
Sekarang pukul tiga belas lebih empat puluh lima siang.
Tepat empat jam setelah Teresa menceritakan semua, atau hampir semua kehidupan pahitnya. Aska masih termenung, di samping gerbang sekolah untuk menunggu Teresa pulang bersama. Cewek itu pasti keluar paling akhir karena sejak lima belas menit ia berdiri tegap layaknya petugas upacara, Teresa belum memunculkan batang hidungnya.
Tepat setelah Aska mengelap keringat yang mulai membanjiri dahinya, Teresa terlihat, berjalan santai tanpa memandangi Aska. Sepertinya cewek itu belum menyadari jika ada seseorang yang menungguinya sejak tadi.
Dari balik manik mata, Teresa dapat melihat siapa cowok yang tengah melambaikan tangan padanya. Teresa membalas lambaian tangan itu sambil mendekat. “Aska, kok masih di sini?” Tanyanya polos.
“Aku mau pulang bareng sama kamu. Kenapa? Nggak boleh? Lagipula tadi pagi kamu berangkat sama aku, pulangnya juga harus bareng dong biar kayak pasangan.”
Teresa **** senyum. “Pasangan apa?” Tipe cewek pura-pura bodoh. Teresa menyadari bahwa kini dirinya sedang digoda Aska.
“Pasangan apa ya enaknya?” Aska pura-pura berpikir. “Yang enak aja deh apa? Pasangan kamu juga nggak apa-apa.”
Astaga, kenapa Aska selalu saja membuatnya sulit bernapas. “Apa sih, Aska sekarang suka gombal.” Serunya menutupi rona merah yang mungkin sudah muncul dipipinya.
“Aku nggak gombal. Itu keinginan terdalam aku kalau sama kamu.”
“Aska, ih! Jangan bikin aku malu.” Teresa semakin salah tingkah. Aska ini benar-benar kurang ajar, membuat Teresa seperti kepiting rebus di samping gerbang.
“Bisa malu juga ternyata.” Aska terkekeh mencubit pipi Teresa. Tindakannya itu tidak luput dari perhatian beberapa murid yang masih berkeliaran di sekolah. Biarlah, semenjak mengenal Teresa sifat pendiam yang selama ini dilakoninya menghilang secara perlahan. “Aku juga masih butuh banyak penjelasan dari kamu. Kayaknya tadi kamu belum cerita sepenuhnya sama aku, soal kamu. Soal keluarga kamu.”
“Emang cerita keluarga aku penting ya buat Aska?”
Aska mendekat, berbisik pada Teresa. “Lebih dari penting. Aku bakalan lakuin apapun supaya kamu bahagia.” Katanya. “Tapi sebelum itu, aku harus tahu semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Makanya, Let's go. Ayo kita pulang.” Menarik wajahnya menauh, lengan Aska meraih bahu Teresa, merangkulnya lalu berjalan keluar gerbang.
“Aska, mobil kamu?” Tanyanya heran karena Aska malah menggiringnya keluar.
“Dibawa Darren.” Teresa membulatkan mulut sambil mengangguk-anggukkan kepala. Teresa pikir Aska lupa. “Katanya mau jemput pacar barunya. Yaudahlah, ya. Lagipula aku pingin ngerasain naik bus bareng kamu.” Jelasnya santai. Aska menoleh ke kanan dan ke kiri tiga kali sebelum menginterupsi Teresa untuk menyeberang.
“Aska nggak capek Jalan ke Halte?”
“Aku biasa lari keliling kompleks setiap minggu.”
“Aska emang nggak apa-apa kalau naik bus. Rame banget, loh! Sempit. Mending Aska minta jemput teman Aska yang lain. Nanti nggak tahan naik bus, pingsan. Aku nggak kuat nolongin.”
“Ya ampun, Sa! Segitunya kamu khawatir sama aku?” Aska tertawa membuat lengannya bergerak-gerak. Badan Teresa sampai bergetar-getar karenanya. “Dulu waktu SMP, aku sering naik bus, jadi tenang aja. Mobil sama bus ‘kan sama.”
“Sama dari mana. Dilihat dari mana-ana juga beda. Serius nggak apa-apa?”
“Iya.” Jawabnya cepat. “Lagian kita harus cari makan dulu, sekalian kamu ceritain semuanya yang masih kamu pendam selama ini. Percaya atau enggak, aku bisa lihat wajah lega kamu setelah berhasil ceritain masa lalu kamu tadi.”
Hal itu sontak membuat Teresa tersentuh. Perlahan, bibirnya membentuk lengkungan senyum. Aska menyentil bibir Teresa membuat cewek itu bersiap menggigitnya.
“Habisnya, manis banget kalau senyum.”
Teresa **** senyum semakin dalam. Pipinya memanas, dibarengi dengan detakan jantungnya yang menggila. Ia berdeham untuk menguasai semuanya. Teresa tidak boleh pingsan dulu hanya karena kalimat memabukkan yang Aska katakan.
