!” Mata Aska masih lurus menatap cewek itu. Teresa mulai salah tingkah karena sikap Aska benar-benar membuatnya bingung tentang bagaimana caranya menguasai situasi semacam ini.
“Bilang apa?”
“Beasiswa,” gumamnya.
Teresa meneguk ludah. “A-aska udah tahu?!”
“Kalau gue belum tahu, lo nggak akan kasih tahu ‘kan?” Nadanya terdengar berat penuh amarah. Teresa jadi bergidik ngeri mendengarnya. Ia takut bila Aska tiba-tiba membentaknya.
“Bukan gitu,”
“Katanya gue teman lo, tapi kenapa lo nggak pernah terbuka sama teman lo sendiri?! Kenapa lo suka banget memendam masalah lo sendiri?! Oh, atau lo berpikiran kalau gue nggak akan bisa bantuin lo keluar dari masalah?! Iya?”
“Aska, bukan gitu maksud aku,” Lirihnya menahan tangis. Mendengar Aska marah membuatnya merasa sakit, entah karena apa.
“Bukan gitu gimana? Gue selalu terbuka sama lo. Bahkan lo tahu rahasia besar gue selama ini padahal gue udah tutup rapat-rapat. Gue udah terbuka sama lo, tapi lo kayaknya emang nggak suka temenan sama gue.”
“A-aku suka berteman sama Aska. Aska baik,” ia mulai menangis. “Tolong jangan berpikiran yang jelek tentang aku. Selama ini cuma Aska yang anggap aku berguna, jadi Aska jangan bilang gitu.” Isaknya.
Aska menghela napas panjang, sekarang dirinya justru menahan rasa bersalah melihat cewek itu menangis karena kalimatnya. Aska merasa menjadi lelaki brengsek kalau seperti ini jadinya.
Aska menangkup bahu Teresa, membuat Teresa jadi berhadapan dengannya. “Sekarang gue mau lo janji sama gue.” Nadanya terdengar lebih lembut dibanding tadi. Teresa yang semula menunduk jadi mendongak, kembali menatap manik mata milik Aska sambil sesenggukan.
“Janji apa?” Tanyanya setelah merasa lebih baik.
“Janji kalau mulai sekarang kita harus saling terbuka. Apapun itu. Termasuk masalah lo sama Gantara. Semua harus lo ceritain sama gue karena gue yang akan selalu bantu dan ngelindungin lo. Kalau lo nggak cerita, gimana caranya gue tahu? Gimana caranya gue memenuhi janji sama diri gue sendiri untuk jagain lo? Jadi gue minta tolong untuk selalu terbuka supaya gue terlihat berguna. Oke?”
Teresa mengangguk sambil terisak. Hatinya sangat bahagia, memiliki Aska membuat hidupnya tidak semonoton sebelumnya. Dengan adanya Aska ia jadi merasa dibutuhkan.
“Janji dulu, jangan cuma ngangguk.” Aska terdengar merengek, Teresa sampai terkekeh disela tangisnya.
__ADS_1
“Iya,”
“Iya apa?”
“Janji.”
“Janji apa?” Aska menaikkan sebelah alisnya, pura-pura tidak mengerti.
Teresa memutar bola matanya malas. “Janji kalau mulai sekarang akan selalu terbuka sama Aska.”
“Terus?”
Pertanyaan Aska selanjutnya membuatnya sampai mengernyit. “Terus? Yaudah itu. Apalagi?”
“Itu doang?”
Teresa mengangguk mantap.
“Nggak mau bilang sesuatu gitu?”
“Apa sih, Aska! Aku nggak ngerti.”
Aska meraup wajahnya frustasi. “Makasih, kek! Atau seenggaknya bilang aku sayang kamu atau apa gitu?! Aku beruntung ketemu Aska atau apa ‘kan bisa?” Aska terlihat jengkel.
Teresa tertawa. Oh, itu maksudnya! “Makasih.” Katanya tulus sambil tersenyum.
“Itu do-,”
“Makasih karena udah hadir di hidup aku dan membuat aku nggak kesepian lagi. Makasih atas semua bantuan kamu. Kamu itu kayak superhero di siang bolong.” Cerocosnya lagi memotong ucapan cowok itu.