__ADS_1
“Aska lapar?” Teresa bertanya saat perut cowok di sampingnya berdentum konser.
“Iya.”
“Aku tahu tempat makan di sini yang enak banget, murah lagi.” Teresa mulai kembali bersemangat. Sedikit tersandung saat melewati trotoar yang tidak rata, tapi Aska berhasil menahannya. Persis seperti drama korea.
“Kita makan di sana ya?” Teresa mengangkat tangannya, menunjuk sebuah warung kecil yang menjual bakso dan mie ayam yang berada tepat di ujung jalan tempat mereka menapakkan kaki.
Aska menatap warung itu sambil mengernyit. Bukan warungnya, tapi seseorang yang sedang memarkirkan sebuah motor gede lebih menarik perhatiannya.
Pandu, temannya itu baru saja berjalan memasuki warung sama seperti yang akan Aska masuki.
Sudah berapa lama Aska tidak berkumpul dengannya?
***
Aska menatap cukup lama bakso pesanan yang ada di depannya. Ia menimbang-nimbang, apakah ia harus memakannya atau nanti saja setelah mengantar Teresa pulang, dirinya baru pergi ke restoran favoritnya.
Gerak-gerik yang Aska tunjukkan tidak luput dari perhatian Teresa yang kini tengah menaruh sambal ke dalam mangkuknya.
Teresa terkekeh. “Bersih kok, tenang aja. Nggak akan sakit perut. Enak juga, Aska nggak akan nyesel.” Masih dengan kekehan, tangannya mengaduk-aduk bakso yang kini berwarna coklat tua.
Aska menoleh. “Aku tadi berdoa. Kalau makan ‘kan harus doa dulu.”
“Khusyuk banget doanya.”
“Biar terkabul. Orang banyak dosa kayak aku harus banyak-banyak berdoa biar nggak jadi segunung dosanya.” Setelahnya ia menyuapkan satu bakso ke dalam mulutnya. Perlahan namun pasti, Aska mengunyak suapan bakso itu. “Enak.”
Aska tertawa. Tentu saja, selama bersama Teresa tempat apapun akan selalu tampak berbeda.
Sambil memakan bakso, ekor mata kanannya tidak luput dari orang yang sejak tadi menjadi perhatiannya. Tepat setelah Aska menyelesaikan makannya, seseorang berjalan menghampiri. Sepertinya memang sengaja menunggui Aska selesai makan.
Aska mendongak saat sebuah tepukan keras mendarat di pundak kanannya. “Aska, akhirnya kita ketemu. Kemana aja lo nggak pernah main ke basecamp?” Tanyanya.
Teresa yang sejak tadi sibuk dengan minumannya pun sontak menoleh. Teresa menautkan alis, terpancar jelas dari kedua bola matanya bahwa cewek itu sedikit waspada dengan kehadiran Pandu.
Siapa yang tidak siaga saat sedang makan dihampiri preman kampus. Tubuh pandu penuh dengan tato, tapi Aska heran kenapa cowok itu bisa bebas kuliah tanpa masalah.
“Gue sibuk banget akhir-akhir ini. Gimana sama basecamp? Aman?”
“Aman-aman. Untuk anak-anak aman, tapi nggak buat lo.” Pandu berbisik di akhir kalimat.
“Maksudnya?”
Lagi. Pandu menepuk bahu Aska yang kali ini terasa sangat berbeda. “Malam ini lo ke basecamp, ada hal penting yang mau gue omongin.” Setelahnya Pandu keluar tanpa mengucapkan selamat tinggal atau sekedar sepatah kata perpisahan keluar dari mulutnya. Ya iya lah, memang berpisah untuk apa?!
Aska bergeming memikirkan maksud dari ucapan Pandu. Masalah apa maksudnya? Apa tempat mereka diserang? Atau mereka akan kembali membuat kekacauan.
__ADS_1
“Aska, tadi siapa? Serem banget, aku hampir lari keluar waktu lihat dia jalan ke sini tadi.” Teresa bergidik.
Aska menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mencari alasan. Teresa tidak boleh tahu kalau Aska terlibat scandal dengan geng rusuh. Cukup saat balapan itu saja, ia tidak mau Teresa kenapa-napa bila tahu semuanya.
“Biasa lah, teman balapan.” Walau terdengar santai tapi Teresa tahu jika kini Aska tengah berbohong. Dengan jelas Teresa dengar mereka menyebut 'basecamp', itu artinya mereka lebih dekat dari sekedar teman saat balapan.
Teresa membulatkan bibir. “Oh.” Tidak ada gunanya berdebat di sini.
Samar, Aska mengembuskan napas lega. “Yaudah lah, dia nggak penting. Katanya mau cerita, ayo dong cerita sekarang. Aku udah siap dengarin.” Aska memutar tubuh, menghadap Teresa sempurna. Memain-mainkan kursinya sambil menunggu jawaban dari Teresa.
“Aku harus kerja. Lain kali aku pasti cerita sama Aska.”
***
“Satria udah sadar dari komanya karena tembakan lo waktu itu. Sekarang kita harus lebih waspada. Oh, bukan kita, tapi lo!” Pandu terus mengomel, berjalan mondar-mandir seperti cacing kepanasan. Entah sudah berapa kali tangan kotornya menunjuk-nunjuk kepala Aska dengan tidak sopan.
“Bisa nggak sih tangan kotor lo jangan tunjuk gue kayak gitu?!” Aska memelintir jari Pandu yang berada tepat di depan matanya.
“Sakit, bego!” Pandu balas meninjunya, namun belum sampai mengenai pipi mulusnya, Aska sudah terlebih dahulu menghindar. Hampir saja membuat Pandu jatuh terjerembab.
“Lo tahu ‘kan kalau Satria bakal dengan mudah memenjarakan lo, maksud gue kita, dengan pasal 170 KUHP ayat 1 dengan penjara maksimal lima tahun enam bulan karena kita yang mulai duluan. Itu baru khusus pengeroyokan, nggak tahu kalau lo yang sampai pakai senjata api. Paling-paling cuma dihukum mati atau penjara seumur hidup.” Ucapnya berusaha menakut-nakuti Aska.
Suara yang Pandu keluarkan juga mendadak naik dua oktaf, namun yang Aska heran bibirnya masih mengukir senyuman.
Salah satu kelebihan Pandu, hanya dengan sedikit memperlihatkan senyum, semua orang akan langsung bergidik ngeri melihatnya. Itu sebabnya, semua anak yang bergabung dengan mereka selalu tunduk di bawah perintah Pandu.
Aska menciut. Kenapa Pandu selalu saja terlihat menyeramkan ketika sedang marah. “Mentang-mentang anak hukum seenaknya nakutin gue! Udahlah nggak usah repot, Satria cemen aja dipikirin.”
“Jangan remehin Satria. Dia emang lembek, wajahnya kelihatan polos nggak berdaya. Tapi otaknya yang kecil itu licik. Anak buahnya bahaya semua, apalagi bokapnya. Gue yakin bokapnya sekarang lagi ngincer keberadaan lo setelah anaknya lo bikin terkapar beberapa minggu.”
“Gue nggak takut.” Memang apa gunanya mengkhawatirkan sesuatu yang berlebihan. “Orang kayak Satria kenapa nggak mati aja sih. Harusnya gue tembak lehernya kemarin.”
“Setelah itu lo yang digantung sama bokapnya! Serius lah, bro! Lo harus hati-hati, gue nggak mau anggota gue yang paling berguna kenapa-napa.”
“Bawel lo, curiga gue kalau lo homo.” Pandu melotot menatap Aska. “Santai, astaga. Habisnya, perhatian banget sama gue.” Aska menyilangkan kaki, merogoh ponselnya yang berada di saku celana. Membuka aplikasi game online yang baru di downloadnya sesuai rekomendasi Keno kemarin.
“Najis gue perhatian sama lo! Mau mampus juga terserah. Gue cuma benci aja sekarang Satria udah nggak anggap gue musuh lagi gara-gara lo, jadi mending nggak usah hati-hati deh. Mati aja lo biar musuh gue balik.” Pandu mulai tersulut emosi, meraih sebatang rokok kemudian menyalakannya.
Menghirup rokok itu kuat-kuat sampai pipinya berubah tirus sebelum mengembuskan kepulan asapnya tepat di wajah Aska sambil bergumam. “Mati lo mati! Sukurin gue jadiin perokok pasif biar cepet modar!” Aska sampai terbatuk karenanya.
Masih terbatuk, Aska meletakkan ponselnya ke meja sebelum beranjak, menghadap Pandu yang masih menikmati rokoknya.
“Gila lo! Musuh hilang bukannya senang malah galau. Gila!”
“Lo tahu ini apa?” Pandu bertanya, menunjuk tato di sekujur tangannya menggunakan ujung puntungan rokok. Aska memandangi daun tembakau yang terbakar itu sambil menyumpah serapahi Pandu agar tangannya melepuh terkena api. “Tato!” Katanya menjawab sendiri sebelum Aska sempat membuka mulut. “Apa kata dunia kalau orang sangar kayak gue musuh aja nggak punya! Semua bisa remehin gue kalau gini caranya.”
Lah! Aska mengumpat. Jadi itu alasannya. Intinya, Pandu merasa kehilangan. Aska menahan tawanya.
__ADS_1
“Balikin Satria sama gue! Gue nggak mau tahu!”
Akhirnya, tawa Aska terlepas menggelegar sampai memenuhi ruangan. Membuat Darren yang tengah terlelap terbangun dengan mata melotot lebar. “Anjir lo semua! Nggak tahu orang tidur apa?!”