Aska bergeming beberapa saat. Kata-kata Teresa barusan membuatnya terharu.
“Makasih untuk semuanya.” Lanjut Teresa, Aska mengangguk senang.
“Semoga kita selalu menjadi teman selamanya.” Kata-kata Teresa yang ini benar-benar membuat Aska tersedak air liurnya. Senyum lebarnya langsung surut tanpa sisa.
Kenapa Teresa selalu bisa membuatnya naik darah?!
***
Bughhh...
Satu bogeman mendarat halus di pipi Gantara, membuat cowok yang sedang meneguk alkohol itu jatuh tersungkur. Ia memegangi pipinya. Matanya nyalang, menatap cowok gila yang mendadak datang dan menghajarnya.
Beberapa wanita dewasa dengan pakaian minim yang berada di tempat itu sampai berdiri kaget, keluar dari ruangan setelah Aska memberikan interuksi untuk pergi. Keadaan hening sesaat. Hanya ada dentuman suara dari luar yang terdengar memekakkan telinga. Entah sudah segila apa orang-orang yang berjoget di luar sana.
“Minta maaf sama Teresa sekarang!” Teriak cowok itu, lagi. Entah sudah berapa kali cowok itu meminta Gantara meminta maaf. Matanya memerah, menatap Gantara marah. Tangannya menjulur, meraih kerah baju dan mengangkat paksa Gantara yang meringis tercekik kerahnya sendiri.
“Apa urusannya sama lo?” Jawabnya santai. Cowok itu meludah saat merasakan darah mengalir di dalam mulutnya. Membuat lantai menyisakan noda menjijikkan.
Beberapa teman Gantara yang melihatnya hanya diam, tidak berani melerai atau mereka akan berurusan dengan si troublemaker Aska juga.
Aska semakin naik pitam. Mendaratkan satu tonjokan lagi di hidung manusia di depannya. Gantara memekik kesakitan.
“Balikin beasiswa Teresa besok atau lo bakal dapat yang lebih parah dari ini.” Katanya mendorong Gantara sampai kembali tersungkur.
Gantara berdecih, menatap tajam Aska yang juga sedang menatapnya sambil berdiri santai. Merasa menang karena telah membuat Gantara babak belur tak karuan. “Gue heran, monster kayak lo bisa main selicik ini. Apalagi lebih lama dari perkiraan gue. Gue yakin suatu saat anak-anak bakalan tahu kelakuan lo yang sebenarnya dan semuanya bakalan hancur. Bokap lo bakalan kecewa karena selama ini banggain anaknya setiap pertemuan donatur.”
Menaikkan sebelah alisnya, Aska berkata. “Lo nggak akan bisa bikin gue hancur. Biarpun lo berusaha, gue yang akan menang jadi lo jangan berharap apalagi mimpi. Lo minta maaf sama Teresa besok, atau komplotan gue akan habisin lo besok malamnya.”
“Harusnya cewek itu yang minta maaf ke gue. Dia udah bikin nama keluarga gue jelek.”
“Kalau dia bilang nggak lakuin itu, berarti benar! Lo tuli? Dia nggak tahu apa-apa, brengsek!”
“Lo yang nggak tahu apa-apa.” Gantara berteriak.
Aska menatap Gantara, meneliti kebohongan di wajah babak belurnya. Setahu Aska, anak keluarga Harison ini memang tidak pernah membual. Gantara memang kasar, tapi cowok itu berhati lembut dan selalu menegakkan kebenaran. Aska tahu, karena ia sudah mengenal cowok itu lama. Bagaimana cowok itu membela Ibunya mati-matian agar tidak terus diperlakukan tidak baik oleh adik tirinya.
“Gue bakal cari tahu siapa dalang di balik semuanya. Kalau terbukti Teresa nggak bersalah, gue harap lo bisa menegakkan kebenaran seperti biasa.” Katanya berbalik, keluar dari ruangan VVIP pengap yang penuh dengan asap rokok.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama ia tidak mampir ke kelab lagi. Rasa-rasanya ia akan singgah barang sebentar.